Muhasabah Cinta Ilham & Zahra

Muhasabah Cinta Ilham & Zahra
MCIDZ. 29 # Kejahilan Berujung Petaka


__ADS_3

~{ Serangkai Kata }~


Bumi berputar pada porosnya dan terus mengelilingi inci dari setiap jalannya. Begitupala sama dengan roda mobil yang terus berputar jika dijalankan. Akan tetapi, berhenti ketika tidak dikendarai.


Hari yang telah dilalui membawa kesan tersendiri, menjadikanmu bidadari yang pernah aku temui. Perjalanan yang begitu jauh, mengantarkan aku ke dalam luasnya samudra yang dinamakan dengan surga dunia.


...


Suara adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumah Ustaz Hasan. Terlihat seorang laki-laki yang sedang tertidur pulas di ujung karpet masjid. Tanpa disadari olehnya, Ustaz Hasan baru saja masuk ke dalam masjid dan melihatnya yang tengah tertidur, lantas langsung menghampirinya.


"Muhtaz, bangun!" ucap Ustaz Hasan sembari menggoyangkan tubuhnya pelan.


"Apa sih? Ganggu orang lagi enak tidur aja," sahut Muhtaz dan kembali meringkuk.


"Bangun! Ini sudah waktunya salat subuh," ucap Ustaz Hasan yang terus menggoyangkan tubuh Muhtaz supaya cepat bangun.


"Ustaz apa-apaan sih? Kalau mau salat duluan saja, nanti saya nyusul lima puluh menit lagi," jawab Muhtaz dengan mata yang masih terpejam.


"Astaghfirullahaladzim, anak ini! Bangun sekarang! Pergi ambil air wudhu, lalu kita salat subuh berjamaah," ujar Ustaz Hasan dan terus membangunkan Muhtaz.


"Aaaah! Ribet banget si," cetus Muhtaz yang langsung bangun sembari memegang kepalanya yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Tidak lama dari itu, Muhtaz langsung berdiri dan pergi keluar untuk mengambil air wudhu. Melihat itu, Ustaz Hasan mengulum senyum di bibirnya, lalu berjalan kembali ke mimbar depan dan mengimami salat subuh.


Setelah mengambil air wudhu, Muhtaz langsung saja ikut berjamaah bersama dengan yang lainnya. Sampai salat subuh pun selesai, yang lainnya terlihat masih berdoa, sedangkan Muhataz tanpa berpikir panjang langsung berdiri dan meninggalkan barisan para jamaah. Bahkan tanpa rasa malu dia melewati para wanita yang masih berdoa di barisan belakang yang telah terhalang oleh garden. Hal itu membuat pandangan para wanita teralihkan, tetapi tidak dengan anak dari Ustaz Hasan yang bernama Zahra, ia terlihat begitu khusuk sampai tidak tahu kalau ada seorang laki-laki yang nyelonong keluar begitu saja.


"Loh, itu dia? Ada juga di sini," kata Muhtaz di saat iris matanya melihat sosok wanita cantik yang masih menggunakan mukena dan berada di antara wanita yang ikut salat subuh berjamaah di sana.


Setelah melihat Zahra, tiba-tiba saja terlintas ide buruk dari kepala Muhtaz. Sampai ia pun tersenyum menyeringai, lalu pergi keluar. Setelah itu Muhtaz memerhatikan sandal yang terjajar rapih, salah satu dari puluhan sandal itu. Ada satu yang menarik perhatiannya, yaitu sandal wanita yang berwarna biru dengan hiasan indah di sekelilingnya.


Lantas Muhtaz pun langsung membawanya, lalu menyembunyikan sendal itu di atas pohon mangga yang cukup tinggi dan berada di depan masjid tersebut.


"Nah kan, kalau gini dia gak bakalan tau dan susah untuk menemukannya," ujar Muhtaz sembari turun dari pohon mangga tersebut.


"Rasain lo ya, gadis hijab biru! Makanya jangan main-main dengan Muhtaz," gumam Muhtaz dengan angkuhnya.


"Loh ke mana ya hilangnya sandal aku?" tanya Zahra sembari memerhatikan sekeliling yang mungkin bisa menemukan sendalnya.


"Lagi cari apa cantik?" tanya seorang laki-laki yang berpakaian kurang pantas, kini sedang berdiri di belakang Zahra. Yang tidak lain ialah Muhtaz.


"Astaghfirullahaladzim! Kamu?" Zahra terperanjat kaget dengan kedatangan Muhtaz yang secara tiba-tiba itu. Bahkan ia sampai melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan untuk memberikan jarak.


"Jangan kaget bagitu, gue kan bukan setan," ungkap Muhtaz sembari mendekati Zahra.

__ADS_1


"Jangan mendekat lagi! Cukup di sana! Tidak perlu melangkah lagi. Saya tidak ingin terjadi fitnah karena berduaan denganmu," ujar Zahra dengan tatapan mata yang tajam dan tangan yang mengisyaratkannya.


"Oh jadi kamu takut ya? Ya udah aku makin dekat nih?" goda Muhtaz dengan satu langkah lagi untuk mendekat kepada Zahra.


"Cukup! Anda kurang ajar," sahut Zahra yang hendak pergi meninggalkan Muhtaz. Namun, ia baru teringat kembali bahwa sendalnya hilang dan belum ditemukan.


"Hayo, kamu gak bisa pergi ke mana-mana. Temenin saja aku di sini," ucap Muhtaz dengan satu alis yang terangkat ke atas, seakan-akan terus menggoda dan menguji kesabaran gadis itu.


"Dari pada kamu jadi gak jelas, mendingan bantu aku cari sendalku yang hilang," kata Zahra sembari menatap manik mata indah milik Muhtaz sekilas yang emang sangat mirip dengan Yafiq.


"Ah males, cari saja sendiri. Entar kamu kabarin kalau udah ketemu," balas Muhtaz yang pura-pura tidak tahu apa pun.


"Huh, sabar Zahra. Ingat kamu sedang berhadapan dengan siapa," ucap Zahra pelan yang ternyata masih terdengar samar-samar oleh Muhtaz.


"Hah? Apa katamu barusan?" Muhtaz mendekati wajah Zahra sampai gadis itu terlonjak kaget, bahkan sampai mau tersungkur ke belakang.


"Astaghfirullah," ucap Zahra yang akan tersungkur karena kaget. Namun, sudah langsung dibantu oleh Muhtaz dengan memegang tubuhnya supaya tidak terjatuh.


Tatapan keduanya saling beradu, sampai terhanyut dan lupa akan waktu. Di saat itu pula Ustaz Hasan keluar dari dalam mesjid dan langsung menyaksikan putrinya dengan anak dari sahabatnya sedang berduaan dengan posisi yang sangat tidak wajar.


"Ehem." Ustaz Hasan sengaja berdehem untuk memecahkan suasana dan membuat sadar kedua manusia yang ada di depannya itu.

__ADS_1


Zahra yang mendengar suara Abinya, langsung tersadar dan buru-buru berdiri sembari merapihkan pakainya. Begitu pula sama dengan Muhtaz yang langsung diam dan menatap kepada Ustaz Hasan.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Ustaz Hasan dengan sorot mata yang begitu tajam. Seakan-akan ingin menerkam seseorang.


__ADS_2