
“Goooolll!”
Sorak-sorai penonton menggema di tiap sudut stadion tempat klub bola M sedang melakukan pertandingan musim panas. Kini, mata semua pengamat serta penggemar bola tertuju pada sosok baru yang bersinar di lapangan hijau itu.
Antonio Gonzales, adalah laki-laki berdarah campuran Jerman-Portugal, dengan tubuh tegap serta atletis. Wajah tampan dibingkai oleh rahang tegas dengan cambang serta jenggot dan kumis halus, membuat aura maskulin Antonio semakin kuat.
Salah satunya adalah Callie Izzard, gadis muda berusia sembilan belas tahun, bertubuh mungil dan memiliki paras yang lumayan cantik.
“Antonio!” Callie nekat menerobos barikade pengawal pemain klub M hanya untuk memberikan sebuah bingkisan kepadanya.
Dengan tatapan dingin, laki-laki ini menerima pemberian dari salah satu penggemarnya tersebut. Ia tahu nama gadis itu Callie Izzard, dari beberapa bingkisan yang gadis itu berikan tiap klub M selesai bertanding. Bisa dikatakan gadis ini adalah penggemar fanatik Antonio.
Ruangan ganti itu riuh dengan kegembiraan mereka atas kemenangan di babak final pertandingan musim panas itu.
“Gadis itu imut juga. Lumayan, untuk dijadikan pacar.” Bryan menepuk pundak Antonio.
Ucapan itu hanya ditimpali dengan senyum sinis dari laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu. Dia malah menyodorkan bingkisan yang tadi diberikan oleh Callie dan dengan senang hati Bryan menerima bingkisan berisi coklat tersebut.
“Kita akan mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan kita nanti malam—dan—aku dengar akan ada pengumuman hasil seleksi pemain untuk ikut piala dunia.” Tangan Bryan sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas olahraganya.
“Aku tidak akan hadir,” tukas Antonio pendek.
Mendengar itu, Bryan hanya bisa mendengus kesal. Ia sudah tahu jika sahabatnya itu tidak akan menghadiri acara-acara yang melibatkan keramaian.
“I—”
“Ya, ya, ya ... kau akan menemani ibumu di rumah.” Bryan memotong ucapan Antonio dan memutar bola matanya ke atas. Ibunya adalah alasan klise yang selalu digunakan oleh striker mereka itu.
Akhirnya malam itu, pemain yang bergabung dengan timnas Inggris sudah ditentukan, bisa dipastikan kedua pemain handal dari klub M terpilih, yaitu Antonio dan Bryan.
Selain mereka berdua, ada beberapa pemain dari klub sepakbola lain yang terpilih. Namun, yang paling menonjol adalah gelandang dari klub C bernama Lionel, laki-laki tiga puluh tahun itu menjadi pilar utama klub C.
Dia berkulit pucat dan berbadan sedikit kurus, tapi memiliki kekuatan fisik yang sama dengan Antonio. Kedua orang itu bahkan terlihat nyaris tidak pernah lelah sama sekali, mereka berdua pun sama-sama sangat misterius.
Mereka bertiga memiliki kerja sama yang sangat bagus, meskipun berasal dari klub berbeda. Three Musketeers itulah julukan yang diberikan oleh rekan-rekan satu tim mereka.
“Aku dengar, dokter untuk timnas akan digantikan. Semoga yang menggantikan adalah dokter wanita cantik dan seksi seperti Angelina Jolie.” Bryan berseloroh ketika akan latihan sore. Seperti biasa, anak dari pelatih ini, akan selalu memperoleh kabar terkini lebih cepat dibanding mereka.
__ADS_1
Lionel menyabet bahu Bryan dengan handuk di tangannya. Sedangkan Antonio hanya terkekeh geli ketika melihat sahabatnya itu mengaduh kesakitan.
“Kalian ini kenapa sih!” Bryan menggerutu sambil mengusap bahunya yang sakit.
“Dasar otak mesum!” Lionel dan Antonio berseru kompak.
“Jangan-jangan kalian—”
Dua lembar handuk melayang tepat di wajah Bryan.
“Apa-apaan kalian! Apa kalian sudah gila, hah?” Dia melemparkan kembali handuk tadi kepada Lionel dan Antonio. Seisi ruangan menertawakan Bryan yang merajuk seperti seorang gadis.
Setelah selesai membersihkan badan, mereka dan rekan-rekan yang lain pun menuju lapangan. Menurut sang pelatih yang juga merupakan ayah dari Bryan, yaitu James O'connor, hari ini adalah penentuan nomer serta posisi kapten tim.
Terjadi persaingan ketat antara Lionel dan Antonio. Meski Antonio tidak berambisi dengan posisi kapten maupun baju bernomer sepuluh, tapi dia bukanlah tipe orang yang mau dikalahkan oleh siapapun itu, termasuk temannya sendiri.
Posisi kapten akhirnya diberikan kepada Antonio, begitu pula dengan kostum pemain bernomer sepuluh. Siapa yang menyangka perebutan posisi kapten itu menjadi awal keretakan hubungan Lionel dan Antonio.
Sejak hari itu, Lionel tidak pernah lagi bergabung dengan Antonio dan Bryan. Dia lebih memilih untuk menghindar dan berlatih dengan rekan tim yang lain.
Karena dinilai terlalu ambisius dan sikapnya yang egois—akhirnya Lionel digantikan posisinya sebagai gelandang depan. Hal tersebut semakin membuat dia membenci Antonio.
“Bagaimana jika nanti malam kita bersenang-senang di bar?” usul Bryan kepada rekan satu timnya yang akhir-akhir ini seperti sedang terpecah belah.
“Kalian tentu enak punya waktu bersenang-senang, kalian adalah Anak Emas dan anak kandung dari pelatih!” Lionel menyindir dengan sarkas kepada Bryan.
Mendengar sindiran sarkas itu, Antonio langsung naik pitam, dia mencengkeram kaos Lionel dan menatapnya nanar. Kalau saja tidak dihentikan oleh beberapa temannya, satu pukulan telak akan melayang di wajah Lionel.
“Jaga bicaramu, Bung!” bentak Bryan, “jika kau tidak terima dengan keputusan coach James, kau bisa protes kepadanya!”
Lionel mengambil tasnya dan keluar dari ruang ganti sambil mencibir.
“Sinting!” Bryan berteriak dengan kesal.
Atmosfer di dalam tim menjadi sangat suram, James sudah berusaha semaksimal mungkin mengembalikan kekompakan mereka, tapi gagal. Semua di luar kendalinya saat ini, baik Antonio dan Lionel, keduanya adalah pilar dalam tim, hanya saja—pemuda yang dijuluki The Next Beckham itu memang lebih unggul dalam segi teknik dan juga membaca lawan.
“Sampai kapan kalian akan bersikap kekanak-kanakan?” James memutuskan untuk memanggil mereka berdua. Bryan hanya menguping dari luar, sama seperti beberapa tahun silam, ketika ayahnya menasehati Antonio ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.
__ADS_1
Kedua pemain itu hanya menunduk dalam diam, tapi mata mereka saling melirik tajam. Melihat hal tersebut, James hanya bisa menghela napas putus asa. Tampaknya akan sulit menyatukan mereka lagi.
“Kalian aku liburkan dari latihan selama satu minggu, jernih-kan dulu pikiran kalian berdua!” ujar James dengan nada pasrah, “kalian boleh keluar sekarang!”
Aura permusuhan mereka terlihat jelas oleh James ketika Antonio dan Lionel saling mengepalkan tinju ke wajah masing-masing.
...----------------...
Cafe itu cukup ramai dikunjungi oleh kaum muda-mudi. Di sinilah Bryan mengajak Antonio untuk bertemu.
“Tidak bisakah kau berdamai dengan Lionel?” Dia pun memulai percakapan setelah segelas Ice Americano yang ia pesan datang.
Alis tebal Antonio mengernyit. Ia tidak setuju dengan pertanyaan sahabatnya itu, Bryan seolah-olah mengatakan jika dialah yang memulai keributan tersebut.
“Aku tidak pernah merasa bermusuhan dengan Lionel. Dialah yang memulai semua itu. Aku tidak perduli jika dia memfitnahku dan menyebarkan rumor tentangku,” seloroh Antonio sambil menyesap latte kesukaannya.
Bryan menghela napas, ucapan Antonio memang benar, Lionel-lah yang selalu memulai keributan di antara mereka. Dia juga tahu pasti sahabatnya ini tidak akan meminta maaf atau mengaku untuk kesalahan yang tidak pernah ia buat.
Hubungan antara gelandang dan striker itu akan menjadi sangat mengganggu kinerja tim jika tidak segera diselesaikan.
“Jadi kau tidak akan mengalah kepada Lionel?” Bryan masih berusaha memastikan keputusan Antonio.
“Untuk menurunkan ego-ku demi tim, aku akan melupakan amarahku di dalam lapangan. Namun—jika Lionel mengusikku lagi ... aku pastikan akan membuat kenangan manis di wajahnya!”
Antonio tetap pada pendiriannya. Mereka pun tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sementara di tempat lain—seorang wanita muda sedang berlari dalam kegelapan malam, ia seperti sedang dikejar oleh sesuatu. Sampai akhirnya ia tertangkap.
Pekikan tertahan wanita itu, berakhir dengan hembusan napas terakhirnya. Makhluk itu membawa jasad wanita muda tadi, dan ia melempar tubuh tak bernyawa yang berangsur dingin tersebut ke dalam ruang bawah tanah.
Jasad itu perlahan bergerak dan bangkit kembali menjadi seperti mayat hidup. Mata cekung, kulit pucat dan taring tajam. Wanita itu berubah menjadi seorang vampir.
Keesokan harinya, seluruh media di London heboh mengenai hilangnya beberapa orang warga. Di tiap sudut kota pun banyak pamflet orang hilang yang bertebaran.
Hilangnya para warga tersebut menjadi sebuah misteri besar. Karena mereka seperti ditelan oleh bumi. Jasad pun tidak bisa ditemukan. Pihak kepolisian London menyelidiki tentang hal itu dan menemukan jalan buntu.
...****************...
__ADS_1