My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 9 - Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Pertandingan pertama tim Inggris dengan Iran pun dimulai, kali ini Lionel dan Bryan dipasangkan dengan Antonio. Kedua rekan Bryan itu bukannya terlihat seperti satu tim — mereka malah saling bersaing untuk menyerang gawang lawan.


Antonio benar-benar kacau saat ini, apalagi semalam dia minum hingga mabuk, dan baru kali itu Bryan melihat Antonio tumbang karena alkohol. Dia semakin heran lagi ketika melihat Callie yang membawa dia kembali ke kamar dengan wajah merah karena kesal.


Babak pertama pun selesai, James menegur tingkah laku Lionel dan Antonio. “Apa kalian ingin membuat tim ini kalah, hah?” bentak James kesal.


“Maaf coach Lionel selalu menghalangi langkah saya.” Antonio membela diri.


Tidak terima disalahkan, Lionel pun balik melawan pembelaan diri Antonio. “Kau yang menghalangi aku mengoper bola kepada Bryan!”


Mereka berdua saling tatap dengan penuh amarah. James sebagai pelatih mereka pun semakin kesal, “Jika kalian tidak bisa menurunkan ego masing-masing ... silakan kalian duduk di bangku pemain cadangan!”


Ancaman itu ternyata ampuh meredam keributan kedua pemain berprestasi ini, James menarik Lionel masuk ke dalam tim — karena dia melihat gaya bermainnya cocok dipasangkan dengan Antonio dan Bryan. Itu terbukti dalam beberapa latih tanding, sebelum perebutan posisi kapten dan kostum bernomer punggung sepuluh waktu itu, siapa sangka, rasa kesal Lionel dia bawa hingga saat ini.


Meskipun masih saling sikut, setidaknya permainan mereka berdua stabil sekarang, setelah babak yang panjang — tim mereka pun akhirnya memenangkan pertandingan ini. Lagi-lagi Lionel dan Antonio kembali seperti kucing dan anjing, saling melempar tatapan tajam meski tidak beradu argumen.


Erika dan Callie bertugas memeriksa keadaan mereka pasca pertandingan, ketika iris hazel Erika bersitatap dengan iris kelabu Antonio — dia merasa salah tingkah. Baru saja Erika hendak pergi, tapi tangan Antonio menahan dan memaksa dia kembali duduk di kursinya.


Pria ini menatap lekat ke dalam manik mata Erika, dari sudut lain terlihat Callie yang memandang mereka dengan sorot mata cemburu, sampai-sampai dia nyaris memberi plester obat di mata salah satu pemain.


“Hei! Kamu sudah tidak waras, ya? Yang luka itu daguku, kenapa mata yang kamu beri plester?” Tingkah konyol Callie menjadi bahan tertawaan seisi ruangan. Hanya Antonio dan Erika yang saling memasang mimik wajah serius.


“Jelaskan padaku, apa hubunganmu dengan keluarga Vladimir?” Ketakutan Erika menjadi kenyataan, keluarganya adalah musuh besar dari kaum werewolf dan beberapa dari mereka telah mati di tangan keluarganya.


Erika menunduk dalam, ia tidak berani menatap mata Antonio. Melihat reaksi gadis di depannya ini — membuat kesabaran Antonio hilang. “Jawab! Apa hubunganmu dengan keluarga Vladimir!?” Seisi ruangan dibuat menoleh karena suara keras Antonio.

__ADS_1


Merasa terpojok dan takut identitasnya diketahui seluruh anggota tim, Erika berlari keluar ruangan sembari menangis. Dia tidak menyangka hubungannya dengan Antonio yang sedikit membaik setelah salah paham di antara mereka reda — kini kembali memanas.


Lionel yang melihat Erika diperlakukan kasar oleh Antonio pun menarik kerah kaos striker itu, tangan yang tadinya akan memukul Antonio urung dia layangkan. Lionel menarik Antonio sehingga bibirnya dekat ke telinga pria itu, dia pun berbisik geram, “Jangan buat kami murka dan melenyapkan satu-satunya keturunan Rodrigo!”


Setelah membisikkan kalimat itu, Lionel mendorong Antonio yang limbung karena terkejut dan mengejar Erika keluar ruangan. Antonio mematung, tubuhnya gemetar bukan karena dia takut, tapi karena rasa marah yang membuncah seolah akan meledakkan seluruh tubuhnya.


Semua cerita ibunya tentang keluarga Vladimir dan mendiang sang ayah kembali terngiang dalam telinganya.


“Bu, kenapa aku tidak pernah melihat foto ayah?” Antonio remaja bertanya kepada ibunya. Namun sang ibu hanya tersenyum getir.


Tangannya membelai lembut kepala Antonio, dengan lirih ia pun bercerita, “Ibu sempat membenci ayahmu, karena ibu pikir — dia sengaja meninggalkan kita atau dia sengaja menyerahkan kita kepada kakekmu, tapi ternyata ibu salah .... Ayahmu memang sedang mencarikan kita makanan di hutan, dia disergap beberapa orang vampir dan diserang. Ibu baru mengetahuinya setelah kita berada di London, salah seorang vampir yang menyerang ayahmu menemui ibu.”


Antonio duduk dan menatap wajah ibunya, kemudian bertanya penasaran, “Untuk apa?”


Antonio terus mendengarkan cerita ibunya dengan mimik wajah serius, dia juga merekam seluruh peristiwa dalam kisah itu untuk membalas dendam atas kematian sang ayah ketika dewasa nanti.


Saat ini sang ibu menatap dia dengan tatapan sungguh-sungguh dan meminta ia berjanji, “Jika kau bertemu dengan orang bernama Lenora atau Frank Vladimir, atau orang lain yang memiliki nama belakang itu — berjanjilah, kau tidak akan mengatakan siapa dirimu sebenarnya.”


“Aku janji, Bu.”


Sentuhan tangan di bahunya membuat Antonio tersentak, ternyata ruangan itu sudah kosong dan dia melamun sedari tadi. Callie tersenyum kepadanya dan mengajak dia kembali ke hotel tempat mereka menginap.


...----------------...


Kejadian kemarin membuat hubungan Erika dan Antonio semakin rumit, waktu mereka di Qatar masih seminggu lagi kecuali jika mereka masuk ke babak semifinal — mungkin mereka akan sedikit lebih lama di negara ini.

__ADS_1


Malam ini ketika makan malam tim untuk merayakan kemenangan pertama mereka — Erika memilih absen untuk hadir, begitu juga dengan Antonio. Karena bosan di dalam kamar, Erika pun memutuskan untuk berjalan-jalan di kawasan pool hotel, tanpa ia tahu Antonio pun tengah menghirup udara segar di taman yang tidak jauh dari tempat Erika berada.


Tiba-tiba dari kejauhan samar Erika mendengar pekikan seseorang, walau merasa takut — Erika menghampiri asal suara itu, betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang tergeletak tak bernyawa dengan bekas gigitan di lehernya. Ini ulah seorang vampir, gumam Erika dalam hati.


“Ka—kau ....”


Erika menoleh ke asal suara itu, dalam jarak seratus meter dia bisa melihat Antonio berdiri di sana dengan wajah terkejut. Sadar jika pria itu tengah salah paham kepada dirinya, Erika pun segera menjauh dari mayat tadi.


“Bu—bukan aku, tolong percayalah! Aku menemukannya sudah seperti ini dan aku yakin ini adalah ulah vampir.”


“Kau pikir siapa yang seorang vampir di antara kita?! Hanya kau dan temanmu yang bernama Nicollete itu!” Antonio menghardik Erika. Dia sungguh mengira jika pelakunya adalah dokter cantik ini.


Wujud Antonio mulai berubah, rasa takut memancing adrenalin dalam tubuh Erika dan akhirnya memaksa dia berubah ke wujud vampir untuk melindungi diri. Saat Antonio akan menyerang Erika — Nicollete muncul dan membawa Erika serta mayat tadi ke gurun yang agak jauh dari hotel.


Setelah tenang Erika pun kembali ke wujud manusianya, dia memandang Nicollete dengan sorot mata menuduh yang langsung disanggah oleh pelayan vampir itu, “Ini bukan perbuatan saya, memang saya meminum darah manusia ... tapi saya hanya mencuri kantong-kantong darah di rumah sakit.”


“Jika bukan kau, lalu siapa lagi?!”


“Ada vampir lain di dekat sini selain kita berdua, sekarang bukan saat untuk berdebat tentang siapa pelakunya, jika mayat ini tidak kita musnahkan — dia akan bangkit menjadi vampir, setelah meninggal beberapa lama.” Erika tersadar dengan ucapan Nicollete, mereka pun akhirnya mencari cara untuk melenyapkan mayat itu tanpa diketahui siapa pun.


Di tempat tadi — Antonio yang kembali lagi ke wujud manusia, terduduk lemas di pinggiran kolam renang. Seharusnya dia mengejar dua vampir tadi, tapi kejadian tadi membuat dirinya tidak mampu bergerak, jauh di dalam hati kecil Antonio mempercayai Erika adalah vampir yang baik. Namun mayat itu membuat keyakinan dia pada Erika pun pupus seketika.


Saat Erika dan Nicollete sedang berusaha melenyapkan mayat yang gigit oleh vampir selain mereka dan Antonio yang termenung di pool hotel, Lionel berada di dalam kamarnya dengan senyum puas sembari menjilat sisa darah yang masih tersisa di sudut bibirnya. Pria inilah yang melakukan semua itu, dia adalah Count Christoph Lionel, calon tunangan Erika.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2