
Ada jeda selama tiga hari sebelum pertandingan mereka dengan Wales, malam ini seperti janji Antonio, dia pun mengajak Erika untuk makan malam. Setidaknya dia tidak perlu mempermalukan diri akan ditolak jika terang-terangan mengajak dokter vampir cantik itu berkencan.
Di dalam kamarnya, Erika terlihat bolak-balik mematut diri di cermin, entah sudah berapa pasang baju dia coba. Nicollete hanya melihat sang nona sambil geleng-geleng kepala.
“Nicoo ... bantu aku memilih pakaian yang akan aku kenakan.” Erika merajuk karena Nicollete diam saja tanpa berkontribusi atas kebingungannya.
Nicollete berdecak kesal, “Memangnya Anda akan makan malam dengan keluarga kerajaan Inggris? Dengan Pangeran William atau Pangeran Harry?” Dengan sinis dia menyindir Erika yang begitu ingin terlihat cantik di depan Antonio.
Bibir Erika manyun, dia kembali sibuk mencoba baju yang sebenarnya sudah ratusan kali dia coba. Karena kasihan, Nicollete pun memilihkan gaun koleksi bajunya untuk dikenakan Erika, tapi gaun pilihan Nicollete itu semakin membuat kesal dokter cantik ini.
...[Gaun yang diusulkan Nicollete]...
“Aku akan pergi untuk makan malam, Nico ... bukan pergi ke pemakaman.” Erika melempar gaun serba hitam milik Nicollete tersebut ke atas ranjang.
Nicollete tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal di wajah Erika. “Anda itu sudah cantik, Nona. Pakai saja mini dress berwarna pastel itu.”
Mata Erika melirik mini dress yang masih menggantung di dalam lemari, dia mengambilnya dan mematut diri lagi di cermin. Usulan Nicollete kali ini bagus, coba ... kalau dia mau jadi temanku, tapi dia selalu berbicara formal denganku. Aku ingin sekali memiliki saudara perempuan yang bisa aku jadikan tempat berbagi. Tiba-tiba batin Erika merasa sedih mengingat hubungannya dengan Lenora.
Tepat pukul 6 sore Antonio sudah mengetuk pintu kamar Erika, ketika pintu kamar tersebut terbuka dan keduanya tampak sama-sama mematung karena terpesona, Antonio terlihat tampan dengan setelan baju casual yang ia kenakan, standar jeans hitam dipadu dengan sweater krem berkerah model turtle neck serta rambut gondrong pria ini yang diikat ke belakang sehingga terlihat semakin mempesona. Sedangkan Antonio terpana dengan Erika yang dibalut mini dress berwarna pastel, dipadu flat shoes putih, rambut blonde-nya digelung naik dihiasi pita berwarna pink, membuat Erika terlihat segar dan imut.
“You look so beautiful.” Pujian Antonio itu membuat pipi Erika memanas, pasti saat ini pipinya itu sudah semerah tomat. “Ayo kita turun!” ajaknya kemudian.
__ADS_1
Erika menoleh ke belakang dan mengedip ke arah Nicollete yang sebenarnya tidak suka sang nona pergi bersama manusia serigala itu. Nicollete meraih ponsel yang sangat jarang ia gunakan, dia mencari nomer Callie dan menghubunginya.
“Callie, aku butuh bantuanmu ....” Nicollete menceritakan tentang tugasnya dari Frank serta Lenora untuk menjauhkan Erika dari Antonio.
“Baik, kita bertemu di sana.” Percakapan mereka pun berakhir, Nicollete mengambil long coat yang menggantung di coat hanger di sudut ruangan.
Calm Street café, Doha, 07.00 pm.
Callie duduk di bangku pojok cafe yang cukup nyaman di kota Doha itu, matanya memandang sekeliling mencari sosok Nicollete. Tidak lama kemudian orang yang dia tunggu pun terlihat memasuki cafe tersebut.
Tangan Callie melambai memberi isyarat kepada Nicollete, gadis berpakaian gothic dan berwajah pucat itu mendekat ke tempat Callie duduk. Setelah Nicollete duduk, Callie pun memesan satu gelas coklat panas dan dua porsi croissant keju.
“Pesanlah makanan dan minumanmu!” Callie menyodorkan kertas menu kepada Nicollete. Menu itu tidak disentuh sama sekali olehnya hingga alis Callie naik.
“Apa di sini ada menu darah segar?” tanya Nicollete kepada Callie dan membuat mata gadis pembasmi vampir itu mendelik, kemudian menatap kikuk ke arah pelayan yang kebingungan. Dia meminta pelayan tadi pergi.
Nicollete terkekeh, dia merasa sangat puas bisa mengerjai Callie sampai wajahnya merah padam seperti itu. Entah kapan lagi dia bisa membuat seorang pemburu vampir menahan kesabaran untuk memburunya.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Callie sambil menopang dagunya.
“Tampaknya Antonio dan Nona Erika saling jatuh cinta ....” Nicollete agak ragu meneruskan ucapannya. Dia tidak yakin apakah meminta bantuan Callie adalah jalan terbaik untuknya.
“So? ” Callie mempertanyakan kelanjutan ucapan Nicollete sembari tersenyum manis kepada pelayan cafe tampan yang mengantar pesanannya.
__ADS_1
Nicollete menghela napas, “Vampir dan werewolf tidak boleh saling jatuh cinta, itu sudah hukum alam dari makhluk abadi. Jadi, aku meminta bantuanmu untuk memisahkan mereka.”
Callie terdiam sesaat dan asyik menyesap coklat panas dan menggigit croissant-nya. “Aku akan membantumu, bukan karena hukum alam bodoh kalian, tapi ... aku jatuh cinta pada Antonio sejak debut pertama dia di liga,” ujar Callie kemudian.
Mata Nicollete berbinar, dia senang sekali mendapat sekutu seperti Callie. Setidaknya dia akan lebih mudah memisahkan kedua insan kasmaran itu.
“Lantas apa rencanamu?” Callie penasaran dengan rencana Nicollete.
“Oke, anti-tesin yang diberikan Professor Sylvester itu hanya bisa bertahan selama dua minggu, jadi ... saat Nona Erika tidak meminum cairan itu — dia akan menjadi vampir yang lebih agresif ....”
“Jangan katakan kau butuh korban manusia!” Callie memotong ucapan Nicollete.
“Di situlah peranmu, kau akan menolong manusia itu ... tapi ingat, jangan pernah melukai Nona Erika atau aku akan membunuhmu! Setelah itu, aku akan membawa Nona Erika pergi dan sisanya kau yang urus, maksudku tentang Antonio.”
Mendengar ide Nicollete yang sedikit berbahaya namun tidak sulit dilakukan itu dan kemungkinan berhasilnya adalah 90%, lalu 5%-nya mungkin dia akan gagal menyelamatkan orang yang akan dijadikan umpan, dan 5% lainnya Antonio tidak perduli dengan apa yang telah dilakukan Erika. Setelah memikirkan rencana tadi, akhirnya Callie pun setuju akan membantu Nicollete.
Kamar hotel, 10.00 pm.
Kamar itu masih kosong ketika Nicollete kembali ke sana, itu berarti Erika belum pulang sama sekali dan jadi kesempatan untuk Nicollete mencuri dua botol anti-tesin yang tersisa di dalam pouch Erika kemudian membuangnya jauh-jauh.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar, ternyata Erika sudah pulang diantar oleh Antonio. Nicollete membuka pintu dan melihat kedua insan dimabuk asmara itu saling melempar senyum manis, hal tersebut membuat Nicollete mual.
Antonio pun kembali ke kamarnya, Erika merangkul Nicollete masuk ke dalam kamar. Terlihat jelas raut bahagia ciri khas orang yang benar-benar dimabuk cinta pada wajah Erika, pipinya berseri dan senyum Erika terus saja mengembang.
__ADS_1
“I found a love, for me ... darling just dive right in, follow my lead ....” Erika terus bernyanyi dengan riang.
Apakah Nona Erika sudah tidak waras? Atau jangan-jangan kepalanya terbentur sesuatu? Nicollete membatin heran, selama dia bersama Erika, belum pernah ia melihat Erika sebahagia ini. Namun, dia tidak tahu jika sebentar lagi kebahagiaannya akan hancur.