My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 3 - The Secret


__ADS_3

Kehadiran Erika membawa angin segar untuk anggota timnas Inggris. Seminggu sudah dokter wanita itu bertugas untuk mengatur kesehatan para pemain.


“Sejak kehadiran Dokter Erika, aku jadi semangat latihan.” Salah satu pemain terdengar sedang membicarakan dirinya.


“Aku setuju! Dia seperti Dewi Aphrodite di klub ini. Memang cara merawat dokter laki-laki dan dokter wanita itu sangat berbeda ... tangannya yang halus itu ....” Bryan menimpali ucapan rekan satu timnya tadi.


Erika mendengar percakapan para laki-laki itu ketika melintas di depan ruang ganti pemain dari celah pintu ruang tersebut yang sedikit terbuka. Saat ia akan meneruskan langkahnya menuju klinik—cibiran pedas terdengar menimpali selorohan tadi.


“Cih! Apa yang bisa dilakukan oleh wanita seperti dia?”


Harga diri Erika sudah terinjak-injak oleh laki-laki pemilik suara bariton itu, kali ini ia sama sekali tidak terima karena Antonio selalu merendahkan dirinya. Tangannya membuka pintu ruangan itu dengan kasar, mata Erika menatap tajam ke arah Antonio yang hanya sedang memakai celana pendek tanpa mengenakan baju.


“Kau ....” Tiba-tiba Erika menyadari jika ruangan itu adalah ruang ganti pemain dan isinya saat itu adalah laki-laki yang sedang dalam keadaan bert***j*ng dada.


Refleks dia langsung menutup pintu karena merasa malu, Erika pun kembali melangkahkan kakinya ke klinik. Bibir mungil berwarna merah merekah itu sibuk mengumpat kepada Antonio yang membuatnya kehilangan akal sehat tadi.


Karena asyik menggerutu, ia tidak memperhatikan jalanan, dan—


“Au! Kalau jalan lihat-lihat!” Terdengar nada tinggi dari orang yang ditabraknya barusan. Erika menundukkan kepala untuk meminta maaf.


“So—sorry, aku tidak sengaja.” Ia sangat menyesali kecerobohannya hingga menabrak orang tersebut.


“Semua gara-gara Tuan Raksasa itu!” batinnya geram.


Laki-laki yang ia tabrak tadi menatapnya lekat-lekat, iris hitam kelam itu bertemu dengan iris safir Erika. Ditatap sedemikian rupa, Erika menjadi jengah dan memalingkan wajah kemudian dia kembali berjalan.


“Sekali lagi maaf,” ujarnya sambil melangkah pergi. Lionel terpaku. Ya, orang yang bertabrakan dengan Erika di koridor adalah Lionel.


Di ruang ganti, para pemain bola itu masih menertawakan raut wajah Erika yang tiba-tiba jadi sama pucat dengan kulitnya.


“Bagaimana bisa, wanita yang malu melihat kita dalam t**a****g dada begini, memeriksa kita dengan benar?” Antonio mengolok-olok Erika di belakangnya.


“Tentu saja setiap wanita normal akan merasa malu, apalagi ketika melihat lawan jenisnya dalam kondisi tanpa busana dan hanya mengenakan celana pendek seperti ini.” Merasa wanita idamannya diolok-olok, Bryan membelanya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan kasar. Lionel masuk dengan wajah yang sangat tidak bersahabat, dia langsung menunjuk ke arah Bryan dan Antonio. “Kalian jangan coba-coba mendekati dokter itu!”


Sontak mereka berdua saling bertukar pandang heran, tidak ada angin tidak ada hujan, Lionel marah-marah seakan Erika adalah miliknya. Antonio jadi ingin mengganggu Erika untuk mengusik rival-nya itu.

__ADS_1


“Apa kalian melihat di jari Dokter Erika melingkar sebuah cincin?” Antonio mulai memancing perkara dengan Lionel. Seisi ruangan menggeleng.


“Itu berarti siapapun bebas mendekatinya, 'kan?” Ia terus menyulut emosi Lionel. Seperti harapannya, Lionel pun terpancing ia bangkit dari duduk dan mendekati Antonio, tangannya mencengkeram bahu striker utama timnas itu.


“Kau ... jangan coba macam-macam dengan dokter itu! Aku peringatkan!” Lionel berbisik geram kepada Antonio yang tersenyum mengejek.


Lionel mendorong Antonio dan meninggalkan mereka yang kebingungan.


...----------------...


Tim sedang mempersiapkan diri untuk babak penyisihan piala dunia. Berkat pengaturan makanan dan jam olahraga dari Erika, stamina mereka stabil hingga saat ini, karena Inggris akan segera berhadapan dengan Iran di babak penyisihan nanti.


Hari ini pihak manajemen Timnas Inggris mengadakan gala dinner untuk memberi semangat kepada para pemain sebelum keberangkatan mereka ke Qatar. Semua pihak wajib hadir karena akan dihadiri oleh petinggi-petinggi tiap klub di Inggris.


Antonio sudah mempersiapkan seluruh kebutuhannya di Qatar, sore ini dia memutuskan mengenakan kaos slim fit tebal berkerah turtleneck warna kulit, celana denim hitam, serta jas hitam yang membuat penampilannya semi-formal untuk menghadiri gala dinner nanti malam. Maria sangat bahagia melihat putranya itu tumbuh dewasa.


“Wajahmu sangat mirip dengan ayahmu.” Maria memegang pipi Sang Putra, hubungan mereka perlahan membaik. Dulu—hubungan Antonio dan Maria sangat kacau, karena rahasia yang dia sembunyikan dari putranya itu.


Sebuah limousin menjemputnya, dan ia mencium kening Sang Ibu kemudian berangkat. Maria tiba-tiba menyadari sesuatu, ketika matanya sekilas melihat ke kalender yang tergantung di dinding.


“Bukankah malam ini adalah malam bulan purnama? Oh, Tuhan ... semoga Putraku baik-baik saja.”


Ia melirik Rolex yang melingkar manis di pergelangan tangannya, Antonio sangat terkejut saat melihat bulu lebat mulai tumbuh dengan cepat di punggung tangannya. Ia segera menyembunyikan tangannya di dalam saku jas dan meminta sopir berhenti.


“Kau mau kemana? Kita akan terlambat nanti!” Bryan berusaha mencegah Antonio turun, tapi laki-laki itu memaksa.


“Pergilah lebih dulu, nanti aku menyusul! Ada sesuatu yang harus aku lakukan!” pintanya.


Bryan menurut dan melanjutkan perjalanan. Sepeninggal Bryan, ia pun berlari mencari tempat untuk bersembunyi dan itu sangat sulit ketika ia berada di tengah kota. Ia pun berlari secepat kilat, agar tidak ada seorang pun yang melihat perubahan pada dirinya. Dia tidak sadar jika ada seseorang yang melihatnya.


Erika mendadak menginjak rem mobil ketika striker timnas tersebut melewati mobilnya dengan terburu-buru, tapi—dia sedikit merasa aneh dengan tubuh laki-laki itu yang terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Wanita ini pun memutar mobil ke arah laki-laki tadi berlari.


Jejak Antonio sangat sulit ia temukan, laki-laki tersebut menghilang dengan cepat seperti hantu. Arah yang dituju oleh Antonio adalah sebuah taman kota yang berada di sudut kota London dan sudah terbengkalai. Taman itu ditumbuhi banyak pohon Oak, beberapa dari pepohonan itu sudah meranggas.


Dari kejauhan dirinya bisa melihat sesosok makhluk yang sedang meringkuk di bawah salah satu pohon yang mulai mati, itu Antonio! Betapa terkejutnya Erika saat melihat perubahan yang terjadi pada tubuh laki-laki tersebut. Wujud manusia Antonio perlahan ditelan bulu-bulu lebat dan akhirnya berubah menjadi serigala.


Antonio kini sudah sepenuhnya berubah menjadi werewolf. Insting hewan liarnya itu menangkap adanya sosok selain dia yang ada di taman ini, ia tiba-tiba menghilang dari jarak pandang Erika, dan—werewolf itu sudah berdiri tepat di hadapannya, wanita ini mundur hingga terpojok.

__ADS_1


Cahaya bulan perlahan tertutup gerhana, Erika menengadah melihat langit malam yang semakin kelam. Tubuh Antonio berangsur kembali ke wujud manusianya, kali ini kondisinya membuat wanita di hadapannya itu memalingkan wajah.


Erika sadar jika waktu gerhana bulan penuh akan berlangsung lumayan lama, satu jam lebih dari cukup untuk mengikuti ramah tamah di gala dinner. Tidak lucu jika striker utama mereka absen menghadiri acara yang juga dihadiri para petinggi.


“Tunggulah di sini! Aku akan membelikan sepasang baju untukmu.” Erika lalu pergi tanpa menunggu jawaban Antonio yang terdiam terpaku menyadari wanita itu mengetahui rahasianya.


Setelah selesai berbelanja, Erika kembali ke tempat Antonio dengan mobilnya. Ia tidak menemukan laki-laki itu di sana.


“Raksasa! Tuan Raksasa!” Ia terus berseru memanggil Antonio. Suara gemerisik rumput kering menuntun Erika ke tempat laki-laki tersebut.


Erika hanya bisa mengulum senyum melihat laki-laki kejam seperti dia bersembunyi di balik semak-semak yang kotor tanpa sehelai kain pun. Antonio mendelik ke arah Erika yang menyodorkan paper bag berisi setelan baju laki-laki.


Dengan kasar Antonio mengambil paper bag itu. Erika berbalik memunggunginya.


“Dari mana kau tahu ukuran bajuku? Dasar wanita m***m!” Alih-alih berterima kasih, Antonio malah berkata kasar pada Erika.


“Jangan terlalu percaya diri, Bung. Bukan hanya kamu, aku bahkan tahu semua ukuran baju pemain tim kita, dan ingat—aku adalah dokter kalian! Paham?” Erika membantah perkataan Antonio.


Dia berjalan menuju mobil, “Kamu mau ikut atau akan berlari seperti tadi menuju hotel? Bukankah kamu tidak punya banyak waktu? Gerhana akan berakhir sebentar lagi dan—apa kau ingin berubah menjadi werewolf di ballroom?”


Antonio mendengus karena ucapan Erika benar. Ia terpaksa menumpang mobil wanita itu.


“Apa kau tidak takut kepadaku?” Iris kelabu itu melirik ke arah wanita di sampingnya yang tampak begitu tenang meskipun tahu dia adalah manusia serigala.


Tanpa mengalihkan pandangan, mau pun mengurangi kecepatan, Erika menjawab ringan, “Entahlah, mungkin ada rasa takut—atau—lebih tepatnya terkejut saja.”


Mobil Erika berbelok ke gerbang besar dan akhirnya berhenti di pelataran parkir, mereka berdua sudah sampai di hotel tempat acara itu dilaksanakan. Acara dinner itu belum sepenuhnya dimulai, kedatangan Erika dan Antonio yang bersamaan menarik perhatian para undangan yang hadir, tak terkecuali Bryan.


Belum sempat Bryan bertanya, MC acara sudah naik ke panggung dan memulai acara gala dinner itu. Ramah tamah yang membosankan berlangsung selama kurang lebih hampir setengah jam.


Erika memberi isyarat pada Antonio, jika gerhana akan berakhir. Dengan alasan ibunya kurang sehat, Antonio meminta ijin pulang lebih dulu kepada sang pelatih. Lantas—beberapa saat kemudian, Erika mengekor di belakangnya.


Lagi-lagi—wanita itu memberikan tumpangan kepadanya, Erika melajukan mobilnya membelah jalanan kota London menjauh dari London Hilton on Park Lane Hotel. Antonio hanya terdiam, ia agak heran karena wanita ini bahkan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun padanya.


Mobil ini terus membawa mereka ke kawasan hutan Epping Forest, Essex, hutan yang terkenal angker dan juga sangat jarang di kunjungi orang apalagi malam hari. Tempat yang sempurna bagi Antonio ketika berubah wujud.


Antonio keluar dari mobil, perlahan cahaya bulan mulai nampak, tubuhnya mulai berubah sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi manusia serigala sempurna. Dia terus melolong sendu, sementara Erika seperti merasakan Antonio saat itu sedang menangis.

__ADS_1


Dari dalam mobil, ia menatap sosok Antonio yang berwujud serigala. Mereka berada di Epping Forest semalaman—sampai matahari terbit dan Antonio kembali menjadi manusia.


...****************...


__ADS_2