My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 7 - Trip to Qatar


__ADS_3

Seluruh anggota timnas sudah berada di bandara internasional Heathrow tanpa terkecuali termasuk asisten dadakan Erika, yaitu Callie. Rasa penasaran Antonio masih kuat tentang kebenaran identitas Erika sebagai seorang vampir.


Ketika boarding pass dibagikan oleh manajer tim, segaris senyum sumringah terlihat di wajah striker ini, akhirnya dia punya kesempatan untuk bertanya-tanya pada Erika — karena seat-nya berdampingan dengan seat Erika.


Penampilan Erika lain dari biasanya, gadis itu hanya menggunakan sweater rajut berwarna pink dipadu celana kulot beige dengan sling bag mungil berwarna hitam, rambut Erika dicepol naik. Antonio terpesona melihat kecantikan yang dibalut kesederhanaan dokter ini.


“Eri —”


“Antoniooo ... berapa nomer seat-mu?” Callie kembali mengganggu ketika Antonio ingin berbicara dengan Erika.


Dengan nada ketus Antonio pun bertanya, “Apa urusanmu?”


Bibir Callie manyun mendengar nada ketus dari Antonio, tapi sikap dingin pria itu tidak menyurutkan keinginan gadis ini untuk mendekatinya. Dia memperhatikan Antonio yang berjalan mendekati Erika, Callie memasang telinganya tajam untuk mencuri dengar percakapan mereka.


“Erika ... seat kita berdampingan,” ujar Antonio sembari menyodorkan boarding pass miliknya kepada Erika.


Mata Callie membelalak, ternyata vampir itu yang akan duduk di sebelah Antonio? batin Callie kesal. Dia pun mendekati mereka berdua, dengan nada tinggi dia bertanya pada Erika, “Ternyata kau dapat tempat duduk di samping Antonio ... by the way, temanmu yang pucat itu di mana, ya?”


Pertanyaan bernada kesal dari Callie itu bagai sebuah alarm untuk Erika agar segera menyerahkan kursi di samping Antonio itu kepada Callie. “Kau mau duduk di samping Antonio? Duduklah di sana, aku bisa duduk di kursimu.”


“Ta—tapi, Erika ....”


“Tidak apa-apa, lagipula dia juga asistenku.” Erika menyerahkan boarding pass-nya kepada Callie, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Antonio hendak menahan Erika pergi, tapi lagi-lagi Callie sudah menggelayut manja di lengannya, dia melirik kesal kepada gadis di sampingnya itu — kemudian melepaskan rangkulan tangan Callie dari lengannya. Dia pun memilih membaur kembali dengan rekan satu timnya, daripada di ganggu oleh gadis tidak waras tersebut.


Sekilas di tengah timnya yang sedikit berisik karena berebut seat di samping Callie — Antonio mendengar jika Bryan yang mendapat tempat duduk di samping Callie. Dia pun menarik Bryan menepi dari kerumunan mereka.

__ADS_1


“Bryan ... kita tukar tempat duduk, ya?” Dahi sahabatnya itu mengernyit, karena dari kemarin Antonio selalu mengeluh dengan sikap mengganggu Callie. Lantas kenapa dia mau duduk di samping gadis itu?


“Di samping Callie?” tanya Bryan meyakinkan. Antonio mengangguk, dan akhirnya sahabatnya itu pun menyerahkan boarding pass miliknya dan disambut senyuman lebar dari bibir Antonio.


Saat tiba waktu boarding, di dalam pesawat terlihat jelas raut wajah kesal Callie ketika yang duduk di kursi Antonio adalah Bryan. Dia mencari-cari sosok striker itu dan ternyata dia duduk di kursi Bryan berdampingan dengan Erika.


“Erika ....”


“Tolong kembali ke tempat duduk Anda, Nona!” pinta salah seorang pramugari kepada Callie yang baru saja hendak bertukar tempat duduk lagi dengan Erika.


Akhirnya Callie pun mendengus kesal dan terpaksa kembali ke tempat duduknya di samping Bryan.


...----------------...


Perjalanan selama 6 jam 50 menit itu tidak membuat rasa kesal Callie mereda. Dia masih marah kepada Erika yang jelas-jelas tidak tahu-menahu soal Antonio dan Bryan yang saling tukar tempat duduk.


Betapa terkejutnya Erika ketika membuka pintu kamar hotelnya dan Nicollete sudah berada di dalam kamar tersebut. Erika cepat-cepat menutup pintu sambil mendelik galak ke arah pelayan kakaknya ini. Apa-apaan dia? Bagaimana jika seseorang sedang bersamaku saat ini? Bukankah dia akan terkejut melihat ada orang di dalam kamar yang terkunci? Erika menggerutu dalam hati.


“Bisa tidak kau menggunakan cara normal untuk masuk ke suatu tempat?” tanya Erika sembari meletakkan koper-kopernya di lantai.


“Orang akan mati terkejut ketika melihat ada seseorang di dalam kamar yang terkunci dan baru saja akan ditempati.” Erika terus mengomeli Nicollete sembari menata pakaiannya ke dalam lemari yang ada di kamar hotel.


Nicollete duduk di sofa, dan melengos. “Sudah biasa bagi kita para vampir menyelinap tanpa diketahui orang, Nona.” Dia membantah omelan Erika.


Erika menoleh dan menatap tajam ke arah Nicollete, dia mendekati gadis vampir tersebut, kemudian berkata, “Jangan samakan aku dengan Frank atau Lenora, okay? Aku tidak ingin menjadi vampir, aku ingin jadi manusia!”


“Ta—tapi ....”

__ADS_1


“Tidak ada tapi-tapian. Aku yakin kamu sudah dibekali identitas manusia oleh kedua kakakku itu, tolong datang ke sini sebagai manusia, dan melalui prosedur sebagai manusia!” tegas Erika.


Erika berbalik untuk menata kembali bajunya ke dalam lemari dan sesaat hawa dingin menusuk terasa kemudian hilang bersamaan dengan hilangnya Nicollete dari ruangan itu.


Ketukan pintu kamar membuat Erika tersentak, dia lega karena Nicollete sudah pergi. Jika anggota maupun manajemen timnas menemukan gadis itu di sini — maka mereka akan mengajukan banyak pertanyaan, karena Nicollete tidak ikut dalam rombongan mereka.


Erika beranjak untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya, senyuman Antonio terlihat ketika Erika mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dia pun membuka pengait pintu tersebut dan membiarkan Antonio masuk, striker itu berdiri serta bersandar pada dinding kamar Erika.


“Aku ingin bertanya tentang satu hal yang membuatku penasaran selama ini.” Jantung Erika seperti berhenti berdetak ketika dia membaca pikiran Antonio, apa kamu ini benar-benar vampir? Dengan panik dokter ini menelan salivanya, mencoba mencari jawaban pas untuk pertanyaan yang akan pria itu lontarkan.


“A—apa?”


Antonio menatap Erika dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga membuat dokter wanita ini jengah ditatap sedemikian rupa. “Apa kamu menjadikanku bahan taruhan dengan Callie?” Pertanyaan yang berbeda meluncur dari bibir pria ini.


Namun Erika bisa membaca pikiran Antonio, jika kamu bisa membaca pikiranku — tolong jujur padaku, apa kamu ini benar-benar seorang vampir? Erika pura-pura tidak tahu, dia malah sibuk membenahi barang-barangnya tadi.


“Dokter Erika, apa kamu dengar?”


Erika menghela napas, dia menoleh ke arah Antonio lagi, “Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada Callie yang mahasiswi kedokteran untuk belajar magang denganku, lagipula dia sangat menyukaimu, benar 'kan Callie?”


Antonio terkejut, ternyata Callie sudah berdiri di depan pintu kamar Erika dengan menyilangkan kedua tangan di dada dan tubuh bersandar di tepian pintu. Bibirnya berdecak kesal karena kedua orang ini ternyata membicarakan dia di belakang.


Melihat gadis pengganggu itu datang — Antonio memilih pergi, Callie pun setengah berlari mengikuti langkah Antonio dan membuat Erika bisa bernapas lega.


“Akhirnya kedua bakteri itu sudah pergi,” gumamnya sendiri, dia pun menutup pintu kamar untuk mandi dan beristirahat, sebelum nanti malam menghadiri acara makan malam tim.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2