
Kejadian kemarin masih terbayang dalam benak Erika. Dia tidak menyangka jika Antonio adalah seorang werewolf.
Angin kencang menerobos masuk dari jendela yang tiba-tiba saja terbuka. Muncul tiga orang bertubuh sedikit kurus dan bermata cekung, mereka memiliki kulit yang pucat sama seperti Erika.
“Erika! Sampai kapan kamu akan terus bermain-main di sini?” Salah satu dari mereka bertanya dengan intonasi tinggi. Dia adalah wanita berusia sekitar empat puluh tahunan.
Erika terkejut melihat kemunculan mereka di kamarnya. Lenora Gainsbourg Vladimir, Frank Ritevski Vladimir, dan satu lagi wanita muda yang tampak seumuran dengan Erika. Lenora dan Frank adalah kakak kandungnya—sedangkan wanita muda itu, Erika seperti pernah mengenalnya.
Sekilas mereka seperti manusia, padahal sesungguhnya mereka berdua adalah keturunan dari keluarga Vladimir, bangsawan vampir. Hanya saja, mereka terlihat jauh lebih pucat daripada manusia biasa.
Lenora mendekat ke arah Erika. Mata cekung dengan iris berwarna merah pekat itu menatap tajam ke arah sang adik.
“Kau ... apa kau baru menghisap darah manusia la—lagi?” tanya Erika dengan suara pelan. Ia melihat bola mata Lenora yang berwarna merah pekat, itu berarti, dia baru saja menghisap darah manusia.
Mendengar pertanyaan adiknya tersebut—Lenora mencibir, ia pun mencengkeram dagu Erika dengan kasar dan menatap lekat-lekat adiknya.
“Makhluk seperti kita adalah predator ... manusia sudah ditakdirkan menjadi mangsa vampir ... werewolf pun ditakdirkan jadi budak kita!” Lenora membentak Erika yang sejak kecil tidak mau meminum darah manusia.
Bagi Erika, manusia adalah sama dengan dirinya. Lalu, apa kata Lenora tadi tentang werewolf? Mereka adalah budak vampir? Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sifat angkuh mereka.
Lenora memojokkan Erika ke dinding, dia menekan leher adiknya itu dengan lengan hingga Erika tidak bisa bernapas. Erika berusaha melawan kakak perempuannya itu, meski dia tahu jika kekuatan yang ia miliki tidak bisa menandingi Lenora.
Frank menengahi kedua saudara perempuannya itu, dia tidak ingin Lenora melukai Erika. Meskipun tahu adik bungsu mereka itu memberontak dari tradisi ras vampir—Frank sangat menyayangi Erika.
“Sudahlah, Lenora! Kita ke sini untuk menyampaikan pesan dari daddy.” Frank menjauhkan Erika dari Lenora.
Walaupun dia adalah anak sulung dari keluarga Vladimir, tapi Frank lebih kuat darinya dan dia adalah kepercayaan sang ayah. Lenora mundur dan mencebik dengan jengkel, ia membiarkan Frank mengambil alih.
“Apa kabar adik kecilku?” Suara Frank lebih ramah daripada Lenora. Namun, tidak membuat Erika serta-merta merasa nyaman.
“A—apa sebenarnya yang kalian inginkan?” tanya Erika lirih. Ia masih berusaha menjaga jarak dari kakak-kakaknya itu.
Frank berdeham dan mulai menyampaikan pesan dari sang ayah, “Ulang tahunmu sebentar lagi, daddy ingin kamu pulang ke kastil.”
__ADS_1
“Sampai hari itu tiba—Nicolette akan bersamamu. Dia akan membantu untuk melatih keterampilan-mu sebagai penerus keluarga Vladimir,” lanjut Frank.
“Aku tidak akan kembali ke kastil ... tidak akan pernah!” Erika menolak dengan tegas keinginan keluarganya.
Jemari kurus dan pucat Frank mengelus rambut sang adik, dia mendekatkan telinga Erika ke bibirnya yang semerah darah.
Tangan Frank menarik rambut Erika dan berbisik, “Kau tahu, kalau daddy tidak menerima penolakan, 'kan? Jangan sampai daddy murka. Waktu bermain-mu sudah cukup.”
Ada sebuah penekanan dalam nada bicara Frank. Beberapa waktu lalu memang Frank sudah memperingatkan Erika melalui telepon sebelum mereka datang.
“Erika ... Erika! Apa kau sedang ada tamu?” Suara seorang laki-laki tua terdengar dari luar kamarnya.
“Ti—tidak, Professor. Aku hanya sedang menonton acara televisi. Kembalilah ke kamarmu!” teriak Erika dari dalam tanpa membuka pintu.
Senyum licik tersirat di wajah Lenora. “Jika kau tidak menuruti perintah daddy—” Matanya melirik ke arah pintu.
“Jangan coba-coba menyentuh Professor Sylvester!” Erika mendorong Lenora hingga membentur dinding.
“Cih! Lemah!” Lenora mengejek kekuatan Erika yang lemah. Dia balas mencakar wajah Erika hingga meninggalkan bekas cakaran, namun langsung pulih seketika.
Mereka berdua menghilang dalam gelap malam, meninggalkan wanita yang tadi datang bersama mereka. Erika menatap penuh tanya kepada wanita tersebut.
“Frank bilang tadi namamu Nicolette?” Erika berusaha memastikan nama wanita itu.
“Master memanggil saya dengan nama itu, Nona.” Wanita bernama Nicolette tersebut menjawab dengan hormat kepada Erika.
Erika menatap lekat-lekat wajah Nicolette, ia seperti mengenal wanita di hadapannya itu. Namun masih tidak yakin dengan ingatan tentang wanita ini.
Nicolette memanggil Frank dengan sebutan master, itu berarti dia adalah seorang vampir slave atau pelayan vampir—yang artinya dulu Nicolette adalah manusia yang digigit oleh Frank.
“Apakah dia Nicolette Pousin? Gadis desa yang pernah tersesat di hutan dan menjadi temanku?” Erika bertanya-tanya dalam hati.
Sebagai pelayan vampir, Nicolette harus menuruti apa saja yang diperintahkan oleh sang master. Ingatan sebagai manusianya pun hilang, kecuali saat Frank mati nanti, Nicolette kemungkinan bisa mendapat ingatannya kembali.
__ADS_1
Keesokan paginya.
“Kau sedang melamun?”
Suara Bryan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membuat Erika tersentak. Ternyata, sedari tadi dia melamun, ia masih penasaran dengan sosok Nicolette yang diutus sang kakak untuk mendampinginya.
Gelandang depan timnas itu bermaksud meminta vitamin untuk dirinya. Akan tetapi—dokter cantik itu sedang melamun di dalam ruangannya.
“Aku ingin meminta vitamin yang pernah kau berikan untukku beberapa hari lalu,”
“Ah, i—iya. Tunggu aku ambilkan.”
Melihat Erika yang tidak seperti biasa, jiwa ingin tahu Bryan jadi terusik. Hanya saja, dia tidak begitu dekat dengan dokter ini untuk menanyakan tentang masalah pribadinya.
Erika menyodorkan satu strip obat kepada Bryan, dahinya mengernyit melihat obat yang disodorkan itu. Aspirin—Erika benar-benar tidak fokus. Tapi Bryan tidak mengatakan apa pun dan keluar dari ruang klinik tersebut.
Ketika pintu tertutup, Erika kembali duduk menopang dagu di meja.
...----------------...
Lenora dan Frank berdiri di depan sang ayah, Count Vladimir. Vampir berusia lima ratus tahun itu masih terlihat gagah seperti masih berusia lima puluh tahunan.
Count Vladimir menggoyang-goyangkan glass wine yang berisi cairan merah kental. Iris mata pria itu berwarna merah gelap, lebih gelap dari iris mata milik Lenora dan Frank.
“Kalian sudah menemukan Erika?” Kepala keluarga Vladimir itu bertanya dengan suara berat.
“Sudah, daddy. Dia tinggal di Inggris, bersama—”
“Dia di Inggris, Dad. Menyewa sebuah rumah di pinggiran kota London.” Frank memotong ucapan Lenora sebelum ia mengatakan Erika tinggal bersama seorang manusia. Ayah mereka akan sangat murka.
Wajah Lenora terlihat tidak senang karena Frank melindungi manusia yang tinggal bersama Erika. Sesungguhnya sang ayah mengharapkan putri bungsunya itu ikut pulang bersama mereka, perjodohan Erika dan anak dari keluarga bangsawan Christoph harus dilaksanakan sebelum hari ulang tahun Erika.
Harapan mereka untuk bisa memimpin seluruh vampir di dunia ada di pundak Erika. Meski terlihat lemah—kekuatan supranatural yang dimilikinya sangat mengerikan, karena dia bisa dengan sesuka hati memanipulasi pikiran lawan, mendeteksi kebohongan dan membaca masa depan.
__ADS_1
Count Vladimir percaya, jika putri bungsunya itu mampu membantu mewujudkan ambisi mereka. Keluarga Christoph adalah keluarga vampir murni yang sangat terpandang di Slavia. Dukungan dari mereka akan memperkuat posisi keluarga Vladimir di kalangan vampir.
...****************...