My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 6 - Niat Jahat Nicollete


__ADS_3

Lusa adalah hari keberangkatan mereka menuju Qatar, tapi—masih ada yang mengganjal di hati Antonio tentang Erika. Ia memutuskan untuk bertanya kepadanya langsung hari ini.


Antonio tidak menemukan Erika di manapun, dia sengaja datang lebih pagi sebelum teman-temannya datang. Setelah mencari ke seluruh sudut klub, dia tetap tidak menemukan keberadaan dokter wanita tersebut.


Jari Antonio baru saja akan menekan nomer Erika di ponselnya, tiba-tiba wanita itu muncul bersama dengan temannya tadi malam.


“Boleh aku meminta waktumu sebentar?” Antonio langsung menodong Erika sebelum yang lain datang.


Nicolette yang datang bersama Erika mengernyit, dia merasakan aura yang berbeda dari laki-laki ini. Mata Nicolette mengikuti mereka berdua yang agak menjauh dari dirinya.


Selain Nicolette, ternyata ada orang lain yang memperhatikan tingkah mereka. Dia adalah Lionel.


“Kau.”


“Ada apa?”


Antonio dan Erika bersamaan bersuara. Itu membuat mereka berdua salah tingkah sendiri.


“Bicaralah.” Antonio mengalah, dia berharap Erika akan menjelaskan semua tanpa harus dirinya bertanya.


Tampak jelas wanita ini kebingungan untuk memulai pembicaraan. Ia bisa membaca pikiran Antonio, itulah yang membuat dirinya bimbang haruskah ia jujur tentang siapa dia sebenarnya atau berbohong dan tidak tahu kapan akan ketahuan.


“Hmm, a—ku ....”


“Dokter Erika! Aku ada perlu denganmu sebentar!”


Lionel mengganggu percakapan mereka. Sekilas Nicolette merasakan hawa dingin yang mengerikan ketika laki-laki itu melewatinya barusan.


Melihat kedatangan rival-nya yang tak diundang tersebut, membuat Antonio merasa kesal. Namun, dia sedang tidak ingin berselisih dengan gelandang tim itu, sehingga dia memilih mengalah dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Entah apa yang mereka bicarakan. Lagipula apa urusanku jika Erika adalah seorang vampir? Selama dia tidak mengganggu manusia.... Ah, lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja.


Ia membuka pintu ruang ganti, ternyata beberapa rekannya sudah ada di dalam, termasuk Bryan.


“Aku tadi ke rumahmu, tapi kata Nyonya Maria, kamu sudah berangkat ke sini. Tumben, pagi-pagi sekali kamu datang.” Bryan mengikat sepatunya sambil terus berbicara.

__ADS_1


“Itu ....”


“Antonio, ada yang mencarimu. Gadis kecil yang imut, by the way kamu bukan pecinta anak-anak, 'kan? Itu melanggar hukum,” seloroh salah satu rekannya yang baru saja tiba.


Dahi Antonio mengernyit heran. Gadis? Ia pun keluar ruangan setelah mengganti bajunya dengan seragam latihan. Punggung seorang gadis bertubuh mungil tampak dari kejauhan, Antonio pun mendekatinya, ternyata dia adalah Callie.


“Sedang apa kau di sini?” Callie menoleh ke arah Antonio. Jemari mungilnya mengacungkan tanda pengenal sebagai paramedis di klub.


“Bagaimana bisa ....”


Setelah keributan di pelataran parkir tadi, Erika merasa tidak tenang. Gadis bernama Callie Izzard itu, bisa saja membuat kegaduhan jika menemukan dia lagi. Apalagi sepertinya Callie juga mengenal Antonio.


Erika memutuskan untuk menemuinya malam ini. Hanya saja, dia tidak tahu cara menemukan gadis pemburu vampir itu.


“Nico, kamu tahu cara menemukan gadis yang tadi menyerang kita?” Erika memutuskan untuk bertanya pada Nicolette. Tampaknya wanita ini cukup mengetahui tentang keluarga Callie.


Nicolette menaikkan alisnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang nona mudanya itu pikirkan. Apa dia mau menyerahkan nyawa kepada pemburu vampir itu? Dia saja belum bisa menggunakan kekuatan sejatinya. Kalau saja Nona Erika mampu menguasai kekuatan itu, ia bisa mengendalikan Callie.


“Nicollete!” Erika mengguncang bahu Nicollete yang sedang melamun.


“Hah? Ada apa Nona Erika?” tanya Nicollete kaget.


“Baiklah, saya akan mengantar Anda dengan satu syarat, Anda tidak boleh jauh-jauh dari saya!” Akhirnya Nicollete memutuskan untuk mengantar adik masternya itu bertemu dengan Callie Izzard.


Mereka berdua pun tiba di depan bangunan tua klasik di kawasan perbukitan pinggiran kota London, bukan keturunan keluarga Izzard jika Callie tidak bisa merasakan hawa dari makhluk buruannya. Hanya dalam sekejap mata — gadis mungil itu berdiri di hadapan mereka dengan senjata perak dalam genggamannya.


Erika mengangkat tangan untuk menenangkan Callie dan menunjukkan bahwa dia sedang tidak ingin ribut dengan gadis kecil itu. “Aku ke sini untuk bernegosiasi denganmu, bukan untuk berkelahi.”


“Apa yang ingin seorang vampir negosiasikan dengan pemburunya!?” Callie dan Nicollete sama-sama terkejut mendengar ucapan Erika barusan.


“Kau menyukai Antonio, 'kan?” pancing Erika, benar saja — mendengar nama itu disebut, Callie menurunkan senjatanya. “Bagaimana kalau kau aku beri akses dekat Antonio setiap hari, tapi dengan satu syarat ... kau tidak boleh mengusik aku maupun Nico. Lagipula tidak semua vampir jahat, Callie.”


Gadis itu terdiam sejenak, satu hal yang ditanamkan sejak ia kecil oleh keluarganya adalah jangan pernah percaya ucapan vampir. Namun — mimik wajah sungguh-sungguh Erika menggoyahkan doktrin tersebut, dia ingin mempercayai ucapan Erika, apalagi dengan Antonio sebagai tawarannya.


“Baiklah, tapi jika aku mendapati kau atau temanmu itu menyakiti manusia ... aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu di hadapan Antonio sekali pun!” ancam Callie.

__ADS_1


Senyum Erika mengembang, bertolak belakang dengan raut wajah emosi Nicollete. Dia tidak menyangka jika adik master-nya itu akan melakukan tawar-menawar yang picik dengan gadis pemburu vampir ini.


“Besok datanglah ke klub pagi-pagi, dan hubungi pihak manajemen, katakan pada mereka jika kau adalah asistenku.” Erika menyodorkan kartu nama kepada Callie, di balik kartu nama itu sudah ia tulis catatan untuk pihak manajemen.


Callie menerima kartu nama tersebut dengan mata berbinar. Dia seolah lupa jika yang sedang berdiri di hadapannya adalah makhluk buruannya.


Dari kejauhan Erika melihat raut wajah Antonio yang kebingungan. I'm so sorry big boy, aku terpaksa menjadikanmu bahan tawar-menawar dengan gadis kecil itu. Dia mendekati Callie dan Antonio.


“Callie adalah asistenku mulai sekarang, dia yang akan mengurus makanan dan vitamin anggota tim. Jadi, aku bisa fokus dengan kesehatan kalian saja,” seloroh Erika sembari memperkenalkan Callie kepada Antonio.


“Ta—tapi dia ....”


“Kejadian kemarin hanya salah paham. Benar 'kan, Callie?” Gadis itu mengangguk dengan semangat menjawab pertanyaan Erika.


“Terserah kalianlah! Ingat, kau harus jaga jarak denganku!” Antonio memperingatkan gadis kecil yang selalu ingin menempel dengannya itu. Callie menjulurkan lidah mengejek Antonio.


Pagi itu pun menjadi pagi yang aneh bagi Antonio, hingga dia lupa ingin mempertanyakan kebenaran ucapan Callie waktu itu.


Malam hari di kediaman Professor Sylvester.


Erika terlihat mondar-mandir cemas di dalam kamar, dia bingung bagaimana dia bisa menyusupkan darah hewan itu ke dalam bagasi pesawat. Saat masuk di dalam pemeriksaan x-ray pasti petugas bandara akan curiga.


Saat dia sedang kebingungan, pintu kamarnya diketuk oleh Professor Sylvester, Erika pun membukakan pintu untuk pria tua penggila vampir tersebut. Melihat sang Professor masuk — Nicollete tampak berniat jail kepadanya, tapi urung karena Professor itu membawa tabung reaksi berisi cairan bening berwarna keemasan.


“Itu apa, Professor?” Telunjuk Erika menunjuk tabung reaksi yang dipegang ayah angkatnya itu.


Senyum bangga Professor Sylvester mengembang lebar, dia menyodorkan tabung reaksi itu pada Erika, indera penciuman Erika dan Nicollete merasakan aroma darah dari cairan keemasan tersebut.


“Aku sudah melakukan uji coba berkali-kali, akhirnya aku berhasil mengekstrak darah juga serum dan membuat cairan ini. Kau tidak akan kesulitan lagi, ataupun khawatir orang akan melihatmu meminum darah, meskipun itu hanya darah hewan,” tutur Professor Sylvester dengan bangga.


“Jadi ....”


“Ya, kemampuan cairan ini ... bisa mempertahankan wujud manusia dan menekan wujud vampirmu dalam waktu dua minggu. Kau bisa bebas melakukan aktivitas dalam jangka waktu dua minggu.” Pria tua itu menjelaskan fungsi cairan yang ada di tangannya tersebut.


“Namun, ingat! Tetap gunakan serum untuk kulit jika akan terpapar langsung matahari. Anti-tesin ini hanya berfungsi selama kau tidak melihat darah dalam jumlah yang banyak. Karena cairan ini tidak bisa menekan adrenalin yang terlalu kuat.” Professor Sylvester melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


Nicollete menatap tak suka ke arah cairan emas di dalam tabung reaksi itu, cairan yang disebut anti-tesin oleh professor tua ini — semakin membuat Erika jauh dari jati dirinya sebagai vampir. Dia harus mencari cara untuk menjauhkan Erika dari cairan tersebut, bagaimana pun caranya.


...****************...


__ADS_2