My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 8 - Konspirasi


__ADS_3

Keesokan harinya — Nicollete tiba di Bandara Internasional Hamad, penampilannya sangat mencolok dengan pakaian serba hitam dan tanpa baju hangat di tengah musim dingin begini. Meskipun menjadi pusat perhatian, gadis vampir ini cuek melenggang keluar bandara untuk mencari taksi.


“Entah kenapa Nona Erika begitu menyukai kehidupan sebagai manusia, aku yakin kalau dia sudah lupa caranya ber-teleportasi atau malah dia tidak bisa sama sekali.” Sopir taksi yang ditumpanginya pun menoleh keheranan mendengar penumpangnya menggerutu sendiri.


“'Ayn turid 'an tadhhabi?” (Ke mana tujuan Anda?) Nicollete semakin kesal karena sopir itu berbicara dengan bahasa setempat yang sama sekali tidak ia mengerti.


“Can you speak English?” (Apa Anda bisa bicara bahasa Inggris?) tanya Nicollete berusaha ramah pada manusia.


“Asf, la 'afham ma taquluhu.” (Maaf, saya tidak mengerti yang Anda katakan) Sopir itu menjawab Nicollete masih dengan bahasa Arab, dan itu nyaris membuat gadis ini marah, untung saja dia membawa brosur hotel tempat Erika menginap sehingga dia menunjukkan gambar hotel tersebut kepada si sopir.


“Fahimt, hal turid almaji' 'iilaa hadha alfunduq , 'alays kadhalika?” (I see, you want to come to this hotel, right?) Nicollete tersenyum kecut, sopir itu masih mengoceh dengan bahasa yang sama sekali tidak dia pahami sembari menjalankan taksinya.


Setelah taksi itu melaju, Nicollete bersandar lega. Jika saja aku menggunakan teleportasi, aku sudah berada di depan hotel sekarang! Dia mendengus dan memejamkan matanya selama perjalanan sampai akhirnya taksi itu berhenti di depan pintu lobby hotel, beberapa lembar uang riyal disodorkan Nicollete kepada sopir taksi tadi. Sopir itu tersenyum.


Nicollete menurunkan kacamata hitamnya begitu sampai di dalam lobby, dia menghampiri meja resepsionis dan meminta petugas di sana menghubungkan dirinya dengan Erika. Dia pun menunggu adik master-nya itu — di sofa lobby, ketika dia sedang menunggu Erika, dia melihat sosok Callie sedang mengekor di belakang Antonio dan teman-temannya.


Dari kejauhan Erika melihat pelayan Frank itu sambil tersenyum geli, dia pun mendekati Nicollete. “Kamu benar-benar ke sini naik pesawat?”


Ekor mata Nicollete melirik kesal ke arah Erika yang sedang memanggil porter untuk membawa bawaan Nicollete ke kamarnya. Di dalam lift vampire slave itu terus menggerutu, mengeluh, dan mengomel tentang betapa ribetnya menjadi seorang manusia, sehingga memaksa Erika mencubit pinggang Nicollete.


Mereka berdua pun sekarang berada di dalam kamar Erika, setelah porter itu pergi — Nicollete menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. “Kau mau makan sesuatu?” tanya Erika.


“Vampir tidak merasa lapar, Nona. Jika vampir lapar, mereka akan mencari darah segar ... lagipula sebelum ke sini, saya sudah minum beberapa kantong darah manusia.” Nicollete menjawab pertanyaan Erika panjang lebar.


Jawaban Nicollete itu menggelitik rasa penasaran Erika, “Beberapa kantong darah manusia? Apa Professor yang memberimu itu?”


Nicollete mencebik dan mencibir, “Mana mungkin pria tua itu memberi saya darah manusia. Dia malah ingin saya ikut mengkonsumsi anti-tesin yang ia buat.”


“Lantas?”


“Saya mencurinya dari rumah sakit, seperti biasa.”

__ADS_1


Erika menepuk keningnya pasrah, dia lupa jika dia tidak mungkin bisa mengubah teman masa kecilnya itu kembali menjadi manusia, atau paling tidak jadi vampir yang tidak meminum darah manusia.


...----------------...


Besok adalah hari di mana tim Inggris akan berhadapan dengan Iran, Antonio berharap bisa menuntaskan rasa penasarannya terhadap Erika sebelum pertandingan dimulai. Namun, sangat sulit menemui Erika karena Callie selalu menempel padanya seperti lintah dan jamur pada kulit.


Akhirnya malam ini Antonio bebas dari Callie, entah gadis itu sedang pergi ke mana, sehingga dia bisa bebas berbicara dengan Erika. Dia pun pergi mendatangi kamar Erika dan memberanikan diri untuk menemuinya secara pribadi sekali lagi.


Gadis itu kini berdiri di depannya, tapi — dia tidak sendiri melainkan bersama Nicollete. “Aku ingin bicara denganmu sebentar.”


“A —”


“Nona! Seorang vampir tidak pantas bergaul dengan werewolf!” Sontak kedua orang itu kompak menatap Nicollete dengan sorot mata berbeda. Antonio meminta penjelasan, sedangkan Erika menatap kesal ke arahnya.


Pandangan Antonio beralih ke Erika, kali ini Erika tidak bisa lagi menyembunyikan jati dirinya. “Ya, yang Nicollete katakan itu benar ... dan — mungkin kau sudah mendengarnya dari Callie.”


Kaki Antonio mundur selangkah, meskipun dia sudah menduganya — tapi pengakuan Erika barusan cukup membuatnya terkejut. Seorang vampir di tengah-tengah kerumunan manusia?


Antonio masih tidak percaya jika Erika tidak akan membahayakan rekan-rekannya yang manusia. “Aku pernah melihatmu meminum darah di ruang kesehatan klub!” tandas Antonio.


Ucapan Antonio membuat Erika terkejut, pantas saja pria ini menjadi sedikit aneh setelah peristiwa di lapangan waktu itu. “I—itu darah kelinci, aku berani bersumpah bahwa aku tidak meminum darah manusia,” sanggah Erika.


Melihat sang nona terpojok, Nicollete maju membela Erika, “Jika Nona Erika meminum darah manusia memangnya kenapa? Memang sudah jadi takdir kami para vampir melakukan hal tersebut. Apalagi Nona Erika adalah keturunan keluarga Vladimir — bangsawan vampir Rusia.”


Antonio semakin menjauh ketika mendengar nama Vladimir disebut, kepalanya tiba-tiba terasa pening dan amarahnya seolah akan meledak. Dia pun memilih pergi dari sana sebelum mengamuk tanpa sebab.


“Tolong jangan ikut campur dengan urusan pribadiku, Nico!” Erika menghardik pelayan Frank itu dengan marah, sekarang dia tidak akan bisa membaur dengan anggota tim seperti biasa karena Antonio pasti akan mewaspadainya.


“Nona, tolong sadari identitas Anda sebagai seorang vampir, penerus keluarga Vladimir! Kekuatan sejati Vladimir ada pada Anda, bukan Nona Lenora maupun Tuan Frank!”


“Diamlah! Aku ini Erika Sylvester Bellatrix, bukan anggota keluarga Vladimir!”

__ADS_1


......................


Callie menemukan Antonio di dalam bar hotel sendirian, dia melihat pria itu sudah minum beberapa gelas alkohol — sementara besok adalah pertandingan tim mereka. Karena khawatir idolanya akan terkena sanksi, Callie berusaha menghentikan Antonio minum lebih banyak lagi.


“Jangan ganggu aku gadis kecil ... kau tidak tahu apa yang sedang membuatku kacau saat ini ....” racau Antonio dalam kondisi mulai mabuk.


“Berapa banyak dia minum?” Callie bertanya pada bartender dan bartender itu mengangkat empat jarinya.


“Empat gelas dan dia sudah mabuk seperti ini?” tanya Callie lagi kepada bartender tersebut.


Bartender itu tersenyum kecut. “Bukan empat gelas, Nona ... tapi — empat puluh gelas Gin.”


Mulut Callie terbuka lebar karena terkejut, dia pun merampas paksa gelas yang masih berisi alkohol di tangan Antonio. Dia menarik striker itu keluar dari bar dan mengantarnya kembali ke kamar, sepanjang perjalanan Antonio terus mengoceh tentang Erika sehingga membuat Callie merasa kesal.


Setelah menyerahkan Antonio kepada Bryan, dia segera menemui Erika, tapi yang dia dapat malah Nicollete yang sedang berdiri di luar kamar dengan sebuah botol obat berisi kapsul selaput berwarna keemasan.


“Sedang apa kau di sini wanita vampir?” tanya Callie sinis kepada Nicollete. Mendengar suara gadis kecil itu dia pun menoleh ke arahnya.


Nicollete menyeret Callie menjauh dari kamar Erika, mereka berhenti di depan pintu darurat yang sepi. Callie menepis tangan Nicollete dan mengibaskan tangannya seolah jijik telah dipegang seorang vampir.


“Apa maumu?” Callie bertanya dengan nada kasar, sementara Nicollete mengacungkan botol obat itu ke depan mata gadis pemburu vampir ini.


“Kau ingin Erika menjauh dari Antonio, 'kan?” Nicollete menebak isi hati Callie, dan gadis ini menjawab dengan anggukan kepala. “Aku ingin Nona Erika ikut kembali ke kastil Vladimir.”


“Memang sudah seharusnya kalian berada di sana, dan tidak membahayakan manusia di sini!” sindir Callie tajam.


“Oleh karena itu kita harus bekerja sama. Kau mempengaruhi Antonio untuk membenci Nona Erika, dan aku akan membuat Nona Erika menyadari kenyataan bahwa dirinya adalah vampir.”


“Caranya?”


Nicollete pun mulai memberitahukan rencana yang telah ia susun kepada Callie. Mereka akhirnya sepakat untuk menjalankan rencana itu bersama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2