
Perselisihan antara Antonio dan Lionel masih terus berlangsung. Desas-desus di dalam tim masih tentang Antonio yang menggunakan doping walaupun tidak bisa mereka buktikan pun semakin santer terdengar.
Namun—itu sama sekali tidak mengganggu Antonio, apalagi pembawaannya yang memang dingin. Sikap cuek dan acuh tak acuh pada rekan satu tim, kemudian cara bicara Antonio yang terkadang lugas cenderung sarkas—semua itu membuat banyak yang membencinya.
Sore itu, setelah selesai latihan, dia dan Bryan pergi ke restoran steak langganannya. Untuk menjaga berat tubuh ideal, Bryan hanya memesan seporsi kecil spaghetti dan salad—berbeda dengan Antonio yang selalu memesan porsi besar sirloin steak.
“Aku iri denganmu ... seandainya saja aku bisa sepertimu, makan sesuka hati tanpa takut berat badanku naik.” Bryan menggerutu ketika melihat Antonio asyik memotong-motong steak-nya.
Mendengar itu dia hanya menyeringai pada sahabatnya, sembari mengacung-acungkan potongan steak ke depan hidung Bryan. Mata pemuda yang usianya lebih tua dua bulan dari Antonio itu mendelik galak. Reaksi Bryan tadi membuat dia tergelak.
“Sudah lebih sebulan pasca pemilihan kapten tim, Lionel masih saja menganggapmu seorang musuh. Padahal—kita adalah rekan satu tim.” Bryan menyerocos sambil mengunyah salad-nya.
Antonio mengendik, ia sudah berusaha menurunkan ego-nya dan berusaha berdamai dengan Lionel di lapangan, tapi—orang itu masih tetap sangat menyebalkan. Melihat reaksi sahabatnya, Bryan tidak berkomentar lagi dan kembali fokus pada makanannya.
Kedua pemain inti timnas itu sedang menikmati hidangannya, ketika bunyi lonceng pintu restoran terdengar saat dibuka oleh seseorang.
Bryan yang posisinya pas berhadapan dengan pintu refleks melihat siapa pengunjung yang baru saja masuk. Ia mematung saat seorang wanita berambut panjang masuk ke dalam restoran, meski wajahnya tertutup syal hingga hidung dan matanya mengenakan kacamata hitam, aura kecantikan wanita itu tetap terpancar.
“Kamu lihat wanita yang baru saja masuk? Sumpah demi Dewi Yunani, Aphrodite pun akan cemburu melihat kecantikannya.” Mata Bryan terus mengikuti ke mana wanita tersebut pergi, sedangkan mulutnya tidak berhenti berbicara.
Karena penasaran, Antonio ikut melirik wanita yang membuat Bryan tidak fokus pada makanannya itu. Ia menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan heran.
“Wanita berkulit pucat seperti itu kamu bilang cantik? Lagipula, wanita gila mana yang mengenakan mantel tebal serta syal di musim panas seperti ini?” Antonio setengah mengejek selera wanita Bryan, “Periksalah matamu nanti!”
Mendengar ejekan Antonio, Bryan hanya mendengus kesal, tangannya kembali sibuk dengan spaghetti-nya yang mulai dingin. Hanya saja, matanya masih tetap ke arah wanita tersebut—melihat hal itu, Antonio hanya geleng-geleng kepala.
Wanita tadi menurunkan syal dan membuka kacamatanya, dia juga melirik ke arah Bryan dan Antonio. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan mata pemuda Portugal itu, segaris senyum hangat terukir di bibir wanita ini—tapi—bukan Antonio namanya jika dia membalas senyuman wanita tersebut, ia malah melengos dengan dingin.
__ADS_1
Setelah makanannya tandas, Bryan memberanikan diri mendekat ke meja sang wanita.
“Sendirian?” Bryan menyesali kata klise yang barusan keluar dari mulutnya.
Wanita itu mendongak memandang Bryan lalu mengangguk tipis, “Ada yang bisa saya bantu?”
Mendapat respon positif meski agak kaku, Bryan menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar. Ia harus mendapatkan nomer ponsel wanita ini, paling tidak namanya, cukup nama wanita ini saja.
“Perkenalkan, namaku ....”
Belum sempat ia menyebutkan namanya, ponsel wanita itu berdering.
“Ya ... aku mengerti ... tolong jangan ikut campur dengan kehidupanku di sini!” Ada sebuah penekanan di kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum mengakhiri percakapan telepon tersebut.
“Aku harus pergi, maaf.”
Ia meninggalkan Bryan yang mematung dengan tangan terulur. Dari meja mereka, Antonio menatap geli sekaligus iba kepada sahabatnya itu.
Antonio menepuk pundak Bryan memberi simpati.
Pertandingan musim panas akan segera berlangsung, Antonio kembali membela klub sepakbolanya sebelum Piala Dunia. Dia memang seorang bintang lapangan, wajah tampan dengan rahang tegas juga alis tebal membingkai mata tajam yang memiliki tatapan dingin, rambut gondrong Antonio dipotong gaya under cut membuat dia semakin digilai kaum wanita.
Seperti hari ini, stadion dipenuhi oleh penonton yang mayoritas adalah wanita. Antonio tidak tahu jika di antara penonton itu ada seseorang yang mengidolakan dirinya sejak awal debut, gadis itu selalu berada di podium penonton paling depan, agar bisa melihat aksi Antonio dengan jelas.
...----------------...
Manajemen Timnas sedang mencari dokter baru untuk menggantikan dokter lama mereka yang mengundurkan diri, apalagi perhelatan piala dunia di Qatar akan dilaksanakan sebentar lagi. Pilihan manajemen jatuh kepada seorang wanita yang lulus sebagai dokter spesialis pada usia muda, dia meraih nilai sempurna dari Imperial College London, Erika Bellatrix.
__ADS_1
Pertama kali menginjakkan kaki di klinik perawatan tim ini, Erika seperti sedang memasuki gerbang neraka, belum lagi para laki-laki itu berusaha menarik perhatiannya yang menurut mereka cantik dan unik dengan kulit yang pucat—serta gaya berpakaian Erika yang cenderung aneh.
Wanita itu sangat sering mengenakan mantel panjang dan syal meskipun cuaca sangat terik. Seolah dia sama sekali tidak merasa gerah.
Mereka berebutan tempat untuk mengintip Erika yang sedang merapikan tempat kerjanya itu dari celah pintu dan jendela. Bagi mereka—dokter wanita tersebut adalah Aphrodite yang turun di dalam barak pasukan tempur Yunani, salah satu yang jatuh hati padanya adalah Bryan. Apalagi saat ia tahu jika ternyata Erika adalah wanita berkulit pucat yang ia dan Antonio temui di restoran beberapa waktu lalu.
Bryan memutuskan masuk ke dalam klinik dengan alasan menawarkan bantuan. Padahal itu salah satu triknya untuk berkenalan langsung dengan Erika.
“Takdir ternyata memang mengharuskan kita untuk bertemu, Nona.” Dengan penuh rasa percaya diri, dia menyapa Erika.
Erika hanya menanggapinya dengan senyuman, kemudian kembali membereskan ruangan yang cukup berantakan itu.
“Apakah kau butuh bantuan?” Bryan masih saja berusaha menarik perhatian Erika.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukan ini sendiri.” Wanita itu menjawab tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bryan.
Antonio yang sedari tadi sedang mencari Bryan—melihat para anggota tim terkecuali Lionel sedang berbaris di depan klinik seperti mengantre tiket bioskop. Ia jadi penasaran ada apa di dalam klinik itu.
“Bukankah tidak sopan menolak bantuan seseorang, Nona? Apalagi kau adalah orang baru di sini.” Nada sinis terdengar dari ucapan Antonio yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Suara bariton laki-laki tersebut akhirnya mampu membuat Erika menoleh, ia menatap Antonio dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Ini adalah kali kedua mata mereka saling bertatapan. “Sorot mata laki-laki ini benar-benar dingin,” batin Erika.
"Wanita angkuh dari keluarga kaya, tidak akan mampu bertahan lama bekerja dengan kami," pikir Antonio tidak kalah sarkas dengan caranya berbicara.
“Jika kau berpikir aku hanya wanita manja dari keluarga kaya, silakan buat aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini!” Tiba-tiba dokter baru itu menunjuk wajah Antonio dan berkata dengan nada sedikit tersinggung. Mata Erika menatap nanar pada dua laki-laki di hadapannya itu.
Antonio terkesiap, ia tidak menyangka wanita ini bisa membaca pikirannya, “Mungkin hanya kebetulan.” Dia membatin lagi.
__ADS_1
Wanita ini mendengus kesal, dia pun mengusir Antonio dan Bryan dari ruangannya. Lalu melanjutkan kegiatannya merapikan ruangan yang berantakan tersebut.
...****************...