
Malam ini Erika sedang berbelanja di departemen store dekat klub. Dia ingin membeli beberapa potong baju dan setelan untuk dibawa ke Qatar nanti. Karena begitu asyik memilah-milah baju yang ada di rak, dia tidak memperhatikan langkahnya.
Erika menabrak seorang gadis yang membawa barang yang cukup banyak, sehingga bawaan gadis tersebut berserakan di lantai. Dengan sigap Erika membantu gadis tadi membereskan barang-barangnya. Namun, tanpa sengaja punggung tangan dokter wanita ini tercakar oleh ujung kuku gadis itu.
“Aduh!”
“Maaf kak, kakak tidak apa-apa?” Gadis itu berusaha meraih tangan Erika yang entah sengaja atau tidak ia cakar.
Kemampuan pemulihan vampir yang cepat, luka kecil seperti itu tidaklah berarti. Namun, untuk manusia seperti gadis ini, akan aneh jika luka yang mengeluarkan darah dengan cepat menghilang. Karena itulah Erika segera menyembunyikan tangannya.
Sekilas gadis itu mengernyitkan dahi curiga. Belum sempat dia bertanya lagi, seseorang sudah menarik tangan Erika menjauh.
“Maaf, ya!” seru Erika meminta maaf dari kejauhan.
Ternyata yang menarik dirinya adalah Nicolette, wanita itu membawa Erika ke salah satu sudut departemen store yang agak tersembunyi. Setelah yakin tidak ada orang yang memperhatikan mereka—Nicolette mulai membuka suara.
“Jauhi para pembasmi vampir!” Nicolette menggenggam tangan Erika, tatapannya jelas sangat mengkhawatirkan adik sang master.
“Maksudmu gadis bertubuh mungil tadi seorang vampir slayer?” Nada suara Erika terdengar sedikit menyindir kekhawatiran Nicolette.
Baginya, mustahil gadis semungil itu adalah pemburu makhluk abadi seperti mereka, mungkin Erika bisa melemparnya dalam satu kali gerakan. Ia pikir Nicolette terlalu paranoid.
Entah karena memang khawatir atau menjalankan tugas dari Frank, wanita ini tetap menemani Erika berkeliling untuk belanja. Sesekali dia melirik Nicolette yang berdiri patuh seperti seorang bodyguard di belakangnya.
Barang-barang yang ia perlukan untuk persiapan ke Qatar sudah lengkap. Erika mengajak Nicolette untuk pulang, sebenarnya seorang vampir memiliki kemampuan teleportasi, tapi karena sudah membaur dengan manusia—Erika terbiasa menggunakan kendaraan yang kata Nicolette sangat tidak praktis.
Mereka keluar dari lift dan berjalan ke tempat mobil Erika diparkir yang cukup sunyi dan tidak terlalu terang karena beberapa lampu di area parkiran tersebut mati. Saat Erika membuka bagasi mobilnya, seseorang menyergapnya dari belakang.
Nicolette langsung menendang orang tersebut hingga jatuh telentang. Betapa terkejutnya Erika saat mengetahui gadis yang ia tabrak tadi adalah pelakunya, di tangan gadis itu ada sebilah belati bergagang mahoni dan memiliki mata dari perak yang tajam. Jika mata pisau itu menggores mereka, akan sulit untuk menyembuhkan lukanya.
“Kenapa kau menyerang kami!” Nicolette menarik adik master-nya itu ke belakang punggungnya.
Senyum sinis mengembang di bibir gadis bertubuh mungil itu. Dia tidak menjawab, malah kembali menyerang mereka berdua. Nicolette merasa tidak mudah melawan pemburu vampir ini, tangannya tergores belati perak milik gadis tersebut. Akan sulit jika aku melawan gadis ini sambil melindungi Nona Erika.
Ia mendorong Erika menjauh, tapi—perhitungan sang pelayan vampir itu meleset. Gadis itu memburu Erika, bukan dirinya. Dia mengejar targetnya hingga ke tempat yang gelap dan sepi.
Erika terpojok, dia sudah tidak bisa lari kemana-mana. Gadis itu melayangkan pukulannya, namun Erika lebih cepat menghindar dan pukulan tersebut meleset mengenai dinding, hingga berlubang cukup besar.
__ADS_1
Mata Erika tidak percaya dengan apa yang dia lihat, gadis dengan tubuh kecil itu mampu membuat lubang di dinding beton. Bagaimana jika pukulan tadi mengenaiku? Aku pasti sudah terluka parah.
“Erika Bellatrix Vladimir! Kau adalah pendosa yang harus dihukum!”
Lagi-lagi ia dibuat terkejut, karena gadis ini tahu namanya. Erika tidak ingin membalas serangannya, dia ingin berbicara baik-baik dengan pemburu vampir itu.
“Te—tenangkan dirimu dulu, aku bu—”
Belum sempat Erika meneruskan ucapannya, gadis itu menghunuskan belati perak yang ia pegang sedari tadi. Namun, serangannya kembali meleset karena seseorang menyelamatkan Erika.
Nicolette yang terlambat datang, melihat sang nona ada di dalam pelukan seorang laki-laki muda.
“Kau mau mati, hah?” Erika seperti mengenal pemilik suara sang penolong. Ia menengadah, ternyata benar, laki-laki yang menolongnya adalah Antonio.
Gadis pemburu vampir itu menghentikan serangannya ketika melihat Antonio. Dia buru-buru menyembunyikan belati yang tadi ia gunakan menyerang Erika.
“Antonio?” tanya gadis itu ragu.
Mata Antonio menatap penuh tanya kepada gadis tersebut. Aku seperti pernah melihatnya, tapi—di mana, ya?
“Tolong menjauh dari wanita itu, dia berbahaya!” Gadis itu meminta Antonio menjauh dari Erika, di hadapan laki-laki ini, dia seperti pudel jinak di depan majikannya.
Erika tersadar, ia pun melepaskan diri dari pelukan Antonio. Sementara laki-laki ini terpaku dengan sebutan wanita vampir yang dilontarkan gadis itu kepada Erika.
Belum sempat Antonio bertanya, Nicolette sudah membawa pergi Erika dengan teleportasi-nya. Mereka berdua tiba di depan rumah Professor Sylvester, pria tua yang mengangkat Erika menjadi anak, meskipun tahu jika dia adalah vampir.
Melihat putri angkatnya itu pulang bersama seseorang yang terluka, Professor Sylvester terheran-heran. Sejak kapan putrinya ini terlibat perkelahian.
“Professor, ini Nicolette, temanku.” Erika bingung harus mengatakan apa kepada ayah angkatnya itu.
“Masuklah dulu. Di mana mobilmu?”
“Ceritanya panjang, biarkan aku mengobati luka Nicolette dulu, nanti aku akan menceritakan kepada Anda.”
Erika menyuruh Nicolette duduk di sofa dan memegang tangan Nicolette yang terluka. Perlahan, luka menganga itu tertutup dan menghilang, membuat alis pelayan vampir ini naik sebelah, ia sangat terkejut.
“Jangan katakan kepada siapapun! Aku tidak ingin keluarga Vladimir tahu kekuatan penyembuh ini!” pinta Erika kepada Nicolette.
__ADS_1
Mendengar percakapan mereka berdua, Professor Sylvester menatap teman Erika itu dengan sorot sedikit ketakutan. Berarti dia vampir sama seperti Erika, tapi dia tidak mungkin memiliki prinsip yang sama dengan Erika.
“Hei! Pak tua, kenapa kau menatapku seperti itu?” Nicolette bertanya dengan nada tidak suka.
“Ka—kau bu—bukan va—vam—vampir, 'kan?” Professor Sylvester bertanya dengan terbata-bata.
Ekspresi ketakutan pria tua itu membuat Nicolette merasa ingin menjahilinya. Dia pun mengubah wujud manusianya ke wujud vampir hingga membuat wajah bulat dengan jenggot yang sudah memutih itu berubah pucat ketakutan.
“Jangan menyentuh Professor Sylvester, aku peringatkan kau, Nico!”
Nicolette tertawa, ia mengendikkan bahunya dan berubah kembali menjadi manusia. Wanita itu menyadarkan punggungnya ke sofa.
“Walaupun aku menghisap darah manusia—aku juga akan memilih targetku. Setidaknya ... membayangkan aku menggigit leher pria tua itu—aku lebih baik menggigit karet.”
Selorohan sarkas Nicolette mau tidak mau membuat Erika hanya bisa menahan tawa. Sementara Professor Sylvester mengepalkan tangannya ke arah Nicolette, lalu kembali ke ruang kerjanya.
Erika masih tidak mengerti kenapa pemburu vampir itu nyaris membunuhnya.
“Dia Callie Izzard, gadis itu adalah keturunan terakhir keluarga Izzard—pemburu vampir yang sudah lama memburu para bangsawan vampir. Keluarga Anda dan keluarga Christoph, serta beberapa keluarga bangsawan vampir lainnya.”
“Callie ... Izzard.”
...----------------...
“Apa yang kau inginkan dari Erika, Callie?” Antonio menatap lekat-lekat gadis yang kini ia ingat itu.
Callie mendengus ketika tahu idolanya membela wanita vampir itu. Apa aku katakan saja jika dia seorang vampir? Tangan mungil Callie mengetuk-ngetuk meja, dia bimbang.
“Kau tidak sedang mencoba melukai dia, 'kan?” cecar Antonio terus.
Gadis ini masih saja bungkam. Dia takut jika dikira gila oleh Antonio jika mengatakan Erika adalah vampir, karena laki-laki ini tidak akan percaya jika dia mengatakan hal yang sebenarnya.
“Pokoknya kau harus menjauhi wanita itu! Dia berbahaya!” tegas Callie, “Terserah kau mau percaya atau tidak.”
“Karena dia seorang vampir?” tanya Antonio dengan nada suara rendah, membuat Callie terkejut.
“Aku peringatkan dirimu, jangan berani menyentuh Erika, atau kau akan menyesal seumur hidup!”
__ADS_1
Antonio meninggalkan Callie yang duduk termenung di dalam coffee shop.
...****************...