My Beautiful Doctor Vampire

My Beautiful Doctor Vampire
BAB 10 - Love in Qatar


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Antonio sudah menggedor pintu kamar Erika, dia ingin meminta penjelasan tentang peristiwa semalam, cukup lama dia menggedor pintu itu tapi tidak ada jawaban dari dalam. Callie yang baru saja pulang entah dari mana, keheranan melihat Antonio yang sepertinya sedang emosi.


“Apa yang kau lakukan sepagi ini di depan kamar Erika?” tanya Callie penasaran.


Antonio menatap lekat ke arah gadis itu, dia adalah seorang pemburu vampir — pasti tahu tentang kejadian semalam. “Semalam ....”


“Wanita yang mati digigit vampir itu? Meskipun aku tidak suka kau dekat dengan Dokter Erika — tapi aku juga tidak suka jika orang tidak bersalah dituduh atas hal yang tidak mereka lakukan, pelakunya bukan Erika maupun Nicollete.” Callie menerangkan kejadian semalam sebelum sempat Antonio bertanya.


“Dari mana kau yakin jika itu bukan salah satu dari mereka?”


Callie menghela napas dan bersandar di dinding, “Pertama Nicollete sedang bersamaku sehingga tidak mungkin dia pelakunya, lalu Erika — dia sudah bertahun-tahun tidak mengkonsumsi darah manusia dan dia dibuang oleh keluarga Vladimir, lantas aroma yang tertinggal pada tubuh wanita itu bukanlah milik Erika.” Dia menjelaskan kepada Antonio.


“Lantas di mana mereka sekarang?” Antonio mendesak Callie mengatakan keberadaan Erika. Gadis ini berniat mengambil hati Antonio, jadi dia pun membiarkan dulu pria itu untuk mendekati Erika.


Setelah mendapat informasi tempat Erika berada, Antonio segera pergi menemuinya, Callie hanya tersenyum penuh arti sembari memandang punggung Antonio yang menjauh pergi.


Pemandangan The Corniche, Doha terhampar di depan Antonio, tempat itu sedikit ramai karena hari ini adalah weekend beberapa orang tampak sedang jogging baik sendirian maupun bersama teman dan pasangan. Manik mata kelabu Antonio menyisir tiap sudut boulevard tepian pantai itu mencari sosok Erika maupun Nicollete.


Dari kejauhan dia bisa menangkap kedua gadis vampir itu sedang duduk di tempat yang teduh dari sinar matahari pagi. Apa-apaan kedua vampir itu? Apa mereka tidak takut akan terbakar karena sinar matahari? Sembari jalan menghampiri mereka, Antonio melepas sweater-nya.


“Kau sedang apa di bawah sinar matahari begini?” Erika terkejut karena tiba-tiba tempat mereka menjadi sangat teduh, dia mendongak dan menemukan Antonio berdiri membelakangi matahari, sehingga sinarnya tidak mengenai mereka berdua.


Melihat Antonio datang — Erika membuang muka, dia masih merasa sakit hati karena pria ini tidak mempercayainya. Padahal jelas-jelas ketika dia pertama kali menampakkan wujud manusia serigalanya, Erika sama sekali tidak berkomentar tentang hal tersebut.


“Ayo, kita kembali ke hotel.” Antonio menarik tangan Erika lembut, tapi betapa terkejutnya dia saat dokter ini menepis tangannya.

__ADS_1


Erika menatap tajam ke arah Antonio, dia berkata dengan ketus, “Kami bisa pulang sendiri!”


Sekarang pria ini menyadari jika Erika masih tersinggung dengan sikapnya semalam, dia benar-benar melihat Erika sebagai seorang musuh malam itu.


“I'm so sorry, tidak seharusnya kemarin malam aku bersikap kasar padamu.” Antonio meminta maaf kepada Erika dengan penuh penyesalan, dia tahu — saat ini pasti Erika sangat marah padanya.


Erika diam saja, dia malah mengajak Nicollete pergi dari tempat itu. Sementara, Antonio hanya bisa mengekor di belakangnya.


......................


Malam itu di kamar Erika — Callie dan Nicollete, mereka bertiga berkumpul untuk menyusun rencana mencari tahu siapa sosok vampir selain kedua gadis vampir ini. Namun Nicollete, merasakan bukan hanya ada satu orang vampir saja yang sedang berada di Qatar.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk iseng berjalan-jalan keluar hotel, entah kenapa Callie merasa vampir yang menyerang wanita itu kemarin akan kembali beraksi. Di tengah keramaian suasana malam kota Doha, samar Nicollete bisa mendengar seseorang sedang berteriak meminta tolong.


“Ke sebelah sana!” Mereka bertiga pun segera menghampiri asal suara tersebut dan benar saja, ketika mereka tiba di sana — seorang gadis tengah tersudut di sudut lorong sempit yang gelap juga buntu.


Salah satunya maju dan menyerang Callie, dengan sigap gadis ini menghindari serangan tersebut. Callie merasakan hawa vampir dari orang ini, dia menjaga jarak dan mengambil belati perak yang ia sembunyikan di pinggangnya.


“Mereka vampir!” teriak Callie kepada Erika dan Nicollete, sehingga mereka terpaksa menggunakan wujud vampir untuk melawan keempat orang tersebut.


Pertarungan sengit terjadi diantara mereka, Erika yang masih lemah dalam menggunakan wujud vampir untuk bertarung nyaris saja terkena serangan salah satu dari kawanan itu. Namun — tiba-tiba Antonio muncul di belakang Erika dengan wujud setengah werewolf dan menyelamatkannya.


Antonio membantu pertarungan ketiga gadis itu, dan menyuruh Erika menyelamatkan gadis yang masih berdiri ketakutan melihat para makhluk aneh tersebut berkelahi. Dia masih ketakutan ketika Erika mengajaknya pergi, walaupun akhirnya gadis ini menurut dan mengikuti Erika menjauh dari tempat pertarungan itu.


Dalam perkelahian — Antonio berhasil membuka hoodie lawannya, dan dia benar-benar terkejut ketika melihat vampir itu adalah Lionel.

__ADS_1


“Li—Lionel!?” Mereka berempat kompak menyerukan nama gelandang utama timnas itu. Karena kedoknya terbuka dan melihat Antonio sedang lengah — Lionel pun menjegal Antonio, kemudian melarikan diri.


Ketiga kawanan Lionel pun sudah berhasil dilenyapkan oleh Callie dengan belatinya. Wajah gadis ini begitu terkejut saat mengetahui pria yang sangat dia kagumi adalah seorang werewolf.


“Apa lihat-lihat!?” gertak Antonio sambil mengubah dirinya kembali menjadi manusia.


“Ka—kau ....” Callie tidak bisa meneruskan ucapannya, dia benar-benar syok mendapati kenyataan Antonio seorang manusia serigala.


Pria itu tidak menggubris gadis pemburu vampir tersebut, dia menghampiri Erika, dia sedang membalut luka gadis yang mereka tolong. Matanya melirik Antonio, Nicollete dan Callie secara bergantian, kemudian beralih ke gadis yang masih syok itu.


Nicollete mengerti kekhawatiran Erika, dia takut jika gadis ini menceritakan yang terjadi malam ini kepada orang lain dan akan memperumit keberadaan mereka. Dia pun membisikkan sesuatu ke telinga Erika, “Gunakan kemampuan Anda untuk memanipulasi ingatan gadis ini.”


Mata Erika mendelik, dia sama sekali tidak memiliki kemampuan seperti itu. “Bagaimana bisa, Nico?” Dia balas berbisik dengan geram pada pelayan vampir kakaknya itu.


“Tatap mata gadis itu dan pusatkan konsentrasi Anda untuk masuk ke dalam pikirannya. Mungkin akan lebih baik jika Anda menggunakan wujud vampir Anda Nona Erika.”


“A—apa aku bisa?” Erika tidak yakin dengan dirinya. Nicollete meyakinkan dia, begitu juga dengan Callie dan Antonio.


Erika pun mencoba melakukan apa yang Nicollete ajarkan, dia merasa seluruh tenaganya tersedot habis. Gadis di hadapannya itu terlihat linglung dan menatap mereka satu persatu.


“Apa yang terjadi?” Dia meringis karena lutut dan sikunya terluka.


Mereka bertiga tersenyum. “Tadi kami lihat kamu terserempet motor dan pingsan, jadi kami menolong kamu,” tutur Callie berbohong dan gadis itu terlihat percaya.


Setelah gadis tadi pergi dan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel — Erika jatuh pingsan. Itu karena dia terlalu banyak menggunakan tenaganya saat memanipulasi ingatan gadis tadi.

__ADS_1


Antonio pun membopong dokter wanita tersebut, ikatan rambut Erika lepas dan membuat rambut keemasannya tergerai bebas. Wajah mungil yang sedang tertidur pulas karena kelelahan, Antonio merasakan sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, detak jantungnya pun terasa sangat cepat. Apa aku sedang jatuh cinta kepada Erika?


...****************...


__ADS_2