
Di dalam pesawat seorang gadis duduk dengan gelisah, pasalnya dia baru saja mendapatkan kabar jika ibunya sakit keras. Jantung dan hipertensi nya kambuh. Gadis itu panik sejak kapan ibunya memiliki penyakit jantung.
Gadis cantik itu bernama Mutiara Bimantara, namun dia tidak mau menggunakan nama belakang namanya.
Mutiara adalah seorang Pengusaha muda yang bergerak di bidang fashion. Kesibukannya membuat gadis itu harus bolak balik keluar negeri bahkan dia lebih sering menetap di Paris.
Dan malam ini dia terbang dari Paris ke Indonesia demi ibunya.
Mutiara tidak memiliki saudara kandung, dia anak semata wayang Liora dan Agus Bimantara.
Sepanjang perjalanan Mutia tidak berhenti berdoa, memohon agar Allah segera menyembuhkan penyakit ibunya.
Hingga akhir nya dia tiba di tanah air. Pesawat mendarat dengan selamat, Mutia setengah berlari keluar bandara.
Seorang gadis cantik sudah menunggunya, Devi adalah sepupu sekaligus orang kepercayaan ibunya.
Gadis itu melambaikan tangan dan Mutia segera berjalan kearahnya "Kenapa Lo nggak bilang kalau nyokap gue punya penyakit jantung?' omel Mutia
"Maaf kak, tapi bude nggak ijinin aku untuk ngasih tau kakak,'
"Lantas lo ngikut begitu aja, dasar bodoh!" maki Mutia
"Maafin aku kak, tapi aku bisa apa? bude ngancam aku?" ucapnya lagi
"Bodoh, lihat akibat kebodohan mu, Mama dalam bahaya." ucap Mutia lagi.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Sopir membawa mereka menuju rumah sakit, tak henti sepanjang perjalanan Mutia memarahi Devi, gadis itu hanya diam, sesekali menjawab dan meminta maaf.
"Mama..." Mutia memeluk tubuh ibunya yang masih terbaring dengan peralatan medis lengkap di tubuhnya.
Mutia menangis melihat tubuh ibunya yang tergeletak tak berdaya.
"Ma...ini muti.. Ma, Mutia pulang." ucap gadis itu.
Perlahan mata itu terbuka, sayu dan nampak sangat lemah.
"Mama.." ucap Mutia dengan wajah berbinar, gadis itu menyeka air matanya dengan kasar.
Mutia bahagia ibunya membuka mata itu artinya ibunya melihatnya.
"Tia..." panggil liora dengan suara lirih.
"Shuuuut, Mutia disini Ma, Mutia akan jaga Mama, Mama istirahat ya, biar cepat sembuh." ucap gadis itu tak lupa menghadiahi banyak ciuman di wajah ibunya.
__ADS_1
Mutia sangat merindukan liora. "Tia..." lagi ibunya memanggil namanya. Kali ini terselip senyum tipis.
"Tia disini Ma, Mama istirahat saja." ucapnya lagi dengan senyum lebar.
Liora patuh, wanita itu menutup matanya dan sepertinya dia tertidur.
"Sejak kapan Mama seperti ini?" tanyanya masih dengan nada dingin pada Devi.
"Tadi pagi kak, tiba-tiba bude jatuh sambil memegangi dadanya, dan langsung kami bawa kesini ."
Tak lagi bertanya, Mutia diam.dan terus menatap wajah ibunya.
Mutia memilih duduk disebelah liora, dia terus mengusap wajah lembut itu, Mutia bisa melihat dengan jelas, wajah cantik ibunya yang mulai keriput dan pucat.
Tanpa sadar gadis itu ikut terlelap.
*
*
Pagi menjelang di tandai dengan suara burung-burung yang bernyanyi merdu.
Mutia terbangun dari tidurnya, dia bisa merasakan usapan hangat di kepalanya, gadis itu bangun dan mengangkat kepalanya diiringi senyum sumringah.
"Mama.." ucapnya penuh semangatnya.
"Tadi malam Ma, Mama mau apa? biar Tia belikan, atau Mama mau Tia masakin apa?" lagi gadis itu coba tersemyum lebar.
Liora menggeleng, "Mama nggak mau itu, Mama cuma mau satu hal nak, kamu menikah." ucap liora
Tubuh Mutia seketika membeku, gadis itu terdiam beberapa saat sebelum akhir kembali bicara, "Aku pasti menikah Ma, tapi bukan sekarang." sahutnya
"Lalu kapan? usia kamu sudah nggak muda lagi Tia,"
"Ma, kita bahas ini nanti ya, sekarang kita fokus pada kesembuhan Mama." sahutnya
Liora menggeleng, "Mama tidak bisa menunggu lama, usia Mama tidak akan lama lagi."
"Mama bicara apa sih, udah mendingan Mama istirahat aja." Mutia coba bernegosiasi
"Tia," panggil ibunya dengan nada serius, tangan lemah itu menggenggam tangan putrinya.
"Mama tau nak usia Mama tidak lama lagi, Mama punya satu permintaan nak, kamu menikah."
__ADS_1
Duar!!!?
Bagai tersambar petir mutiara mendengar nya.
"Menikah, " ulangnya pelan.
"Iya dan Mama sudah memilihkan pasangan untukmu, namanya-"
"Stop Ma, aku tidak mau menikah." ucapnya tetap ngeyel.
"Mama sudah memilihkan pria yang tepat untuk mu. Dan-"
setelah itu liora kembali memejamkan matanya.
Ma...mama....ma..." gadis itu berteriak dan memanggil dokter.
"Silahkan tunggu diluar," ucap dokter padanya.
Mutia duduk termenung, lima menit kemudian dokter keluar dan bicara dengan Mutia.
"Untuk sementara biarkan pasien istirahat dan jangan buat dia berpikir keras,"
"Baik dok," sahut Mutia
"Kak, sebaiknya kakak pulang dulu atau kakak mau aku belikan makanan? kakak pasti lapar." ucap Devi
",Tidak, aku ingin menunggu Mama,"
"kak, bude Enggak apa-apa, gimana kalau kakak pulang aja dulu, nanti kembali lagi. Kakak juga butuh istirahat, biar aku yang jagain bude."
Mutia menyerah, dia berjalan keluar dan masuk ke dalam lift. Turun kelantai bawah, saat pintu terbuka karena terburu-buru seseorang tak sengaja menabraknya hingga mengotori pakaiannya. Gaunnya terkena tumpahan kopi.
"Maaf!" ucap pria itu berusaha mengelap tumpahan kopi di gaun Mutia
"Minggir, jangan menyentuh ku, " Mutia menolak
"Sekali lagi maaf,"
"Dasar bodoh," maki Mutia dan terdengar oleh pria tampan disamping nya itu, pria itu tersinggung.
"Hai kau memaki ku? bukankah aku sudah minta maaf?"
Mutia melirik dengan tatapan sinis, 'Apa maaf mu bisa mengembalikan gaunku? apa kau tau harga gaun ini?' ucapnya ketus dan melebarkan matanya.
__ADS_1
Mutia tertawa sinis, "Aku yakin kau pasti tidak tau, sudahlah percuma bicara dengan mu," ucapnya lalu berjalan keluar.
"Gadis sombong," ucap pria itu.