My Cool Husband

My Cool Husband
Bukan salahku


__ADS_3

Baru saja gadis itu memejamkan matanya, terdengar ketukan di balik pintu kamar. Awalnya dia berpura-pura tidak mendengar namun ketukan itu semakin keras tersebut, mau tak mau di a harus bangkit dan membuka pintunya.


"A.." Ucapan nya terhenti kala melihat pria yang berdiri di depannya ini bukanlah pria yang dia pikirkan. Karena sempat tersirat di kepalanya jika yang mengetuk pintu adalah suaminya yang baru pulang kerja.


"Mau apa lagi?" tanya Mutia dengan tatapan dingin


"Kakak ipar, kok gitu sih, Aku cuma pamit pulang, oh ya sampai kan salam ku pada suami mu, bye."


Setelah bicara pria itu pun berlalu pergi meninggalkan Mutia dengan perasaan mendongkol.


"Berpamitan? dia menggangu tidurku hanya dengan alasan tidak masuk akal ini!' omelnya dalam hati.


Namun gadis itu tak bisa berkata apapun lagi.


Dia juga berbalik dan siap masuk ke dalam kamar.


"Tunggu, kita perlu bicara." panggil seseorang yang akhir-akhir ini nada suaranya selalu menggema dan mengganggu nya, siapa lagi kalau bukan Emir.


"Siapa yang datang bertamu ke rumah ku? Berani sekali kau membawa laki-laki lain, selama aku tidak ada dirumah." ucapnya tajam.setajam pisau.


"Tunggu dulu tuan sombong. Siapa yang kau maksud?"aku?" tunjukny pada dirinya sendiri.


"Aku membawa laki-laki lain ke dalam rumah ini? cih...tidak masuk akal," omelnya.


"Kau salah justru aku yang ingin bertanya kepadamu, bagaimana orang lain bisa tahu password rumahmu sehingga dia dengan mudah masuk ke dalamnya."

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksud?"


"Pria muda bernama Prasetya. Dia bisa seenaknya masuk dan keluar dari rumah ini. seharusnya kau menghargai aku sebagai istrimu walau status kita hanya nikah kontrak dan di atas kertas tapi kau harus bisa menghargai privasi ku, tuan"


"maksudnya pras datang ke sini?"


"Iya dan dia menunggu mu,"


"Sekarang mana dia katakan dimana dia? Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"sudah pergi." jawab Mutia singkat.


kemudian Gadis itu berbalik bersiap kembali masuk ke dalam kamarnya namun tidak puas dengan jawabanmu Tia dia ingin meminta penjelasan Kenapa dan apa yang dilakukan oleh sepupunya di rumahnya.


"Apa, Ya seperti yang biasa mungkin dia lakukan, datang, duduk layaknya pemilik rumah kemudian dia pergi karena mungkin kamu terlalu lama."


"hanya itu?"


" lalu kamu pikir apa lagi?" tanya Mutia dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


Emir terssadar, "tidak ada," jawab nya lalu diam.


kembali terbalik dan kali ini alangkah secepat naik ke atas menuju kamarnya Gadis itu sangat kesal dengan ucapan Emir.


"Emangnya apa yang aku lakukan dengan sepupunya itu? apa dia pikir aku perempuan murahan? Dasar! dia yang berbuat jahat, dia yang menuduhku. Padahal dia yang memiliki kekasih. Kenapa dia menuduh aku yang selingkuh? lagi pula itu kan bukan urusannya, aku mau berteman dengan siapa, mau jalan dengan siapa, kenapa sekarang dia marah." omel mutiara di dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara Emir terdiam di tempatnya, sedikit bingung dengan sikap istrinya jelas terlihat jika mutiara itu marah.


"Kenapa aku harus marah? dan kenapa dia juga marah? AKu kan cuma tanya, apa yang dilakukan Pras di sini. dia kan tinggal jawab saja tanpa harus marah padaku." ucap Pras


Setelah berdiri beberapa saat dan merenung akhirnya keras pun berjalan menuju kamarnya, tubuh lelahnya meminta untuk segera beristirahat.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam namun Emir belum bisa memicinngkn matanya.


Perutnya terasa lapar. Tadi malam dia tidak makan malam, karena masih merasa sedikit kenyang.


Padahal dia makan jam 04.00 sore tadi, dan sekarang perutnya merontak minta diisi.


Pria itu berjalan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan, siapa tau masih ada sisa makanan yang dimasak mutiara.


Sayangnya dia tidak menemukan apapun di sana, hanya bahan makanan mentah yang ada di dalam kulkas.


Emir duduk sambil memegangi perutnya, tak kuat nahan lapar pria itu pun mengambil mie instan kemudian mulai memasaknya.


satu piring mie instan telah tersaji dan dengan lahap dia memakannya. selesai makan dia pun kembali ke atas untuk beristirahat.


Tepat jam 03.00 pagi perutnya terasa pedih teriris, pria itu pun bangun dan berusaha mencari obat lambung yang ada di dalam kamarnya sayangnya dia tidak menemukan obat itu setelah beberapa kali mencari.


Emir berjalan keluar kamar mencari obat tersebut di dalam tasnya barangkali masih ada tersisa di sana. perutnya yang sakit membuat langkahnya terhuyung, dan brugh....


Emir terjatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2