
Sebuah mobil berhenti tepat di samping Mutia berdiri dan pria itu kemudian menurunkan kaca mobilnya "Yuk, sekalian." ajaknya dengan ramah.
"Tidak, terima kasih. Aku akan menunggu angkutan umum saja lagi pula aku sudah memesan ojek." bohong gadis itu.
Pria itu terkekeh "sudah tidak usah bohong, aku tahu tidak ada angkutan yang akan lewat sini. Buruan daripada kamu aku skors karena terlambat sampai di kafe." ucapnya membuka pintu.
Mutia akhirnya naik ke mobil Faisal. Pria muda itu tersenyum, "Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanyanya ramah.
'Sudah kuduga pria ini pasti ada maunya, ternyata dugaanku benar, dia mau mencari tau tentangku? tapi untuk apa dia menyelidiki ku? huh!' ucapnya dalam hati
"Iya pak." sahut Mutia
"Kebetulan sekali saya juga tinggal di gedung itu, tepatnya dilantai lima apartemen, kamar nomor 100" jelas Faisal
Mutia tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum tipis.
"Oh ya kita belum sempat kenalan nama saya adalah Faisal dan Saya adalah Bos kamu di cafe, tapi itu bukan kafe saya. Saya hanya bertugas mengelolanya saja." bohong Faisal lagi.
'Sepertinya gadis ini anti sekali dengan orang-orang kaya, maaf kan aku jika aku harus berbohong agar bisa mendekatinya.Nanti setelah dia jatuh cinta padaku baru aku akan mengatakan yang sebenarnya.'
"Bapak pasti sudah tahu nama saya," sahut gadis itu
"Tapi apa kita boleh kenalan lebih jauh, maksud saya berteman begitu,"
"Maaf pak, tapi apa pantas bapak berteman dengan saya,"
"Loh kenapa?"
"Saya hanya karyawan biasa pak, saya enggak mau ada rumor tak sedap antara bapak dengan saya nantinya."
"Tidak, saya murni ingin berteman dengan kamu tanpa ada alasan lain, dan jika kamu kurang nyaman jika kita terlihat akrab di kantor tak masalah kita bisa berteman di luar kantor toh kita searah bukan."
"Tapi pak?"
"Nggak ada alasan Tia, saya suka sama kinerja kamu dan cara kamu menaklukkan pelanggan kemaren. Saya senang sekali karena kamu bisa membuktikan jika kamu tidak bersalah."
"Saya minta maaf untuk masalah itu Pak, saya janji kejadian seperti itu enggak akan terulang lagi."
"Loh saya justru bangga loh sama kamu, kamu itu keren."
"Stop pak, saya turun disini saja." ucap gadis itu yang minta turun di jalan tidak jauh dari kafe tersebut."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya enggak mau jati fitnah pak, terima kasih tumpangannya."
Mutia segera turun dan berjalan kaki, Faisal hanya menatapnya sambil tersenyum hangat.
"Gadis yang Luarbiasa, kamu tau semakin kau jual mahal semakin aku menyukaimu." ucap Faisal yang langsung melajukan mobilnya ke kantor, dia tidak jadi ke kafe.
*
"Hai Tia," sapa Rini
"Hai Rin,"
"Kamu kelihatanya lagi kesal kenapa?"
"Eh enggak.ada, " sahut Mutia
"Tunggu, kamu kurang tidur, tuh mata kamu berkantung, hitam lagi" ucapnya memperhatikan wajah Mutia
"Eh, ini aku tadi malam begadang nonton bola."
"Kamu suka bola?" tanya Rini geleng kepala
"Iya, kenapa enggak boleh?"
Mereka keluar ruangan dengan seragam kerja lengkap.
"Pelayan," terdengar suara seseorang memanggil
Mutia mengambil daftar menu dan berjalan menuju meja tersebut, dia terkejut melihat Pras duduk disana.
"Mau pesan apa?" tanyanya coba bersikap profesional.
"Kakak, itu beneran kamu?" bukannya memesan Pras justru mempertanyakan Mutia.
"Iya ini aku, ada yang salah?" tanya Mutia ketus
Pras menatap tak percaya, "sulit di mengerti," gumannya pelan
"Tidak ada yang harus dimengerti, kamu mau pesan atau tidak?"
"Aku,.. mau kopi."
"Itu saja?"
__ADS_1
"Iya,"
"Tunggu sebentar." ucap Mutia kemudian berlalu dari hadapan pria itu.
"Gadis yang aneh, dia istri dari seorang miliarder tapi memilih menjadi seorang pelayan, apa nenek mengetahui ini? Sebenernya bagiamana rumah tangga mereka? Aku tidak menyangka kak Emir sekejam itu pada istrinya." guman pria itu.
**
Emir sudah berada di dalam mobil, namun dia teringat akan berkasnya yang masih tertinggal di ruang kerja, mau tak mau di kembali karena itu berkas penting untuk rapat pagi ini.
Emir berjalan menuruni tangga keluar dari kamarnya, dia ingin keluar namun perutnya terasa pedih. Pria itu teringat jika tadi pagi istrinya memasak bubur untuknya dia kemudian berjalan ke dapur, dan melihat bubur tersebut di dalam penghangat makanan.
Emir langsung mengambilnya dan memakannya hingga habis.
Setelah itu dia pun berangkat bekerja.
*
Emir berjalan memasuki kantor, di lobi dia bertemu dengan Pras.
"Kak, tunggu."
Pras setengah berlari menuju Emir yang berhenti, "Ada apa?" tanya pria itu ketus.
"Ada yang ingin aku bicarakan"
"Aku tidak punya waktu main-main denganmu." tolak Emir
"Ini tentang istrimu,"
"Sudah ku duga, apa yang ingin kau ketahui?" ejek Emir
"Apa kau tau istrimu bekerja?"
"Iya,"
"Dan kau mengijinkannya?"
"Iya, lagipula apa urusannya denganmu."
"Kau tau apa pekerjaannya?"
"Tidak, dan aku tidak tertarik untuk mencari tau, sudahlah kau hanya membuang-buang waktuku saja. Minggir." ucap Emir dengan sombongnya. Pria itu melangkah masuk.ke dalam meninggalkan Pras yang berdiri melihatnya sambil geleng kepala.
__ADS_1
"Dasar pria bodoh" ucap Pras tersenyum miring.