My Cool Husband

My Cool Husband
Perlengkapan Wanita


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mutia terbangun, gadis itu kaget dan memperhatikan sekitarnya, sebuah tempat yang sangat asing.


Lagi dia memperhatikan sekelilingnya, pandangan nya jatuh pada pria yang masih terlelap diatas tempat tidur.


Kepingan demi kepingan peristiwa yang terjadi tadi malam muncul, gadis itu kini tersadar jika dia berada dirumah suaminya.


Mutia melirik jam di dinding sudah pukul lima pagi, gadis itu bersiap untuk bangun dan melaksanakan kewajiban nya, namun dia tertegun, "Dimana aku menemukan mukena?" tanya nya dalam hati.


Lama dia terdiam, beberapa kali juga sempat mencuri pandang pada Emir, namun sepertinya dia harus menyerah, dia yakin tidak ada peralatan yang dia inginkan disini.


"Aku akan bertanya kepada pembantu saja," ucapnya


Pelan Mutia turun, dan dia berjalan menuju dapur. Kosong, bahkan pelayan pun belum juga bangun, gadis itu menghela napas.


"Bagaimana ini?" tanya nya dalam hati


Mutia kembali ke kamar, dia terkejut tidak mendapati suaminya berbaring di ranjang, "Kemana dia pergi?"


Ceklek.... suara pintu terbuka, Emir keluar kamar, kemudian membuka lemari dan mengambil pakaian sholat.


Deg,


Mutiara terkejut, dia tidak menyangka jika pria ini, yang kini berada di hadapannya, ingin melaksanakan ibadah, ingin menghadap sang maha pemilik kehidupan.


"Eh, boleh aku minta sesuatu?' tanya Mutia ragu


"Apa?"


"Eh, nggak jadi." ucapnya membatalkan niatnya bertanya.


Tak bicara lagi Emir segera melaksanakan salat ibadah sholat subuh.

__ADS_1


Mutia bingung, ingin ikut bergabung tapi ragu karena tidak menggunakan mukenah, tak kehabisan akal, dia membuka lemari mengambil kain putih seperti sprei lalu memakainya seperti sebuah mukena dan gadis itu sholat dibelakang suaminya.


Emir terkejut saat berbalik melihat sang istri yang masih duduk bersimpuh dan menadahkan tangannya, berdoa.


"Kenapa dia menggunakan itu? oh iya, bebek pasti tidak menyediakan mukena untuknya."


Selesai sholat pria itu turun ke bawah tanpa bicara apapun. Dia meminta bibi membuat kan teh untuknya.


"Sudah suap?" tanya nenek Hamidah yang baru keluar dari pintu.


"Sudah nek, sebentar lagi jam berangkat,"


"Ingat, kau harus bisa membuktikan jika kau layak, satu lagi jika sampai aku mendengar ada yang tidak beres dalam pernikahan mu, maka warisan itu akan jatuh ke tangan Om mu. Kamu dengar sendiri apa isi wasiat papamu, "Kau akan menerima seluruh harta itu bukakan menikah "


"Iya aku tau nek, tapi kan aku sudah menikah mengapa nenek belum memberikan ku hak sepenuhnya untuk mengelola perusahaan kita,".


"Buktikan kemampuan mu dan aku akan memberikan semua yang kau inginkan".


Mutia turun dengan pakaian rapi, jeans tujuh Perlapan, kaos lengan panjang tak lupa sebuah sweater menambah cantik penampilan gadis itu, rambutnya sengaja dia biarkan terurai.


"Pagi nek?"


"Pagi, sudah beres semua! mana kopermu?"


"Koper? aku tidak bawa koper, lagipula pakaianku masih di rumah lama ku, "


"Tak perlu membawa koper nek, aku akan membelikan pakaian baru untuknya disana."


"Terserah padamu," ucap nenek


"Kami berangkat nek, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalalikum salam," jawab nenek Hamidah.


Sopir membawa mobil mereka menjauh meninggalkan kediaman Emir.


Sepanjang perjalanan menuju bandara tak seorang yang bicara, semua larut dengan pikirannya masing-masing.


*


*


*


Taksi yang membawa mereka telah sampai di sebuah bangunan bertingkat yang cukup elite.


Emir turun begitu juga dengan Mutia, kemudian pria itu berjalan cepat, Mutia yang mengikuti dari belakang sampai setengah berlari.


"Selamat pagi pak," seorang pria muda telah menunggu mereka disana dan menyambut kedatangan nya.


"Apa semuanya lancar selama aku pergi?" tanya Emir pada pria itu yang belum diketahui ketahui namanya.


"Semua berjalan lancar pak,"


"Baguslah, aku senang mendengar nya. Oh ya, kau tolong belikan perlengkapan dan peralatan untuk perempuan, sekarang juga dan antar ke apartemen ku."


"Pakaian dan peralatan perempuan? apa kau nggak salah dengar? apa bos mau menikah atau mau.."


Tak..


Emir mengjitak kepala bawahannya itu, "Lakukan sekarang, kenapa bengong?"


"Eh iya tuan"

__ADS_1


__ADS_2