My Cool Husband

My Cool Husband
Deal


__ADS_3

Mutiara masuk kedalam ruangan? masih dengan pakaian yang sama, dia menggenggam tangan lembut ibunya, "Ma.. Mama harus sembuh, Aku sudah mengabulkan keinginan Mama, itu artinya Mama harus menepati janji Mama padaku." bisiknya lirih


"Sayang," Susan memegang bahu Mutia, gadis itu bergeming, masih menatap wajah damai sang bunda.


"Percayalah mbak lio pasti akan sehat," hiburnya


Mutia berbalik dan memeluk tantenya itu, "Beneran kan Tan? Tante nggak bohongin aku kan?"? tanyanya penuh harap.


"Enggak sayang, kita doakan saja yang terbaik untuk ibumu." tegas Susan mengusap lembut kepala Mutia.


Padahal di dalam hatinya, Susan juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan Tia.


"Tante nggak lagi bohongin aku kan?"


"Enggak sayang, percaya sama Tante," jawabnya. Susan masih setia mengusap-ngusap rambut Tia, mencoba memberikan semangat untuk gadis itu.


Mutia pergi menandatangani segala berkas yang dibutuhkan untuk operasi ibunya dan alangkah terkejutnya gadis itu melihat jumlah uang yang tertera jelas disana. Jumlahnya cukup fantastis seharga dengan gajinya di butik selama setahun.


''Siapa orang yang telah membantu keluarganya ku? siapa yang telah membayar biasa operasi Mama?" tanyanya dalam hati.


*


*


Saat ini Mutia dalam perjalanan menuju tempat dimana dia bertemu janji dengan suaminya Emir.


Suami? Kata yang cukup aneh di telinga sang gadis manis yang belum pernah berpacaran itu.


Gadis itu hanya menggunakan jeans panjang dan kaos oblong. Berjalan santai dari parkiran kafe.


"Sore mbak, Sudah booking tempat sebelumnya?" tanya resepsionis dengan ramah.


"Tidak, saya ada janjinya temu dengan seseorang."


"Maaf boleh saya tau dengan siapa dan nama mbak siapa?"

__ADS_1


"Mutiara," sahutnya cepat.


"Mbak Mutiara, oh mbak sudah di tunggu di ruang tiga VVIP, sebentar ya mbak." ucap resepsionis masih dengan senyum lebar


Seseorang datang dan mengantarkan mutiara kelantai bawah, mereka harus menggunakan lift kesana, entah berapa lantai mutiara sendiri tidak tau, yang pasti pelayan membuka pintu dan dia masuk kedalam. Di sana sudah berdiri seorang pria membelakanginya.


Pelayan pergi tentu saja setelah Mutiara mengucapakan terimakasih.


"kau sudah membuang waktuku lima menit," ucap pria itu


Mutia melihat jam di tangannya, memang benar dia telat lima menit, tapi itu kan terjadi karena dia bertanya dengan resepsionis tadi.


"Katakan ada apa?" tanya Mutia


Harusnya aku yang tanya seperti itu padamu, "Apa yang nenekku berikan hingga kau mau menerima perjodohan ini,"


"Maksud mu" tanya Mutia mengerutkan keningnya.


"Cih, jangan sok polos dan bersifat bodoh, dihadapan ku, aku tau kalian sudah merencanakan ini semua kan?" ucapnya dengan nada ketus


"Baguslah, jika kau sadar diri, karena aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, satu lagi aku tegaskan aku sudah miliki seorang kekasih."


"Lalu kenapa kau tidak menolak saja." bentak Mutia


"Karena nenek mengancam ku,"


"Apa, kau meminta ku kesini hanya untuk mendengarkan cerita mu ini, menyedihkan." ejek Mutia


"Tidak, aku hanya ingin kau tau, bahwa aku tidak menginginkan pernikahan ini dan aku-"


"Ok, aku tau, aku tidak boleh jatuh cinta padamu, dan berharap lebih bukan begitu?" potong Mutia yang muak mendengar ocehan pria itu.


"Baguslah kalau kau tau posisimu."


"Cih, kukira ada masalah penting apa! dengar ya tuan sok keren, sok ganteng. AKu tegaskan, aku tidak menyukai mu dan aku tidak akan pernah tertarik apalagi jatuh cinta padamu, karena kau bukan tipeku."

__ADS_1


"Sial, apa dia bilang aku bukan tipenya, aku yang tampan ini bukan tipenya, sombong sekali gadis ini, selama ini semua gadis bertekuk lutut padaku dan dia..'


"Apa cuma itu yang ingin mau bicarakan?" tanya Mutia lagi


"Aku sudah punya pacar!"


"Aku tidak peduli," sahut Mutia dengan lantang.


"Aku akan menceraikan mu setelah semua harta warisan itu menjadi milikku, "


"Aku tidak perduli," sahut Mutia


"Sudah? hanya itu?" tanya gadis itu lagi


"Kau harus ikut denganku dan tinggal bersama ku, Karena aku tidak mau tinggal di rumah mu, dan rahasia kita terbongkar."


"Terserah? sudah?"


"Baguslah, kalau kau sudah paham, " sahut Emir


"Tapi aku punya syarat,"


"Katakan!"


"Jangan menyentuhku?"


"Tentu saja, body rata begitu aku juga tidak berselera." ejek Emir


"Baguslah, aku jadi merasa aman." sahut Mutia


"Satu lagi,"


Emir menoleh, Mutia melanjutkan ucapannya, "Bersikap baiklah di depan Mama, aku mau Mama sembuh "


"Ok, Deal." sahut Emir tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2