My Cool Husband

My Cool Husband
Pria itu?


__ADS_3

Pria muda yang tak sengaja menumpahkan kopi ke gaun mahal Mutia itu bernama Emir. Dia juga baru saja kembali ke Indonesia.


Neneknya sakit dan memintanya segera pulang, Pria itu tergopoh-gopoh kembali ke Indonesia tapi apa yang di temukan, neneknya ternyata berbohong dan beliau justru ingin menjodohkannya dengan cucu Sahabatnya.


Emir marah dan kabur dari rumah, dan dia kesini untuk menemui kakaknya yang merupakan seorang dokter.


Sialnya baru saja dia sampai, dia sudah bertemu dengan gadis sombong dan angkuh bernama Mutia itu.


"Sombong sekali, awas saja akan ku beli kesombongannya itu suatu hari nanti." omel Emir.


"Pagi kak," Emir menyapa dokter Melia, kakaknya dan membawa dua cup coffee yang baru.


"Emir," ucap Melia bersorak kegirangan, sudah lama dia tidak bertemu dengan adiknya yang nakal ini.


Kini pria itu terlihat tampan dan gagah dihadapannya.


"Apa kabar kak?" Emir memeluk Melia


"Baik, kamu sendiri?" tanya Meila balik


"Seperti yang kakak lihat, aku baik."


"Apa kau sudah bertemu dengan nenek?"


"Sudah, aku benci wanita tua itu, dia membohongi ku, dia hanya ingin menjodohkan ku dengan cucu sahabat nya,"


"Dia yang kau maksud itu nenek kita Emir,"


"Iya aku tau kak, tapi aku masih sangat kesal, aku terpaksa pulang hanya karena masalah ini. Kenapa juga nenek harus berbohong padaku,"


Melia menatap tajam adiknya, "Ini bukan masalah sepele dan kamu juga sudah bukan akan kecil lagi, kamu tau yang seharusnya kamu lakukan. Perjodohan ini harus tetap terjadi dan kamu harus menikah dengan gadis itu, demi keluarga kita."


"Kenapa harus aku kak?"


"Karena kamu laki-laki, kan nggak mungkin kakak yang nikah, karena cucunya temen nenek itu perempuan." ucap Melia tertawa.


"Apa aku tidak punya pilihan lain?"


"Tidak, jika kau ingin keluarga kita utuh, atau kau ingin melepaskan semua harta waris itu dan memberikannya kepada paman Ben?" tanya Melia lagi


"Berhentilah bermain-main, saatnya kamu pulang dan mengurus semuanya, nenek sudah tua, hanya kamu yang dia harapkan." ucap Melia lagi


"Tapi aku punya pacar kak?"

__ADS_1


"Putuskan!" tegas Meila


"Mana bisa semudah itu!"


"Emir.." Melia mengingatkan,


"Iya," sahut pria itu berbalik, dia ingin pergi, ternyata salah menemui kakaknya bukannya mendapat dukungan malah dia dinasehati.


"Ingat sore nanti jam tiga, jangan kabur." ucap Melia lagi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh delapan menit.


"Tia..." terdengar suara ibunya memanggil.


"Ya Ma," sahut gadis itu mendekat.


"Hari ini calon suami mu akan datang, kamu bersiaplah,"


Mutia menarik napas dalam, "Ma, Mutia akan menikah seperti keinginan Mama, tapi setelah mama sembuh. Mutia janji Ma," ucap gadis itu


Liora menggeleng lemah, "Tidak nak, Mama mau di operasi setelah Mama melihatmu nikah,"


"Tapi Ma"


Liora tersenyum, Susan membawa Mutia menjauh dan bicara berdua.


"Mutia ini gaun pengantin mu," wanita itu memberikan gaun pengantin berwarna biru muda,


"Gaun pengantin? bukankah ini masih pertemuan pertama?" tanya Mutia


"Sayang, kamu dengar sendiri kan apa kata dokter tadi, ibumu harus segera di operasi, jika tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk lagi. Dan kamu tau sendiri, kemungkinan berhasil itu fifty fifty."


Mutia terdiam, Susan melanjutkan ucapannya, "Permintaannya sederhana Tia, kamu menikah itu saja, apa itu sulit?"


"Tapi Tan, aku..." gadis itu tak melanjutkan ucapannya, memilih diam dan menghela napas.


"Ibumu takut dia tidak akan selamat, dan kau sendirian." ucap Susan akhirnya diiringi Isak tangis.


"Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri, aku tidak butuh seorang laki-laki,"


"Terserah padamu, jika kau mencintai ibumu pakai ini, jika tidak..." Susan beranjak pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


*


Dilain tempat Emir terpaksa mengikuti apa yang diucapkan neneknya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah calon istrinya. Emir tidak peduli kemana mereka pergi bahkan dia tidak ingin tau siapa nama gadis itu, seperti apa orangnya dan wajahnya.


Mobil terus berjalan dan berbelok ke rumah sakit, Emir sedikit terkejut, "Kenapa kesini nek?" tanyanya


"Mereka ada disini, begitu juga dengan Melia." sahut nenek


"Cih, jangan-jangan dia wanita tua yang sudah mau meninggal, baguslah jadi aku tidak perlu repot lagi." ucap Emir didalam hatinya.


"Sudah buruan turun!" ucap nenek begitu mobil mereka berhenti di parkiran.


Nenek berjalan masuk diikuti oleh Emir, Mila dan dua orang bodyguard nya.


Mereka masuk ke dalam, langsung menuju lift dan menekan tombol teratas, menuju ruang VVIP.


Pintu lift terbuka, mereka melangkah menuju ruangan yang terletak paling ujung.


Milla membuka pintu, dan di dalamnya sudah ada beberapa oranglain, yang menyambut mereka.


"Selamat sore," sapa nenek Hamidah


"Sore," Susan menyambut kedatangan nenek, sedangkan liora masih terbaring di atas ranjang.


"Bagaimana keadaan mu Lio?" tanya nenek


"Sudah lebih baik Tante." sahutnya


"Oh ya ini cucuku, Emir." ucapnya memperkenalkan Emir pada calon mertuanya.


Emir tersenyum simpul pada wanita itu, bisa dia lihat jika wanita itu lemah dan terbaring tak berdaya.


"Devi panggilkan Mutia." ucap Susan pada puteri nya.


Devi memanggil Mutia yang ada di balkon kamar, gadis itu sudah mengenakan kebaya yang diberikan oleh Susan. Dia berjalan keluar bersama dengan Devi, semua mata tertuju padanya, cantik itulah kesan pertama yang terlihat.


"Mutia ini cucuku Emir, dan Emir ini Mutia,"


Mutia mencium tangan wanita itu, bagaimanapun dia masih mengingat ajaran ibunya yang harus sopan terhadap orangtua.


"Cantik sekali calon cucu menantu ku?" ucap nenek Hamidah.

__ADS_1


Emir membalikkan badannya dan kedua mata mereka bertemunya,


"Kau!!!" ucap keduanya bersamaan


__ADS_2