My Cool Husband

My Cool Husband
Kemarahan Emir


__ADS_3

Tak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mama. Semoga Mama segera sembuh dan aku, aku bisa menahan ini semua Ma" ucap Mutia menghapus bulir bening di pipinya.


Gadis itu tengah duduk sendirian di sebuah bangku yang tersedia di taman depan gedung bertingkat itu.


Lampu taman yang temaram, hembusan angin sepoi-sepoi, dan bulan yang bersinar redup menambah indahnya dan dingin nya malam ini.


Mutia yang hanya menggunakan kaos dan celana panjang turut merasakan dingin nya angin malam itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pelan.


Tangannya berusaha memeluk dirinya sendiri, mencoba mengurangi kedinginan yang dia rasakan.


Sementara Emir sudah berkeliling mencari nya ,Bahkan pria itu sampai mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya.


Langkah Emir terhenti saat melihat bayangan perempuan yang menyerupai istrinya.


Walau baru beberapa kali bertemu, namun pria itu bisa dengan jelas mengenali Mutia.


Emir melangkah mendekat dengan penuh amarah, giginya gemeletuk, rahangnya mengeras dan berjalan cepat, siap memarahi istrinya itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Emir, suaranya menggema membuat Mutia tersentak kaget.

__ADS_1


"Aku, aku... hanya-"


"Cih, merepotkan . Cepat pulang." ucap Emir memotong kalimat yang akan dilontarkan Mutia tidak ingin mendengar alasan apapun yang disebutkan Gadis itu dia sudah terlanjur marah.


"Tapi..." Mutia coba membela diri namun tatapan sengit dari suaminya membuat dia tak mampu lagi melanjutkan kata-kata selanjutnya.


Emir yang emosi menarik tangan istrinya, dia menyeret Mutia masuk ke dalam gedung apartemen. tak dipedulikannya jika Gadis itu berontak dan langkahnya yang terseok-seok.


Tubuh besar Emir dan kaki panjangnya membuat dia melangkah dengan cepat sementara tidak dengan Mutia.


Sedikitpun Emir tak memiliki rasa iba, rontaan serta makian yang diucapkan istrinya tak dia dengarkan, hatinya penuh di selimuti kemarahan.


dengan kasar dia mencampakkan tubuh istrinya ke dalam rumah dan mengunci pintu apartemennya Mutia hanya bisa meringis memegangi tangannya yang merah bekas cakalan dari Emir namun dia tidak menyerah dia bukanlah gadis bodoh yang pasrah begitu saja ketika dirinya dilindas dia berdiri dan menatap Emir dengan lantang.


Mutia menyipitkan matanya, "Hai tuan angkuh dan sombong!" ucapnya menunjuk wajah Emir tanpa rasa takut.


"Siapa yang mau kabur?" tanya dengan suara tinggi


"AKu? Kau pikir aku mau kabur! ya?" bentak Mutia.


"Aku hanya keluar mencari makanan, karena jika aku bertahan disini, aku bisa mati kelaparan." jelas gadis itu.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau tidak kembali?" bentak Emir tak kalah emosi.


"Aku tidak punya kuncinya," jawab gadis itu.


Emir merasa kaget, dia tersadar jika dirinya belum memberikan password rumah itu pada Mutia


Mutia tertawa remeh, "Lain kali kau harusnya berpikir, jika ada manusia lain disini, aku juga butuh makan." ucap gadis itu lalu berjalan pergi.


Emir masih tidak terima disalahkan oleh Mutia kembali Dia menari dengan gadis itu hingga garis itu tertarik kuat bahkan tubuhnya menabrak tubuh Emir.


"Kau bisa menghubungkan ku?" tanyanya masih diliputi emosi.


"Menghubungi mu dengan apa? apa aku punya nomor ponsel mu?" lagi gadis itu bicara dengan pelan. Namun bagai sebuah tamparan bagi Emir.


"Lepas, aku mau istirahat." sahut Mutia.


Gadis itu melangkah ke dalam kamarnya. Dan Emir dia terdiam, menyadari semua kesalahan nya.


Derrrt ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambilnya dari saku celana.


"Maaf tuan, kami belum mana mukanya tapi dari informasi yang kami dapat tadi Nyonya duduk di depan gedung apartemen ini."

__ADS_1


"Nyonya sudah pulang," Tut....panggilan terputus.


__ADS_2