My Cool Husband

My Cool Husband
Hilang


__ADS_3

Mutia, keluar dari kamar mandi, perutnya terasa sakit setelah melalui perjalanan panjang tadi. Masuk angin adalah hal biasa yang dialami gadis itu.


Untung saja sesak itu datang setelah mereka berada di rumah, bagaimana seandainya sesak itu datang saat mereka dalam perjalanan tadi.


Gadis itu mengintip di celah pintu, setelah memastikan semuanya


Mutia keluar kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu bisa melihat dengan jelas, ruangan kosong.


"Syukurlah jika dia sudah pergi, aman."


Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, namun tak seorang pun terlihat. lanjut dia mendudukkan dirinya di sofa. Dapat dia lihat tumpukan paper bag, disana. kembali gadis itu melirik ke kiri dan kanan, merasa sudah aman, Mutia membuka paper bag tersebut.


Pakaian wanita, beberapa buah gaun, t-shirt, dan gadis itu membulatkan matanya. Saat melihat paper bag yang berisi pakaian dalam wanita. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana mungkin seorang pria membeli pakaian dalam wanita? dasar cowok aneh, " batinnya.


Selanjutnya dia membuka paper bag yang lain, terdapat sepatu, sandal dan juga perlengkapan make up, Lagi gadis itu manggut-manggut.


Dia mengembalikan paper bag tersebut ke tempatnya. Dan duduk bersandar.

__ADS_1


Perutnya berbunyi, dia lapar. Lagi Mutia berdiri dan berjalan menuju dapur.


Semua tersedia begitu lengkap dan berjajar rapi disana, namun tampaknya semua peralatan itu masih baru, jadi bisa Mutia simpulkan bahwa Emir tidak pernah memasak.


Lanjut dia berjalan menuju kulkas, berharap bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.


Tapi harapannya hanya lah sia-sia. Tidak ada apapun di dalam sana, kulkas itu kosong melompong. Mutia mengusap perutnya, cacing yang berdemo tampaknya tak mau mengalah. Dia terus berjuang dan memberontak menutut sesuatu masuk dan bisa memenuhi keinginannya.


Mutia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas serta dompet. Setelah itu dia berjalan keluar, mencari makanan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.


Dia sudah berada di depan pintu, tapi langkahnya mundur "Jika aku keluar, pintunya akan terkunci, dimana kuncinya? lalu bagaimana aku masuk lagi nanti?" tanyanya dalam hati.


Lagi dia berjalan mondar mandir di depan pintu, tapi tampaknya cacing di dalam perutnya tak kenal kata menyerah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Terserah gimana nanti, yang penting saat ini dia bisa makan dengan tenang.


Di depan sebuah kafe gadis itu berhenti dan masuk. Dia memesan sphagetti karena tidak ada nasi Padang, apalagi rendang disana.


Selesai makan, Mutia tak langsung pergi, dia masih duduk menikmati waktu.


"Hai nona sendirian aja," seorang pria datang mendekati nya.

__ADS_1


"Boleh kita kenalan?" ucap pria itu lagi dan duduk di depannya.


Mutia menoleh, namun tak menjawab ucapan pria itu.


"Boleh aku duduk disini?" tanyanya lagi, padahal dia sudah duduk.


Mutia tak berminat, gadis itu berdiri, pria itu tersenyum dan memberikan kartu namanya, "Aku Faisal dan ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran dan ingin berkenalan denganku, hubungi saja nomor tersebut, aku akan senang menjawabnya."


Faisal menarik tangan Mutia dan memberikan kartu namanya, lalu berdiri dan pergi


Sekilas gadis itu melirik kartu nama yang dia berikan, lalu membuangnya asal.


Mutia melangkah keluar dan pulang kembali ke apartemennya.


Sore berlalu berganti malam, Emir tak juga pulang. Mutia menunggu dengan gelisah di depan pintu rumah mereka.


Tepat jam sembilan malam Emir kembali, dia kaget melihat istrinya tidak ada dirumah, "Apa dia kabur?" tanya Emir


Emir menghubungi Anak buahnya dan meminta mereka segera mencari Mutia.

__ADS_1


Dia pun turun ke bawah, mencari di lobi dan sekitar apartemen namun tidak ada. Bertanya pada satpam, tapi mereka tidak tau, apalagi mereka tidak mengenal Mutia.


Emir terus mencari, dan langkahnya terhenti saat secara tidak sengaja dia melihat sesuatu.


__ADS_2