My Cool Husband

My Cool Husband
Sah


__ADS_3

"Kau!!!" ucap keduanya bersamaan.


Emir tersenyum tipis dan terlihat meremehkan Mutia.


"Apa ini gadis yang ingin jodohkan dengan ku?" tanya Emir dengan tatapan remeh pada Mutia, dia bahkan terus menatap naik-turun menilai penampilan gadis itu.


"Lumayanlah, tapi sifatnya enggak banget, dari wajahnya aja kelihatan banget matre dan juga jutek," bisiknya dalam hati. Tapi tidak dia ucapkan dibibirnya.


Dipandang seperti itu oleh Emir Mutia menatap jengah, "apa dia pikir aku setuju dengan perjodohan ini? aku juga tidak mau menikah dengan lelaki modelan seperti itu, pasti dia anak mamie yang manja." batin Mutia menolak


"Aku tidak setuju Nek? lagipula apa nggak ada cewek lain?" lanjut Emir membantah sekaligus memohon kepada sang nenek.


Mutia membulatkan matanya, dia bilang apa? nggak mau?aku pun tak sudi menikah dengannya, enak saja, dia pikir aku ini perempuan apa? cih..." omel Mutia di dalam hati.


"Hei kau pikir siapa dirimu, aku juga belum bilang setuju, asal kau tau aku juga tidak mau menikah dengan kanebo kering seperti mu."


"Apa kamu bilang?"


"Sudah stop!" ucap nenek Hamidah.


"Apapun yang kalian ributkan, itu tidak akan mengubah keputusan nenek dan juga ibumu, Mutia, kalian berdua harus tetap menikah setuju atau tidak." tegas nenek Hamidah


"Tidak bisa begitu nek?" bantah Emir


"Ma.. aku akan menuruti keinginan Mama, aku akan menikah dengan siapapun kecuali dia Ma." ucap Mutia menunjuk wajah Emir


Liora menggeleng, Nenek hamidah melirik keduanya yang saling membuang muka, "tidak bisa kalian harus tetap menikah, sekarang juga." ucapnya.

__ADS_1


"Tapi nek.."


"Tidak ada tapi-tapian, kau harus ikut perintah nenek."


"Itu dia, pangulu sebentar lagi juga akan datang." ucap nenek melihat kearah pintu, tampak dua orang berjalan beriringan, salah satu diantara nya menggunakan kopiah, mungkin itulah yang di sebut penghulu.


"Penghulu? sekarang?" tanya Mutia membulatkan mata. Melirik ibunya menuntut penjelasan.


"Mutia..."lagi suara liora terdengar memanggil namanya. Gadis itu menoleh.


"Mama..."


"Waktu Mama enggak banyak nak, cuma satu keinginan terakhir Mama melihatmu menikah," ucapnya lirih


Mutia menitikkan air mata mendengar keinginan ibunya itu,


Sementara nenek Hamidah sedang bicara dengan Emir.


'Sialan wanita tua ini mengancam ku, dia sengaja menggunakan perusahaan untuk membuat ku bertekuk lutut. Baiklah kali ini aku mengalah, tapi hanya kali ini, dan aku pastikan gadis itu sendiri yang akan pergi, karena aku akan menciptakan neraka untuk nya." batin Emir.


"Bagaimana?" tanya nenek karena Emir tak kunjung memberikan jawaban.


"Baiklah aku setuju,'' jawab Emir.


"Tia," panggil Liora


"Aku setuju, asal Mama janji Mama akan operasi dan sembuh,"

__ADS_1


Liora tersenyum, "Mana janji nak," ucapnya lagi.


Di sinilah Mereka sekarang, duduk bersebelahan di kursi yang ada di ruangan itu, di depannya telah duduk seorang penghulu yang berhadapan langsung dengan Emir.


Emir terlihat tampan dan berwibawa. Pria itu menggunakan batik senada dengan calon istrinya, yang memang telah di siapkan nenek sebelum nya.


Sedikitpun Wmir tidak melirik pada gadis yang sedang duduk menunduk di sebelahnya, tatapannya fokus pada penghulu yang berada di depannya yang mulai acara dan memulai proses ijab qobul.


Tak hanya nenek Hamidah dan juga Melia ada beberapa orang lagi yang menjadi saksi, yaitu Devi, Tante Susan dan dua orang bodyguard sang nenek.


Melia tersenyum bahagia melihat sang adik yang akan segera melepas masa lajangnya sebagai seorang kakak dia juga merasa khawatir karena tidak pernah sekalipun Melia mendengar adiknya memiliki seorang pacar.


Meski kemarin Emir mengatakan bahwa dia memiliki seorang kekasih tapi Melia tidak percaya, karena yang dia tahu adiknya tidak pernah serius berhubungan.


"Bagaimana bisa kita mulai tanya Pak penghulu, apakah kedua pengantin sudah siap?"


"Siap." jawab Emir mantap


Penghulu memulai acara hingga tibalah saat ijab qobul, terdengar dengan lantang suara Emir menghalalkan Mutia Bimantara menjadi istrinya dengan sekali tarikan nafas, dan terdengar sahutan sah daripada para saksi dan undangan.


Mutia memejamkan matanya menahan gejolak rasa yang ada di dalam dada. Hari ini statusnya telah berubah dari seorang lajang menjadi seorang istri.


Seorang istri dari seseorang yang bahkan belum dia kenal sama sekali.


Seperti apa orangnya, Bagaimana sifatnya, Apa pekerjaannya, dan yang paling penting adalah bagaimana karakternya.


Pak penghulu memintanya untuk mencium tangan Emir untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Dengan malas gadis itu mengangkat tangan itu dan mendekatkannya ke hidungnya lalu menciumnya.


Emir juga diperintahkan untuk mencium kening istrinya. Keduanya membeku beberapa saat, Namun Emir adalah lelaki, dia maju untuk mencium kening Mutia, namun gadis itu bergerak menunduk hingga akhirnya dia hanya bisa mencium pucuk kepalanya saja.


__ADS_2