My Ice Boyfriend

My Ice Boyfriend
Bab Tigabelas


__ADS_3

~Happy Reading~


"Kepada anak kami yang bernama Jesseline dan Zayn diharapkan datang kekantor kepala sekolah, terimakasih"


Jessie yang mendengar pengumuman itu sontak tersenyum sumringah.


"Sana lo! Udah dipanggil sama calmer" ujar Lidya menyenggol lengan Jessie.


"Tunggu kak Zayn masuk baru gue kesana" ujar Jessie.


"Loh, kok?" Lidya bingung.


"Gugup gue" ucap Kelly cepat.


"Ehh, tuh kak Zayn udah mau masuk. Sana gih!" ujar Lidya.


Jessie melihat kearah kantor kepsek.


"Sana, gue juga mau ngumpul sama tim gue" Lidya mulai mendorong Jessie agar segera pergi.


"Yaudah, gue pergi. Bye" Jessie berlari menuju ruang Kepsek.


Sesampainya didepan pintu Jessie menetralkan nafas dan rasa gugupnya.


"I'm coming my future husband Zayn" batin Jessie lalu mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk" ujar seseorang dan bisa dipastikan itu suara Reno.


Dengan langkah anggun, Jessie masuk memghampiri calon mertua dan calon suami masa depannya {halu}.


"Duduk!" pinta Reno saat Jessie sudah sampai.


Jessie pun duduk disamping Zayn. Suasana canggung menerpa mereka, baik Reno, Zayn dan Jessie tak ada yang membuka suara. Hingga...


"Ada apa" tanya Zayn dingin ke Reno yang notabenenya adalah papahnya.


"Saya cuman mau bilang kalau, hari ini kalian belanja bahan untuk menghias panggung" ujar Reno.


"Mager" ketus Zayn dengan nada dinginnya.


"Ok, kalau kamu mager. Kamu tahukan apa tindakan saya selanjutnya" ujar Reno dengan tatapan datarnya.


Jessie yang tak tahu arah pembicaraan ayah dan anak ini pun hanya mampu menyimak.


"Ayo" ajak Zayn seraya menggenggam pergelangn tangan Jessie.


Jessie terkejut dengan kelakuan cowok ganteng nan aneh itu. Namun sedetik kemudian ia bersorak penuh kemenangan didalam hatinya.


Zayn mengajak Jessie keparkiran. Disana Zayn menggiring motornya sampai kedepan Jessie.


"Naik" pinta Zayn.


Jessie pun menurut saja, namun ia susah naik karena motor Zayn terlalu tinggi.


"Bahu gue" ketus Zayn.


"Maksudnya kak? Aku gak ngerti" jawab Jessie.


Zayn menghembuskan nafasnya kasar. "Pegang bahu gue biar lo bisa naik" ujar Zayn panjang.


Jessie yang mendengar kalimat panjang dari Zayn pun melongo.


"Ekhem" deheman Zayn mampu menyadarkan Jessie dari terpelongoan nya.


Cepat cepat Jessie naik dengan bermodalkan memegang bahu Zayn.


"Jalan kak" ujar Jessie.

__ADS_1


Zayn melihat kearah kaki jenjang Jessie lalu sedetik kemudian dia melepaskan jaketnya.


"Tutupin" Zayn memberikan jaketnya pada Jessie.


"Apanya kak?" tanya Jessie bingung.


"Paha lo" ujar Zayn. Jessie langsung menerima jaket Zayn dengan senang hati.


Zayn pun melajukan motornya saat jaketnya sudah menutupi bagian paha Jessie yang sempat terbuka.


'Hening' satu kata itu cukup untuk mendeskripsikan suasana antara Zayn dan Jessie saat ini.


Jessie yang tidak nyaman dengan situasi pun mencoba untuk membuka suara.


"Kita kemana kak?" tanya Jessie basa basi.


"Toko ornamen" jawab Zayn singkat.


"Kak, aku boleh nanyak?"


"Gak" sarkas Zayn.


"Satu pertanyaan aja kak, bisa yah" Jessie memasang logat memelas.


Zayn menghembuskan nafasnya pasrah. "Satu" ujarnya.


Jessie tersenyum. "Kakak udah punya pacar?" tanya Jessie to the point.


Zayn langsung teringat pada Cheline. "Kenapa"


"Gakpapa, kalau semisal kakak belum punya pacar aku bebas dong suka sama kakak. Kalau misalnya kakak udah punya pacar, yaudah aku gak suka sama kakak" jawab Jessie jujur.


Zayn bahkan tersenyum tipis mendengar penuturan jujur Jessie. "Belum" untuk sesaat Zayn melupakan Cheline.


"Yes! Berarti bisa dong Jessie suka sama kak Zayn"


"Hmm" dehem Zayn disertai dengan anggukan.


"Pelukan itu" batin Zayn.


"Eh maaf kak, aku gak sengaja" ujar Jessie.


"Hmm" balas Zayn.


"Kak minta nomor WA kakak dong" pinta Jessie.


"Buat"


"Yah disave lah kak, sekalian pdktan hehe" ucap Jessie tanpa merasa malu sedikit pun.


Tanpa diketahui Jessie, Zayn sudah tersenyum tipis mendengar ucapan ceplas ceplos ala Jessie. "Nanti" balas Zayn lalu fokus mengemudi.


Setelah itu mereka saling diam dan tak terasa mereka sudah sampai ditoko ornamen yang Zayn maksud.


"Pilih aja!" ketus Zayn.


Jessie pun mengangguk lalu memilih hiasan panggung. Jessie memilih berbagai macam pita dan langsung membawanya menuju kasir.


"Totalnya 300.000" ujar kasir tersebut.


"Kak, bayarin pita nya" pinta Jessie.


Zayn pun melangkahkan kakinya menuju meja kasir dan memberikan kartu ATM nya pada kasir tersebut.


Setelah selesai membeli pita, mereka memutuskan untuk kembali kesekolah.


"Kak, aku lapar. Mampir kesana yah" Jessie menunjuk kearah penjual seblak dipinggir jalan.

__ADS_1


"Gak boleh" sarkas Zayn.


"Loh kok gak boleh kak? Jessie laper banget sumpah"


"Gak baik" jawab Zayn singkat.


"Gak baik? Maksudnya? Kalau ngomong jangan gantung kak. Cukup perasaan aku aja yang digantungin sama kak Zayn, kalau ngomong jangan" jelas Jessie.


"Untuk kesehatan" balas Zayn.


Jessie mengernyit. "Gak baik untuk kesahatan, gitu?" Jessie memastikan.


"Hmm" balas Zayn dengan deheman.


"Jadi Jessie makan apa dong kalau gitu?" tanya Jessie dengan nada sendu.


Zayn tidak menjawab dan malah melanjutkan perjalanan namun jalan yang mereka telusuri bukan jalan menuju sekolah.


"Lah, kita mau kemana kak?" tanya Jessie.


Zayn tidak menjawab pertanyaan Jessie hingga membuat Jessie mendengus kesal dengan cogan aneh itu.


Zayn memarkirkan motornya direstoran makanan khas Indonesia.


"Turun" pinta Zayn pada Jessie dan Jessie langsung turun.


Zayn berjalan duluan tanpa menunggu Jessie yang masih bingung dengan maksud Zayn.


Sadar bahwa ia ditinggalkan, Jessie memilih mengejar Zayn dan kini dia sudah berjalan dibelakang Zayn.


Dengan tiba-tiba Zayn menghemtikan langkahnya hingga Jessie menubruk punggung kekar milik Zayn bahkan Jessie sempat meringis.


"Jalan disamping gue" ketus Zayn.


"Hah?"


"Gue. Bukan. Bodyguard. Lo" ujar Zayn panjang dan penuh penekanan.


Jessie cengengesan dan langsung mengambil tempat disamping Zayn. Lebih baik dia menurut dari pada nanti dia kenak amukan Zayn.


Mereka sudah duduk dan langsung saja Zayn memanggil pelayan.


"Pesan!" pinta Zayn dengan nada khasnya.


"Eh, ini mbak saya pesan nasi padangnya satu porsi sama jeruk perasnya satu" pelayan itu mengangguk. "Kakak mesan apa?" tanya Jessie pada Zayn.


"Gue gak" jawab Zayn lalu mengambil ponselnya dan memainkannya.


Pelayan itu pun berlalu untuk menyiapkan pesanan Jessie.


"Kak, nomor WA kakak aku minta dong" ujar Jessie memecahkan keheningan.


Zayn mengembuskan nafasnya pasrah. "Siniin hp lo" pinta Zayn.


Dengan senang hati Jessie memberikan ponselnya pada Zayn. Zayn mulai mengetikkan sesuatu diponsel Jessie, saat ia selesai dia langsung memulangkan ponsel Jessie.


Jessie menerimanya dengan senyum sumringah lalu mencheck kontak Zayn dan benar saja kontak dengan nama 'Zayn' sudah tersimpan disana. Iseng, Jessie menekan ikon panggil pada nomor Zayn.


Drrrttttt.... Ponsel Zayn berdering. Zayn melirik Jessie dan dia melihat Jessie tersenyum.


"Tes doang kak" ujar Jessie dengan wajah polos yang dibuat-buat.


"Simpan kontak Jessie dong kak, biar kakak gak bingung kalau semisal Jessie chat kakak" ujarnya lalu Zayn menuruti saja.


****


Haiiiii Aku Michelin penulis novel ini. Aku mau nanyak dong, gimana pendapat kalian tentang novel ini? Sekalian aku juga butuh kritsar yang pastinya bersifat membangun yah bukan menjatuhkan. Sekalian koreksi kalau selama menulis aku banyak typo.

__ADS_1


Ohyah jangan lupa juga buat follow instagram aku @michelle.idn_ disana aku bakal ngasih spoiler tentang kelanjutan bab berikutnya.


Terimakasihhh:')


__ADS_2