
"Kak siniin pitanya" ujar Jessie lalu Zayn memberikan pita yang Jessie maksud.
Saat ini Zayn dan Jessie tengah mendekor panggung menggunakan ornamen yang mereka beli tadi pagi.
"Kak, gantungin pitanya disana" pinta Jessie dan Zayn menurut.
"Kak kainnya dibuat gak sih untuk ngehiasin atap panggungnya?" tanya Jessie seraya mengangkat kain berwarna warni yang panjangnya duameter.
"Menurut lo?" tanya Zayn balik.
"Ye kakak, aku nanyak malah ditanya balik" Jessie mendengus.
"Pasang aja" ujar Zayn dengan ekspresi datarnya.
"Yaudah pasangin, aku gak bisa" Jessie memberikan kain itu dan Zayn menerimanya.
"Makanya jangan pendek" cibir Zayn.
"Ih kakak! Atap panggungnya yang ketinggian" ujar Jessie membela diri.
"Lo nya yang pendek"
"Panggungnya yang ketinggian"
"Dasar pendek"
"Ih kak..." rengek Jessie yang terlihat menggemaskan dimata Zayn.
"Sudah" Zayn turun dari panggung dan melihat hasil kerja mereka.
"Lumayanlah" ujarnya menilai.
"Bagus bukan lumayan" celetuk Jessie.
"Hm" tanggap Zayn.
"Kan dinginnya udah kumat lagi" cibir Jessie yang tak ditanggapi Zayn sama sekali.
"Kak, Jessie ngomong kok gak ditanggepin sih"
"Terus?" Zayn menaikkan satu alisnya.
"Ihk dasar kaku! Mausia patung" cibir Jessie.
Bukannya sakit hati malahan Zayn senyum tapi senyumnya begitu tipis bahkan Jessie saja tak tahu kalau Zayn sedang senyum.
"Kak, kalau Jessie bilang Jessie suka sama kakak gimana?" tanya Jessie saat mereka sudah duduk dibangku taman.
"Ntah" jawab Zayn.
__ADS_1
Jessie mencebik kesal. "Trus kalau Jessie bilang, Jessie cinta sama kakak gimana?" tanyanya lagi.
"Ntah" jawaban sama yang membuat Jessie memgerucutkan bibirnya.
"Kak, Jessie sayang sama kakak. Jessie cinta juga, kakak mau gak jadi pacar Jessie?" tanya Jessie terang-terangan.
Setelah ini tolong ingatkan Jessie untuk membawa urat malunya yang ia tinggalkan dirumah Bara.
Untuk sesaat Zayn diam. "Gak bisa" ujarnya.
"Yah kenapa kak? Penonton kecewa sama jawaban kakak" ujar Jessie yang tak punya urat malu sama sekali.
Zayn diam tidak ada niat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan Jessie.
"Yaudah, tapi Jessie gak nyerah loh buat dapetin kakak" kukuhnya.
"Jangan"
"Kenapa?"
"Sakit" ujar Zayn membuat Jessie tak mengerti.
"Mencintai sendiri" lanjut Zayn.
"Ya makanya kak Zayn cintai Jessi balik, biar gak sakit" ujar Jessie.
"Hm" tampaknya Zayn sudah bosan dengan pembahasan mereka.
"Gak" tanggap Zayn singkat.
Jessie diam, percuma saja dia memaksa Zayn pada akhirnya Zayn tetap menjawab tidak.
Zayn menghela nafas panjang. "Bye" ucapnya dingin lalu pergi meninggalkan Jessie, namun dengan sigap Jessie menahan Zayn.
"Kak Zayn mau kemana?" Tanyanya.
"Pulang" jawab Zayn singkat.
"Loh kak, inikah belum jamnya untuk pulang" balas Jessie.
Bukannya menjawab, Zayn malah menghempaskan tangan Jessie lalu pergi. Sedangkan yang ditinggalkan hanya bisa menghentakkan kakinya kesal karna mendapat perlakuan buruk dari sang gebetan.
"Kenapa lo Jess?" Tanya seseorang yang entah dari mana datangnya. Suara itu langsung membuat Jessie terpanjat karena terkejut.
Jessie menoleh untuk melihat orang yang dengan berani mengagetkannya itu. "Astaga Bara lo ngagetin gue tau gak!" Ucap Jessie dengan suara yang agak meninggi.
"Yaelah santai dong, gak usah ngegas juga kali, entar gue budeg lo mau tanggung jawab" ujar Bara.
"Dih salah lo! Udah tau gue lagi kesel malah dikagetin"
__ADS_1
"Lah gue mana tau lo lagi kesel, btw lo kesel kenapa coba? Karna ditinggal sama simanusia patung itu?" tanya Bara.
"Dih siapa yang kesel karna dia, sotoy lo" jawab Jessie.
"Etdah gak usah ngelak juga kali, gue tadi merhatiin interaksi kalian kok dari jauh" ujar Bara.
"Trus ngapain lo nanya kalau lo udah tau semuanya" ketus Jessie.
"Gue cuman minta kejujuran dari lo aja"
"Kejujuran pala lo! Udah ah naik tensi gue lama-lama kalau ngomong sama lo" ucap Jessie lalu melangkah.
"Etdah ni congor satu, main tinggal-tinggalin orang aja. Ini nih efek kebanyakan bergaul sama si manusia patung" ucap Bara bermonolog.
"Suka heran deh sama orang yang suka sama simanusia kutub, ganteng enggak, baik enggak, ngesellin sih iya tapi kenapa banyak penggemarnya ya, lah gue gantengnya melebihi Shawn Mendez, baik hati dan tidak sombong pulak tapi yang naksir? Banyak sih tapi modelan tante girang semua. Miris banget nasib gue" gumam Bara lalu meninggalkan tempat itu.
Bara pergi sebuah tempat yang paling disukai seluruh siswa, bahkan disaat jam pelajaran pun banyak siswa yang ngakunya pergi ketoilet tapi malah nongkrong ditempat itu. Tempat apa lagi kalau bukan kantin, Yaps kantin guys tempat favorit para human penghuni sekolah.
Disana Bara hanya duduk sendirian, para sahabatnya tidak tau entah kemana.
"Status udah sendiri lah kekantin juga sendiri astaga, muka tampan, banyak yang suka ternyata gak menjamin setiap human punya pacar ya bro, kayak gue nih contohnya" ucap Bara bermonolog.
"Hai bang Bara" ucap seorang siswi dengan mengedipkan sebelah matanya pada Bara.
Bara langsung terkejut ditambah lagi jijik dengan tingkah siswi yang mencoba menggodanya tersebut. "Dih apaan sih lo, gak usah sok kenal deh sama gue! Pake acara ngedip-ngedip lagi, lo kira gue bakalan tertarik sama loh, dih amit-amit dah" ucap Bara menohok.
"Ih Bara jahat banget sih, tega gitu ya ngomong kasar sama cewek cantik kayak gue. Awas loh entar kepincut sama gue baru tau rasa lo" ucap siswi yang mencoba menggoda Bara tersebut.
"Dih gue? Kepincut sama ulat keket kayak lo? Gak bakalan ye! Gak level tau gak. Udah deh mendingan lo pergi dari sini, gue eneg lihat muka lo yang sebelas dua belas sama bencong dilampu merah" ujar Bara mencoba mengusir siswi tersebut.
Siswi itu langsung menghentak-hentakkan kakinya kesal lalu meninggalkan Bara tanpa sepatah kata.
"Rasain lo! Enakkan disemprot sama gue" ucap Bara tertawa kecil.
***
"Li! Gue mau cerita!" Panggil Jessie pada Lidya yang masih sibuk dengan urusan timnya.
"Aduh Jess, ntar aja ya ceritanya, gue lagi sibuk nih ngurusin perlombaan tarik tambang" jawab Lidya.
"Ish! Lebih mentingin sahabat atau urusan? Lagian kan yang lain udah pada istirahat masa Lo masih sibuk aja sih"
"Maklum lah Jess, yang bisa diandelin di tim gue itu cuman gue, kalau lainnya sih cuman numpang nama doang" tutur Lidya.
"Ck, Lo lama lagi ga? Biar gue tunggu dikantin" Ujar Jessie.
"Lumayan lama sih Jess, nunggu dikantin aja, sekalian ntar pesanin batagor ya sama es teh satu. Eh deluanin pake uang Lo dulu ya, ntar gue ganti" pinta Lidya.
"Oh okedeh, gak usah diganti juga gak papa kali, yaudah gue out ya. Yang cepet ntar batagornya keburu dingin gak enak dimakan lagi" ucap Jessie.
__ADS_1
"Dingin kayak kak Zayn sih gak papa" balas Lidya terkekeh geli.
"Dih apaan sih ngawur!"