
"Gue gak mau jadi istri lo! Gue maunya jadi istri kak Zayn" ucap Jessie penuh keyakinan.
Bara tertawa renyah mendengar ucapan Jessie. "Lo mau jadi istri manusia setengah patung itu?" ucap Bara sambil memegangi perutnya yang sakit karna tertawa.
"Cogan kloningan Manurios lo bilang manusia setengah patung! Sakit lo ya" ujar Jessie.
"Yaelah Jess milih calon suami itu yang berbobot dikit kek kayak gue. Udah ganteng, kaya, pintar dan pastinya setia gak kek si Zayn manusia aneh itu" ujar Bara.
Pletak... Jessie melempar stik eskrim kearah Bara.
"Lo ada plastik gak Li?" tanya Jessie.
"Gak Jess emang buat apa?" tanya Lidya balik.
"Mual gue mau muntah karna ad--"
"APA JESS LO HAMIL ANAK SI ZAYN MANUSIA ES?!" Bara memotong ucapan Jessie.
Sumpah demi apapun Jessie emosi mode on.
"Li lo ada pisau gak?" tanya Jessie pada Lidya.
"Gak Jess, lagian ngapain bawa pisau kesekolah gak bagus Jess kek mau tawuran aja" jawab Lidya polos.
"Bukan gitu Li, gue mau bunuh o--"
"DEMI APA JESS? LO MAU BUNUH OROK YANG LO KANDUNG DARI HASIL HUBUNGAN TERLARANG LO SAMA ZAYN?!" lagi-lagi Bara memotong ucapan Jessie.
"BARAAAAAA" emosi Jessie udah diujung tanduk.
"Kenapa Jess? Lo mau lahiran? Cepat amat padahal kan lo baru bikin semalam sama Zayn" Bara tak hentinya mengganggu Jessie.
"BARAAA BERUNTUNG LO, OMONGAN LO GAK ADA YANG DENGAR. KALAU ADA UDAH GUE CINCANG-CINCANG LO TRUS DAGING LO GUE KASIH KEKANDANG BUAYA BIAR TAMAT HIDUP LO!!" teriak Jessie seraya menatap nyalang kearah Bara sedangkan Bara, dia malah tertawa akhirnya dia berhasil membuat Jessie emosi.
Memang keadaan kelas mereka sepi hanya ada mereka bertiga saja. Karna free class jadi semua penghuni kelas itu pergi entah kemana.
"Sabar Jess sabar, Bara mah suka gitu" Lidya merangkul Jessie.
"Au ahk sebel" Jessie membuang muka.
Saat Jessie marah Bara masih tak hentinya tetawa, apalagi saat ia melihat ekspresi kesal Jessie.
"Bara! Minta maaf sama Jessie!" pinta Lidya.
"Males Li"
"Minta maaf atau gue bakal musuhin lo" anacam Lidya.
"Yaudah iyah-- Jesseline Olivia Barata pacarnya Zayn dan istri masa depan dari abang Bara, gue minta maaf, tolong maafin suami masa depan lo ini" Bara memegang tangan Jessie.
Jessie menghempas kasar tangan Bara hingga tangan malang itu menubruk meja dan siempunya meringis kesakitan.
"Bara, minta maaf yang serius" pinta Lidya lagi.
Bara mendengus pasrah "Jess maafin gue yah, gue janji bakal nurutin kemauan lo asalkan lo maafin gue" ucap Bara serius.
Jessie tersenyum penuh kemenangan. "Ok gue maafin lo tapi lo harus janji nurutin kemauan gue" ucapnya.
Bara mengangguk pasrah.
"Ok semalam juga lo janji nurutin kemuan gue dan sekarang lo juga janji bakal nurutin kemauan Jessie berarti utang janji lo banyak Bar" ucap Lidya.
"Iyah Li, utang gue banyak. Makanya kalian jangan minta yang berat-berat yah" Bara memelas.
"Eum gue punya ide Li" timbrung Jessie.
"Apaan Jess?" tanya Lidya.
"Besok kan weekend gimana kalau kita jalan aja sekalian gue mau lihat-lihat kota ini" ujar Jessie.
"Wah benar banget trus apapun yang kita beli dibayarin sama Bara yakan" ucap Lidya.
"Iyah benar banget tu Li, gimana Bar?" tanya Jessie.
"Yaudah deh gue mau, dari pada Lidya minta dibuatin candi dan lo minta gue buatin perahu sangkuriang selama semalam" Bara pasrah.
"Yeayy" ucap Lidya dan Jessie bersamaan.
"Tapi hutang janji gue lunas sekalian kan" tanya Bara.
__ADS_1
Jessie dan Lidya mengangguk seraya tersenyum.
"Kantin aja yok, bosan gue disini, sumpek" ucap Bara dan disetujui oleh Lidya dan Jessie.
Kini mereka sampai dikantin dan mereka mengambil posisi tempat biasa yaitu dekat dengan pintu keluar.
Mereka pun memesan makanan sembari menunggu pesanan mereka datang mereka berbincang-bincang.
"Oh yah Jess gue minta nomor lo dong" ucap Bara.
"Nomor apaan? Nomor rumah, sepatu, sen--"
"Nomor beha lo!-- yah nomor hp lah ogeb!" Bara memotong pembicaraan Jessie.
"Lo kebiasaan banget sih motong omongan gue" ujar Jessie.
"Lagian lo ada-ada aja" balas Bara.
"Sini hp lo" pinta Jessie.
Bara memberikan ponselnya lalu Jessie mengetikkan nomornya dan menyimpan kontaknya dengan nama 'Jessie Cantik Pacar Kak Zayn Ganteng' setelahnya ia memberikan kembali ponsel Bara.
"Bjir panjang amat nama kontak lo" Bara terkejut.
"Biarin sirik aja lo!" tukas Jessie.
"Gue ganti jadi 'Jessie putri kodoknya abang Bara' gimana?" Bara mengangkat satu alisnya.
"Enak aja lo! Jangan! Gue lebih nyaman disandingin sama kak Zayn dari pada sama pangeran kodok kek lo" balas Jessie.
"Arasseo, gimana udah mirip kek idol korea belom?" tanya Bara.
"Udah Bar"
"Enggak!"
Lidya dan Jessie mengucapkan kata itu bersamaan. Lidya yang mengiyakan dan Jessie meng-enggakkan.
"Tega kamu mas sama aku" ucap Bara dengan nada seperti cewek-cewek tersakiti.
"Jijik Bar sumpah" tukas Jessie.
Lidya memberikan semangkok bakso kepada Jessie dan seblak pada Bara.
"Makasih calon istri nya Bara" ucap Bara pada Lidya dan dibalas senyum oleh Lidya.
"Jijik gue" tukas Jessie.
"Calon pembantu gak usah sirik sama majikan" ujar Bara.
"Lo, gu--"
"Udah Jess makan dulu" potong Lidya.
Jessie menurut, yang dibilang Lidya ada benarnya juga.
"Oh yah btw gue minta nomor Hp lo dong Li" Jessie membuka pembicaraan.
"Gak usah dikasih Li" sela Bara.
"Sini hp lo Jess" ucap Lidya.
Jessie memberikan ponsel nya setelah Lidya menerimanya Jessie mengejek Bara.
"Nih Jess" ucap Lidya setelah selesai menyimpan kontaknya.
"Lidya buat nama kontak nya apa?" Bara kepo.
"Yah Lidya Michelle Blessy lah ogeb" jawab Jessie.
"Bagus berarti istri pertama gue waras gak kek istri kedua gue bodohnya sampe ketulang ekor" Bara mengacak gemas rambut Lidya.
"Jijik" sarkas Jessie.
"Tapi Li lebih bagus lagi kalau lo nulis nama kontak lo gini 'Lidya Fahrezzy' buat marga gue dibelakang biar kentara kalau lo itu istri Bara yang super duper tampan ini" Saran yang gak logis.
"Apaan sih Bar"
"Ciee Lidya nya Bara salting" Bara mencolek pipi kanan Lidya.
__ADS_1
"Gak ahk"
"Buktinya pipi lo merah kek sambal belacan"
"Gak kok Li" timbrung Jessie.
"Ganggu momen aja sih lo Jess" ucap Bara.
"Suka-suka gue dong" balas Jessie.
"Au ahk"
Mereka kembali melanjutkan makan mereka dengan khidmat.
Setelah selesai mereka membayar ralat Bara membayar dan mereka pergi meninggalkan kantin menuju kelas mereka.
Setelah mereka sampai kelas mereka kembali merumpi.
"Bosan juga free class yah" ujar Lidya.
"Iyah Li sama" Jessie setuju.
"Gak! Seru tau gak belajar" ucap Bara.
"Karna lo gak suka belajar Bar" ujar Lidya.
"Emang iya, gue kan sukanya sama lo Li" ucap Bara enteng.
Deg
Jantung gue Batin Lidya.
"Bencanda lo gak lucu Bar" ujar Lidya
"Gue gak becanda Li, gue suka sama lo, sayang sama lo bahkan udah cinta--"
Deg
"Tapi sebagai saudara Li" lanjut Bara.
Saudara Li gak lebih Batin Lidya lagi.
"Iyah Bar, gue juga sayang sama lo sebagai saudara" balas Lidya dengan senyum kecut.
Bukan itu jawaban yang gue mau Li kali ini Bara yang membatin.
"Gue gak disayang gitu?" Jessie memanyunkan bibirnya.
"Sayang kok Jess" Lidya memeluk Jessie.
"Pengen meluk tapi takut dikirain cari kesempatan dalam kesempitan" rutuk Bara.
"Makanya ganti gender lo Bar" saran Jessie.
"Ntar deh gue coba, tapi ganti sama punya lo ya Jess gimana?" Bara menampilkan smirk nya.
Jessie menoyor kepala Bara. "Enak Aja lo!"
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi dan saatnya semua murid SMA PRAMUDYA pulang kerumah mereka masing-masing.
"Bar, Li bantuin gue bawa buku paket dong, berat nih" ucap Jessie dan diiyakan oleh mereka.
"Sampe mana nih Jess, udah pegal tangan gue" ucap Bara.
"Sampe gerbang, supir keluarga gue udah nunggu" balas Jessie.
Bara hanya ber-oh ria.
"Nih, masukin disini yah Bar, Li" ucap Jessie saat sudah berada disamping mobilnya.
Setelah semua buku paketnya dimasukkan kedalam mobil barulah Jessie masuk dan tak lupa ia mengucapkan terimaksih kepada kedua sahabatnya itu.
"Mang buruan Jessie pengen cerita sama mamah" pinta Jessie pada mang Asep supir keluarga mereka.
"Iyah non" balas mang Asep lalu menancapkan gas nya.
Tak lama kemudian mereka sampai. Jessie berlari masuk kerumah setelah ia menyuruh mang Asep membawa kan buku paketnya.
"MAMAHH" teriakan Jessie menggema keseluruh ruangan.
__ADS_1