
"Eh Li, btw nama cowok tadi siapa?" Jessie kepo.
Lidya melihat kearah Jessie. "Ciee udah mulai kepo"
"Apaan sih Li, gue serius jangan becanda deh" balas Jessie.
"Ekhm, gue mencium ada aroma bakal suka-sukaan nih"
"Lii!" Jessie memasang mimik serius.
"Maap-maap-- cowok tadi itu namanya Zayn Kavino Pramudya anak pemilik sekolah sekaligus kepsek disini" terang Lidya.
"Oh jadi pak Reno itu bokap nya dia" tanya Jessie memastikan.
"Iyah betul banget" balas Lidya.
"Pantesan rada mirip, trus si Zayn itu kelas berapa?"
"Kelas Duabelas Ipa Satu" jawab Lidya.
"Oh, pintar dong berarti"
"Beuh banget dia mah" ujar Lidya.
"Banyak gak yang suka sama kak Zayn?" Jessie kepo mode on.
"Banyak! Keknya yang nanyain juga bakal suka" sindir Lidya.
Jessie menyenggol tangan Lidya "Paan sih lo".
"Ciee salting ciee ujuyyy" ejek Lidya.
"Ih gue gak salting Li gimana sih" Jessie meyakinkan.
"Buktinya tuh pipi lo udah merah kek tomat"
"Hah?! Serius!" Jessie mengambil ponsel nya dari kantung rok nya dan mengarahkan ke wajahnya untuk berkaca.
"Gak merah kok Li"
Lidya hanya tertawa melihat ulah Jessie sebenarnya dia bohong mengenai hal itu.
"Lidya, jangan bilang lo--"
Lidya lari meninggalkan Jessie "Iyah gue bohong wlee" Lidya menjulurkan lidahnya.
"LIDYAA, DASAR TEMAN LUCKNUT LO" teriak Jessie seraya mengejar Lidya.
Mereka kejar-kejaran hingga sampai kekelas. Persetan dengan ejekan orang yang melihat mereka, mereka tak peduli.
"Udahh Lih gueh udahh capehh" Jessie ngos-ngosan.
"Samah Jehh gueh jugah" balas Lidya.
"Dari mana lo berdua ampe ngos-ngosan gitu" tanya seseorang cowok yang Jessie tak tau dia siapa yang pastinya dia teman sekelas Jessie.
"Habis lari lah ****" sembur Lidya.
"Lari dari mana? Kenyataan?"
"Kenyataan pala lo!" Lidya menoyor kepala cowok itu.
"Kalau gak dari kenyataan trus lari dari mana ogeb!" tanya cowok itu lagi.
"Dari kantin" jawab Lidya.
"Ooh gue ngerti! Kalian makan gak bayar kan makanya kalian lari-lari biar gak ketauan. Ih parah banget lo berdua--" cowok itu menatap mereka dengan tatapan ilfil.
"WOY PERHATIAN! BARUSAN SI LIDYA SAMA SI JESSIE MAKAN DARI KANTIN TAPI MEREKA GAK BAYAR PARAH BANGET KAN" teriak cowok itu keras hingga menggema.
__ADS_1
Ih parah banget tuh mereka kek orang miskin aja gak bayar
Semenjak Lidya temanan sama si Jessie dia jadi bar-bar yah
Sama dengan nyuri dong
Ih pencuri iyuhh jijik gue
Sindiran itu ditujukan teman sekelas mereka setelah mendengar ucapan cowok itu.
"BARA DAMIAN FAHREZZY JANCOOKKK!! GUE SAMA JESSIE GAK NYURI ANJIRR SEKATE-KATE LO NGOMONG! TANGGUNG JAWAB LO BURIK!" Lidya menatap nyalang kearah cowok yang bernama Bara itu.
"Tanggung jawab apaan markonah, gue gak hamilin lo berdua" jawab Bara.
"BERSIHIN NAMA BAIK KITA! KALAU GAK LO BAKAL GUE ADUIN KE PKS KESISWAAN KARNA LO UDAH CEMARIN NAMA BAIK KITA" ancam Lidya.
"Jangan Li tega lo sama gue"
"MAKANYA BERSIHIN SEKARANG!" pinta Lidya memaksa.
"Pake apa? Detergen gak gue bawa mau gue kucek-kucek aja nama kalian? Ntar kurang bersih lo aduin gue lagi" sungguh Bara yang bodoh.
"BARA GUE SERIUS! JANGAN MAIN-MAIN!" habis sudah kesabaran Lidya.
"Yaelah sensi amat lo Li, lagi PMS yah"
Sumpah demi apapun emosi Lidya udah diujung tanduk. Ingin sekali ia membunuh orang yang bernama Bara itu.
"BARAAAA!!!" suara Lidya kembali menggema dengan tatapan ingin membunuh ia menatap Bara. Siapa pun pasti merinding jika ditatap seperti itu termasuk Bara.
"Iyah-iyah--" Bara jera. "PERHATIAN SI JESSIE SAMA LIDYA GAK NYURI! GUE BECANDA, MAAPIN GUE! GUE SALAH PAHAM"
Mana sih info yang benar aduh pusying pala barbiee
Yaelah Bara ternyata salah paham
Kalimat itu dilontarkan setelah mendengar kalinat terakhir Bara.
"Udah kan" Bara memastikan.
Bukannya menjawab Lidya menarik tangan Jessie untuk duduk dan mencuekin Bara sepertinya Lidya masih marah.
"Li lo marah yah sama gue?" tanya Bara seraya melihat Lidya.
Lidya tak bergeming.
"Li maaf Li, gue khilaf" sesal Bara.
Sama seperti tadi Lidya tak bergeming.
"Li jangan cuekin gue, gue gak sanggup. Gue janji bakal nurutin permintaan lo asalkan lo maafin gue" bujuk Bara.
"Serius?!" tanya Lidya dengan ekspresi dingin.
Bara mengangguk pasrah.
"Oke gue maafin lo" ucap Lidya.
"Yeay makasih Lidya, umm makin cantik aja deh lo gemes gue pengen karungin trus kasih ke kandang macan biar dimangsa lo disana" Bara mencubit gemas kedua pipi Lidya.
"Sadis lo entar gue marah lagi gak gue maafin juga lo" kesal Lidya.
Apa kabar dengan Jessie? Tenang dia masih stay disamping Lidya hanya saja dia sebagai penyimak percakapan antara Lidya dan Bara.
"Maaf Li, lo sensi banget PMS lo yah"
"Kalau iyah kenapa?!" Lidya sedikit membentak.
"Pantesan Lidya yang imut berubah jadi Lidya macan tutul" Ujar Bara.
__ADS_1
"Au ahk males, btw jangan lupain janji lo buat wujudin apapun permintaan gue" ucap Lidya.
"Tenang aja bakal gue wujudin asalkan lo jangan minta gue buatin lo candi atau perahu besar dalam waktu satu malam" ujar Bara.
"Tenang aja gue gak minta yang macam-macam kok"
"Bagus deh, kalau gitu gue pergi yah. Jagan kangen gue gak jauh, gue ada di pojok kanan" Bara menunjuk kearah bangkunya.
"Najis kangen sama lo gak penting" sembur Lidya.
"Awas aja ntar lo nelpon atau chat gue trus bilang 'Bara ganteng lo dimana gue kangen berat sama lo"
"Gak akan yaudah sono lo pergi! Muak gue lihat muka lo yang mirip sama boneka santet" usir Lidya.
"Boneka santet pala lo! Emak gue aja bilang gue mirip Manurios" Bara kePDan.
"Mirip sih kalau dilihat dari lubang pipet trus lihatnya dari kejauhan 1.000.000 Km" ejek Lidya.
"Au ah males gue! Bye!" Bara meninggalkan Lidya dan pergi kebangkunya.
"Maaf ya Jess gue jadi nyuekin lo" Lidya merasa bersalah.
"Sans aja kali Li, btw Bara itu pacar lo?" tanya Lidya.
"Gak kok. Gue sama Bara itu cuma sahabatan dari kecil" terang Lidya.
"Oh yah? Awet banget yah"
"Iyah Jess, gimana gak awet rumah sampingan, TK sampai SMA aja satu sekolah udah gitu sekelas lagi"
"Eum selama sahabatan lo gak punya perasaan apa-apa gitu sama dia?" Jessie penasaran.
"Perasaan? Ada sih Jess" jujur Lidya.
"Dari kapan?"
"Gak tau deh, udah dari lama bayangin aja sebelas tahun ketemunya dia aja, udah gitu sering berantem trus baikan lagi. Dia juga selalu jagain gue dan kalau gue sedih dia selalu nge-hibur gue"
"Beruntung banget sih lo Li punya sahabat cowok, gue jadi iri"
"Gak usah iri Jess kalau lo mau lo bisa anggep Bara jadi sahabat lo juga kok" tawar Lidya.
"Serius nih gue bisa anggep dia sahabat?"
"Bisa Jess, gue juga udah anggap lo sahabat" Lidya jujur.
"Wah berarti kita sahabatan dong"
"Iyah Jess, mulai sekarang lo gak perlu sungkan lagi buat minta tolong sama gue dan kalau lo ada masalah lo bisa cerita ke gue"
"Pasti Li Pasti" mereka berpelukan.
"Btw dari tadi guru nya gak datang-datang" ujar Lidya setelah menyudahi pelukan itu.
"Bagus deh gak belajar"
"Iyah juga yah"
Yah, saat ini semua kelas di SMA PRAMUDYA Free Class karna guru sedang rapat.
Teeetttt... Bel pulang berbunyi semua siswa/i SMA PRAMUDYA berhamburan untuk pulang kerumah masing-masing termasuk Jessie.
Hari ini dia bahagia karna mendapat sahabat seperti Lidya.
Jessie pulang dijemput supir rumahnya yaitu mang Asep.
Sesampinya dirumah ia menceritakan apa yang terjadi kepada mamahnya.
Mamahnya turut bahagia karna Jessie nyaman sekolah disana.
__ADS_1