
Alena merasa harus mempersiapkan dirinya dengan baik agar bisa meraih nilai yang memuaskan di ujian akhir semester. Oleh karena itu, dia mulai menyiapkan dirinya jauh-jauh hari sebelum ujian. Alena membeli buku-buku referensi dan mencari informasi dari internet tentang materi yang akan diujikan. Dia juga mengumpulkan catatan dan tugas yang telah diberikan oleh guru selama semester ini.
Alena menyadari bahwa belajar bersama teman-temannya akan memudahkan dirinya untuk memahami materi. Oleh karena itu, dia sering mengadakan kelompok belajar dengan teman-temannya di perpustakaan sekolah. Mereka membahas materi-materi yang sulit dan saling memberikan dukungan satu sama lain.
Alena: Hey guys, kita belajar bersama sebelum ujian dimulai ya?
Khyla: Bagus ide nya, aku masih banyak yang belum kuasai.
Shaira: Sama nih, aku juga perlu belajar lebih banyak lagi.
Anya: Iya, aku setuju. Kita bisa saling membantu dan belajar bersama.
Alena: Ok, mari kita mulai. Ada yang ingin memulai dengan materi apa?
Khyla: Aku masih bingung dengan materi aljabar. Bisa tolong jelaskan lagi?
Alena: Tentu saja. Jadi, di aljabar kita...
Dan mereka pun mulai belajar bersama-sama dengan membahas berbagai topik yang akan diujikan. Semua orang saling membantu dan memberikan penjelasan sehingga mereka semakin memahami materi yang akan diujikan. Setelah beberapa jam belajar, mereka merasa lebih percaya diri menghadapi ujian yang akan datang.
Alena duduk di depan meja belajar, menatap buku pelajaran dengan wajah tegang. Hari itu adalah hari terakhir ujian akhir semester, dan Alena sangat khawatir tentang bagaimana hasilnya nanti. Dia memutar-mutar halaman buku, mencoba mengingat materi-materi penting yang telah dia pelajari sepanjang semester.
Dia memandang jam dinding, dan hatinya semakin berdegup kencang. Hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum ujian dimulai. Alena mengambil nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu bisa melakukannya," gumamnya pada dirinya sendiri. "Kamu sudah belajar keras sepanjang semester. Sekarang, saatnya menunjukkan kemampuanmu."
Saat bel berbunyi, Alena memulai ujian akhirnya dengan wajah serius. Dia membuka kertas soal, dan dengan cepat mulai mengerjakannya. Setiap soal membuatnya semakin gugup, tapi dia terus berusaha untuk tetap fokus dan konsentrasi.
Dia mencoba mengingat semua jawaban yang telah dia pelajari selama semester ini, dan dengan hati-hati menulis jawabannya di kertas ujian. Setiap kali dia merasa ragu, dia memeriksa kembali bukunya untuk memastikan jawabannya benar.
Pssshhh…pssshhh len alenaaa
__ADS_1
Alena menoleh ke suara itu ternyata itu Alex ,ia meminta jawaban dari alena karena ia tidak tahu.
"Len no 25 apa"
"B"
"Kalo 30,31,32,33"dan masih banyak lagi.
"Banyak amat"suara alena dengan berbisik.
Setelah jawaban diberikan kepada guru selanjutnya adalah jam istirahat.alena dan teman-temannya membeli makan karena terlihat lapar setelah ujian selesai.
Alena dan teman-temannya selesai mengikuti ujian dan mereka merasa lega karena telah melewati ujian dengan baik. Setelah mengambil barang-barang mereka di loker, mereka menuju ke kantin untuk makan siang.
Di dalam kantin, mereka mencari meja kosong yang cukup besar untuk mereka berenam. Sambil menunggu makanan mereka datang, mereka membicarakan soal ujian yang mereka lakukan.
“Bagaimana menurut kalian soal nomor 5?” tanya Alena kepada teman-temannya.
“Tapi kalau dibandingkan dengan soal nomor 8, itu masih lebih mudah,” tambah yang lain.
Mereka terus membicarakan soal ujian dan memberikan pendapat masing-masing tentang jawaban yang mereka pilih. Setelah makanan mereka datang, mereka mulai makan dan tetap membicarakan soal ujian sambil menikmati hidangan mereka.
Alex merasa sangat lapar dan ingin makan di kantin sekolah. Ia mengambil makanan dan mencari tempat duduk yang kosong, namun semua meja sudah terisi. Tiba-tiba ia melihat Alena sedang duduk sendirian di sebuah meja dan tidak ada teman yang duduk bersamanya.
Alex merasa sedikit gugup untuk mendekati Alena, tapi akhirnya ia mengumpulkan keberanian dan berjalan ke arah meja tersebut.
“Hai, apakah kursinya kosong? Bolehkah saya duduk di sini?” tanya Alex sambil tersenyum.
“Tentu saja, duduklah,” jawab Alena dengan ramah.
Alex duduk di samping Alena dan mulai mengobrol dengannya. Mereka membicarakan ujian yang telah mereka jalani, makanan yang mereka pesan, dan topik-topik lainnya. Alena terlihat sangat baik hati dan ramah, dan Alex merasa nyaman bersamanya.
__ADS_1
Tiba-tiba, seorang teman dari Alena datang dan bergabung dengan mereka. Mereka semua tertawa dan bercanda bersama, dan Alex merasa senang bisa menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Setelah selesai makan, Alena mengajak Alex dan temannya untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah. Mereka berjalan-jalan di koridor dan melihat-lihat foto-foto yang dipajang di dinding. Alena dan temannya juga menunjukkan beberapa tempat menarik di sekolah, seperti perpustakaan dan ruang seni.
Waktu berlalu dengan cepat, dan sebelum Alena menyadari, ujian telah berakhir. Dia mengambil nafas dalam-dalam, merasa lega bahwa dia telah menyelesaikan ujian dengan baik.
Alena melangkah keluar dari kelas dengan perasaan lega setelah selesai mengerjakan ujian matematika. Dia merasa telah cukup siap dan yakin bisa mendapatkan nilai yang baik. Namun, setelah dia melihat hasil ujiannya, rasa percaya dirinya itu mulai goyah.
Dalam perjalanan pulang, Alena terus merenungkan hasil ujiannya dan kekhawatirannya tentang nilai yang buruk mulai menghantui pikirannya. Dia berjalan dengan cepat, hampir tanpa sadar, melewati jalanan yang ramai di kota kecil tempat dia tinggal.
Namun, ketika dia tiba di depan rumahnya, Alena melihat sesuatu yang tidak biasa. Ada beberapa mobil polisi di depan rumahnya, dan banyak orang berkumpul di sekitarnya. Dada Alena berdebar ketika dia berlari mendekati kerumunan orang itu.
Ternyata, rumah Alena telah dibobol oleh pencuri. Dia merasa lega bahwa keluarganya selamat dan tidak terluka, tetapi mereka kehilangan banyak barang berharga. Alena menjadi sedih dan terkejut oleh kejadian ini.
Setelah beberapa waktu, polisi berhasil menangkap pencuri dan semua barang berharga keluarga Alena berhasil kembali. Namun, rasa gelisahnya tentang hasil ujian masih menghantui pikirannya.
Ketika Alena kembali ke kamarnya, dia melihat tumpukan buku di atas mejanya. Dia mengingat bahwa dia memiliki ujian Bahasa Inggris besok, dan dia merasa tidak siap. Namun, setelah mengingat kejadian tadi, Alena menyadari bahwa nilai ujian tidak seberapa penting dibandingkan dengan keamanan dan keselamatan keluarganya.
Alena berusaha mengatasi kecemasannya tentang ujian Bahasa Inggris dan fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidupnya. Dia merasa bersyukur karena keluarganya aman dan sehat, dan itu menjadi prioritas utamanya. Dan ketika dia akhirnya menerima hasil ujian Bahasa Inggris, dia merasa lega dan puas dengan hasilnya, karena dia tahu bahwa dia telah melakukan yang terbaik.
Beberapa hari kemudian, guru kelas memberikan hasil ujian. Alena sangat cemas, dan ketika guru kelasnya memanggil namanya, dia menahan napas. "Bagaimana hasilnya?" tanya Alena dengan wajah gugup.
Guru kelasnya tersenyum dan memberitahunya bahwa Alena telah mendapatkan nilai A pada ujian akhirnya. Alena merasa lega dan bahagia, dan tidak sabar untuk memberitahu ibunya tentang hasil ujiannya.
Ketika Alena tiba di rumah, ibunya sudah menunggunya dengan senyum lebar di wajahnya. "Bagaimana hasil ujianmu?" tanya ibunya.
Alena tersenyum lebar dan memberitahunya bahwa dia mendapatkan nilai A pada ujian akhirnya. Ibunya sangat bangga dan memeluknya dengan erat.
"Kamu telah bekerja keras, sayang," kata ibunya. "Ini adalah hasil yang sangat memuaskan."
Alena merasa sangat bahagia dan bersyukur atas hasilnya. Dia tahu bahwa dia telah bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya, dan sekarang dia merasa bahwa segala usahanya
__ADS_1