My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Hurt


__ADS_3

          Maaf banget aku baru sempet up,


sebenernya aku udah ngetik dari lama bgt. ggr hp srg ngehang kbnyakan apk. Jd aku hpus dl, dan ini br smpet install. Aku ngucapin makasih banyak buat yang mau nunggu ceritaku. Aku bakal usahain lg biar sering up. Yang pasti ceritanya bakal aku tamatin di sini. Makasih banget, apalagi yg mau kasih vote dan meninggalkan jejak. 🤗🤗🤗🙏🙏🙏


Langit mendung seolah menggambarkan perasaan buruk yang bergemuruh dalam hatinya Cassey, dia menghela nafas untuk kesekian kalinya. Bukannya dia tidak senang keluar dari rumah sakit, namun ada hal yang membuat hatinya resah.


"Sudahlah Cass, ayo! Kelihatannya akan turun hujan deras." Nery menarik Cassey untuk memasuki mobil William,


"Apa sebegitu tidak sukanya kau jika aku yang menjemputmu?" Cassey mendongakkan kepalanya menatap William di belakang kemudi.


"Kau ini bicara apa, kalian tentu tidak usah repot-repot seperti ini."


"Kau yang bicara apa, aku ini temanmu. Siapa lagi yang akan menjemputmu jika bukan aku?!" Cassey tersenyum mendengar omelan Nery,


"Oh, tinggal besok dan ujian akan selesai. Akhirnya,"


"Sebegitu senangnya? Mana Sean?" Cassey menatap kursi depan yang kosong.


"Dia dipanggil pelatih, kita pulang sekarang?" Cassey menolehkan kepalanya keluar, berharap menemukan seseorang yang dia ingin lihat selama tiga hari ini. Hingga sebuah sentuhan halus pada bahunya membuat Cassey menoleh, Nery menggeleng pelan. Seakan tau apa yang ditunggu Cassey,


"Ayo, pulang." Cassey mengucapkan kalimat tersebut dengan hati yang terasa berat, sejak kejadian Cassey mengusir Zack di rumah sakit. Hingga saat ini Cassey belum pernah melihat Zack sama sekali, bahkan Rey juga tidak pernah muncul sejak mengatakan agar dirinya menjauhi Zack.


"CASS!"


"Ya?" Cassey meringis, merasa bersalah melihata raut jengkel yang terpampang di wajahnya Nery.


"Kau besok sungguh akan masuk sekolah?"


"Ya, badanku sudah lebih baik."


"Kalau begitu biarkan aku menjemputmu." William menawarkan dirinya setelah meletakkan tasnya Cassey di kursi.


"Tapi,"


"Aku setuju, jemput dia Wils! Dia biasa berangkat pagi, jangan sampai keduluan kekasih brengseknya!" Cassey hanya bisa meringis tak enak mendengar ucapan pedasnya Nery.


"Siap! Aku akan bermalam disini kalau begitu." ucapan semangatnya William langsung berdampak pukulan keras dari Nery, bukannya protes. William malah terkekeh sambil mengusap-usap bahunya bekas kekerasan dari Nery.


"Pulanglah! Hati-hati dijalan, sampaikan salamku untuk Sean." Nery mendorong William keluar melewati pintu rumahnya Cassey,


"Yahh, kau tidak ada niatan menawariku minuman atau lainnya? Aku tamu loh," Bukannya menjawab, Nery langsung menutup pintu tepat di depan wajahnya William. Cassey meringis ngeri, membayangkan kemungkinan wajahnya William terbentur pintu rumahnya.


"Baiklah, sekarang kau ke kamar dan istirahat."


.......................................................


Cassey menatap langit-langit kamarnya dengan mata nyalang, dia belum mengantuk sama sekali. Ujian siang tadi berjalan lancar, namun entah kenapa Cassey tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur. Padahal sebentar lagi tengah malam, hingga suara pintu terbuka dengan pelan membuat Cassey menoleh. Cassey tersenyum penuh arti, dengan sangat hati-hati dia turun dari kasur dan keluar dari kamarnya. Bersyukur dia memilih tidur di kamar lantai bawah. Cassey menyeringai menatap Nery yang terlihat berjalan mengendap-endap menuruni tangga. Ingin rasanya Cassey menertawakan Nery,


Nery menatap sekitar, dia kurang yakin karena rumahnya Cassey gelap dan dia tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi dia harus segera keluar sebelum Cassey tau.


Nery menghela nafas lega, karena hingga sampai bawah dia tidak mendengar tanda-tanda Cassey terbangun. Namun Nery langsung terpekik ketika tiba-tiba seluruh lampu menyala, dan Cassey sudah berdiri menjulang di depannya bersedekap menatap Nery penuh selidik.

__ADS_1


"Katanya kau bermalam disini lagi?" Nery menegakkan tubuhnya, melontarkan senyum konyol serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Persis gerak-gerik orang tertangkap basah sedang berbuat salah,


"Ah, itu. Ah, anu,"


"Jujurlah, aku mengenalmu dengan baik Nery." Nery menghela nafas panjang,


"Sean mabuk, Wills tidak datang pada acara perpisahan timnya tadi. Jadi aku akan menjemput Sean." senyum Cassey langsung berkembang di bibir plumnya, Nery menatap ngeri. Seakan tau kalimat apa yang akan dikatakan Cassey,


"Baiklah, ayo. Untunglah aku belum ganti piama." Cassey menyeret lengan Nery penuh semangat, Nery menahannya.


"Astaga, kau masih pasien Cass. Dan lagi ini aku akan ke club bukan ke mall." Cassey menekuk wajahnya, kesal.


"Kau tau, betapa bosannya aku. Ayolah, aku bahkan sudah keluar dari rumah sakit. Ya?" Nery menghela nafas ditatap Cassey penuh harap, tidak tega menolak permintaan Cassey.


"Baiklah, tapi tetap di sampingku. Aku juga hanya menjemput Sean lalu mengantarnya pulang dan kita kembali pulang." mata Cassey berbinar, dia mengacungkan kedua jari jempolnya di depan wajahnya Nery. Nery menghela nafas,


"Tak apa, aku sangat senang akhirnya bisa jalan-jalan malam kembali."


'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''


"Kau tunggu disini, aku masuk." Nery menutup pintu taxi, Cassey berdecih tidak suka.


"Kau bilang tadi aku harus ada disekitarmu." Nery memijat keningnya,


"Baiklah ayo," senyum Cassey kembali mengembang, dengan semangat dia membuka pintu mobil dan turun menyusul Nery.


"Ingat jangan jauh-jauh, kau bahkan belum pernah main ke club" Nery berdecih menatap Cassey dengan sinis,


"Pernah, aku pernah sekali kemari mengantarkan Pizza pesanan langganan." Nery menghentikan langkahnya menatap aneh pada Cassey.


"Kau tunggu di sini, aku akan tanyakan dimana timnya Sean mengadakan acara." Cassey mengangguk, dia juga merasa tidak suka jika harus ikut berdesakan diantara puluhan orang. Dia memandang Nery yang mulai menghilang di telan lautan orang.


Cassey mundur, bersandar pada meja bar. Tatapannya jatuh pada Dance floor, Cassey tersenyum kecut. Cassey menatap kursi di sampingnya, meja yang saat ini dia sandari. Semua kejadian pertama kali dia bertemu dengan Zack, terjadi di tempat saat ini dia berdiri.


Rasa sesak langsung memenuhi rongga dadanya Cassey, Cassey mendudukkan dirinya.


"Jus jeruk tolong." Cassey menatap seorang bartender di depannya yang menatap Cassey dengan bingung, Cassey tersenyum tau alasan raut bingung yang tercetak di wajahnya sang bartender. Tentu saja, siapa juga yang datang ke club dengan pakaian seperti Cassey. Kaos kebesaran bergambar three bears serta celana jeans pendek,


"Orange juice please?!" bartender tersebut terperanggah, kemudian mengangguk pada Cassey.


"Wajahmu asing, pakaianmu juga tidak seperti orang ke club." bartender itu meletakkan pesanannya Cassey di hadapan Cassey, Cassey tersenyum.


"Aku menunggu temanku mencari kekasihnya yang mabuk." bartender tersebut tersenyum,


"Berarti tebakanku tidak salah."


"Tebakan?"


"Aku kira kau anak baik-baik yang tersesat," Cassey tertawa, tawa tersebut menular ke bartender.


"Aku pernah kemari sekali sebelumnya, untuk mengantarkan pizza." tawa bartender semakin pecah mendengar pernyataan Cassey yang terdengar seperti lelucon bagi sang bartender, namun tawanya terhenti karena ada seseorang yang memanggilnya. Memesan sesuatu mungkin, karena bartender tersebut langsung meracik beberapa minuman.

__ADS_1


"Anak baik-baik?" Cassey menoleh,


"Bisa kau bantu aku?" Cassey mengerutkan dahinya bingung,


"Ada pelanggan VVIP yang memesan ini, tapi aku ada panggilan alam. Tolong antar ke ruang bertuliskan VIP di lantai dua ya?" tanpa menunggu jawaban dari Cassey, bartender itu langsung pergi berlari meninggalkan Cassey dengan wajah bingungnya.


Cassey menghela nafas,


"Tak apa lah, kelihatannya dia benar-benar harus ke kamar mandi." Cassey berdiri, mengambil nampan berisikan minuman berbagai warna yang tidak dia ketahui. Yang dia tau jelas, itu alkohol.


"Okay, ruang VIP lantai dua." Cassey menaiki tangga, dia menatap papan nama tiap ruang. Dia menghembuskan nafas kesal,  pasalnya semua ruang di lantai dua hanya bertuliskan  VIP. Dan bukan hanya satu ruangan saja, rasanya Cassey ingin menjedukkan kepalanya ketembok.


"Baiklah, aku akan coba tanya satu persatu tiap ruangan." Cassey berlajan membuka ruang pertama,


"Permisi, apa," Cassey langsung menutup pintu dengan kencang, tidak melanjutkan ucapannya. Dia bersandar tembok, mencoba menetralkan nafasnya, menekan dadanya yang bergemuruh.


"Astaga apa itu tadi?" Cassey melirik ngeri pintu di sebelahnya, Cassey menggosok-gosok kelopak matanya. Berharap bahwa dengan hal tersebut bisa melupakan apa yang dia lihat tadi. Cassey bergidik ngeri, dalam hatinya menggerutu. Bagaimana mereka bisa melakukan hal tidak senonoh seperti itu di bar, seharusnya mereka menyewa hotel atau apalah.


"Syukurlah mereka masih berpakaian." Cassey langsung memukul mulutnya,


"Tidak, aku tidak melihat apa-apa." Cassey memantrai dirinya, dia kembali berjalan menuju ruang sebelahnya. Agar kejadian yang sama tidak terulang, Cassey berjinjit untuk melihat keadaan dalam ruangan.


Cassey melihat dua orang laki-kali beserta beberapa perempuan, Cassey menghela nafas lega. Tidak melihat hal aneh seperti tadi, Cassey kembali berjinjit, meja dalam ruangan itu masih kosong. Kemungkinan besar ruang ini yang memesan minuman yang saat ini di bawa Cassey,


Dengan hati-hati Cassey membuka pintu dan memasuki ruangan itu, dia berjalan menunduk menatap minuman yang dia bawa.


"Maaf, bartendernya ada urusan. Dan aku hanya menolongnya untuk mengantarkan ini," Cassey meletakkan minuman yang ada di nampan ke meja, dia mendongakkan kepalanya akan berpamitan. Namun ucapan Cassey tertelan seluruhnya, rasanya seperti sebuah batu besar menghantam jantungnya.


Cassey tertengun menatap apa yang dia lihat, Cassey menunduk. Tidak tahan melihat Zack yang saat ini duduk tepat di depannya dengan Rain yang sibuk mengendus lehernya di samping Zack duduk. Cassey tersenyum, senyum mengejek dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia,


Cassey memutar kepalanya menatap laki-laki di kursi sebelahnya, dia kembali tersenyum mengejek.


"Jadi ini alasanmu mengatakan hal itu saat di rumah sakit Rey?" Rey membeku,


"Oh! Bukankah dia gadis taruhan kalian beberapa minggu yang lalu?" Cassey menolehkan kepalanya menatap wanita yang duduk di sebelah Rey, Cassey tertawa mendengarnya. Sebuah tawa hampa penuh ejekan yang membuat Zack tersadar dan mendorong Rain untuk menjauh.


Cassey kembali menatap Zack, dengan tatapan terlukanya. Cassey menatap ponselnya yang bergetar, tanpa protes. Cassey menjatuhkan nampan yang dia pegang ke lantai, yang menimbulkan suara gaduh.


"YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Cassey tersenyum miring menatap Rain yang membentaknya, tanpa menjawabnya Cassey langsung melangkah keluar.


Sebelum benar-benar keluar, Cassey berhenti.


"Selamat, jadi kalian sedang merayakan keberhasilan kalian telah menaklukkan gadis malang." ujar Cassey tanpa menoleh, dengan segera Cassey pergi dari ruangan tersebut tanpa kembali menoleh kebelakang.


"Cass, Cassey!" Cassey terus berjalan, mencoba menulikan telinganya. Cassey berjalan menuju meja bar, tanpa mengatakan apapun Cassey terus berjalan. Tidak memedulikan bartender yang juga berteriak memanggil dirinya.


"Cassey, aku mohon. Dengarkan dulu penjelasanku," Cassey menoleh, menatap penuh kebencian pada Rey yang menahan tangannya.


"Lepaskan aku." Rey terdiam mendengar nada datarnya Cassey, Cassey menggunakan kesempatan itu untuk segera keluar dari club. Cassey sangat bersyukur, tepat dia keluar dari pintu club. Sudah ada taxi yang berhenti,


"Jalan sir," tangisan Cassey pecah langsung pecah begitu taxi berjalan menjauhi club, tangisannya begitu pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Bahkan sopir taxi itu hanya terus mengemudi tanpa bertanya kemana tujuan Cassey.

__ADS_1


                  Jbg, 27 Februari 2010


Jangan lupa tinggalkan jejak, jejak dan vote kalian sangat berarti bagi tiap penulis. sekali lagi aku minta maaf 🙏🙏🙏


__ADS_2