My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Beban


__ADS_3

Minal aidzin wal faidzin. Taqobalallohu minna wa minkum. Author pny banyakkkk bgt salah sm kalian, aku minta maaf. apalg kalian yg nunggu aku yg blm up-up juga. maaf bgt ya, 🙏🙏. Makasih bgt juga buat yg mau nunggu cerita ini.


Zack berkali-kali melirik pada Cassey memejamkan mata dengan earphone yang tersumpal di kedua telinganya,


Berubah, itu yang berkecamuk dalam otak Zack. Cassey yang saat ini duduk di sebelahnya berbanding terbalik dengan Cassey yang dia kenal dulu.


Tingkahnya, ucapannya, semuanya. Memang Cassey menjadi lebih cantik dan matang. Rahang Zack mengetat, dia tidak suka melihat Cassey yang menggunakan pakaian seterbuka itu.


Walaupun mungkin di mata orang, terutama dunia fashion itu hal yang normal. Atasan tunik dengan garis vneck yang cukup rendah, dipadu dengan rok pendek setengah paha.


Namun itu hal yang tidak biasa bagi Zack, Cassey yang dia kenal dulu selalu mengenakan pakaian sedehana yang tidak menunjukkan betapa bagus lekuk tubuh serta kulit putih susunya.


Zack kembali melirik Cassey, bukannya dia tidak tau jika Cassey saat ini hanya pura-pura tidur. Zack yakin Cassey sengaja melakukannya agar menghindari berbicara dengan dirinya. Zack menghela nafas,


Dia memang berharap Cassey kembali, tepatnya kembali padanya. Namun situasi seperti ini tidak pernah terbayangkan dalam benaknya sekalipun. Cassey yang bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, Cassey yang menganggapnya sekedar Mr. Maxwell.


Zack bahkan masih mengingat bagaimana Cassey memanggilnya seformal itu, seakan ini memang pertama kali pertemuan mereka.


Zack menghentikan mobilnya pada sebuah gedung apartemen yang alamatnya tadi telah dikirimkan oleh staffnya, Wendy.


Zack terdiam, menatap Cassey. Cassey membuka matanya, pandangan mata mereka bertemu. Namun dengan cepat Cassey memutusnya,


Cassey langsung membuka pintu, keluar dari mobil. Ketika Zack turun, Cassey sudah memasuki gedung apartemen sambil membawa kopernya. Zack melangkah cepat, menangkap pergelangan tangannya Cassey.


Cassey menoleh, menurunkan sedikit kaca mata hitamnya.


"Ah, iya aku lupa. Terima kasih telah mengantarkan aku Mr. Maxwell,"


Zack menatap Cassey tidak percaya, ketika Zack membuka mulutnya hendak berkata. Handphone Cassey berbunyi, Cassey menunjuk handphonenya. Meminta Zack untuk melepaskan cekalan tangannya pada tangan kanannya Cassey.


Dengan terpaksa Zack melepaskannya, dan hanya bisa menatap Cassey yang pergi menjauh dengan handphone yang dia apit antara pundak dan telinganya.

__ADS_1


\*\*\*


Cassey jatuh terduduk setelah dia menutup pintu apartemennya, dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi baru saja. Cassey bahkan selalu berharap tidak akan pernah bertemu Zack lagi seumur hidupnya. Namun apa semua ini?


Handphone Cassey memang masih menyala, mengeluarkan suara Wendy di sebrang sana. Walaupun Cassey menempelkan handphonenya sejak di bawah tadi, namun Cassey seakan tidak mendengar satu kalimatpun yang dikatakan Wendy. Fikiran Cassey kacau,


Cassey memijat dahinya, kepalanya serasa akan pecah.


"Casy, cass. Kau mendengarkanku?" teriakan itu membuat Cassey tersadar, Cassey mengerjabkan matanya.


"Wendy, aku akan menelefonmu nanti, aku sungguh lelah."


"Oh, maaf aku mengganggumu. Aku hanya khawatir, kau bisa memanaskan bacon dan carabonara di lemari pendingin. Istirahatlah,"


Cassey menyandarkan kepalanya pada pintu apartemennya, apa yang harus dia lakukan?


Apa dia harus membatalkan kontraknya? Masalah denda kontrak, Cassey bisa menanganinya. Tapi bagaimana nasib Wendy? Cassey mengacak rambutnya frustasi.


Dengan langkah gontai dia menarik kopernya, membuka lemari pendingin hendak mengambil soda. Namun tatapannya teralihkan pada note yang tertempel di pintu lemari pendingin.


Kepala Cassey semakin berdenyut, dia memegang kepalanya. Berusaha mengambil air mineral dan menenggaknya dengan cepat. Nafasnya memburu, Cassey segera mendudukkan dirinya pada salah satu kursi menyandarkan kepalanya pada meja marmer. Rasa dingin marmer sedikit menghilangkan pening di kepalanya.


Dering handphone pada sakunya membuat Cassey mengangkat kepalanya, mengambil handphonenya.


"Cass," senyum Cassey langsung merekah, namun dia kembali menyandarkan kepalanya dimeja.


"Kau sudah sampai?"


"Ya, kau mau ke tempatku? Aku kirimkan alamatku."


"Ah, aku sangat ingin kesitu. Tapi Bryan sedang demam."

__ADS_1


"Sudah kau priksakan dia?"


"Sudah, demamnya juga sudah turun."


"Sean kemana?"


"Dia sedang ke Las Vegas, biasa urusan kerja. Sebenarnya kemarin aku akan ikut, tapi karena Bryan tidak jadi." Cassey tersenyum, dia sangat merindukan sahabatnya ini.


"Aku menitipkan sesuatu pada Sean, bagaimana pertamakali ke LV?" Cassey menghela nafas panjang, dia ingin. Bahkan sebenarnya membutuhkan tempat untuk menuangkan segala hal yang membuat kepalanya serasa akan pecah ini.


Namun mengingat saat ini Nery di New York hanya dengan Bryan yang sakit, tentu saja dia tidak tega. Dia tidak mau membuat fikiran Nery semakin kacau.


"Cukup mengejutkan, kau jaga Bryan lalu istirahat. Badanku serasa remuk semua, aku butuh mandi dan tidur." di sebrang sana Nery terkekeh,


"Baiklah, nikmati harimu Cass. Aku harap kau juga segera menyusulku." setelah mengucapkan itu, Nery memutus sambungan telepon. Cassey berdecih, dia yakin saat ini Nery sedang tertawa membayangkan wajah kesalnya Cassey.


Cassey memalingkan wajahnya menatap kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu malamnya Las Vegas, pemandangannya benar-benar indah. Cassey kembali menghela nafas, jari telunjuknya ia ketukkan pada meja marmer beberapa kali.


Setelah kepalanya tidak terasa sakit, dia mengangkat kepalanya. Berjalan membuka pintu kaca di depannya, dinginnya angin malam langsung menerpa wajahnya. Menerbangkan beberapa helai rambutnya,


Cassey menatap langit malam yang hanya berwarna hitam pekat dan kosong, tidak ada bintang. Hanya sebuah bulan sabit yang menggantung indah disana. Cassey memang sekarang memiliki segalanya, namun hatinya masih saja terasa kosong.


Nery, teman Cassey sudah menikah dua tahun yang lalu. Dan memiliki seorang Bryan, kadang Cassey merasa cemburu akan Nery. Dia begitu beruntung, dia langsung bisa menemukan kekasih sejatinya, menikah, dan memiliki anak laki-laki yang menggemaskan.


Namun mengingat betapa baiknya Nery padanya, tentu saja Cassey selalu menampik rasa cemburu itu. Nery orang baik, jadi dia sangat pantas untuk mendapatkan kehidupan yang baik pula.


Cassey menekan dadanya, berharap rasa sesak dan nyeri di dadanya lenyap. Luka yang sudah dia tutup bertahun-tahun yang lalu, entah kenapa rasanya kembali terbuka lagi hanya karena pertemuan yang mengejutkannya sore tadi.


 


\=TBC\=

__ADS_1


Selasa, 26 Mei 2020


 


__ADS_2