My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Los Angeles


__ADS_3

Zack melajukan ferarry merahnya dengan senyum yang terus terpampang di wajahnya, Zack sudah seperti itu sejak tiga hari yang lalu. Namun tentu saja hanya ketika sendiri, ketika di depan banyak orang. Tentu saja Zack akan terus memperlihatkan wajah dingin tanpa ekspresinya, jika Zack memperlihatkan raut wajah sumringah di depan umum. Bisa rusak teputasi Zack, apalagi jika Rey yang melihatnya. Zack bisa di ejek habis-habisan oleh Rey,


Zack bahagia bukan tanpa sebab, itu semua karena Cassey. Cassey semakin jinak, bahkan lebih jinak dari pada seminggu yang lalu sebelum Cassey marah dan terjadi ciuman di dalam ruangannya Cassey. Walaupun omelan Cassey tidak berubah, masih saja pedas dan tajam ketika berbicara terutama ketika marah. Tapi Zack tau jelas. Omelan Cassey itu hanya topeng, karena harga dirinya Cassey yang memang masih setinggi langit. Dan Zack tidak mempermasalahkannya, dengan Cassey yang seolah sudah membuka hatinya saja Zack merasa sangat senang.


Zack membelokkan ferarrynya pada sebuah gedung apartement elit, tempat tinggalnya Cassey. Senyum Zack semakin berkembang ketika melihat Cassey yang sudah berdiri di depan lobi dengan koper merah di sampingnya.


Zack berdeham, menetralkan raut wajahnya yang tadinya terlihat amat sumringah. Setelahnya Zack membuka pintu mobilnya, melangkah keluar menghampiri Cassey yang berdiri di sana dengan wajah bertekuk kesal.


"Kau tau?! Aku sudah setengah jam berdiri di sini!" sembur Cassey ketika melihat Zack yang berjalan kearahnya dengan senyum manisnya, mendapat omelan. Zack malah semakin tersenyum lebar,


"Maaf, tadi ada sedikit masalah di kantor. Sudah siap?" Cassey benar-benar ingin melempar wajah watadosnya Zack dengan kopernya,


"Hilangkan senyum konyolmu itu! Aku benar-benar muak melihatnya." Cassey menarik kopernya, menggalkan Zack yang malah tertawa di belakang. Zack tertawa? yah begitulah kekuatan cinta. Mau di hujat setajam dan sepedas apapun, itu akan terdengar seperti kalimat yang indah. Zack bahkan menganggap Cassey sangat menggemaskan ketika sedang meledak seperti saat ini.


Zack menyusul Cassey, merebut kopernya Cassey.


"Kau sangat menggemaskan," bisik Zack di samping Cassey yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cassey.


"Diam!" Zack terkekeh, membuka pintu ferarrynya untuk Cassey dan memasukkan koper Cassey kedalam bagasi mobilnya.


"Kita mampir ke California dulu," ujar Zack setelah masuk ke dalam mobilnya,


"Untuk apa?" Cassey menatap Zack dengan raut wajah heran dan tidak percaya. Mampir katanya? padahal arah California dan New York itu berlawanan arah. Bahkan lebih dekat jarak New York dari Las Vegas, dan Zack bilang mampir itu?


"Mommyku ingin kita mampir sebentar, besok baru kita ke New York. Tak apa kan?" Cassey menggedikkan bahunya,


"Aku menolakpun kau tetap akan menculikku bukan?" Zack menjentikkan jarinya, terkekeh akan jawaban benarnya Cassey.


"Benar sekali," Cassey berdecih,


"Kau bilang urusan perusahaan, kenapa tidak ajak Becca saja sih?!"

__ADS_1


"Mommyku ingin bertemu dengannu bukan dengan Becca," Cassey hanya mengangguk.


"Tidurlah jika ingin tidur, perjalanannya cukup lama. Mungkin sore nanti baru sampai California," Cassey menatap Zack tajam,


"Kau fikir aku tukang tidur? Bahkan ini masih pagi untuk di katakan tidur siang!" Zack terkekeh mengelus puncak kepalanya Cassey dengan sebelah tangannya,


"Aku tidak bilang seperti itu, tapi tujuh jam perjalanan akan sangat melelahkan. Apalagi tadi malam kau lembur mengerjakan gaun agar kau bisa ikut denganku bukan?" Niat Zack berhasil, dari sudut matanya. Zack bisa melihat Cassey yang gelagapan, dan itu benar-benar membuat Zack merasa puas.


"S-siapa bilang?! Kau terlalu percaya diri! Aku lembur karena memang akan digunakan nanti!" Zack memiringkan kepalanya,


"Seingatku, hanya Karen yang membutuhkan gaun untuk pemotretannya minggu depan." Cassey menatap Zack tajam, seolah tau Zack sengaja menjebaknya. Ingin menggoda dirinya, dengan kesal Cassey mencubit lengan Zack dengan sekuat tenaga. Bahkan Zack sampai mengaduh kesakitan, menepuk tangannya Cassey yang masih bertahan di lengan atasnnya.


"Cassey sakit, kita bisa kecelakaan jika kau masih terus mencubitku." Cassey tidak peduli, dia malah memutar cubitannya. Setelah puas, juga kesal karena jujur lengannya Zack itu sangat keras karena ototnya. Cassey melepaskan cubitannya, melandaikan kursinya kebelakang. Dengan kesal berbaring miring memunggungi Zack,


"Kau benar-benar bisa membunuh orang dengan cubitanmu," gerutu Zack menatap Cassey dengan melas, tapi Zack semakin menggerutu tidak jelas melihat Cassey yang dalam mode ngambeknya. Zack mengelus-elus lengannya yang terasa sangat panas dan nyeri karena cubitan tangannya Cassey.


Cassey mencubitnya tidak main-main, seolah Cassey menggunakan seluruh tenaganya untuk mencubit lengan kencangnya Zack.


"Kau yang memulai!" Zack meringis mendengarkan teriakan Cassey yang tidak bisa di katakan pelan.


"Tapi aku kan,"


"Terus saja bela dirimu, aku gigit baru tau rasa." Zack meringis ngilu, di cubit saja sudah semenyakitkan itu. Apalagi di gigit Cassey, Zack bergidik ngeri. Zack masih menyayangi lengannya,


"Ok, ok! Aku yang salah, aku minta maaf." Cassey berdecih mensedekapkan kedua tangannya di depan dadanya lalu berbaring menghadao atas, mulai memejamkan matanya.


"Katanya kau tidak ingin tidur?" ucapan Zack membuat Cassey membuka matanya dan kembali menatap Zack dengan kesal.


"Jelas kau tadi yang menyuruhku tidur, sekarang aku mau tidur malah kau ganggu!" Zack meringis,


"Ok, ok! tidurlah," Zack menepuk kepalanya Cassey pelan-pelan, seolah jika merusak tatanan rambutnya Cassey. Zack bisa di gigit oleh Cassey,

__ADS_1


"Dasar menyebalkan! plin-plan!" gerutu Cassey sambil memejamkan matanya, dan di ikuti semua gumaman betapa menyebalkannya Zack. Zack hanya meringis mendengar dirinya yang terus di gumamkan Cassey.


***


Cassey membuka matanya ketika merasakan tubuhnya seperti melayang, Cassey kembali memejamkan matanya ketika cahaya silau menerpa netranya ketika dia membuka mata.


"Tidurlah kembali," bisik Zack yang malah membuat kesadaran Cassey berkumpul dengan sempurna. Cassey membulatkan matanya ketika tau jika dirinya berada di gendongan Zack,


"Zack turunkan aku!" ujar Cassey dengan suara seraknya khas orang bangun tidur, seolah tidak mendengarkannya. Zack tetap menggendong Cassey, berjalan menuju rumah Zack.


"Zack! Turunkan!" Cassey memukuli punggungnya Zack sambil kakinya dia goyang-goyangkan dengan brutal, Zack bahkan hampir oleng karena perbuatan Cassey tersebut.


"Ok, aku akan menurunkanmu. Tapi berhenti menggerak-gerakkan kakimu. Kita bisa jatuh." Cassey menurut, dia diam. Setelah itu Zack menurunkan Cassey,


"Kau sudah benar sadar?" Cassey mengangguk,


"Kopernya?" Cassey menoleh ke belakang, menunjuk mobil Zack yang sudah terparkir di halaman rumahnya Zack.


"Akan di antar nanti," Cassey mengangguk, Zack menggenggam tangannya Cassey. Menariknya untuk berjalan menuju rumahnya.


Cassey menatap sekitarnya,


"Rumahmu tidak berubah ya?" Zack menggedikkan bahunya,


"Mommy malas merubah-rubah, jadi ya ini masih tempat yang sama seperti yang kau kunjungi beberapa tahun yang lalu." Cassey mengangguk membenarkan, Cassey hendak bertanya lagi. Namun pertanyaannya harus tertelan karena seorang gadis menubruk tubuhnya Zack, memeluknya dengan erat.


Nafas Cassey tercekat, gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang bermanja dengan Zack di dalam kantornya. Bahkan gadis itu hanya mengenakan singlet hitam serta hotpans yang mengekspos kulit mulus serta bentuk tubuhnya gadis itu.


"Zack, aku merindukanmu." rengek gadis itu yang entah kenapa membuat telinga Cassey menjadi sakit, Zack bahkan balas merangkul gadis itu dengan tangan kirinya yang tidak menggandeng tangannya Cassey.


Cassey benar-benar kesal, ingin rasanya Cassey menjambak rambut Zack saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2