
Tidak bertemu apanya?!
Kepala Cassey benar-benar serasa akan pecah, sudah hampir seminggu ini dia bekerja. Dan hampir seminggu pula dia terus bertatap muka dengan Zack. Bahkan tak jarang pula dia harus terkurung dalam satu ruangan bersama Zack karena rapat,
Ini semua karena acara penghargaan sialan itu, dan hampir semua artis di bawah naungannya Zack masuk dalam nominasi penghargaan musik yang akan dilangsungkan minggu depan.
Padahal Cassey sudah ada rencana akan jalan-jalan untuk sekedar mengenal kota ini, namun rencana itu harus pupus karena banyaknya pekerjaan.
Seminggu dia bisa terus menghindari tawaran makan siang dari Zack, selain mengajak makan siang bersama. Zack malahan tidak melakukan hal diluar batas, seperti permintaannya Cassey kemarin-kemarin. Tapi entah kenapa Cassey masih merasa kesal,
Cassey menatap gaun rancangannya dengan kesal, untung saja moodnya tidak mempengaruhi desain karyanya. Atensi Cassey teralihkan pada ketukan pintu ruangannya, pintu itu terbuka.
Seorang laki-laki berambut blode muncul, Cassey mengerutkan dahinya bingung. Laki-laki itu membungkuk hormat,
"Maaf, aku Allan Knight yang belum melakukan pengukuran baju." Allan menundukkan kepalanya sopan,
"Ah! Sebentar aku ambil alatnya," Cassey mengambil meteran yang tergantung di salah satu manekin,
"Permisi ya, aku akan mulai," izin Cassey yang langsung mendapat anggukan persetujuan dari Allan, Cassey membentangkan meterannya mulai mengukur.
"Aku dengar kau pendatang baru tapi sudah mendapat banyak sorotan," Allan tertawa, menggaruk tengkuknya.
"Mungkin karena aku berbeda," Cassey mendongakkan kepalanya, alisnya berkerut bingung.
"Aku orang asia, orang korea tepatnya." Mata Cassey membola,
"Woah, jadi kau adalah orang asia pertama di agensi ini?" Allan mengangguk,
"Woah, bagaimana kau bisa masuk? Maaf bukannya merendahkan, tapi aku bingung. Kau tau, kan bagaimana pandangan netizen amerika tentang orang asia."
"Jalur audisi," Cassey mengangguk,
"Duduklah dulu, aku akan tanya beberapa hal untuk setelanmu nanti." Allan mengangguk, mendudukkan dirinya di sofa. Cassey mulai menanyai beberapa hal yang langsung dijawab oleh Allan dengan lancar.
__ADS_1
Memang mungkin aneh, tapi seperti itulah Cassey. Dia harus tau karakteristik calon pengguna busananya agar mendapatkan ide untuk rancangannya, maka dari itu tak heran jika semua karya Cassey dapat memukau.
"Kurasa sudah cukup," Cassey menyisihkan kertas dan pensilnya, Allan menjulurkan kepalanya mengintip gambaran kasar yang di buat Cassey. Dia berdecak kagum,
"Kau tau? Aku benar-benar mengagumimu Mrs. Zie, tapi aku masih tidak menyangka bisa mengenakan karyamu." Cassey terkekeh,
"Terimakasih, panggil saja aku Cassey, Cassey Heaton." Cassey menyodorkan tangannya yang langsung di jabat oleh Allan,
"Kalau begitu panggil aku Allan juga Cassey, kita seumuran." Cassey mengangguk,
"Jika kau ada kesulitan beradaptasi kau bisa minta bantuan aku, aku juga mendapat darah korea dari ibuku." mata Allan membelalak senang,
"Benarkah? Kau juga baru pindah ke LV?"
"Iya, tapi aku sudah pindah ke New York sejak umur 8 tahun. Jadi aku cukup merasakan bagaimana agak susahnya berada di sini, apalagi ada kata asia dalam darahku. Maka dari itu jika kau butuh bantuan, mungkin saja aku bisa membantu. Sebenarnya aku cukup ngeri, kau tau RB?"
"Tentu, dia panutanku, dia juga yang membuatku berani debut di Amerika." Cassey mengangguk,
"Dia hebat, tapi ya karena dia orang Asia. Banyak komentar buruk tentangnya, aku rasa kau harus siap hati yang kuat."
"Oh! Maaf, maaf. Aku jadi menahanmu, ya silahkan. Hati-hati," Allan berdiri,
"Tidak apa-apa terimakasih Cass," Cassey mengangguk, membukakan pintu untuk Allan keluar.
***
Cassey menatap buket coklat dan cake di gantungan pintu apartemennya, Cassey lupa. Zack tidak benar-benar berhenti mengganggunya, selain mengajak makan siang bersama. Zack juga terus mengirimi parcel padanya. Buket bunga pada pagi hari ketika dia akan berangkat bekerja, dan buket coklat dan cake ketika malam dia pulang bekerja.
Tiga hari pertama dia terus membuang pemberiannya Zack itu, namun lama-kelamaan dia merasa sayang. Bunga, coklat, dan cake itu tidak bersalah. Jadi dia akan memberikan bunga itu pada bibi penatu ketika akan mengambil pakaian kotornya, dan masalah coklat serta cake. Cassey akan memakannya, apalagi itu dari merk terkenal dan Cassey memang suka dua hal itu.
Tapi kadang juga ketika dia malas memakannya, dia berikan coklat dan cake itu pada paman penjaga apartemen di bawah. Tapi bukannya Cassey sudah memaafkan Zack,
Cassey membawa masuk buket coklat itu, meletakkannya di meja depan televisi. Cassey melemparkan tubuh lelahnya di sofa, dia memijat tengkuknya yang terasa kaku. Dia menatap langit-langit apartementnya, dia suka sendiri. Membuatnya terasa tenang, namun kadang kesendirian itu membuatnya menjadi banyak berfikir segala hal. Masa lalunya yang menyakitkan, juga kadang masa depannya yang belum terjadi.
__ADS_1
Kesendirian memang di perlukan untuk berfikir atau menjernihkan fikiran, namun terlalu banyak sendiri juga membuat hati seseorang terasa kosong. Casseypun juga merasakan hal itu, kegiatannya monoton. Tidur, bangun, bekerja, tidur, dan seperti itu terus.
Dulu sebelum sebelum dia berhasil, banyak hal yang membuatnya terpacu. Ujian, saingan, membuatnya lelah memang. Tapi setelah dia merasakan saat ini, dia rasanya ingin meraskan lagi perasaan dimana dia harus berjuang untuk berhasil. Namun tentu saja dia tidak mau mengulangi hal yang berhubungan dengan bibinya di Paris, tidak akan. Rahang Cassey mengeras,
Dengan kesal Cassey menyambar ponsel yang di geletakkan di meja tadi, Cassey mencari kontak orang kepercayaannya. Menelefon orang tersebut,
"Suster Ana?"
"Dia masih di sana bukan? Aku mohon jangan sampai dia keluar,"
"Tentu saja Cass, bagaimana keadaanmu sehat." Cassey menghela nafas lega,
"Tentu, adikmu sudah sehat?"
"Tentu, berkatmu. Aku sangat berterimakasih,"
"Tidak, kau juga terus membantuku Suter Ana. Sangat membantu malah, jika kau butuh sesuatu kau tidak usah sungkan. Darl juga akan masuk kuliah bukan? Aku akan mengirimkan uang sekolahnya nanti."
"Tidak usah, tidak perlu Cass. Kau sudah banyak membantu kami, aku tidak bisa membalasnya." Cassey menghela nafas panjang,
"Tidak perlu merasa sungkan Suster Ana, tanpa bantuanmu juga aku mungkin sudah mati."
"Jangan berkata seperti itu lagi Cass!" Cassey tersenyum mendengar ucapan marah Suster Ana,
"Tidak, maka dari itu. Cukup terima saja, dan sebagai gantinya cukup jaga dia jangan sampai bisa keluar dari situ."
"Akan aku usahakan, Cass aku tutup dulu. Ada pasienku yang mengamuk. Jangan lupa makan, hati-hati disana."
"Tentu, kau juga," setelah itu sambungan telefon tetutup,
Cassey menghela nafas panjang, menekan jantungnya yang serasa akan meledak. Dia menekannya, menarik dan menghembuskan nafas panjang berkali-kali agar dirinya tenang.
"Tak apa, tak apa. Selama dia masih di sana semua baik-baik saja. Tidak apa," Cassey terus menggumamkan kalimat itu berkali-kali hingga rasa tremor itu menghilang.
__ADS_1
Sabtu, 25 Juli 2020