My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Bella?


__ADS_3

Cassey hendak melepaskan genggaman tangannya dari Zack, tapi Zack tidak mau melepaskannya. Bahkan malah semakin mempererat pegangan tangannya pada telapak tangannya Cassey.


Zack benar-benar menjengkelkan, tidak peka, ingin sekali rasanya Cassey melemparkan Zack serta makhluk yang menempel pada Zack dengan seenaknya ke matahari. Biar mati terbakar keduanya, moodnya Cassey langsung anjlog.


Cassey benar-benar akan melakukan apa yang dia pikirkan tadi ketika melihat gadis itu mengecup kedua sisi pipinya Zack. Menguap sudah kesabaran Cassey,


"Cassy?! Benar astaga!" gerakan tangan Cassey yang hendak menempeleng kepala bodohnya Zack terhenti di angin-angin, dengan terpaksa Cassey melambaikan tangannya dengan senyum bahagia yang dia buat-buat. Jika bukan karena ulah Zack, Cassey jelas akan sangat bahagia.


Mommynya Zack langsung menghambur memeluk Cassey, dan itu berhasil membuat Zack melepaskan genggaman tangannya dari Cassey.


Cassey balas memeluk orang yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.


"Ayo masuk ke dalam," Mommynya Zack langsung menarik Cassey untuk memasuki rumah bercat putih gading itu, Cassey hanya menurut saja ditarik entah kemana. Intinya saat ini dia tidak ingin berada di dekatnya si brengsek Zack itu.


"Kau makanlah dulu, mau mommy ambilkan apa?" Mommynya Zack menarik kursi, mendudukkan Cassey di kursi tersebut. Menyodorkan beberapa makanan yang di sukai Cassey, mata Cassey berbinar. Mood buruknya menjadi baik lagi ketika melihat Chocolate mousse dengan porsi besar di ujung meja.


Mommynya Zack terkekeh, seakan tahu apa yang membuat Cassey segembira itu. Tanpa menunggu Cassey meminta, dia langsung mengambil sepiring chocolate mousse di ujung meja lalu di letakkan tepat di hadapannya Cassey.


"Makanlah, Mommy membuatkan khusus untukmu." Mommynya Zack menyerahkan sebuah sendok kecil yang langsung di terima Cassey dengan antusias. Cassey menyendokkan chocolate mousse itu dengan hati-hati, seolah sedang mengusap kaca yang langsung pecah ketika di pegang. Ketika memasukkan kedalam mulut, coklatnya meleleh dengan sangat manis serta lembut secara bersamaan.


"Enak sekali mom," Cassey menatap mommynya Zack dengan mata penuh binar, Mommynya Zack terkekeh.


"Habiskan, habiskan. Jika kau sering ke sini, akan sering mommy buatkan." Cassey mengangguk penuh semangat, kembali menyuapkan mouse itu ke dalam mulutnya.


"Oh iya, Mommy juga mau berterima kasih untuk gaun yang kau kirimkan beberapa hari yang lalu. Seharusnya kau tidak usah repot-repot seperti itu Cassey." Cassey menggeleng,


"Aku tidak repot, aku bahkan senang membuatkannya untuk mommy."


"Ah, aku benar-benar ingin mengangkatmu menjadi anak." Mommynya Zack memeluk Cassey dengan erat, Cassey tersenyum. Jujur, Cassey juga merindukan sosok ibu dalam hidupnya. Jadi Cassey yang di perlakukan sehangat itu, balas memeluk mommynya Zack tak kalah erat. Malah semakin menyamankan kepalanya di pundaknya Mommynya Zack.


"Tenang saja Mom, dia akan segera jadi menantumu." ucapan percaya dirinya Zack membuat pelukan mereka berdua lepas, menatap Zack yang berjalan memasuki ruang makan.


"Siapa?" Cassey menatap Zack sengit


"Tentu saja kau,"


"Maksudku siapa yang mau denganmu?" ucapan sinisnya Cassey tersebut sontak membuat mommynya Zack tertawa sangat lepas,


"Benar, siapa juga yang mau menikah dengan lemari es. Mantan playboy pula." celetuk gadis berpakaian minmin tadi dari belakangnya Zack. Zack menoleh,


"Apa tadi kau bilang?"


"Lemari es kaku, mantan play-akh sakit." Zack memiting kepalanya gadis itu, mengalungkan tangan kanannya tanpa sungkan sambil sesekali menjitak atau menggelitik perutnya gadis itu.

__ADS_1


Dan semua itu tidak luput dari penglihatan Cassey, bahkan tanpa Cassey sadari wajahnya berubah menjadi murung. Cassey berbalik, menunduk kembali memakan chocolate moussenya tanpa minat. Rasa menakjubkan Chocolate Mosse tadi, entah mengapa menjadi hambar.


"Kau pusing?" Cassey mendongakkan kepalanya, menatap mommynya Zack dengan dahi berkerut bingung.


"Wajahmu terlihat pucat, atau moussenya tidak enak?" Cassey menggengkan kepalanya, menatap Mommynya Zack dengan raut wajah merasa bersalah.


"Bukan, Mousse ini sangat enak malah. Mungkin karena lelah, jadi aku kehilangan selera untuk makan. Sudah lama aku tidak melakukan perjalanan jauh dengan mobil." Mommynya Zack mengangguk, berdiri dari kursinya.


"Kalau begitu jangan di paksakan dulu, kau bisa muntah nanti. Ayo mommy antar ke kamar agar kau bisa istirahat." Cassey mengangguk, dia menatap sekilas sisa moussenya dengan tidak rela. Namun tetap melangkah mengikuti mommynya Zack, Cassey melewati dua makhluk yang masih sibuk dengan dunia mereka sendiri tanpa melirik sedikitpun. Sungguh Cassey tidak mau membuat moodnya semakin hancur melihat tingkah dua makhluk itu,


"Mom mau kemana?" teriak Zack setelah menyadari Cassey sudah tidak duduk di tempatnya, malah berjalan menaiki tangga.


"Ke kamar, Cassey lelah. Jadi biarkan dia istirahat dulu." teriak mommynya tanpa menoleh, Zack mengerutkan dahinya bingung.


"Tapi-aduh!" Protesan Zack berganti pekikan karena tubuhnya di tubruk dari belakang, lehernya di gunakan sebagai objek penyiksaan oleh gadis di sebelahnya. Dan pertengkaran itu kembaki berlanjut, yang suaranya masih bisa di dengar Cassey dengan samar dari lantai atas.


***


Cassey terus menggulir layar ponselnya, kedua matanya memang melihat ke ponsel. Namun fikirannya entah kemana, dia sama sekali tidak bisa konsentrasi. Cassey menilik jam dinding di sampingnya, menghela nafas.


Jujur saja Cassey sangat lapar, sejak pagi hingga tengah malam kini dia hanya makan separuh mousse coklat. Ya, mousse buatan mommynya Zack. Pagi tadi Cassey tidak sempat sarapan karena buru-buru, dan tadi sore ketika sampai di rumahnya Zack.


Sebenarnya Cassey sudah sangat lapar, apalagi melihat banyak hidangan yang menggiurkan. Tapi karena Zack dan gadis itu, selera makan Cassey langsung menguap begitu saja. Dan setelah mandi tadi, sebenarnya Cassey ingin turun untuk sekedar makan. Karena perutnya sudah terasa perih, tapi dia kembali mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Zack dan gadis itu sedang bercanda di lantai bawah. Cassey langsung kembali menutup pintu kamarnya, memilih berbaring di ranjang sambil terus memainkan ponselnya.


Cassey ingin tidur tapi tidak bisa, karena selama perjalanan tadi Cassey terus tidur. Bangun sebentar hanya karena haus, sebenarnya siangnya tadi Zack sudah menawarinya untuk mampir makan terlebih dahulu. Tapi karena memang Cassey masih merasa ngantuk, Cassey menolaknya. Dan sekarang Cassey benar-benar menyesalinya.


Cassey menegakkan tubuhnya, berjalan keluar dari kamar. Menutup pintu kamarnya dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Cassey berjalan menuju tangga dengan mengendap-endap layaknya maling. Tapi Cassey tidak peduli, dia hanya tidak ingin membuat seseorang bangun dan harus menjumpainya makan malam-malam.


Cassey sempat berjengit ketika merasakan dinginnya marmer dari tangga ketika bersentuhan dengan kaki telanjangnya. Ya, Cassey keluar tanpa alas kaki. Karena Cassey fikir lebih baik dia berjalan dengan kaki telanjang agar tidak menghasilkan suara.


Cassey berjalan menuju kulkas, sempat tergiur ketika melihat banyak jenis makanan di dalam kulkas. Namun Cassey harus menahannya, dengan berat hati Cassey hanya mengambil sebuah apel dan sekotak besar jus jeruk.


Bukannya Cassey diet, membatasi makanan berat di atas jam delapan. Tapi Cassey hanya tidak ingin membuat suara karena harus memanaskan salah satu makanan tersebut. Cassey mengapit jus jeruknya, menutup pintu kulkas dengan hati-hati.


Namun dia terlonjak, hampir saja berteriak terkejut karena melihat sosok siluet yang menjulang tinggi di depannya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Sial! Kau hampir saja membuatku mati karena jantungan!" umpat Cassey kesal setelah tau jika sosok siluet tinggi itu adalah Zack. Zack terkekeh,


"Kau seperti maling mengendap-endap dari kamar seperti tadi."


Cassey menatap Zack tidak suka, tidak berniat membalas ucapan Zack. Cassey melangkah menuju meja makan meninggalkan Zack yang berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Cassey menatap ke arah luar lewat kaca yang sangat lebar, Cassey baru tau jika halaman belakang rumahnya Zack sangatlah luas. Bahkan terlihat seperti lapangan, ada juga kolam renang yang terletak pas di depannya kaca, Cassey baru melihatnya.


Karena memang saat pertamakali ke sini, Cassey datang malam hari. Bahkan hanya mampir sebentar, jadi Cassey tidak ada waktu untuk sekedar melihat-lihat. Cassey juga baru menyadari jika rumahnya Zack terlihat seperti rumah-rumah bangsawan di inggris zaman dulu seperti film-film inggris lawas, hanya saja terlihat lebih modern.


Cassey terus menggigit apelnya sambil sesekali meneguk jus jeruknya sambil mengamati rumah Zack. Cassey hendak berdiri ketika apelnya telah habis, namun dia kembali terduduk karena Zack menahannya dan mendudukkannya kembali.


Cassey hendak protes, namun protesannya kembali terlelan karena segulung pasta yang di suapkan pada mulutnya yang terbuka tadi dari Zack. Zack menyodorkan sepiring pasta di depannya Cassey,


"Makanlah, aku tau kau lapar." Cassey sebenarnya hendak pergi begitu saja, tapi ketika merasakan betapa nikmatnya pasta tersebut. Cassey mengesampingkan egonya, mengambil garpu itu dan mulai memakan pasta yang di buatkan oleh Zack. Lagipula Cassey juga sangat lapar,


"Kenapa kau mengacuhkan aku sejak tiba tadi?" Cassey mendongak, menatap tajam pada Zack. Apa-apaan pertanyaan Zack itu?


"Kau yang yang mengacuhkan aku." jawab Cassey cuek, meneruskan memakan pastanya. Zack menghela nafas,


"Aku? Sejak kapan aku mengacuhkanmu? Kau bahkan tadi yang meninggalkan aku."


"Kau lupa? dasar menyebalkan!" Cassey berdecih kesal,


"Aku? bagaimana bisa?" Cassey meletakkan garpunya, sebenarnya Cassey ingin sekali membanting garpu itu. Namun Cassey menahannya karena sadar ini sudah tengah malam, dan Cassey tidak ingin membuat kegaduhan di rumah orang lain.


"Kau benar-benar lupa? Kau bahkan dari awal tiba terus-terusan bermesraan dengan pacar kecilmu. Tau begitu aku tidak akan ikut," Cassey berdiri, meninggalkan pastanya yang masih tersisa setengah. Menguap sudah selera makan Cassey, tapi langkah Cassey terhenti karena Zack menghadangnya. Menghalangi jalannya,


"Tunggu, tunggu pacar? pacar yang mana?" Cassey berdecih,


"Tentu saja gadis kecil yang bermesraan denganmu, jangan bilang jika ada banyak pacar hingga kau sampau melupakan mereka."


"Pacar? Aku tidak punya pacar sama sekali." Cassey menggedikkan bahunya, hendak pergi namun di tahan oleh Zack. Kedua bahunya di tahan oleh Zack.


"Tunggu, jangan pergi begitu saja. Aku ingin masalah ini selesai." Cassey menghela nafas,


"Terserah, aku tidak peduli." ujar Cassey tanpa minat.


"Tapi aku peduli, dan aku sama sekali tidak memiliki pacar satu orangpun. Dan aku? Bermesraan dengan siapa?" Ingin rasanya Cassey menempeleng kepalanya Zack ini,


"Gadis berpakaian mini yang terus menempelimu sejak tiba tadi." Zack tercenung,


"Gadis kecil yang memeluk dan menubrukku tadi?" Cassey mengangguk,


"Yang mengikutiku dari tadi?" Cassey memutar bola matanya jengah, melepaskan bahunya yang di pegang oleh Zack hendak melangkah pergi. Namun kembali di tahan oleh Zack,


"Kau tidak ingat Bella?" Cassey mengerutkan bahunya bingung, Bella siapa lagi? mantannya Zack atau bagaimana.


"Bella," ulang Zack lagi, Cassey memutar otaknya. Mencoba mengingat nama itu, Cassey seperti penah mendengarnya. Seketika ingatan Cassey terlempar ke gadis kecil yang beberapa tahun lalu yang menempeli Zack ketika awal Cassey ke rumah ini. Cassey tercenung.

__ADS_1


Seakan tau lewat wajah syoknya Cassey, Zack mengangguk.


"Iya, Bella. Bella adikku yang kecil itu."


__ADS_2