My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Cassey's Pain


__ADS_3

Leon berlari, bergegas menahan tubuhnya Zack yang akan menerjang Noah yang sedang menyuntikkan obat pada selang infusnya Cassey.


"Ya! Lepaskan! Apa yang kalian-Kau?" Zack berhenti memberontak, menatap Leon dengan terkejut.


"Aku bisa jelaskan, itu hanya obat." jelas Leon, Zack melepaskan diri dari kungkungannya Leon. Menampik tangan Leon yang menahannya,


"Apa maksudmu?" Leon menatap Noah, seakan minta persetujuan terhadapnya untuk menjawab pertanyaannya Zack. Noah berbalik, menghadap Zack. Menatap Zack dengan pandangan tajamnya,


"Kau benar peduli padanya?" Zack mengerutkan dahinya tidak mengerti,


"Apa hubungannya kau bertanya seperti itu?"


"Kau benar-benar peduli pada Cassey?" Noah tidak menghiraukan pertanyaannya Zack, Noah semakin menatap tajam pada Zack. Seolah tak mau kalah, Zack balas menatap tajam. Tidak terima di perlakukan seenaknya oleh orang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.


"Aku menanyakan hal ini demi Cassey, jika kau tidak peduli. Tinggalkan dia mulai saat ini. Dia bukan Casseymu yang dulu," Dahi Zack semakin berkerut bingung,


"Seperti apapun Cassey saat ini, dia tetap Casseyku." jawaban sinisnya Zack membuat Noah berdecih, hendak mengeluarkan sumpah serampah pada Zack. Seakan tau apa yang akan terjadi, Leon melangkah mendekati Noah. Menepuk bahunya pelan, berharap kekesalan Noah sedikit berkurang.


Leon tau sikap keras kepalanya Zack tidak akan berjalan dengan baik jika di sandingkan dengan Noah yang tak kalah keras kepala dari Zack.


"Biar aku yang bicara, kau jagalah Cassy." Noah hendak protes, namun melihat tatapan memohon dari Leon. Noah bungkam, dengan setengah hati Noah menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Leon.


"Zack, mau segelas kopi? Aku rasa sepotong sandwich juga tidak terlalu buruk. Aku yakin kau juga belum sarapan." ujar Leon yang secara halus mengajak Zack untuk keluar, Zack hanya mengangguk mengiyakan. Mengikuti Leon yang keluar dari ruangan.

__ADS_1


***


"Kau mau sandwich?" Leon menyodorkan sebungkus sandwich pada Zack, Zack menggeleng. Meneguk americanonya, Leon mengangguk. Meletakkan sandwich itu di meja, mungkin bisa dia berikan pada Noah nanti.


"Jadi?" Leon menatap Zack tidak percaya,


"Ayolah, aku bahkan belum membuka bungkus hotdog milikku." Zack menghela nafas, jika dia bukan karena Cassey. Zack sudah pergi meninggalkan laki-laki di depannya ini. Zack kurang suka makan dengan orang yang belum akrab dengannya, tentu saja kecuali kolega-kolega bisnisnya. Dan lagi, Zack juga tidak suka laki-laki yang saat ini duduk di depannya itu. Dia terlalu akrab dengan Cassey dengan statusnya hanya sebagai asisten.


"Aku tau kau tidak suka denganku, tapi bisa tidak jangan menatapku seperti itu?" Zack tersendak kopinya, menatap Leon dengan pandangan heran.


Leon melambai-lambaikan tangannya,


"Tidak usah terkejut, aku itu hanya terlalu peka terhadap seluruh hal." Leon mengucapkan dengan santai. Seolah dia sudah mengalami hal itu berkali-kali.


"Bisa langsung intinya?" Leon menggedikkan bahunya, menggigit hotdognya dalam gigitan besar. Mengunyah dengan santai, tidak peduli dengan pandangan kesalnya Zack. Leon terus seperti itu hingga hotdognya habis, lalu meneguk jus jeruknya sebagai penutup.


Leon menatap Zack yang masih duduk diam di kursinya, Leon terkekeh.


"Kau lumayan sabar juga ya?"


"Aku hampir saja melemparkan meja ini ke wajahmu." Leon malah tertawa mendapat ucapan tajam serta tatapan tajam dari Zack.


"Ck, kau benar-benar membosankan." Leon mengambil dua lembar tisu, mengeringkan tangannya yang terkena sedikit minyak dari hotdog tadi.

__ADS_1


"Jadi kau melihatnya bukan?" Leon mendongakkan kepalanya, menatap Zack dengan serius. Zack diam, tidak mengerti kearah mana pembicaraannya Leon.


"Traumanya Cassey, Cassey mengalami banyak hal setelah sampai di Paris." Zack diam, tapi menyimak ucapan Leon dengan jelas. Leon menatap jalanan yang terlihat ramai dari balik kaca cafe tersebut, orang-orang sudah mulai beraktifitas seperti biasanya.


"Cassey mencapai semua ini tidak dengan mudah, banyak hal buruk yang menimpanya." Leon menarik nafas panjang, dia seperti bisa merasakan betapa sakitnya hidup Cassey hanya dengan mengingatnya kembali.


"Cassey memang ikut pamannya di sana, tapi dua bulan kemudian pamannya meninggal. Dari situlah penderitaan Cassey seolah di buka semua, bibinya mulai menampakkan sifat aslinya. Dia menyiksa Cassey, menyalahkan kematian suami serta kebangkrutan usaha suaminya karena Cassey. Kakak sepupunya juga beberapa kali hampir memperkosanya, tapi Cassey bisa kabur." Leon meremas kedua tangannya,


"Hingga puncaknya, karena hutan bibinya yang sudah sangat menggunung. Bibinya Cassey mencari Cassey. Membawa Cassey ke salah satu klub perdagangan manusia, menjual Cassey pada seorang laki-laki tua yang kaya, tapi entah Cassey bisa kabur. Aku bahkan menemukan Cassey tergeletak di trotoar jalan keadaan kacau dan tidak sadarkan diri. Karena semua itu, Cassey harus di rawat di rumah sakit jiwa selama dua bulan." Leon menatap Zack yang terlihat memerah karena amarah, rahangnya bahkan terlihat menegang dengan sangat kuat.


"Dalam perawatannya Cassey di buat lupa terhadap traumanya agar dia bisa hidup normal, dan aku kira itu bisa permanen. Nyatanya tidak, seminggu yang lalu dia kambuh lagi. Hingga aku harus meminta Noah jauh-jauh dari Paris untuk terbang kemari sesegera mungkin untuk Cassey."


"Mungkin saat di lihat dia terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin. Setelah kejadian seminggu yang lalu, dia masih merasakan tremor itu ketika sendirian. Hanya saja dia tidak menceritakannya padaku. Apalagi karena kejadian tadi malam. Sepupunya Cassey keluar dari penjara beberapa hari yang lalu, dia saat ini berada di LV. Aku yakin kejadian tadi malam adalah kejutan dari sepupunya tersebut. Jadi, bisakah kau membantuku untuk menjaga Cassey?" rahang Zack semakin mengetat, kedua tangannya sudah terkepal sangat kuat. Seolah jika tidak melakukannya, Zack akan meledak.


"Tanpa kau pintapun, aku akan tetap melakukannya." Leon mengangguk,


"Tapi pesanku, jangan bertanya hal yang terjadi berhubungan dengan traumanya. Kecuali jika dengan sendirinya dia mau bercerita, tapi hingga saat ini dia belum pernah bercerita sedikitpun tentang traumanya baik padaku maupun pada Noah yang notabenya adalah dokternya sendiri. Cassey hanya di buat lupa bagian traumanya, tapi Cassey masih ingat dengan jelas semua kejadian buruk yang menimpa pada dirinya."


***


Zack menatap sendu pada Cassey yang masih tertidur, Zack menggenggam tangan kanannya Cassey. Berkali-kali mengecupnya pelan, Zack benar-benar merasa menyesal. Cassey yang bahkan sudah hidup berat sebelumnya, malah semakin mendapatkan penderitaan setelah bertemu dengannya.


Ya, Zack menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja saat itu Zack tidak menjadikan Cassey sebagai taruhan. Jika saja saat itu Zack bisa menerima perasaan sukanya pada Cassey. Jika saja saat itu Zack tidak menyakiti Cassey. Jika saja saat itu Zack mau mengejar Cassey.

__ADS_1


Kalimat itu seperti audio rusak yang terus terngiang di otak Zack. Zack sangat merasa menyesal akan semuanya. Rasanya Zack benar-benar ingin memutar waktu kembali pada awal dirinya bertemu dengan Cassey.


__ADS_2