My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Party


__ADS_3

Rey menatap dua cup iced americano serta sekotak ayam goreng dengan dahi berkerut, Rey bahkan tidak sadar sudah di tatap aneh oleh seluruh orang yang dia lewati karena berjalan sambil terus menatap bawaannya. Rey memiringkan kepalanya,


"Apa dia sakit?" monolog Rey cukup keras yang membuat seluruh orang di dalam lift menengok padanya, namun Rey tidak peduli. Rey masih terus memikirkan alasan kenapa tiba-tiba Zack menghubunginya, meminta dia ke kantornya sekalian mengambilkan pesanan makan siang mereka di cafe yang biasa.


Ini benar-benar hal yang mustahil, Rey memaksa Zack untuk makan siang bersama saja itu sangat sulit. Rey harus mengancam atau mengadakan negosiasi dengan Zack, Zack saja hingga kemarin masih sering mengomel karena setiap jam makan siang Rey selalu ke ruangannya.


Rey menggaruk kepalanya, otak cerdasnya saja di buat tidak bisa memfikirkan alasan tersebut.


Rey melangkah keluar dari lift, ketika melihat Becca berdiri hendak turun makan siang. Rey menahannya,


"Ya ada apa tuan Rey?"


"Apakah Zack sakit?" Becca menggeleng,


"Dia bahkan terlihat bugar seperti biasanya,"


"Atau kemarin kepalanya terantuk benda keras?" Becca mengerutkan dahinya heran, namun dia tetap menggeleng.


"Apakah terjadi hal buruk dengan Mr. Maxwell?" Rey menghela nafas susah,


"Hm, sangat buruk malah kelihatannya. Sudahlah, kau turunlah makan siang. Terimakasih," Rey melambaikan tangannya lemas, Becca menatap kepergian Rey dengan tatapan aneh. Becca menggelengkan kepalanya, memang ada-ada saja teman bosnya itu. Ketika diusir dia marah-marah, tapi ketika di minta menemui malah seperti itu.


Rey membuka pintu ruangan Zack dengan pelan, benar saja. Setelah Rey masuk, Rey melihat tampang bodohnya Zack setelah sekian lama.


Zack duduk bersandar kursinya, menatap setelan tuxedo putih yang di gantung di depannya dengan senyuman terbodoh yang pernah Rey lihat dari segala macam jenis senyuman yang pernah di tampilkan Zack.


Rey mendekat, Rey semakin heran karena Zack tidak merasakan kehadirannya sama sekali. Dengan hati-hati Rey berjalan, berdiri di belakangnya Zack.


Zack masih belum bergeming, Rey tersenyum. Dengan segera dia mengayunkan tangannya, menampar pipinya Zack dari belakang.


Tamparan tersebut membuat Zack sadar, sepenuhnya sadar sampai terlonjak kaget. Umpatan terus mengalir dari mulutnya Zack, Rey tertawa puas. Sangat puas.


Setelah mengetahui siapa pelaku dari kekerasan tersebut, Zack langsung berdiri. Membalas dengan menjitak kepalanya Rey sekuat tenaga,


"Sakit!" teriak Rey menatap Zack kesal, padahal tamparannya tadi tidak sekeras ini. Tapi Zack benar-benar keterlaluan membalasnya. Rey mengusap-usap kepala berharganya,


"Kau fikir ini tidak sakit bodoh!" Rey berdecih,


"Kau yang bodoh! Aku kira kau kerasukan setan hingga tersenyum sebodoh tadi, maka dari itu aku menamparmu agar kau sadar." Zack menggerutu tidak jelas, tidak terima di katakan bodoh oleh Rey. Dengan kesal Zack menyerobot dua cup kopi, meminum kedua kopi tersebut dengan wajah kesal.


"Hei! Bukannya yang satu milikku?! Kenapa kau malah minum keduanya!" Rey berteriak tidak terima, padahal Rey yang mengantri dan membawanya keatas. Tapi dengan menyebalkannya, Zack malah meminum keduanya.


"Tadinya untukmu, tapi karena kau menyebalkan tidak jadi." Zack membawa dua cup kopinya pergi, duduk pada sofa. Rey berdecak kesal, dalam hatinya terus mengumpati Zack yang kekanakan. Dengan wajah kesalnya Rey ikut duduk di depannya Zack.

__ADS_1


Rey meletakkan box ayam goreng yang dia pegang ke meja, ketika Zack mengulurkan tangannya hendak mengambil sepotong ayam. Rey menampiknya, membawa box ayam itu ke pangkuannya. Zack berdecak kesal,


"Aku yang memesan dan membayar itu Rey,"


"Aku yang antre dan membawanya kemari, karena kau sudah mendapat dua cup americano. Jadi biar adil ini untukku," Zack berdecak kesal, Rey benar-benar perhitungan.


Zack terus menatap kesal pada Rey yang benar-benar memakan seluruh ayam goreng itu sendiri dengan tampang watadosnya, Zack sangat ingin menggilas Rey rasanya.


"Itu tadi buatan Cassey, kan?" Zack mengerutkan keningnya bingung,


"Tuxedo putih yang terus kau tatapi dengan senyuman bodohmu tadi," Rey menunjuk tuxedo putih yang tergantung pada gantungan jas dengan dagunya, Zack sebenarnya kesal dikatakan bodoh. Namun dia hanya bergumam mengiyakan, malas berdebat lagi dengan Rey.


Sebenarnya bukan malas, hanya saja dia tidak mau merusak suasana baik hatinya. Hanya karena pertengkaran tidak jelasnya dengan Rey,


"Kau menjemputnya pesta malam nanti?" Zack menggedikkan bahunya,


"Kau tidak menawarinya tumpangan?" Zack mengusak telinganya mendengar teriakannya Rey yang berlebihan,


"Bagaimana jika dia datang dengan Allan lagi?"


"Tidak akan, dia tentu tidak mau menjadi bahan gosip. Karena nanti jelas ada red carpetnya, kau tau kan betapa meriahnya perayaan perusahaanku?" Rey menganggukkan kepalanya faham, perayaan entertaimentnya Zack sangat menjadi hal yang di tunggu-tunggu semua wartawan serta masyarakat.


Selain karena pestanya yang mewah, juga karena semua artis di dalam agensinya Zack adalah artis yang berhasil. Baik aktris, aktor, maupun penyanyi. Mereka semua adalah idola dengan segala prestasi mereka masing-masing. Jadi tidak heran ada red carpet untuk para wartawan yang mencari berita hangat, berharap barang kali juga mendapatkan gosip pasangan baru dari artisnya Max Entertaiment.


"Berfikir?" Zack mengangguk,


"Tapi bagaimana jika dia malah datang dengan laki-laki lain?" Zack langsung terdiam mendengar pertanyaannya Rey,


"Tidak mungkin, dia tidak ada kenalan di sini." ujar Zack mantap, Rey menggedikkan bahunya.


 


***


Rahang Zack mengeras, dia seperti merasakan de javu. Melihat Cassey memasuki ruangan bersama laki-laki lain,


"Zack," Zack menoleh, menatap Rey dengan kesal.


Seolah seperti mengulang adegan, laki-laki itu bersama Cassey mendekat. Menyapa dirinya, Zack bahkan tidak berminat sama sekali dengan ucapan laki-laki itu. Zack acuh, Zack bahkan tidak melirik Cassey sama sekali.


Zack hanya memutar-mutar gelas red winenya, sesekali menghirup bau manis yang menguar dari cairan merah itu. Tepukan di bahunya membuat Zack menoleh, menatap dengan dahi berkerut bingung pada Rey.


"Kau melamun? Leon ingin bicara denganmu," Rey menggedikkan dagunya pada laki-laki yang duduk di sebelah Cassey, saat menoleh. Zack baru sadar, Cassey sudah tidak ada di tempatnya tadi.

__ADS_1


Zack menatap laki-laki yang dipanggil Leon oleh Rey tadi,


"Hanya aku dan Mr. Maxwell saja bisa?" Leon menatap sungkan pada Rey yang masih duduk di sebelah Zack, Rey terkekeh.


"Tak apa, tak usah sungkan." Rey menepuk berdiri, menepuk bahunya Zack lalu berjalan menjauh.


"Jadi, kau Zacknya Cassey?" Zack mengangkat sebelah alisnya bingung, tidak tau ke arah mana pembicaraannya Leon.


"Aku tau, tau dengan jelas kisah kalian sebelum Cassey pindah ke Paris."


"Apa maumu?" Leon mensedekapkan tangannya,


"Bisa kau jaga Cassey ketika aku tidak ada?" Dahi Zack berkerut tidak senang, dalam hatinya Zack mengumpati Leon yang memerintahnya.


"Tanpa kau minta aku akan menjaganya, lagi pula dia milikku. Bukan milikmu," perkataan sinisnya Zack malah membuat Leon tertawa, tapi ketika melihat Zack semakin menatap benci padanya. Leon langsung berdeham,


"Yah, kalau begitu aku titip dia. Aku ada urusan." Leon merapikan tuxedo biru lautnya, berdiri dan berbalik untuk pergi. Baru dua langkah, Leon kembali berbalik. Lalu meletakkan sebuah kartu nama di depannya Zack,


"Jika kau ingin bertanya," setelah mengatakan itu Leon langsung berbalik pergi. Zack menatap kartu nama itu,


'Zie Designer Asistant'


Zack mengerutkan dahinya, hanya sekedar asistan? Tapi sepeduli itu dengan Cassey. Zack berdecih, namun Zack tetap memasukkan kartu nama tersebut kedalam saku tuxedonya.


"Apa tadi?" Rey mengambil segelas cocktail di depannya Zack, mendudukkan dirinya di tempatnya tadi. Zack menggedikkan bahunya acuh,


"Jangan bilang kau cemburu pada asisten itu?" Zack menatap tajam pada Rey, Rey memutar bola matanya jengah.


"Entahlah, susah berbicara denganmu." Rey menyesap cocktailnya. Membiarkan Zack yang masih berkutat dengan fikirannya,


Pesta berjalan meriah seperti biasanya, setelah penyambutan serta pidato singkat dari Zack. Dilanjutkan pemotongan kue saat tengah malam, setelah itu banyak penyanyi dari agensinya yang menunjukkan bakatnya.


Zack menatap Cassey yang sedari tadi terus menghindarinya, Rey bahkan tidaj henti-hentinya mengejek Zack. Mengatakan Zack tidak gentlelah, mengatakan Zack lambat bergerak, dan segala macam ejekan yang membuat Zack jengah. Tapi Zack hanya diam, pura-pura mendengarkan. Namun matanya terus mengawasi tiap gerak-geriknya Cassey,


"Rey, kau benar-benar tidak lelah ya?" Rey langsung terdiam, menoleh pada Zack.


"Seharusnya kau bersyukur, kau punya teman sebaik aku. Aku bahkan memberimu banyak nasihat," Zack memutar bola matanya, jika Rey ini bukan kawan baiknya. Zack benar-benar akan menjahit mulut cerewetnya Rey,


"Kau tau, hanya aku yang mau berteman denganmu yang berubah menjadi bongkahan es sejak lulus dari SMA. Jadi seharusn-Eh? Cassey kenapa?!" Zack menoleh, menatap tempat Cassey tadi berdiri.


"Dimana?"


"Di pojok sana, dekat meja hidangan." Dahi Zack berkerut bingung, Cassey terlihat berdiri dengan gusar.

__ADS_1


"Aku pergi," Rey menganggukkan kepalanya, membiarkan Zack menyusul Cassey. Rey hanya berharap semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.


__ADS_2