My Lovely Bastard

My Lovely Bastard
Gadis


__ADS_3

Sudah satu minggu Zack acuh padanya, bukannya merasa senang Cassey malah merasa tidak nyaman. Zack bahkan secara terang-terangan terlihat menghindarinya, Cassey mengacak rambutnya kesal. Dia tidak peduli beberapa orang di cafe menatapnya heran,


"Jika tiap kesal kau mengusak rambutmu seperti itu, lama-lama kau bisa botak seperti profesor Adam." Cassey menatap pemilik suara itu dengan kesal, Leon.


Leon terkekeh di tatap seperti itu, Cassey memang paling anti dengan profesor Adam. Salah satu dosen ketika mereka masih kuliah, dosen yang botak rambut bagian depannya. Yang berkali-kali membuat Cassey terkena hukuman.


"Jangan sebut-sebut nama kembaranmu sendiri Leon," desis Cassey tajam, Leon tertawa dengan keras. Tidak peduli orang-orang yang menatapnya aneh.


"Oh iya, minggu kemarin kenapa aku terbangun di rumah sakit?" tawa Leon langsung menghilang, Leon berdeham.


"Kau lupa? kau pingsan karena mabuk," Cassey menatap Leon tajam, mencoba mencari kebohongan di matanya.


"Yak! kau lupa? Kau mabuk dan tertidur di balkon, untung aku segera membawamu ke rumah sakit." Cassey memiringkan kepalanya, mencoba mengingat.


"Kau lupa? Kau bercerita di telefon tentang Zack, kalau boleh tau apa yang di lakukan Zack hingga kau mabuk?" Cassey terbatuk,


"Seharusnya aku yang bertanya bagaimana kau bisa terlambat, kau tau. Aku sudah hampir satu jam duduk seperti orang aneh disini," Leon tertawa sumbang, merasa lega Cassey mengalihkan pembicaraan dengan sendirinya.


"Kau tau, aku sibuk sayang." Cassey berdecih,


"Kau bahkan tidak ada saat aku sadar di rumah sakit, jika suster disana tidak memberi tau. Aku kira aku kecelakaan, gegar otak dan lupa ingatan." tawa Leon langsung menggelegar, imajinasi Cassey memang seperti itu. Terlalu berlebihan,


"Kurangilah menonton drama, otakmu sudah benar-benar teracuni." Leon menyentil dahi Cassey, Cassey mengaduh kesakitan. Walaupun tidak sekuat tenaga tetap saja Leon itu laki-laki, tentu saja sentilan itu terasa menyakitkan.


"Lusa malam bisa menjadi pasanganku?" Cassey mengusap dahinya yang masih terasa sakit,


"Pasangan?" Leon menatap Cassey tidak mengerti,


"Hm, pesta ulang tahun perusahaan. Mau ya?" Cassey menggenggam kedua tangannya Leon yang berada di atas meja, benar-benar berharap Leon mengiyakan permintaannya.


"Ah, sebenarnya ingin. Tapi aku harus membereskan sesuatu," Cassey berdecak kesal, menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menekuk, melihat Cassey yang merajuk seperti itu membuat Leon menghela nafas panjang.


"Baiklah, tapi aku harus pergi di tengah acara." Cassey tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya antusias.


"Tak apa, aku sudah membuatkan setelan untukmu. Sesuai seleramu,"

__ADS_1


"Baru kali ini aku melihat kau antusias pada pesta," Cassey menggedikkan bahunya, menggigit hamburger yang sudah dingin.


"Wendy memaksaku, bahkan dia akan menyeretku kalau aku tidak datang katanya." Leon terkekeh,


"Nah itu baru benar, setidaknya sesekali kau harus keluar, berkumpul, bersenang-senang. Tidak hanya berkutat dengan sketsa dan mesin jahit saja," Cassey hendak protes, namun semuanya harus tertelan kembali ketika suara ponselnya berbunyi.


Cassey mengangkatnya, raut wajah Cassey langsung berubah keruh mendengar ucapan dari orang di seberang telefon. Cassey bahkan hanya bergumam untuk menjawab.


Cassey melemparkan ponselnya di meja, Leon berjengit. Mengambil ponsel itu, memeriksanya. Dan benar, hard case bagian sudut atasnya pecah. Leon menggelengkan kepalanya berdecak heran,


"Sudah aku bilang berapa kali sayang?! Kurangilah kebiasaanmu membanting atau melempar barang ketika sedang kesal. Lihat sudah rusak lagi!" Leon menunjukkan bagian pecahnya pada Cassey, Cassey menghela nafas kesal. Mengambil ponselnya dari tangan Leon,


"Aku pergi," sungut Cassey kesal, Leon menatap heran Cassey yang berdiri.


"Loh? Bukannya jam makan siang belum selesai? Kau tadi juga ingin bilang sesuatu penting sampai memintaku kemari." Cassey berbalik,


"Aku diminta ke ruangannya Zack, dan untuk masalah pentingnya. Aku hanya ingin melihatmu dan bilang masalah pesta," Leon berdecak kesal, menggerutu tidak jelas. Cassey yang hendak pergi kembali mundur mendengar gerutuannya Leon,


"Ya! jika aku tidak bilang penting dan darurat mana mau kau menemuiku, kau pasti akan beralasan sibuk terus."


"Iya, iya! tapi aku sungguh sibuk Cassy."


"Anggap saja begitu, cepat sana temui kekasih tercintamu!" Leon melambaikan tangannya mengusir Cassey, mendengar ucapannya Leon. Cassey melotot, menampar bahunya Leon dengan sekuat tenaga.


"Sakit Cassy," rengek Leon,


"Biar! Kekasih kepalamu!" sembur Cassey marah, tidak ingin digoda lagi. Cassey melangkah keluar dari Cafe dengan kesal,


"Dasar Leon menyebalkan! jika bukan temanku sudah aku gantung dia di Stratosphere LV!" Cassey mengibas-ibaskan telapak tangannya yang terasa panas akibat memukul Leon tadi.


Biar saja orang memandangnya psikopat atau apa karena gerutuannya yang jelas di dengar oleh orang yang dia lewati, andai saja bisa Cassey memang ingin menggantung Leon di tower setinggi 1.149 kaki itu. Biar tau rasa,


"Cassey!" Cassey menoleh,


"Mr.Maxwell belum kembali dari makan siang, kau bisa menunggu

__ADS_1


di dalam. Alat pengukurnya juga sudah aku siapkan tadi," Cassey kembali menggerutu tidak jelas, membanting pintu ruangan Zack dengan keras.


Becca hanya mengelus dadanya sabar, dia tentu cukup tau jelas alasan Cassey kesal. Tentu saja karena bosnya,


\*\*\*


Cassey benar-benar ingin mengacak-acak ruangan Zack, kesal. Tiba-tiba pintu ruangan Zack terbuka,


"Zack! Kenapa kau," ucapan manja dari seorang gadis yang baru saja membuka pintu tadi terhenti,


"Kau siapa?" dahi Cassey berkerut bingung,


"Ah! Nona, saya bilang tuan Zack sedang keluar." Becca menahan gadis itu masuk,


"Tidak mau! dia mengabaikan panggilanku. Aku akan menunggu titik!" ujar gadis itu menyedekapkan kedua tangannya di depan dada, menampilkan wajah keras kepalanya.


Cassey menatap gadis itu tidak suka, karena gaya berbicaranya yang angkuh. Serta pakaian yang membalut memperlihatkan seluruh tonjolan tubuhnya dengan menggoda, jangan lupakan gaun itu berpotongan sangat rendah. Cassey menyerngit, jika membungkuk sedikit saja pasti pantatnya akan terlihat. Dan jika gaun itu di tidak sengaja tertarik kebawah sedikit saja, kedua payudaranya akan terlihat. Cassey bergidik ngeri,


Becca menghela nafas, akhirnya meninggalkan gadis itu pergi. Gadis itu masuk, kedalam ruangan.


"Kau siapa?" Cassey hendak menjawab, tapi tertelan karena pintu terbuka kembali. Tapi kali ini Zack yang muncul.


"Zack!" pekik gadis itu lalu bergelayut manja pada tangannya Zack. Cassey kembali menyerngit tidak suka, apalagi gadis itu terlihat sengaja menempelkan dadanya pada lengan kekarnya Zack.


"Kenapa kau tidak datang?! Aku kan minta tolong," rengek gadis itu menatap Zack manja, namun sangat menyakitkan ketika masuk ke telinganya Cassey. Bahkan Cassey ingin muntah mendengarnya,


"Aku sibuk," Zack berjalan, melepaskan blazernya dan menyampirkan pada tempat menggantung jas dan blazer. Zack hanya mengenakan kemeja putih yang malah menampakkan betapa bagusnya tubuh Zack.


Gadis itu kembali merengek tidak jelas, sudah. Cassey tidak tahan.


Cassey berdiri, hendak membuka pintu.


"Cassey kau mau kemana?" pertanyaan Zack benar-benar membuat Cassey kesal,


"Kau masih ingin bermesraan dengan kekasihmu bukan? lebih baik kau selesaikan dulu, aku tidak mau menjadi pajangan hidup." setelah mengatakan isi hatinya dengan menatap Zack sinis, Cassey langsung membuka pintu. Lalu menutupnya dengan membanting sekuat tenaganya, dari ujung matanya. Cassey dapat melihat Becca yang terlonjak di tempatnya,

__ADS_1


Tapi Cassey benar-benar dalam keadaan tidak ingin berbicara, kecuali untuk mengumpat. Jadi dari pada membuat keadaan semakin buruk, Cassey langsung melenggang pergi meninggalkan Becca yang menggelengkan kepalanya heran.


Becca menatap pintu itu nanar, jika pintunya terus-terusan di banting seperti itu oleh Cassey. Mungkin Becca harus menghubungi bagian meubel lagi seperti setahun yang lalu.


__ADS_2