My Possesive Mate

My Possesive Mate
BAGIAN 3


__ADS_3

ANGEL POV**


Hari ini aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku tak bisa terlalu lama di rumah ini, terlalu banyak kenangan indah disini. Menyakitkan memang saat kedua orangtua ku pergi, keluarga hancur berantakan sekarang. Tak ada lagi suara tawa kami yang memenuhi ruangan, tak ada lagi Mommy yang selalu ada memelukku dengan sayang. Sungguh aku rindu keluarga ku yang dulu. Aku rindu Mommy dan Daddy yang dulu. Kenapa kebahagiaan ku harus terenggut seperti ini?, kenapa semuanya hancur seperti ini?


Kaki mungilku menuruni tangga demi tangga rumah ku, dengan membawa ransel dan koper yang telah penuh dengan pakaian ku. Aku telah mengemasi barang-barang ku tadi malam. Aku tak bisa terus berlama-lama disini. Itu hanya akan membuat ku sakit hati sendiri, terlebih saat aku melihat Dad dan Tante Merlyn tadi malam. Namun betapa terkejutnya aku saat aku sampai di lantai dasar. Aku melihat Daddy tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Oh tidak apa yang terjadi pada Daddy ku!


Aku berlari ke arah Daddy dan segera menelpon Andrew, untuk membantu ku membawa ayah ke rumah sakit. Bagaimana pun dia adalah Daddy ku, dan aku menyayangi nya.


•••


"Drew, keluarga ku hancur Drew"


Aku tak bisa membendung air mata ku lagi. Aku merasa benar-benar hancur saat ini.


"Sudahlah Gel,masih ada kakak dan keluarga yang lain, jangan sedih lagi My Angel" andrew mencoba menenangkan ku, dia membawa ku kedalam pelukannya yang hangat.


Aku membalas, memeluk tubuh kak Andrew dan menumpahkan seluruh air mataku di dada bidang nya. Hanya dia yang kumiliki, hanya dia satu-satunya harapan ku saat ini.


"Sssttttt jangan menangis lagi "


Andrew mengelus rambut ku dengan sayang. Inilah Andrew dibalik sikap menyebalkan nya dia begitu menyayangi ku, dia selalu ada untuk ku.


"Tapi kak... "


Andrew merangkul ku, mencoba menenangkan ku hingga akhirnya aku bisa lebih tenang .


"Jangan menangis lagi, air mata mu begitu berharga Angel"


Andrew tersenyum teduh ke arah ku, membuat hati ku sedikit menghangat. Tak berselang lama , dari kejauhan aku bisa melihat sahabat ku Melly dan Aster berjalan mendekat ke arah kami.


"Angel"


Mereka langsung memeluk ku erat. Sungguh aku sangat beruntung memiliki mereka, aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan ku dengan mereka.


"Gel sudah, jangan sedih terus kan ada kami"


Melly menggenggam erat tangan ku memberikan sedikit kekuatan untuk ku.


"Iya Gel, " Aster juga menggenggam erat tangan ku. Mereka tersenyum hangat ke arah ku.


"Angel,  kakak yakin kau pasti kuat, jangan nangis lagi My Angel, you look so ugly now. Bryan akan meninggalkan mu jika ia melihat wajah jelek mu sepeti saat ini"


Aku mendengus kesal mendengar ucapan Andrew.


Dia mulai menyebalkan lagi


"Di saat seperti ini kau masih sempat mengejek ku hah! ". Aku pun mencubit perutnya.


Hingga ia mengaduh kesakitan.


"Aduh aduh, ampun Angel "


"Rasakan ini"


Aku makin memperkuat cubitan ku membuat nya terus mengaduh kesakitan.


Melly dan aster tertawa melihat kelakuan kami berdua. Ini lah mereka sosok sahabat yang selalu berhasil membuat ku bahagia. Walau terkadang mereka sangat menyebalkan, dan terus saja menggoda ku.


"Sudah gel, kasian"


"Iya, kasihan liatlah wajahnya sudah seperti itu" Aster menahan tawanya, melihat ekspresi memelas Andrew.


"Iya gel, cukup kamu cantik kok, pacar Bryan memang paling cantik"


Dia memandang ku dengan puppy eyes nya, membuat ku tidak tega mencubit nya lagi. Itulah senjata andalan mereka, aku tak akan tega jika mereka sudah menunjukkan puppy eyes mereka.


"Bryan itu cuma teman ku",


Oh tidak, sialnya pipi ku memanas karena mendengar perkataan Andrew. Ya, ku akui aku menyukai Bryan, tapi kami memang masih menjadi teman. Entahlah seperti apa hubungan kami kedepannya.


Mereka pun menertawakan ku. Karena pipiku memerah. Mereka terus menerus menggoda ku, membuat pipi ku semakin memanas. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan tempat Daddy ku di tangani tadi.Aku segera melangkah mendekati dokter itu menuntut penjelasan, sungguh aku begitu khawatir dengan keadaan Daddy ku.


"Dok bagai mana keadaan Daddy saya dok"


"Baiklah, saat ini ada dua kabar yang akan saya beritahukan"


Aku bisa melihat ia menghela nafasnya.


Ku harap itu bukan kabar buruk


"Kabar baiknya ayah anda sudah bangun, " Aku sedikit tenang saat dokter mengatakan jika Daddy ku sudah sadar. Tapi dokter itu bilang ada dua kabar , ku harap kabar kedua tidak terlalu buruk, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Daddy.


"Kabar buruk nya racun yang ada di tubuh ayah anda sudah menyebar, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin, berdoa lah agar ia bisa sembuh"


Entah mengapa rasanya sangat sesak mengetahui bahwa racun nya telah menyebar keseluruh tubuh Daddy.


Ya Tuhan, apa rencana mu sebenarnya.. sembuhkan lah Daddy ku..


"Bolehkah kami masuk dok"


Aku ingin melihat kondisi daddy ku, aku harus memastikan jika dia baik-baik saja .


"Silahkan nona, kurasa saat ini ia membutuhkan mu"


"Terimakasih dokter"


Aku tersenyum ke arah dokter tersebut, berusaha menyembunyikan rasa takut ku, aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak tumpah saat ini.


"Iya sama-sama "


Aku pun berjalan kedepan, membuka pintu ruangan tersebut. Dari sana aku bisa melihat sosok pria yang aku sayangi terbaring lemah dengan beberapa alat penunjang kehidupan menempel di tubuhnya.


"Daddy... "


"sayang, kamu di sini? "


Suara Daddy terdengar begitu lemah, membuat hati ku teriris mendengar nya.


"Iya Dad, Angel di sini"


Tanpa terasa air mata ku lolos dan membasahi pipi ku. Aku tak kuat melihat kondisi Daddy ku seperti ini. Wajah tampan nya itu tampak begitu pucat.


"Sini mendekat lah Angel "


Aku pun mendekat dan duduk di sebelah Daddy ku. Dari sini aku bisa melihat jelas Daddy ku, sungguh ini begitu menyakitkan. Air mata ku mengalir deras, disaat seperti ini dia masih tersenyum untuk ku.


Ya Tuhan jangan ambil Daddy ku sekarang


Kemudian ia mengelus pipi ku, dan menghapus air mata ku yang tumpah sedari tadi. Ia tersenyum, dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis sayang,"


Daddy tersenyum hangat pada ku, senyum yang selalu ia tampilkan selama ini


"Angel jaga diri baik-baik ya nak, maaf Daddy jahat kepada mu dan Mommy mu. Daddy menyesal gel, Maukah Angel memaafkan Daddy?? "


Suara Dad begitu lirih, membuat hati ku semakin perih mendengar nya.


"Angel sudah memaafkan Daddy. Angel sayang Daddy, jangan tinggalkan  Angel Dad"


Aku semakin larut dalam tangisan ku. Firasat buruk terus menerus mendesak ku, membuat ku tak kuat menahan tangis ku lagi.


"Sudah jangan menangis lagi sayang, "


"Tapi Dad.. "


"Sini peluk Dad, Daddy ingin memeluk mu lebih lama. "


Aku pun memeluknya erat, sambil menumpahkan semua air mata ku. Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuh Daddy ku, sosok pria yang aku sayangi. Lima belas menit sudah aku memeluk Dad, tapi tak ada pergerakan dari Daddy. Aku merasa tubuh Daddy begitu dingin, akupun melepaskan pelukan ku pada Dad. Aku terkejut saat melihat wajah Dad yang begitu pucat. Tangis ku semakin pecah saat tak bisa lagi merasakan detak jantung nya.


"Tidak Daddy!!!"


Andrew yang mendengar teriakkan ku , langsung masuk diikuti oleh Melly dan Aster. Kedua sahabat ku langsung memeluk ku, sedangkan Andrew ia mendekat ke arah Daddy.


Kenapa takdir ku seperti ini


•••


ANGEL POV


Aku menunggu di depan ruangan dengan pikiran yang kalut dan di penuhi rasa takut, aku begitu takut aku masih menangis dan di pelukan Aster dan Melly. Andrew terlihat bolak-balik di depan pintu karena merasa resah. Akhirnya dokter pun keluar, aku segera berdiri menghampiri dokter tersebut.


Dokter tersebut tampak muram, tidak jangan katakan jika hal buruk terjadi pada Daddy ku.


"Bagaimana dok?? "


"Maaf nona ayah anda tak terselamatkan, ia telah tiada, kami turut berduka cita" bagai di sambar petir, seketika semuanya buyar. Nafas ku terasa begitu sesak, seakan oksigen di sekeliling ku hilang. Aku tak bisa menopang tubuh ku lagi, kaki ku terasa begitu lemas, aku teduduk di lantai dan meraung sedih.


"Tidak!!! "


"Tidak!! Daddy masih hidup kan"


Melly dan aster memeluk ku,


"Sudah Angel, kami masih ada untuk mu" Kedua sahabat ku itu ikut menangis . Aku tahu mereka juga bisa merasakan kesedihan ku. Aku menangis sejadi jadinya , aku belum siap menerima kenyataan pahit ini.


"Daddy, mengapa kau pergi secepat ini "


AUTHOR POV


Hari ini pemakaman ayah Angel pun di selenggarakan keesokan harinya. Seluruh sanak saudara, rekan kerja, serta sahabat Angel datang ke pemakaman, mengucapkan turut berduka cita kepada Angel.  Angel sedari tadi terus menangis, seakan belum siap di tinggal ayahnya. Ia menyesal karena telah membenci ayahnya.


Suasana tampak hikmat saat pemakaman berlanggsung. Isak tangis memenuhi tempat tersebut. Mereka kehilangan sosok penting dalam hidup mereka. Angel duduk di tepi makam ayahnya. Ia masih terus menangis. Para sahabat nya merangkulnya dan mencoba menenangkan nya.


Satu persatu orang pergi meninggalkan pemakaman tinggal lah Melly, Aster, Andrew dan Angel.


"Angel ayo kita pulang"


Aster mencoba membujuk Angel, karena sedari tadi Angel tak kunjung mau beranjak dari makam Dad nya.

__ADS_1


"Iya Gel, ini udah sore, jangan menangis terus , nanti kamu sakit"


Melly ikut membujuk sahabat nya tersebut.


"Aku tidak perduli dengan diri ku lagi". Angel masih larut dalam tangis nya.


"Tapi Gel..."


"Kalian duluan saja, nanti aku pulang dengan pak Agus "


"Tapi Gel, kami tidak bisa meninggalkan mu sendirian disini"


Kali ini Andrew angkat bicara, ia tak mau meninggalkan sosok gadis yang ia sayangi itu. Angel tersenyum pilu "Aku mohon, aku ingin sendiri sekarang "  Angel menatap Andrew dengan tatapan memohon. Membuat Andrew menghela nafasnya berat. Namun akhirnya mereka harus mengalah. Melly, Aster dan Andrew pun pergi, mereka pamit terlebih dahulu.


"Jangan bohong ya Gel, nanti telpon kalau kamu sudah sampai di rumah"


Andrew merangkul tubuh Angel lalu mengecup puncak kepala gadis itu.


"Iya Drew" Angel tersenyum tipis. Andrew mengacak rambut coklat Angel sebelum dia pergi dari sana.


Mereka pun pergi melaju dengan mobilnya menjauhi pemakaman tersebut. Tinggallah Angel sendirian disana, menangis pilu di makam sang Daddy.


"Dad, Angel sayang Daddy, mengapa secepat ini Daddy pergi"


Air mata Angel semakin deras membasahi pipinya. Ia tak berhenti menangis. Titik-titik air hujan pun turun dari langit, namun Angel tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk memeluk batu nisan ayah nya. Hingga ada seseorang memayunginya, sontak Angel menoleh keatas.


"Bry "


"Iya ini aku gel, maaf sebelumnya aku baru datang. Aku turut berduka cita ya Gel atas kepergian Daddy mu"


Bryan tersenyum teduh ke arah gadis yang ia cintai itu.


"Iya Bry, terimakasih "


Angel mencoba untuk tersenyum, walau jelas sekali di matanya ia begitu terluka. Air mata Angel terus mengalir, Bryan pun merangkul Angel dan memeluknya erat, sembari mengelus punggung Angel.


"Aku tidak punya Daddy lagi bry"  Angel masih terisak tangisnya .


"Ssttttt jangan menangis lagi" Bryan mengusap lembut pipi Angel dan menghapus air mata gadis itu.


Tiba-tiba tubuh Angel melemah, kepalanya terasa begitu pusing, hingga pada akhirnya kegelapan pun melandanya.


BRYAN POV.


Dari kejauhan aku melihat seorang gadis menangis di makam seseorang. Gadis itu tak lain adalah Mate ku, sosok perempuan yang selalu berhasil membuat hidup ku penuh warna hanya dengan melihat senyumnya. Tapi saat ini aku bisa merasakan kesedihan nya, aku bisa merasakan perasaan nya . Dia begitu rapuh, terlebih Daddy nya telah pergi untuk selama-lamanya. Aku mengetahui itu saat Andrew memindlink ku kemarin malam.


~flashback on


Aku sedangduduk di depan balkon kamar ku sembari merebahkan rubuhku di kursi.


Entah mengapa aku jadi terpikir dengan keadaan Angel. Sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya. Aku rindu senyumnya, dan entah mengapa aku berfirasat ada yang tidak beres dengan nya.


Dan tiba-tiba andrew memindlink ku


"Bry, aku ada kabar buruk, tentang Angel"


Aku tersentak mendengar perkataan Andrew. Kabar buruk! Tentang Angel pula!


"Apa yang terjadi Drew?, kau tak bercanda kan?" Aku begitu khawatir dengan kondisi Angel saat iitu


"Ayah Angel meninggal bry, saat ini Angel sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Maaf sebelumnya aku tak memberitahu mu . Rencananya besok akan dimakamkan, kuharap kau datang Bryan , Angel membutuhkan mu! "


"Aku pasti datang, hiburlah dia Drew, jangan biarkan ia larut dalam kesedihan "


Aku khawatir, sekaligus kesal mengapa saat seperti ini aku tidak ada untuk Angel. Betapa bodohnya aku.


Angel Allicia Richard, maafkan aku


~flashback off


Rintik-rintik hujan turun dari langit, namun Angel tetap berada di makam Daddy nya . Ia setia duduk sembari memeluk batu nisan di makam tersebut. Aku mengambil payung di dalam mobil, kemudian berjalan mendekat ke arahnya. Saat aku memayunginya ia langsung menoleh ke arah ku.


"Bry.. "


Suaranya terdengar begitu lirih, matanya begitu sembap, hidung nya memerah. Sungguh ia terlihat begitu rapuh .


Pasti dia menangis semalaman, maafkan aku Amour.. aku tidak ada di samping mu.


"Iya ini aku Gel, maaf sebelumnya aku baru datang. Aku turut berduka cita ya Gel atas kepergian Daddy mu"


Aku tersenyum ke arahnya.


"Iya, Bry terimakasih "


Kemudian ia kembali menangis.


Oh tidak, mengapa ia serapuh ini, kumohon jangan menangis sayang, aku tak tega melihat mu seperti ini.


Aku pun merangkul nya dan mengelus punggung nya agar ia tenang.


"Aku tidak punya Daddy lagi Bryan"


BRAAKK!!


Aku membuka kasar pintu, dan mengagetkan papa dan mama ku yang sedang menonton di ruang tengah. "Ada apa Bry"


Mama , tampak begitu khawatir.


"Siapa gadis ini?? "


"Ah, dia mate ku tolong panggilkan maid kekamarku, dan juga dokter pack ini!!" perintah ku kemudian naik keatas menuju kamar ku dengan tergesa-gesa.


Sesampainya di kamar aku merebahkan tubuh mungilnya di kasurku.  Aku melepaskan sepatu yang masih menempel di kakinya. Aku menatap lekat wajahnya, aku merasa hati ku bagai di iris oleh sebuah pisau melihat kondisinya seperti ini.  Tak berselang lama, beberapa maid datang. Aku mengecup singkat puncak kepalanya sebelum meninggalkan dia.


"Tolong ganti pakaiannya,  jika sudah selesai kabari aku,  aku menunggu di luar" . Aku pun berjalan keluar kamar ku, aku begitu khawatir dengan kondisinya saat ini. Aku berjalan bolak-balik dengan gelisah di depan kamar ku. Pikiran ku begitu kalut, aku takut hal buruk terjadi pada nya.


"Permisi Alpha,  kami sudah selesai"


Suara itu membuat ku lamunan ku buyar.


"Baiklah,  terimakasih.  Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi"


Aku kembali masuk kedalam kamar ku , aku duduk di tepi ranjang sembari melihat wajah gadis yang sangat aku cintai ini.


"Iya kau cintai, tapi sampai sekarang kau tak berani mengungkapkan perasaan mu" sahut Ricko, memindlink ku.


"Diamlah Ricko!"


Aku langsung memutuskan mindlink secara sepihak.


Aku mendengar suara pintu kamar ku di ketuk. "Masuk!!"


Aku tahu mungkin itu adalah Harry yang membawa dokter untuk memeriksa keadaan Angel. "Ini dokter yang akan memeriksa Gadis itu Alpha"


"Baiklah, silahkan periksa dia sekarang", aku mempersilahkan dokter itu memeriksa Mate ku. Tunggu mereka bilang gadis itu tadi..


"Ah iya ,aku lupa tolong Panggil dia Luna, dia adalah Mate ku"


Kata-kata itu sukses membuat Harry dan dokter itu tersentak. Namun sedetik kemudian mereka mencoba menetralisir rasa terkejut mereka dan menormalkan ekspresi wajah mereka kembali. Harry permisi untuk pergi, ya aku tahu Beta ku ini begitu sibuk. Aku memutuskan untuk duduk di sofa, menunggu dokter itu memeriksa keadaan mate ku.


"Bagaimana keadaan ya dok?"


"Tenang Alpha,  Luna baik-baik saja,  ia hanya kelelahan karena menangis,  dan dehidrasi ringan. Saya sarankan agar selalu ada di samping luna dan menghibur nya..."  dokter itu memaparkan dengan detail kondisi Angel.


"Terimakasih dok "


"Iya sama-sama Alpha, ini sudah menjadi tugas saya sebagai dokter di Pack ini.  Ini resep obat yang bisa anda tebus,  saya pamit undur diri Alpha"


"Baiklah, nanti Harry yang akan menebusnya"


Lalu dokter tersebut pergi keluar dari kamar. Aku pun memindlink Beta ku Harry


"Harry tolong tebus obat untuk Luna "


"Baiklah Alpha"


Aku pun memutuskan mindlink dan berjalan mendekat ke arah Angel yang sedang tetidur pulas . Betapa damai wajahnya saat tertidur, wajahnya tampak begitu polos seperti bayi sungguh itu membuat ku gemas.  Matanya terlihat sembab karena ia terlalu banyak menangis. Aku pun mengelus rambut nya,  dan mengecup puncak kepalanya.


"Good night amour,  have a nice dream" bisik ku ketelinganya.  Ia masih terlelap dan tak terusik.


•••


Sedari tadi aku duduk di sofa sembari membaca novel kesukaan ku, aku tak bisa tidur dan jam telah menunjukkan pukul satu dini hari.  Tiba-tiba Angel berteriak kencang, membuat ku refleks menjatuhkan novel yang sedang ku baca, aku berdiri dan segera menghampiri nya.


"Hei! kau jangan sentuh Mommy ku,  kau jahat!  Belum puaskah kau!  Kenapa kau tak bunuh saja aku hah! Lepaskan!  Lepaskan! "


Angel berteriak dengan keringat dingin bercucuran.


Aku menepuk pipinya lembut,  sampai akhirnya ia pun terbangun dari tidurnya, namun ia lagi-lagi menangis dengan badan bergetar.  Aku pun memeluknya "Nightmare?" Aku mengelus punggung nya agar ia tenang.  Ia mengangguk  dan bersandar di dada bidang ku.


"kamu tenang ya,  ada ku yang bakal menemani mu Gel" Angel mengangguk dan mulai tenang.


"Bry aku dimana? "


Matanya menulusuri seluk beluk kamar ku yang terasa asing baginya.


"Kamu ada di rumah ku Gel,  kamu pingsan,  aku mau antar kamu kerumah mu tapi aku tidak tahu rumah mu dimana,  jadi ku putuskan untuk membawa mu ke sini"


"Terimakasih Bryan,  aku hanya merepot kan mu.  Dan maaf aku sudah berapa hari tidak masuk kantor " ia tertunduk lesu.


"Ah sudahlah jangan di pikirkan,  sekarang kamu istirahat saja,  kamu masih capek kan" aku mengelus lembut rambut coklat nya itu.


"Tapi Bry.. "


"Tapi apa Gel?"


"Emm,  err aku lapar" ia tampak malu-malu mengatakan hal tersebut. Pipinya memerah, dan itu membuat ku semakin gemas melihat nya .


Aku terkekeh "Ya ampun aku lupa,  tunggu ya aku ambil makanan dulu"

__ADS_1


"Dasar bodoh"  Ricko memidlink ku


"Terserah kau saja! " jawab ku kesal lalu memutuskan mindlink.


Tiba-tiba tangan ku di cegat oleh Angel,  "Aku ikut ya"  ia menunjukkan puppy eyes nya. Aku tak bisa menolak jika ia seperti ini.


"Ya ampun menggemaskan sekali Mate ku ini" lagi-lagi Ricko memindlink ku.


"Mate ku juga bodoh!! "  Dia selalu saja bilang itu Mate-nya, tentu saja aku tidak terima.


"Terserah kau saja!! "  Wolf gila itu langsung memutuskan mindlink secara sepihak.


"Oke,  tapi kau aku gendong"


"Hah,  tubuhku ini berat Bry,  dan.. "


Kata-kata nya terhenti saat aku langsung menggendongnya ala bridal style membuat nya tersentak dan pipinya memerah. Ia dengan malu-malu mengalungkan tangannya di leherku.


"Tahan bry,  tahan" 


"Ah kau selalu menganggu saja Ricko!! " Ricko terkekeh lalu memutuskan mindlink. Sesampainya di dapur aku mendudukkan nya di kursi. 


"Kamu mau makan apa?"


"Aku mau omelet"


"Baiklah, tunggu sebentar tuan Putri",


Aku pun mulai beraksi di dapur layak nya seorang chef handal. Jangan remehkan kehebatan ku dalam memasak, walaupun aku seorang Alpha , dan ada maid disini, tapi aku tidak ingin manja. Aku sudah biasa memasak sendiri di dapur. Tidak butuh waktu lama , aku pun selesai membuat omelette untuk nya.


"Maaf kalau rasa nya tidak enak,  maklumi saja lah"  aku meletakkan piring berisi omelet buatan ku itu didepan Angel, kemudian duduk di sampingnya. Ia tampak semangat untuk mencicipi hasil masakan ku.


"Ini enak sekali Bryan"  aku tersenyum melihat ekspresi wajah nya lucu. Ia memakan dengan lahap masakan ku itu hingga habis. Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu menggemaskan. Ah, aku benar-benar jatuh cinta pada mu Amour.


Setelah selesai makan aku mengantarnya kembali ke kamar,  dan pastinya ku gendong. Aku tak mau dia kelelahan, katakan aku begitu posesif tapi itulah yang harus aku lakukan aku tak ingin mate ku ini kenapa-kenapa dia adalah hidup ku, belahan jiwa ku dan aku harus menjaganya dengan baik.


"Kenapa aku tidak boleh berjalan sendiri?" . Kata-kata itu lolos dari mulut gadis ku ini, ia tampak begitu kesal dan mengerucutkan bibirnya.


"Kamu sedang tidak sehat, aku tidak mau kamu kelelahan Angel."


Aku merebahkan tubuhnya di atas ranjang , dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya. Ternyata kata-kata ku tadi sukses membuat pipinya merona. 


"Begitu cantik nya dirimu Amour" 


Wolf gila itu muncul kembali, aku benar-benar jengah dengan Ricko.


"Bisakah kau diam Ricko!  Kau menganggu ku sedari tadi" 


"Kau ini PMS ya,  dari tadi marah terus!!  Dasar  Alpha sinting!  Mengapa aku terjebak di tubuh orang seperti ini Moon Goddess " kata Ricko.


Aku langsung memutuskan mindlink kami , kesal ! Enak saja dia menyebutku Alpha sinting! Dialah Wolf sinting!


"Sudah tidur lah, besok pagi aku akan mengantar mu"


Aku mengecup puncak kepala gadis ku ini, dia mengangguk dan perlahan menutup matanya. Nafasnya mulai teratur, wajahnya begitu cantik ketika tidur seperti ini.


Aku akan selalu di sampingmu Amour, aku akan menjaga mu


AUTHOR POV


Sinar matahari mencoba masuk kedalam kamar tersebut, menyelinap masuk melalui celah-celah kecil tirai. Angel yang merasa terusik mulai mengerjapkan matanya perlahan. Angel bangun, dan duduk di tepian ranjang.


"Morning Angel" . Sapa seorang pria yang tak lain adalah Bryan


"Morning too Bryan"


Angel tersenyum hangat ke arah pria yang juga tersenyum kepada nya.


"Mandilah,  aku menunggu mu  di bawah, oh iya pakai saja baju ku dulu" Bryan pun berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Angel pun berjalan menuju kamar mandi untuk menjalankan ritual paginya. Ia berendam di bathtub menikmati air hangat, dan aroma bunga mawar yang ia sukai. Setidaknya itu bisa membuatnya lupa dengan beban yang ada di pikiran nya saat ini.


Setelah kurang lebih menjalankan ritual mandinya, Angel pun keluar dari kamar mandi menggunakan handuk. Ia melangkah kedalam walk in closet. Angel mengambil sebuah kemeja berwarna hitam milik Bryan, ia cukup terkejut saat menemukan pakaian dalam wanita yang sangat pas dengan ukuran Angel, tak lupa hot pants . Angel mengambil dan memakai pakaian dalam dan hot pants itu lalu memakainya.


Angel pun segera turun untuk menemui Bryan.Kaki mungilnya pun menuruni satu per satu anak tangga dan sampailah ia di ruang makan,  terlihat seorang wanita paruh baya dengan dua orang pria. 


"Hai sayang, kemarilah"


Seorang wanita paruh baya yang masih cantik itu menyapa Angel dengan senyum hangatnya. Angel pun menangguk , ikut tersenyum dan berjalan menuju meja makan. Bryan mempersilahkan Angel untuk duduk di sampingnya.


"Perkenalkan nama ku Marria Lixie Friedrich ibu Bryan,  dan ini suami ku Garrix Eiden Friedrich. Nama mu siapa sayang? "


"Nama ku Angel Allicia Richard  tante,  dipanggil Angel"


Angel tampak begitu gugup, terlebih Bryan yang tak henti menatap wajah Angel membuat gadis itu begitu malu.


"Uh, nama mu begitu bagus, sangat cocok dengan dirimu yang manis dan cantik" Maria begitu senang dengan Angel. Ia merasa begitu bahagia karena anak kesayangan nya telah menemukan Mate-nya. Angel tampak malu pipinya blushing , Bryan tersenyum melihat Mate-nya itu. "Ah Tante bisa saja"


"Jangan panggil tante,  panggil saja Mama"


"Dan panggil aku Papa"


Garrix ikut angkat suara, senyuman menghiasi wajah kedua orang tua Bryan itu . Garrix dan Marria begitu menyukai calon menantu mereka ini.


Dia begitu manis dan cantik


"Baik o-- Eh Papa .. Mama" Angel begitu gugup.


Manisnya dirimu amour


Keempat orang itupun menikmati sarapan mereka , sambil sesekali bersenda gurau. Wajah mereka tampak begitu bahagia pagi ini, Angel seakan lupa dengan masalah yang ia hadapi. Ia merasa begitu bahagia berada di tengah-tengah keluarga Bryan yang begitu harmonis. Angel tersenyum pilu , mengingat betapa bahagianya keluarga nya dulu. Mungkin jika tidak ada orang ketiga, keluarganya akan tetap utuh sama seperti keluarga Bryan.


•••


Mobil Bryan melesat,  di jalan raya untuk mengantar Angel. Namun Angel meminta agar mengantarnya dulu ke minimarket. "Mau aku temani,  " tanya Bryan saat mereka telah berhenti di seberang minimarket.


"Tidak usah, aku cuma sebentar Bry"


"Tapi.."


Angel menatap Bryan , mencoba menyakinkan pria itu jika ia baik-baik saja . Toh, dia hanya pergi ke seberang, dan jalanan tampak sepi-sepi saja .


"Hati-hati ya". Bryan tersenyum lalu mengacak rambut coklat Angel.


Angel pun membuka pintu mobil, kemudian kaki mungilnya pun perlahan keluar dari mobil milik Bryan tersebut. Ia melihat kekiri dan kekanan, jalanan tampak sepi. Angel pun berjalan , namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba ada mobil yang melaju dan hendak menabrak tubuh Angel. Kakinya seketika membeku ia tak bisa bergerak,  akan tetapi tiba-tiba ada seseorang mendorong nya dan..


BRAKKK!!


PRANGG!!


Terjadi benturan keras disana, Bryan yang berada di dalam mobil terperanjat kaget dan segera keluar dari mobilnya.


"ANGEL!!"


"Mommy!!"


Bryan turun dari mobilnya karena kaget,  betapa terkejutnya ia melihat kejadian di depan mata nya.


~sebelumnya


BRAAKK!!


Pintu terbuka dengan paksa,  terlihat seorangl Pria menghampiri Chole.


"Chole cepat kita harus keluar" kata pria tersebut


"Edward,  kenapa kau bisa ada di sini?"  tanya Chole.


"Cerita nya panjang,  yang terpenting sekarang kita harus menyelamatkan Angel" kata Edward.


Mereka pun melaju di jalan raya.  Edward menceritakan semuanya kepada Chole. Jika merlyn akan mencelakai Angel .Betapa terkejutnya Chole saat melihat Angel akan di tabrak mobil,  yang dikendarai oleh Merlyn,  Chole berlari dan mendorong tubuh Angel.


Angel berlari menju kearah ibunya


"Mommy,  kenapa Mommy menyelamatkan Angel Mommy? " lirih Angel di sela Isak tangis nya.


"Bagaimana mungkin Mom tega melihat anak Mommy celaka nak" kata sang ibu sambil meringis sakit.


"Maafkan Mommy nak, Mom egois,  Mommy meninggalkan Angel.  Mommy harap kamu bisa jaga diri baik-baik ya nak,  jangan nakal.  Jangan nangis lagi" lirih ibu.


Lalu Angel memeluk ibunya.  Namun tubuh ibunya lunglai dan tergeletak tak bernyawa.


"Mommy!" teriak Angel. 


Bryan pun menghampiri Angel dan memeluknya.


"Bry, aku sudah tak memiliki siapa pun lagi" lirih Angel.


Bryan menenangkan Angel,  terlihat Andrew, Melly serta Aster yang datang dan menangis melihat Angel.  Mereka merangkul Angel dan menenangkan nya.


•••


Hari ini untuk keduakalinya Angel di pemakaman,  Angel murung dan terlihat sangat rapuh.  Hari-hari Angel lalui dengan mengurung dirinya.  Semua orang menyalahkan nya dan menuduhnya.  Semua orang membencinya.


"Dasar anak pembawa sial"


"Oh ini dia,  anak pembawa sial itu"


"Ku rasa ia yang membunuh orang tuanya agar ia mendapatkan seluruh harta"


"Dasar munafik"


"Hahahahha"


Semua orang menghinanya,  hidupnya begitu kelam.  Ia menutup diri bahkan dengan sahabatnya se diri. 


"Aku tak sanggup lagi mom dad.  Ini sangat berat bagi ku.  Mengapa kalian pergi secepat ini.  Aku tak memiliki siapa-siapa lagi sekarang.  Hidupku hancur Mom , Dad.  Semuanya kelam"


"Aku lelah,  aku tak sanggup lagi!! "


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2