
Setelah agak sore Elisa kembali ke rumahnya setelah sebelumnya mengantarkan Yuri terlebih dahulu.
Ketika pulang Elisa melihat mobil suaminya sudah terparkir di garasi itu artinya suaminya sudah pulang.
"Assalamualaikum " Elisa mengucap salam yang langsung di jawab oleh para asisten rumah tangganya.
"Mbok Kennan mana? " tanya Elisa pada mbok Imah.
"Tuan di kamarnya non. " jawab bi Imah.
"Oh oke terimakasih. " kata Elisa lalu pergi menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya.
"Mau kemana? udah rapi begini?" tanya Elisa saat bertemu dengan Kennan yang sudah rapi berbalut baju santainya.
"Tadinya aku mau jemput kamu tapi kamunya udah pulang ya udah ngga jadi." Kennan tersenyum lalu mengandeng tangan Elisa kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Elisa langsung pergi mandi, Elisa keluar hanya mengenakan handuk yang membalut tubuhnya.
Tanpa permisi Elisa duduk di pangkuan Kennan yang sedang duduk disofa.
Melihat tingkah Elisa membuat Kennan geram, bagaimana tidak Kennan adalah pria normal pada umumnya namun ia sedang bersusah payah menjaga Istri tercintanya.
"Tolong jangan bangunkan macan tidur, cepatlah duduk sendiri." kata Kennan yang sedang mengontrol emosinya.
"Bagaimana hari pertama sekolahmu? " tanya Kennan penuh perhatian, setelah Elisa turun dari pangkuannya.
"Lancar. " Elisa menjawab sambil menunjukan kedua jempol tangannya.
"Kennan apa aku boleh belajar bela diri? " Elisa mengigit bibir bawahnya karena ragu.
Mendengar permintaan istrinya Kennan mengeritkan dahinya lalu bertanya "Bukankah silatmu juga sudah mahir? "
Kennan masih tidak percaya dengan keinginan istrinya.
"Aku ingin belajar yang lain. " Elisa merengek manja yang membuat Kennan tak tahan melihatnya.
"Baiklah besok akan aku carikan guru private untuk mengajarimu, mau di mulai dari apa dulu? " tanya Kennan.
"Gimana kalau samurai, biasanya karate dan yang lain itu hampir sama kalau samurai kan pake senjata. " jawab Elisa riang.
"Kenapa ngga sekalian belajar senjata api gitu. " sindir Kennan.
"Ah boleh, setelah samurai sudah aku kuasai...." Elisa berbicara dengan penuh penghayatan bak pemeran antagonis dalam film ftv.
Kennan mengusap kasar muka Elisa lalu berkata " Elisa halu. "
"Bodo. " kata Elisa sambil melirik tajam Kennan.
***
Di sebuah resto di pusat perbelanjaan yang ada di tengah ibu kota, sebuah keluarga tengah menghabiskan makan malam bersama.
Itu adalah acara wajib setiap akhir pekan untuk Hery dan keluarga Bagaskara termasuk anak dan menantunya semenjak Kennan dan Elisa menikah.
"Ngga kerasa ya udah lima bulan Elisa menjadi keluarga kita ya? " Hideko memulai percakapan saat mereka selesai makan.
"Seminggu lagi kan kalian libur kenaikan kelas rencananya kalian mau liburan kemana? " imbuhnya.
"Ikut aja ma? " kata Elisa sedangkan Yuri masih sibuk memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi.
"G mana kalo ke jepang aja? , kan orang tua Yuri lagi ngga bisa ke Indo." kata Yuri penuh semangat.
__ADS_1
"Boleh."jawab mereka besautan.
Elisa menatap ayahnya dengan mimik wajah memelas lalu berkata "Ayah ikut kan?"
"Ayah usahain"kata Hery seraya tersenyum.
Elisa langsung menekuk wajahnya tanda ketidak puasan akan jawaban dari ayahnya.
Hery berfikir sebentar lalu tersenyum "Baiklah aku ikut."perkataan Hery barusan langsung membuat Elisa begitu bersemngat.
Setelah berbincang-bicang sambil sesekali bercanda, Kennan memanggil pelayan untuk menghantarkan bill.
Seorang wanita berbalut seragam restoran datang membawa bill.
Mata Elisa dan Yuri terparajat saat melihat wanita tersebut "Jessica !" Elisa dan Yuri berbicara besamaan.
Wanita yang merasa di sebut namanya hanya tersenyum.
"Permisi ini billnya. " kata Jessica sambil menyerahkan bill dan mini atm dengan nampan kecil sebagai alas.
"Kalian saling kenal? " tanya Hideko.
"Iya ma Jessica itu teman sekolah kita iya kan Elisa. " jawab Yuri jujur.
"Oh iya. " Hideko begitu sumpringah begitu melihat Jessica yang seumuran dengan Elisa dan Yuriko sudah bisa mandiri.
Setelah sedikit berbicang mereka pulang ke rumah masing masing, mereka berpisah di tempat parkir, karena mereka membawa mobil masing-masing.
Kennan sedang sibuk mengemudi memecah macetnya ibu kota saat malam minggu, sedang kan sedang Elisa melamun, masih tidak percaya akan apa yang di lihatnya barusan, seorang Jessica yang pertemuannya di awali hal yang tidak baik ternyata seorang pekerja keras.
Di tengah lamunannya Elisa di kaget kan oleh suara dari ponselnya.
"Elisa apa kamu melamun? " tanya Kennan yang melihat Elisa terhentak ketika ponselnya berbunyi.
Kennan melihat wajah Elisa lalu berkata"Apa kamu berbohong? "
"Fokuslah menyetir aku tidak ingin mati muda karena kecelakaan." jawab Elisa sambil melihat ponselnya.
"Yuri, ada apa dia mengirim pesan? apa dia memikirkan apa yang aku pikirkan? " batin Elisa.
Yuri💌 :"Apa anechan memikirkan apa yang Yuri pikirkan? "
Elisa💌:"Apa itu soal Jessica? "
Yuri💌:"Iya? Apa ada yang perlu di selidiki?"
Elisa💌:"Mungkin, baiklah kita bahas besok"
"Apa yang membuatmu begitu serius hingga melupakan suamimu? " tanya Kennan sambil mengangkat dagu Elisa.
"Oh tidak, tidak ada maaf. " jawab Elisa gugup.
"Oh oke, apa kamu nyaman dengan mobil ini? " tanya Kennan.
"Tentu kenapa tidak? " jawab Elisa.
"Baiklah tidur di sini saja!" kata Kennan yang sedang turun dari mobil.
"Kennan apa kita sudah sampai? Tunggu !" Elisa segera membuka sabuk pengamannya lalu keluar mengejar Kennan.
"Kenapa kamu menyebalkan sekaleeeeee" Elisa melebarkan matanya dan menjulurkan lidahnya sambil terus berlari mendahului Kennan, namun pandangannya masih tertuju pada Kennan.
__ADS_1
Tiba-tiba Elisa teriak saat jatuh menabrak tempat sampah, spotan Kennan tertawa terbahak-bahak melihat Elisa yang tengah bersusah payah untuk bangun.
"Dasar Kennan jelek kenapa ketawa bukannya di tolongin. " Gerutu Elisa sambil memenggangi kakinya.
Melihat Elisa yang meringis kesakitan Kennan mendekat memastikan kondisi Elisa.
"Terkilir ya neng? " ledek Kennan.
Elisa diam melirik tajam Kennan lalu membuang mukanya kasar.
Kennan menggendong Elisa masuk ke rumah yang langsung di serbu pertanyaan dari para asisten rumah tangganya.
Namun Kennan hanya menjawab dengan entengnya "Biasa bocah lari-larian ya jatuh"
Elisa nyetir kuda mendengar jawaban Kennan.
Kennan membawa Elisa ke kamar lalu menghubungi dokter keluarga.
30 menit kemudian dokter datang langsung memeriksa Elisa, setelah kaki Elisa di pasang biocrepe dan di beri obat dokter pun berpamitan.
Kennan menghela nafas panjang lalu mendekati Elisa "Kurang ngga? kalau masih kurang ulangi lagi!"
Elisa yang tidak berani menjawab hanya menundukan wajahnya dalam-dalam karena ini memang kecerobohannya.
Kennan memasang wajah serius."Lisa suamimu sedang bertanya? "
Elisa merasa suaminya sedang marah ia tidak berani mengangkat wajahnya bahkan hanya sekedar untuk melihat wajah suaminya "Ma, maaf aku tidak akan mengulanginya lagi? "
"Lisa ketika berbicara lihatlah lawan bicaramu bukannya malah melihat kemana itu tidak sopan. " Kennan meninggikan volume suaranya, yang semakin membuat Elisa ketakutan.
"Ya Allah, kenapa Kennan semarah itu, suaranya saja begitu menakutkan bagaimana dengan wajahnya? apa kesalahan ku begitu fatal? " Batin Elisa.
"Elisa Bagaskara, saya sedang berbicara apa kamu sama sekali tidak mendengarkannya?" kata-kata Kennan membuyarkan lamunan Elisa, perlahan butiran bening menetes dari kedua ujung mata Elisa.
Kennan mengusap kasar mukanya sambil menghela nafas panjang ketika melihat Elisa menangis.
Kennan memeluk Elisa lalu mencium ujung kepala Elisa"Jangan menangis aku hanya menghawatirkan mu, jangan pernah ulangi lagi ya. "
***
Hari masih begitu pagi bahkan Elisa dan Kennan pun belum bangun dari tidurnya, namun Yuriko sudah tiba di rumah Kennan.
"Bi apa onicha dan anechan belum bangun?" tanya Yuri begitu memasuki rumah Kennan.
"Belum non, ada yang bisa saya bantu? " tanya salah satu asisten rumah tangga Elisa.
"Aku hanya ingin tidur lagi bi, nanti kalau anechan sudah bangun tolong bangunin Yuri. " Yuri berbicara lalu memasuki kamar tamu yang ada di lantai satu.
"Baik, non"
Elisa bangun di lihatnya jam sudah menunjukan pukul sepuluh, Elisa bejalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat , ia segera mandi lalu turun dengan niatan mengambil sarapan untuk dirinya dan suaminya.
Begitu mendengar Yuri ada di rumahnya ia segera mengurungkan niatnya, lalu kembali ke kamarnya namun sudah tidak mendapati Kennan di kamarnya.
"Kemana Kennan apa dia sedang mandi? Ah lebih baik aku turun menyiapkan sarapan dan membangunkan Yuri." Elisa berbicara pada dirinya sendiri.
"Siapa yang menyuruh mu menyiapkan sarapan? " suara Kennan mengagetkan Elisa "Kembali ke ranjangmu biarkan kakimu istirahat."
Elisa mengangguk namun belum sempat ia berbalik badan, Kennan terlebih dahulu menggendong Elisa.
Elisa begitu kaget karena Kennan menggendongnya tanpa memint ijin "Kenapa kamu selalu seenak jidatmu ha? "
__ADS_1
"Sadarlah Elisa ini sifatmu bukan sifatku"