
"Tuhan, aku mohon jaga dia lindungi dia aku sangat menyayanginya dan saat ini aku sangat merindukannya. " gumam Elisa di tengah derasnya air matanya.
"Kakak.. "suara Yuri mengagetkan Yuni.
"Elisa kenapa? "tanya Yuni.
"Entahlah sepertinya dia sedang dalam masalah. "jawab Yuri.
Pelahan-lahan Yuni dan Yuri mendekati Elisa yang sedang duduk di pematang sawah belakang rumah.
"Anechan, apa anechan sedang memikirkan sesuatu? " tanya Yuri pelan sambil menepuk pundak Elisa.
Elisa segera menghapus air matanya lalu berkata"Ah tidak aku hanya sedang mencari angin. " Elisa mencoba untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja.
"Lisa apa kamu menangis? " tanya Yuni.
"Ah e tidak mungkin karena anginnya terlalu dingin jadi mataku berair, lebih baik kita masuk dari pada nanti masuk angin. " kata Elisa sambil berlalu meninggalkan Yuni dan Yuri.
Yuri membesarkan kedua bula matanya mencoba bertanya pada Yuni namun Yuni hanya mengangkat sebelah alisnya tanda tidak tahu.
Mereka bergegas masuk mengikuti Elisa ke dalam rumah.
"Yuni, Yuri malam ini aku ingin tidur sendiri apa kalian tidak keberatan? " tanya Elisa yang hendak masuk ke kamarnya.
Rumah Elisa memiliki dua kamar satu kamar utama yang setiap hari di pakai ketiganya, dan satu lagi kamar dengan ukuran yang lebih kecil, kamar itu hanya di gunakan oleh Elisa ketika ia hendak menyendiri.
"Iya tentu Elisa. " kata Yuni dengan senyum manisnya.
Yuri mendekati Elisa lalu memeluknya, Yuri selalu melakukannya saat ia melihat Elisa tengah dalam masalah karena pelukan Yuri mengingatkan pada Kennan dengan begitu sedikit rasa rindu pada suaminya tehapuskan.
"Anechan aku yakin onichan setia. " kata Yuri sambil melepaskan pelukannya.
Mendengar kata-kata Yuri Elisa tersenyum "Kenapa ini anak tau ya. "batin Elisa.
"Yuni, Yuri aku tidur dulu besok pagi buta aku harus ke kampung sebelah untuk mengambil uang dan mungkin akan pulang sore jadi besok pagi jangan mencariku ya. " kata Elisa.
Yuni dan Yuri menghela nafas panjang lalu mengangguk secara besamaan.
Melihat Yuni dan Yuri Elisa menjadi gemas lalu memeluk keduanya "Aku sayang kalian" kata Elisa sembari tersenyum.
"Kami juga sayang padamu Lisa. " kata Yuni yang langsung di sauti oleh Yuri "Sangat-sangat sayang. "
Mereka melepas pelukannya masing-masing, lalu Elisa ke kamarnya.
"Ikutlah. " Yuni menarik tangan Yuri yang masih sibuk dengan susu hangatnya.
"Kenapa? " tanya Yuri dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
Yuni terus menarik tangan Yuri yang membawa dua gelas susu untuk keduanya.
"Pelanlah nanti susunya tumah. " kata Yuri sambil melancipkan bibirnya.
Ketika sudah di kamar Yuni mengambil satu gelas susu di tangan Yuri lalu meminumnya hingga habis tak tersisa.
Melihat tingkah Yuni Yuri menjadi geram. "Oh jadi gitu kamu nyuruh aku cepet-cepet supaya kamu bisa cepat menghabiskan susumu? "
"Diamlah. " Yuni menutup mulut Yuri dengan tangannya, lalu berbisik di telinga Yuri.
"Apa kamu yakin? " tanya Yuri setelah mendengar bisikan dari Yuni.
Yuni segera menggangguk penuh semngat.
"Baiklah. " jawab Yuri dengan riangnya.
***
Kennan keluar dari kantornya karena adzan isya sudah berkumandang sedari tadi tubuhnya begitu lelah setelah seharian berkerja.
Seorang gadis menghapirinya lalu berkata "Selamat malam tuan Kennan, apa tuan mau pulang? "
Kennan mengangguk sebagai jawaban.
"Besok aku akan mulai ujian, sayang sekali Elisa, Yuri dan Yuni ntah di mana? seandainya mereka ada di sini mungkin mereka akan ujian bersamaku." Gadis itu memasang wajah sedihnya.
"Iya mungkin." jawab Kennan tanpa melihat orang yang berbicara padanya.
"Jessica, bisakah kamu sehari saja tidak menyinggung tentang mereka? " bentak Kennan.
Kennan tak pernah mau membicarakan tentang mereka karena begitu mengingat mereka dirinya begitu hancur, ia merasa gagal menjadi suami dan kakak yang baik.
"Maaf maafkan saya tuan maaf telah lancang." Kata Jessica ia memasang wajah bersalah padahal dalam hatinya ia sangat bahagia.
"Baiklah pulanglah, besok kamu harus mengikuti ujian bukan? " perintah Kennan penuh pengertian.
"Baiklah pak selamat malam."Jessica melambaikan tangan lalu meninggalkan Kennan.
"Sebentar lagi kamu akan tahluk pada ku tuan Kennan Bagaskara." batin Jessica sembari tersenyum licik.
"Dasar bocah aneh." kata Kennan sambil membuka pintu mobilnya, ia memasuki mobilnya lalu melajukannya secara perlahan.
Hari ini Kennan tidak memakai supir karena ia mengira tak akan pulang selarut ini.
Sepanjang perjalanan pikirannya agak kacau karena ia kembali teringat pada Elisa dan Yuri.
Ketika ia melewati jalan yang lumayan sepi tiba-tiba mobilnya sedikit oleng, Kennan memberhentikan mobilnya lalu turun dari mobil untuk memeriksa mobilnya.
__ADS_1
"Ah sial.. " Kennan menendang ban mobilnya ketika mendapati ke empat ban mobilnya terlihat kempes.
Kennan menghela nafas panjang lalu mengambil posel dari sakunya, lalu segera mencari nomor orang yang akan di telepon oleh nya, setelah menelepon ia menaruh jas dan poselnya ke dalam mobil.
Saat ia hendak mengganti salah satu ban mobilnya tiba-tiba ada tangan membungkam mulutnya.
Kennan memukul salah satu di antara mereka, namun Kennan sudah tidak berbuat apa-apa lagi saat salas satu dari mereka berbisik padanya Kennan hanya pasrah mengikutinya.
***
Elisa baru pulang tubuhnya begitu lelah saat seharian ia menagih uang hasil dari sawahnya.
Ia memasuki rumah terlihat rumahnya begitu sunyi.
Elisa memhela nafas panjang "Mungkin mereka marah karena tadi pagi aku meninggalkanya tanpa membangunkannya." pikir Elisa.
Elisa membuka pintunya namun pintunya terkunci, ia mencari kunci cadangan yang ada di tasnya lalu membukanya.
Elisa memasuki rumah dan rupanya lampu di rumahnya belum di nyalakan hanya lampu luar saja yang menyala.
"Kenapa mereka aneh sekali? apa mereka kembali akan mengerjaiku? " Pikir Elisa sambil menyalakan seluruh lampu rumahnya.
"Yuni, Yuri kalian di mana? " Elisa memanggil manggil nama Yuri dan Yuni namun tak kunjung mendapat jawaban.
Elisa memasuki kamar utama, Elisa melihat selimut dalam posisi yang sama seperti tadi pagi, seperti dua orang yang sedang tidur dengan menutup seluruh bagian tubuhnya.
Tadi pagi Elisa sempat melihat ke kamar Yuni dan Yuri sebelum pergi namun tidak memasukinya karena takut membangunkanya, jadi ia paham betul posisi selimutnya sama sekali tidak berubah.
Karena curiga Elisa menarik slimut itu ia sangat terkejut saat melihat yang ada di depannya bukan Yuni dan Yuri melainkan dua bantal yang di susun untuk mengelabuinya.
"Yuni, Yuri kalian di mana? " Elisa kembali memanggil-manggil mereka dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Elisa melihat tulisan dengan liftik di kaca meja riasnya yang sama sekali tidak mirip dengan tulisan Yuni Maupun Yuri, Elisa segera lalu segera membacanya.
'Kamu tak usah mencari nya percumah, ' isi tulisan tersebut.
"Yuri, Yuni." Elisa berbicara namun air matanya tak berhenti mengalir.
Elisa melihat kunci jendela seperti di bongkar paksa.
Saat Elisa hendak berkemas untuk mencari Yuri dan Yuni tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Elisa melihat layar ponsel dengan mata sebabnya karena dari tadi ia menangis.
"Nomor siapa ini? " kata Elisa sambil membuka pesan dari nomor yang tak di kenalnya.
💌:"Kakak kami baik-baik saja kakak tetap di situ kami berhasil meloloskan diri, kakak tunggulah di rumah, miis you ~si kembar"
__ADS_1
Melihat isi pesan yang baru saja masuk ia sangat bahagia, ia segera membalas pesan tersebut.
Elisa💌: "Kalian di mana? kalian membuat ku khawatir, cepatlah pulang aku sangat merindukan kalianðŸ˜ðŸ˜"