
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Elisa tidak menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Karena memang Kennan hanya mengijinkan Elisa untuk menyiapkan segala kebutuhannya saat libur.
Elisa sudah memakai seragam barunya, dia berdiri di depan cermin, perlahan butiran bening mengalir membasahi pipinya.
Mengingat saat-saat bersama sahabatnya, tepatnya mantan sahabatnya yang telah tega berbuat keji padanya.
"Apa kamu menagis? "tanya Kennan yang baru datang untuk mengambil dasinya.
"Ah tidak, aku hanya kelilipan. " jawab Elisa berbohong.
Kennan sudah paham apa yang sebenarnya terjadi lalu mencoba mengalihkan ingatan Elisa tentang dua sahabat kejinya"Oh oke, apa kamu sudah siap aku akan mengantarkanmu ke sekolah. "
Elisa berjalan mendahului Kennan tanpa berbicara, Kennan menggeleng-gelengkan kepala lalu menghela nafas panjang kemudian mengikuti Elisa.
***
"Baiklah aku turun di sini saja, aku tidak ingin menarik perhatian di hari pertama sekolah. " seorang gadis turun dari mobilnya lalu memasuki gerbang sekolah.
Seseorang yang ada menyetir mobil itu tersenyum lalu perlahan kembali melajukan mobilnya.
"Calon ada primadona baru nih di sekolah." segerombolan anak cowok saling berbisik saat gadis tadi melewatinya.
"Eh ada anak baru tuh cantik lagi, awas ntar pamor lu kalah ama dia." bisik sekumpulan siswi.
Gadis yang sedari tadi di bicarakan terus berjalan tanpa memperdulikan mereka.
"Tau ngga tadi dia keluar dari mobil mewah."kata salah satu dari sekumpulan siswi tadi, namun tetap tidak mendapat respon dari gadis yang sedang di bicarakan.
Dia terus bejalan memasuki lorong sekolah mencari kelasnya setelah sebelumnya bertanya kepada seorang guru.
Saat dia melewati toilet dia mendengar rintihan pelan dari seorang siswi, karena penasaran dia melihatnya dari kejauhan.
Terlihat tiga orang siswi sedang mengacak-acak tas, setelah melihat lebih dekat terlihat lagi seorang gadis duduk di lantai dengan penampilan acak-acakan dan sedang menangis.
"Eh cupu apa cuma ini yang kamu bawa?" bentak seorang gadis yang sedang mengacak-acak tas.
"Ma ma ma maaf, orang tuaku hanya memberi ongkos segitu." jawab gadis yang tengah menangis.
Salah satu gadis pembully itu mengambil air seember penuh lalu menyiramkan air tersebut tepat di ujung kepala, perlahan air dari kepala turun membasahi seragam.
Namun yang terkena siraman air itu bukan gadis yang tengah di bully melainkan si gadis pembully, karena saat mereka mengakat ember gadis yang mengawasi mereka sedari tadi menarik emper tersebut hingga tepat di kepala si pembully.
"Sialan siapa yang berani sama gua." teriak gadis yaang sudah basah kuyup.
"Perkenalkan nama saya Elisa, gua siswi baru di sini. " jawab gadis yang dari tadi mengawasi mereka.
"Anak baru belagu, belum tau siapa gua ha!" bentak gadis yang sudah basah kuyup.
Gadis itu melayangkan pukulan ke arah Elisa, dengan cepat Elisa mengunci tangannya dan membating tubuhnya ke lantai, lalu ke dua teman si pembully menyerang Elisa, dengan cepat Elisa mengalahkan mereka.
Elisa menginjak tangan dua gadis yang menyerangnya bersamaan lalu mengangkat dagu wanita yang sudah basah kuyup dengan kasar.
"Sepertinya terbalik bukan saya yang belum mengenal anda tapi anda yang belum mengenal saya." Elisa berbicara tepat didepan wajah si pembully yang sudah basah kuyup lalu melemparkannya dengan kasar.
Elisa berjalan mendekati gadis yang tengah menagis.
Gadis yang tengah menangis tadi semakin ketakutan karena ulah brutal Elisa, gadis itu perlahan-lahan bergeser ke belakang hingga terhenti oleh tembok.
"Tenang lah aku tidak akan menyakitimu." Elisa tersenyum lalu melepas jaketnya dan memakaikan ke gadis yang sedang menangis.
Sedangkan tiga gadis yang tadi di kalahkan Elisa kini bersiap menyerang Elisa kembali, Elisa melayangkan tendangan tepat di wajah ketiganya hingga membuat mereka terpental jauh.
"Kalian ingat jangan bawa masalah ini ke sekolah atau aku akan menghabisimu di luar sekolah !" bentak Elisa.
Ketiganya pergi meninggalkan Elisa dan gadis yang masih menangis tersedu-sedu.
"Bangunlah apa kamu membawa baju ganti? " tanya Elisa penuh perhatian.
"Iya saya membawanya, terima kasih nama saya...." kata gadis itu di sela sesenggukannya namun lebih dulu di potong oleh Elisa "Gantilah bajumu aku tidak ingin tertinggal upacara."
Setelah itu Elisa kembali ke lapangan mengikuti upacara seakan tidak terjadi apa-apa, selama upacara Elisa menjadi pusat perhatian, tapi ia sama sekali tidak mengubrisnya.
Sedangkan gadis yang di tolong Elisa terpisah saat hendak upacara.
Selesai upacara Elisa memasuki kelas mencari bangku kosong lalu mendudukinya.
"Anechan." teriak gadis yang sudah tidak asing lagi suaranya.
__ADS_1
"Yuri, kenapa baru masuk? " jawab Elisa.
"Tadi Yuri habis mengobati teman Yuri di UKS, sepertinya dia kelelahan terus pas upacara dia kepanasan sehingga dia mimisan."jawab Yuri polos.
"Oh iya Jessica and the geng kemana ya, tumben pagi-pagi ngga mungut upeti." Yuri berbicara sambil melihat ke berbagai penjuru ruangan.
"Upeti?.. kamu pikir ini jaman kerajaan apa? dasar korban film."sindir Elisa sambil tertawa.
"Anechan itu serius, dia itu malak semua siswa tiap pagi dan yang ngga bisa banyar sesuai yang dia minta dia ngga segan-segan menyiksanya." Yuri menceritakan segalanya.
Belum sempat Elisa mengajukan pertanyaan tiba-tiba bell berbunyi lalu seorang guru memasuki kelas.
Yuri segera berlari menuju bangkunya yang terletak tepat di depan guru, sedangkan Elisa di pojok belakang.
"Oh, Elisa kamu sudah masuk kalau gitu kita bisa mulai pelajaran tanpa perkenalan dulu karena mungkin kalian sudah saling mengenal."kata pak guru yang baru memasuki kelas.
"Belum kenalan pak" jawab siswa cowok bersautan karena mereka memang tertarik dengan Elisa.
Elisa berdiri dari duduknya lalu bebicara "Nama saya Elisa Bagaskara, kalian bisa panggil saya Elisa, sekian dari saya mohon bantuannya?".
"Tenyata Elisa ini inisiativna tinggi. " puji pak guru.
Batin Elisa "Inisiativ gundulmu orang gua males di tanya."
Setelah bell berbunyi tanda istirahat pertama berbunyi, Elisa segera di di kerubungi para siswa-siswi yang ingin mengenal Elisa lebih jauh, bak artis yang di kerubuti wartawan.
Elisa hanya menjawabnya seperlunya, lalu pergi meninggalkan kelas menuju kantin di ikuti Yuri yang terus bercerita.
Sesampainya di kantin Elisa baru menyadari ternyata dia lupa membawa dompet.
Banyak yang ingin membayarkan makanan Elisa tapi Elisa menolaknya, Elisa berjalan hendak kembali ke kelas namun langkahnya terhenti oleh pria tampan yang masih menggunakan baju kerjanya.
"Baka' apa kamu melupakan sesuatu? " tanya pria tersebut.
"Aku lupa meminta uang jajan? "jawab Elisa sambil nyengir.
"Ini dompet mu udah ada ATM di dalamnya dan beberapa uang cash biar kamu bisa jajan di kantin dan bisa berbelanja sepulang dari sekolah." Pria itu berbicara penuh pengertian.
Lalu pergi meninggalkan Elisa tanpa persetujuan dari Elisa "Dasar tadi manisnya minta ampun sekarang main pergi tanpa pamit." gerutu Elisa sambil kembali ke ke kantin.
"Anechan Yuri sudah memesankan baso dan jus untuk Anechan tapi malah Anechan nya ilang." kata Yuri manja.
***
Setelah jam pelajaran usai Elisa keluar kelas di ikuti Yuri seperti biasa Yuri terus berbicara.
"Yuri di jemput mama ngga?" tanya Elisa.
"Yuri sudah bilang sama mama biar ngga jemput, Yuri mau pulang sama Anechan, bolehkan? boleh ya boleh?. "rengek Yuri.
Elisa menghela nafas panjang "Kalau sudah seperti ini siapa yang tega menolak? "
"Anechan, tapi Yuri bawa teman ya. " Yuriko kembali merengek.
"Boleh sayang. " Elisa mencubit pipi Yuri dengan gemas.
"Teman Yuri yang tadi mimisan malah sekarang dia demam tinggi, jadi Yuri berencana membawanya dia ke rumah sakit, kasian tau dia dari orang kurang mampu dia sekolah di sini juga karena beasiswa dari onichan. " Yuri bercerita panjang lebar.
Elisa manggut-manggut tanda mengerti.
"Ayo kak kita jemput Yuni di UKS. " kata Yuri sambil bergelayutan di tangan Elisa.
"Bukan Yuri namanya jika tidak manja." Batin Elisa, yang sedang tersenyum melihat tingkah manja Yuriko.
Mereka terus berjalan, sampai akhirnya mereka tiba di UKS.
"Tadi guru sudah mengajak Yuni ke rumah sakit tapi dia menolak jadk nanti kita bilang mau mampir sebentar ya, biar ngga curiga." Bisik Yuri kepada Elisa.
"Baiklah. " jawab Elisa.
Yuri memasuki UKS di ikuti Elisa, Elisa melihat gadis yang tak asing lagi untuknya
"Pantes demam orang tadi pagi dia di gituin" batin Elisa.
Pelahan Yuni membuka matanya setelah mendengar seseorang mendekatinya ada rasa takut di hatinya, namun tiba-tiba wajahnya berseri-seri saat melihat seseorang yang mendatanginya.
"Yuri, Elisa? " kata Yuni bengan wajah sangat bahagia.
"Kenapa kamu mengenal Elisa? bukankah seharian ini kamu di UKS? " Yuri terheran-heran melihat Yuri melihat Yuni mengenal Elisa.
__ADS_1
"Elisa tadi..... " dengan cepat Elisa memotong kata-kata Yuni "Tadi kita udah kenalan sebelum upacara. ".
Elisa mengedipkan sebelah matanya beharap Yuni mengerti.
"Oh e iya, iya tadi kita sudah kenalan. " jawab Yuni terbata-bata.
"Yuni ini itu sepupu aku yang selalu aku ceritakan. " kata Yuri dengan bangga.
"Nama kalian lucu ya satu Yuni satunya lagi Yuri kaya anak kembar. "ledek Elisa.
"Jangan bandingin saya dengan Yuri, Yuri terlalu sempurna beda jauh sama Yuni. " jawab Yuni lemah.
"Kita sama kok sama-sama cupu. " sahut Yuri, kemudian mengundang tawa ketiganya.
"Yaudah pulang yuk, hari ini Elisa mau ngasih tumpangan ke kita." ajak Yuri.
"Ap kamu bisa jalan? " tanya Elisa pada Yuni.
"Bisa." jawab Yuni, namun baru berapa langkah Yuni sudah terjatuh.
Dengan cepat Elisa dan Yuri mengangkat tubuh Elisa, lalu memapahnya menuju mobil.
Pak Dody dengan cepat membuka pintu belakang lalu menggantikan Elisa memapah Yuni.
"Si kembar kalian di belakang biar saya di depan sama pak Dody!" perintah Elisa yang langsung di turuti oleh ketiganya.
"Wah mobil Elisa mewah banget ya dia ngga beda jauh sama Yuri, tapi kenapa mereka mau berteman dengan orang miskin seperti saya? " batin Yuni.
Elisa memberi pesan singkat ke pada pak Dody untuk membawa mereka ke rumah sakit.
Pak Dody yang sudah memahami langsung mengaguk dan menjalankan mobilnya, sedangkan Yuni mulai kembali tertidur di pangkuan Yuri.
Mereka langsung menuju UGD, betapa terkejutnya Yuni saat bangun dia sedang di gendong pak Dody memasuki UGD.
"Yuri, Elisa saya mau di bawa kemana? " teriak Yuni.
"Diamlah atau saya menyuruh pak Dody untuk menjatuhkanmu dan meninggalkanmu di sini sendirian. " ancam Elisa.
Yuni langsung terdiam seribu bahasa di buatnya. "Kenapa Elisa dan Yuri sangat berbeda jauh Yuri lemah lembut sedangkan Elisa bak harimau yang siap menerkam kapan saja. " Batin Yuni.
Dan Yuri tersenyum puas karena sahabatnya mati kutu mendengar ancaman dari Elisa.
Setelah di periksa Yuni langsung di ijinkan pulang karena hanya terkena demam biasa, Elisa mengurus administrasi dan menebus obat untuk Yuni setelah semua selesai Elisa dan Yuri mengantarkan Yuni ke rumahnya.
Elisa begitu terkejut saat masuk ke dalam kontakan orang tua Yuni hanya terdiri dari tiga ruangan di depan ruang tamu di tengah kamar lalu di belakang dapur dan kamar mandi yang di satukan dengan wc.
"Masuklah disini saya tinggal, tapi ibu sama bapak sedang tidak di rumah mereka biasa pulang malam karena kerja ibu pulang jam sembilan malam kalau bapak biasanya pulang jam sepuluh atau lebih." Yuni dengan lemas mepersilahkan Elisa dan Yuri.
"Baiklah sekalian kita kerjain tugas yang tadi mumpung lagi kumpul. " jawab Elisa lalu melepas sepatunya dan meninggalkannua di luar.
"Ntar dulu saya kelupaan sesuatu." kata Elisa sambil keluar meninggalkan Yuni dan Yuri.
Setelah selesai dengan urusanya Elisa kembali, Yuni tiduran di depan sedangkan Yuri tengah sibuk dengan tugasnya.
Elisa bergabung dengan keduanya lalu memulai mengerjakan tugasnya, tak selang waktu lama pak Dody kembali datang membawa baju ganti Elisa, makanan dan cemilan pesanan Elisa.
flashback*
Elisa memasuki rumah Yuni lalu meminta ijin ke belakang, betapa terkejutnya Elisa saat hanya melihat nasi tanpa lauk, hanya ada beberapa bahan mentah yang mungkin akan Yuni masak tapi sepertinya ke adaannya tidak memungkinkan.
Elisa kembali ke depan lalu meminta pak Dody untuk mengambilkan baju dan membelikan beberapa cemilan termasuk buah-buahan dan makanan.
Setelah memberikan beberapa lembar uang kepada pak Dody, Elisa menelfon Kennan dan mertuanya untuk meminta ijin, setelah mendapat ijin dari keduanya Elisa kembali memasuki kontrakan Yuni.
flashback off*
"Harusnya aku yang menyiapkannya untuk kalian karena kaliat tamuku, tapi kenapa malah Elisa yang repot menyiapkan segalanya, Elisa terima kasih dan maaf merepotkanmu. " Kata Yuni sambil tertunduk.
"Tak apa, tidak masalah ujung-ujungnya juga kita yag ngehabisin. "Kata Elisa.
Setelah agak sore Elisa kembali ke rumahnya setelah sebelumnya mengantarkan Yuri terlebih dahulu.
.
.
.
. Terima kasih atas kunjungannya.
__ADS_1