
Betapa kecewanya Elisa dan Yuri saat mengetahui penerbangannya di tunda bahkan di batalkan.
Elisa dan Yuni duduk di hotel VVIP entah kenapa rasanya mereka seperti sedang di asingkan.
"Anechan aku tidak enak sama Yuni kita yang memaksanya ikut kita yang bersusah payah meminta ijin pada orang tua Yuni tapi kenapa penerbangannya di batalkan? " keluh Yuri sambil bersandar di pundak Elisa.
Elisa melamun di penaknya ia sedang merangkai kata-kata yang akan di sampaikan pada orang tua Yuni tentu dengan segala rasa bersalahnya.
"Anechan, apa kamu mendengarkanku? " Yuri menepuk pundak Elisa hingga menyadarkan nya dari lamunan.
"Aku sedang bingung? bagaimana caranya aku menyampaikannya pada Yuni. " jawab Elisa lesu.
Tiba-tiba suasana kamar kembali menjadi hening karena mereka sedang sibuk dengan lamunannya masing-masing.
"Apa Yuni sudah tau penerbangannya di batalkan? " tanya Elisa dengan wajah lesunya.
"Tentu harusnya penerbangannya sudah satu jam lalu tentu Yuni sudah sampai di bandara dan tidak mendapati kita. " jawab Yuri panik.
"Aku tidak mampu menatap wajah Yuni. " imbuh Yuri sambil menangis.
"Tenanglah, lebih baik kamu istirahat aku juga mengantuk. " Elisa berusaha menenangkan Yuri.
Elisa membaringkan badannya dan di ikuti Yuri kemudian mereka terlelap.
Elisa terbangun saat ponsel yang di mode vebra bergetar, Elisa melihat layar poselnya tertulis nama si kembar Yuni, hati Elisa menjadi gelisah tak menentu, dia berfikir pasti Yuni akan memarahinya.
Yuni💌:" Kamu di mana? ada hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan? apa kamu bersama Yuri? "
Elisa💌:" Apa kamu akan memarahi ku? "
Yuni💌:"Kenapa kamu banyak sekali alasan cepatlah beri tahu di mana kamu sekarang?"
Elisa berfikir sejenak dalam hatinya ia sangat heran kenapa Yuni seberani ini.
Elisa💌: " Di hotel X."
Elisa keheranan karena ia sama sekali tidak tau penyebap Yuni menjadi seperti itu.
30 menit kemudian.
Yuni💌: "Turunlah ada hal penting yang akan aku bicarakan dan jangan lupa jangan beri tahu Yuri. "
Elisa💌:" Kenapa? kenapa Yuri tidak boldh tahu? "
Yuni💌:"Apa kamu hadus seberisik ini? ini kondisi darurat"
Elisa yang masih bingung lalu bersiap, ketika hendak turun ia kembali mendapat pesan dari Yuni.
__ADS_1
Yuni💌: "Kuncilah kamarmu jangan buat Yuri keluar dari kamar!"
Elisa menghela nafas panjang tanpa membalas pesan Yuni Elisa menurutinya.
Sebelum pergi Elisa menulis pesan di kertas yang berisikan peritah untuk Yuri agar tidak meninggalkan kamarnya.
Elisa turun dan tidak mendapati Yuni di lantai dasar, Elisa keluar mencarinya di lobi dan tidak mendapati Yuni, saat Elisa bingung seorang menarik Elisa dan membawanya ke kamar mandi.
"Yuni kamu lagi main ninja ninjaan ya? " tanya Elisa saat menyadari bahwa yang menariknya adalah Yuni.
Dengan nafas tersenggal-senggal Yuni mulai bercerita.
Fashback*
Yuni tiba di terminal bersama orang tuanya, namun bukannya Elisa dan Yuri yang ia dapati melainkan orang tua Kennan dan Kennan yang tengah di arahkan dengan paksa oleh serombongan orang berpakaian hitam dan berkaca mata, menuju sebuah di box container yang tak jauh dari bandara.
Perlahan-lahan Yuni dan ayahnya mengikutinya dan mendengarkan percakapan mereka
Sesampainya di box container mereka memindahkan senjata api yang semula nya di todongkan di punggung sekarang di todongkan di kepala kudua orang tua Kennan, sedangkan Kennan di pegangi oleh dua orang.
Mereka menanyakan keberadaan Yuriko saat mereka tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan mereka kembali memukul Kennan, sebenarnya Kennan mampu membela diri namun Kennan tidak ingin kepala kedua orang tuanya hancur di depannya.
Namun jawaban orang tua Kennan dan Kennan tetap sama mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui nya.
Dan mereka ke jepang hanya hendak berkunjung melepas rindu, namun mereka bukanlah orang yang bodoh yang langsung mempercayainya.
Lalu mencari Elisa dan Yuri.
Flashback off*
"Apa jadi Kennan dalam bahaya, bahkan mama dan papa juga ada di sana? " tanya Elisa yang mulai menangis.
"Elisa tidak perlu menangis yang paling penting kita sembunyikan Yuri tanpa Yuri tau penyebapnya!" perintah Yuni.
"Kenapa Yuri tidak boleh tau? bukankah Yuri harus tau agar dia bisa menjaga dirinya sendiri " tanya Elisa bingung.
"Karena yang aku dengar tadi Yuri adalah penyebap anak dari ketua mereka itu bunuh diri, lalu mereka ingin membunuh Yuri." jawab Yuni sambil menundukan wajahnya.
"Tidak mungkin Yuri adalah anak baik dia tidak mungkin melakukan itu!" bantah Elisa.
"Saya juga kurang tahu yang terpenting kita sembunyikan Yuri agar tidak bertemu dengan orang itu, karena jika mereka menemukan Yuri itu artinya pengakuan kak Kennan dan orang tuanya di anggap berbohong, itu justru akan semakin membahayakan mereka, dan kamu tahu jika Yuri mengetahuinya dia pasti akan menyerahkan dirinya agar tidak lagi membahayakan keluarga kak Kennan, keluargamu." jawab Yuni tergesa-gesa lalu menangis.
"Baiklah cepatlah." Elisa bejalan menuju lift lalu segera naik ke kamarnya, di ikuti Yuni.
Sesampainya di depan pintu "Tenanglah Elisa. " Elisa menghela nafas panjang menenangkan dirinya.
Elisa menempelkan kartunya lalu pintu hotel terbuka.
__ADS_1
"Anechan kenapa kamu meninggalkan ku, aku takut..? " rengek Yuriko manja.
Elisa langsung memeluk Yuriko lalu berkata "Anechan dulu tidak memiliki adik dan memiliki mu sekarang adalah hal yang sangat membahagiakan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Pernyataan Elisa membuat Yuni di penuhi pertanyaan karena Yuni masih belum tau setatus ketiganya.
Elisa menarik nafas panjang agar nada bicaranya tidak seperti orang yang sedang menangis lalu berbicara "Sebagai gantinya karena kita batal ke Jepang kita harus menemani Yuni pulang ke kampung dan kita berangkat sekarang tanpa toleransi."
"Elisa memang gadis yang tangguh. " Batin Yuni.
"Aku akan siap dalam 15 menit. " jawab Yuri seraya pergi ke kamar mandi.
"Yuni bolehkah aku meminta ponselmu? " tanya Elisa ketika Yuri sudah menutup pintu kamar mandi.
"Bolehkah aku menghancurkan hpmu?" tanya Elisa.
"Kenapa? " tanya Yuni heran.
" agar mereka tidak dapat melacak kita. " jawab Elisa tenang.
Dengan berat hati Yuni memberikannya, karena itu juga demi keselamatan mereka.
"Aku akan menggantinya." Elisa berbicara sambil tersenyum.
"Tak perlu. " Yuni menjawab dengan cepat.
"Yuni, pulanglah keluargamu menunggu. " kata Elisa sambil menatap wajah Yuri tersirat jelas rasa bersalah dari wajah Elisa karena membawa Yuri dalam masalah keluarganya.
"Aku ingin tetap bersamamu. " jawab Yuni.
"Kamu akan kehilangan banyak hal jika kamu mengikuti kami? " Elisa melanjutkan kata-kataya.
"Aku pernah kehilangan segalanya dan kamu yang mengembalikannya, jika itu harus hilang kembali karna mu itu memang seharusnya. " Yuni berbicara penuh keyakinan.
"Pergilah belilah tiket ketempat sejauh mungkin dan yang tentu aman bawa Yuri bersamamu nanti kita bertemu du terminal A tepat di bawah besar di tengah terminal, aku akan menarik uang sebisa mungkin dari atm ku agar kita bisa hidup di sana. " perintah Elisa dan Yuni langsung memahaminya.
"Aku siap teriak Yuri dengan hebohnya. "
"Cepatlah waktu kita tidak banyak sebelum kita tertinggal bus. " Elisa menarik tangan Yuri dan diam-diam mengambil ponsel dan dompet Yuri dari tasnya.
Elia menghetikan taksi lalu menyuruh Yuni dan Yuri menaikinya.
"Anechan kenapa anechan tidak naik? " tanya Yuri.
"Anechan ada urusan pergilah dulu anechan menyusul. " Elisa berkata lalu melambaikan tangan perlahan taksi itu mulai menjauh.
Elisa mematahkan semua sim card yang ada dia berkeliling beberapa bank untuk menarik saldonya lalu membungkus seluruh hp dan atm ke dalam box lalu menyerahkannya ke pihak kantor pos untuk mengirimnya pulang ke rumah Kennan, di dalam box tersebut Elisa menulis supucuk surat.
__ADS_1