Mystery Rooftop Dwellers

Mystery Rooftop Dwellers
bocah pengganggu


__ADS_3

Mereka istirahat di salah satu ruangan. Sera duduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut nya. Dia masih trauma sama pembunuhan tadi dan kehilangan ke dua sahabat nya.


Jiwan mengeluarkan pisau kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana. Dengan mudah nya jiwan mengoyak pergelangan tangan nya dengan pisau lipat itu. Semua langsung natap jiwan heran. Jiwan terlebih dulu menghampiri sera.


"Ini minum" kata jiwan sambil menyodorkan tangan nya yang terluka.


Sera yang di beri darah menatap bingung ke arah jiwan. Begitu pun anak bangtan lain nya. Mereka masih memperhatikan apa yang akan di katakan jiwan.


"Dengan darah gue luka yang ada di tubuh lu akan cepat sembuh. Jadi minum sebelum dia mengering" perintah jiwan.


Sera mengangguk lalu meminum darah jiwan beberapa tetes. Meski harus merasakan bau amis dan juga darah yang membuat mual. Sera ingin memuntahkan nya tapi jiwan terlebih dulu menutup mulu sera. Jiwan juga memberikan darah nya kepada anak bangtan lain nya.


"Gue beruntung punya darah ini kalau gak mungkin gue gak ada di sini sama kalian. Gue pernah hampir mati bersama orang tua gue karena kecelakaan yang parah. Di situ hanya gue yang selamat kedua orang tua gue meninggal. Tulang punggung gue sempat patah tapi dalam beberapa minggu dia pulih kembali. Padahal kata dokter untuk mukihin nya akan memakan waktu yang cukup lama" jelas jiwan yang ikut duduk di sebelah sera.


"Gue janji bakal bawa lu keluar dari sini" lanjut nya dengan senyuman hangat ke arah sera.


"Yeh sok manis lu" kata sera sambil menjitak kepala jiwan.


Jiwan langsung mengelus kepala nya yang sakit. Sera cekikikan melihat jiwan yang ke sakitan. Anak bangtan sedikit lega karena sera gak murung lagi. Tapi tae merasa sesak melihat sera bahagia dengan jiwan.


"Aduh gue amesia tanggung jawab lu" kata jiwan sambil memegang kepala nya.


Sera langsung menjauh dari jiwan dan pergi ke arah suga. Sera masih heran dengan sikap jiwan yang berubah ubah. Tadi dia seperti orang yang ke setanan sekarang dia seperti orang biasa yang sama gesrek nya dengan sera.


Gak berapa lama mereka mendengar anak kecil yang bernyanyi. Semua langsung diam. Jiwan langsung bangkit dari duduk nya. Dia tau siapa yang datang. Anak itu lagi.

__ADS_1


"Kak main yuk!" Kata nya sambil menggedor pintu.


Mereka semua udah siap siaga dengan senjata masing-masing. Mereka gak ada yang nyaut perkataan anak itu. Dia itu mengerikan. Tubuh nya sudah di kuasai oleh arwah dan jiwa nya sudah di jual ke mereka para arwah. Dan kekuatan nya seperti 10 orang dewasa.


"Yaudah kalau kakak gak mau main chen chen pergi aja" kata nya.


Mereka mendengar langkah chen chen menjauh. Tapi gak berapa lama kaca pecah. Dan di sana ada chen chen yang tersenyum polos dengan pisau di tangan nya.


"Hai kak. Kita main yuk" kata nya lalu masuk ke ruangan itu.


"Kak sera mana? Chen chen mau ketemu sama kak sera" kata chen chen lalu melihat lihat sekeliling nya.


"Jangan ganggu dia!" Kata jiwan sinis.


Tae langsung berdiri di sebelah jiwan. Tiba-tiba arwah datang dengan mengepung mereka. Chen chen tersenyum ke arah sera.


"Kakak sera itu keras kepala. Padahal kakak ji yoon udah ngasih ke sempatan untuk ikut dia dan nyelamati yang lain tapi kak sera menolak nya. Kak sera itu egois hanya mentingi diri sendiri dan gak peduli sama orang lain. Yang ingkar harus di bunuh!" Kata chen chen menatap sera sinis.


"Diam lu!" Teriak tae.


"Dasar bocah berisik!" Tambah jiwan.


"Kakak jiwan dan kakak tae jahat! Chen chen gak suka orang yang kasar sama anak kecil!" Kata chen chen kesal.


"Ayo kita bermain" kata chen chen sambil menatap jiwan dan tae.

__ADS_1


Para arwah langsung menyerang anak bangtan. Sera langsung menghampiri jiwan dan tae. Jiwan, tae dan sera akan berhadapan sama chen chen.


"Kak ayo main" kata chen chen lalu menghilang.


Tiba-tiba chen chen muncul di belakang jiwan lalu menusuk kaki jiwan dengan pisau yang di pegang. Chen chen menghilang lagi. Kembali muncul lalu menusuk kaki tae.


"Dasar bocah pengecut!" Teriak sera.


"Jangan ngilang gitu. Kalau berani muncul!" Teriak sera.


Jiwan dan tae masih menahan sakit meski luka mereka mulai mengering. Tapi tetap aja ngilu. Chen chen tidak mendengar kan sera dia tetap aja berulang kali menusuk jiwan dan tae dengan menghilang lalu muncul. Chen chen sudah seperti angin terlalu cepat untuk di sentuh.


Sera mencoba merasakan di mana chen chen akan muncul. Saat tau sera langsung memukul nya dengan besi yang sedari tadi dia pegang. Pukulan sera tepat sasaran chen chen langsung terhempas ke tembok ruangan ini.


"Kalian gak papa?" Tanya sera sambil melihat ke arah jiwan dan tae.


Luka mereka cukup dalam karena pisau nya sengaja di tekan chen chen kuat-kuat. Tae dan jiwan mengangguk sambil menahan sakit. Jiwan langsung menghampiri chen chen dengan kaki yang menyeret.


"Dasar bocah pengganggu!" kata jiwan ingin menusuk chen chen dengan besi tapi tiba-tiba chen chen menghilang.


"Cih... Pengecut" kata jiwan.


Parah arwah juga sudah menghilang bersama chen chen. Jiwan sama tae duduk untuk mengeringkan luka mereka. Mereka akan melanjut kan perjalanan saat luka yang di dapat mengering.


Jangan lupa vote, like dan komenn💜

__ADS_1


__ADS_2