
Dalam dua minggu terakhir suasana kelima desa semakin memanas, berbagai Ninja sudah dikerahkan untuk menjaga perbatasan. Juga ada banyak konvlik yang terjadi diberbagai wilayah perbatasan semua desa, hanya saja Konvlik di perbatsan desa Konoha lebih banyak dari pada desa lainya.
Ninja Desa Konoha kewalahan menahan serangan kecil-kecilan dari desa Iwa, meskipun hanya serangan sekala kecil tapi tak dipungkiri ada korban berjatuhan dalam kejadian tersebut, meskipun banyak korban dari desa Iwa.
Sementara itu digedung Hokage para petinggi desa sedang melakukan rapat besar, masalah muncul dua minggu lalu dan mereka masih belum menemui solusi untuk memecahkan masalah ledakan yang terjadi.
"Tuan Hokage, aku yakin pasti Ninja Cloud(Ninja desa petir) lah yang menyebabkan ledakan itu." ucap petinggi desa.
"Benar, ada medan listrik disekitar ledakan terjadi. Siapa lagi kalau bukan Ninja dari desa Petir." lanjut petinggi lain.
"Hahhh... aku pikir juga dari Ninja Petir tapi departamen Ninja sensor kita tidak menangkap ada pergerakan Ninja Petir disana." ucap Petinggi Klan Yamanaka.
"Aku juga berasumsi seperti itu, Klan Hyuga sudah melacak jejak Chakra terakhir yang dikeluarkan tapi apa? mereka tidak menemukan kecocokan Chakra dari Ninja Petir." petinggi Klan Hyuga membenarkan petinggi Klan Yamanaka.
Setelah meraka berdua berkata seperti itu suasana kembali hening, Hiruzen yang sedang membaca dokumen tentang masalah dua minggu kemarin hanya bisa menggelengkan kepala.
"Tuan Hokage, masalah ini sangat penting kita harus menemukan siapa yang menyebabkan ledakan itu." ucap petinggi yang berada di dekat Danzo.
"Aku tau aku tau! hanya saja Anbu yang kukirim menemukan jalan buntu jadi bagaimana diriku bisa menangani masalah ini lagi?." kata Hiruzen dengan berat hati.
"Biarkan aku saja yang langsung menyelidikinya." Danzo yang dari tadi diam tiba-tina berbicara.
Semua orang memandang Danzo, mereka mengetahui siapa orang ini hanya saja mereka tidak bisa menghentikan tindakan Danzo karena dia memiliki teman besar, yaaa... temannya Hokage sendiri.
Tindakan kotor Danzo sudah bukanlagi rahasia bagi mereka, tapi masih ada yang belum mereka ketahui tentang jati diri Danzo yang sebenarnya.
"Danzo, kalau kamu ingin menyelidiki masalah ini kenapa kamu tidak melakukan dari minggu kemarin? dan kenapa sekarang kamu ingin melakukannya sekarang?." tanya Hiruzen memandang Danzo dengan tatapan tajam.
"Tuan Hokage aku ada pekerjaan mendesak minggu-minggu kemarin jadi bagaimana aku sempat melakukan penyelidikan?." balas Danzo yang juga manatap Hiruzen.
"Cukup! kita bahas masalah perbatasan desa lainnya saja, sudah tidak usah membahas masalah ledakan itu." ucap Hiruzen menghentikan balasan petinggi lainya yang ingin protes tentang masalah Danzo ingin menyelidiki ledakan yang terjadi dua minggu kemarin.
Akhirnya mereka mengalihkan topik pembicaraan dan untuk orang yang menyebabkan keributan besar sedang berjalan-jalan santai dengan Loli kecilnya.
"Kakak! bagiamana penampilanku?." tanya Mikoto memperlihatkan Kimono putih hitam kepada Fugaku.
"Hmmm... kurasa warna ini tidak cocok untukmu Mikoto, coba ganti warna merah muda atau merah mawar." balas Fugaku menganalisa penampilan Mikoto.
__ADS_1
"Ok!." Mikoto segera berlari kembali kedalam ruangan ganti baju.
Merenung sebentar Fugaku mengalihkan pandangan kearah Status window nya, disana ada beberapa hal baru yang ditambahkan didalam layar.
"Sistem, dalam dua minggu ini berapa Misi yang sudah kuselesaikan?." tanya Fugaku.
[Dinggg!!! 8 Tuan, delapan misi sudah terselesaikan dan dua misi lagi belum.]
Dalam enam misi yang dilakukan Fugaku hadiah dari misi tersebut kadang besar dan kadang kecil, hal terbesar dari hadiah misi adalah Mendapatkan Ninjutsu Rank S serta senjata berkualitas tinggi.
Dua hal tersebut sudah dianggap hadiah besar oleh Fugaku dalam keenam misi dua minggu ini, untuk yang lainya... lupakan saja karena keempat hadiah lainya sangat-sangat jelek.
"Delapan yaaa... baguslah kurang dua lagi fitur Sistem akan bertambah, aku sangat menantikan hal tersebut terjadi." guman Fugaku.
"Kakak lihat! bagaimana penampilanku sekarang?!." teriak Mikoto mengejutkan Fugaku dari lamunannya.
"Ohhh... ahhh... yahhhh ini sangat bagus, kalau Mikoto memekai baju berwarna terang seperti ini pasti sangat cantik dan indah dipandang." Fugaku mengangguk puas setelah melihat Loli didepannya.
"Hehehe... baiklah Mikoto akan memakai pakaian cerah dimasa depan!." kata Mikoto dengan senyum bahagia karena dipuji oleh sang Kakak.
"Kemas bajumu Kakak akan membayarnya." Fugaku berdiri dan berjalan menunju Resepsionis untuk membayar pakaian yang dibeli Mikoto.
Setelah membayar pakaian milik Mikoto mereka berdua melanjutkan jalan-jalan ke toko lainya, juga dalam dua minggu ini Fugaku mencoba beradaptasi dari lingkungan padat penduduk.
Lambat laun Fugaku akhirnya bisa menahan perasaan ingin berlari dari kerumunan banyak orang, dan sudah bisa beradaptasi setenang mungkin tapi masih ada perasaan tidak nyawan ketika berada di tempat banyak orang.
"Apa Kakak tidak ingin berbelanja? dari tadi Mikoto terus yang membeli ini itu." tanya Mikoto sambil memakan dango.
"Kakak belum melihat barang menarik jadi kamu saja yang berbelanja." balas Fugaku memendang kedepan, disana terdapat kumpulan anak kecil yang diantaranya Fugaku kenal dengan salah satu anak disana.
"Baiklah kalau begitu." ucap Mikoto yang terus memakan dango.
"Mikoto ayo temui kenalan dulu." ucap Fugaku menarik tangan Mikoto menunju kekerumunan anak kecil yang dilihatnya tadi.
Mikoto diam dirinya masih fokus kepada dango ditanganya, setelah sampai kekerumunan anak kecil Fugaku melambaikan tangan dan agak berteriak.
"Heyyy Minato!." tariak Fugaku, yaaa anak yang dikenalnya adalah Minato.
__ADS_1
Minato memdengar suara akrab dari belakngnya dan setelah melihat siapa yang memenggil, Minato tersenyum ?senang dan juga melambaikan tangan kearah Fugaku.
"Fugaku!." balas Minato.
"Apa kamu sedang berjalan-jalan?." lanjutnya memandang kearah Mikoto yang membawa beberapa makanan ringan sementara Fugaku membawa tas belanjaan berat seperti baju dan lainnya.
"Yaaa... aku dan Mikoto sedang jalan-jalan sekaligus berbelanja." balas Fugaku mengangguk.
"Owhhh... kepala kulit pisang, apa kabar." sapa Mikoto dengan muka datar.
"Ahahaha... apa kabar juga Mikoto." balas Minato tertawa canggung.
Fugaku menggelengkan kepala sebentar dan berkata."Minato apa yang kamu lakukan disini?."
"Owhhh... aku hanya melihat anak-anak disana sedang bermain tangkap ikan." balas Minato sambil menunjukkan kerumunan anak yang sedang mencoba menangkap ikan dikolam dengan jaring kertas kecil.
"Kenapa kamu tidak main saja Minato?." tanya Fugaku.
"Ahahaha... aku tidak ingin bermain beginian." tawa canggung Minato sekali lagi.
"Bagitu yahhh... sebenarnya main tangkap ikan ini bisa melatih kontrol Chakra lho." ucap Fugaku yang langsung membuat Minato tertarik.
"Benarkah? aku baru tau itu." kata Minato.
"Yaaa benar, dengan menyalurkan Chakra di jaring kertas itu kamu bisa mengontrol Chakra secara hati-hati, kalau memasukkan Chakra berlebihan jaring kertas akan langsung sobek/terkoyak kalau kamu bisa mengontrol deangan benar bukanhanya kekuatan jaring kertas semakin besar tapi kamu juga bisa menjerat ikan didalam kolam." jelas Fugaku kepada Minato.
"Apa!." Minato terkejut setelah mendengar kata-kata Fugaku.
"Aku akan mencobanya!." Minato berbalik dan membayar beberapa uang kepada pemilik mainan tangkap ikan, langsung saja Minato melakukan apa yang diucapkan Fugaku tadi.
Pertama kali Minato mencobanya langsung gagal dan membuat jaring kertas sobek dari beberapa bagian, tidak menyerah Minato melakukanya berkali-kali.
Fugaku melihat Minato yang berusaha keras disana, dia mengerti kalau Minato cita-citanya ingin menjadi Hokage jadi sebagai warga desa biasa Minato berusaha berlatih keras biar dimasa depan cita-citanya untuk menjadi Hokage bisa tercapai.
"Minato aku pergi dulu." ucap Fugaku menepuk pundak Minato.
"Ahyaaa... baiklah, aku masih ingin mencoba beberapa kali lagi." balas Minato mengangguk dan menyerahkan uang kepada penjaga kolam.
__ADS_1
"Ayo Mikoto aku ingin membawamu ketempat sepesial." ucap Fugaku menggandeng tangan kecil Mikoto.
"Ok Kakak!." balas Mikoto bersemangat setelah mendengar kata Sepesial dari Fugaku.