Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB III


__ADS_3

“Aku iri dengan Vita dan Ningsih,” kataku pada Anisa, sahabat karibku.


“Sama. Sayangnya, kita tidak bisa.”


Entah sudah berapa kali saja kami membicarakan hal yang sama. Anehnya, kami sama-sama merasa tidak bosan. Ada banyak kemiripan dalam diri kami berdua. Ada pula beberapa hal yang tidak bisa kami bicarakan dengan sahabat-sahabat lain segamblang jika kami bicarakan berdua. Ada beberapa titik rahasia yang benar-benar hanya diketahui berdua saja.


“Mereka sudah terbiasa berpacaran dengan lelaki yang tidak disuka. Asalkan jemputan dan uang lancar, cinta pun akan mengalir dengan sendirinya,” katanya.


Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Itu memang benar dan bukan sekedar isapan jempol belaka. Bagi kami berempat, itu semacam rahasia terbuka yang layak diketahui bersama-sama. Kami sama-sama mengetahui kekurangan dan kelebihan tanpa harus saling memaksakan idealisme masing-masing. Dan dalam kelompok kami ini, kami berakhir seri, dua banding dua. Aku dan Anisa, sedangkan Vita dan Ningsih.


Vita dan Ningsih, mereka bisa berpacaran dengan siapapun asalkan siap antar jemput dan masalah uang lancar. Bagi mereka, lelaki yang tidak berani modal, tidak berhak pacaran. Sedangkan lelaki yang sering mengatakan cewek matre, sama dengan cowok kere. Berbeda dengan aku dan Anisa, kami tidak mau coba-coba kalau memang tidak suka. Bagi kami, garis antara suka-tidak suka, mau-tidak mau, sangatlah jelas. Kami pun tidak mau menerima uang atau pemberian karena takut dianggap utang. Apalagi kalau jadiannya cuma sebentar dan bakal bubaran. Mending tidak usah. Kami lebih memilih jauh-jauh dari masalah dan tidak mempermasalahkan pula kalau harus jadi jomblo. Itu jauh lebih baik dan menenangkan batin daripada harus menjalin hubungan dalam kepura-puraan, apalagi atas azas coba-coba seperti minuman berhadiah. Nyaman dan bahagia memiliki kadar masing-masing bagi kami berempat.


Selebihnya, contohnya seperti masalah ungkapan cewek matre atau cewek murahan untuk Vita dan Ningsih, serta sebutan cewek ngesok atau cewek berselera tinggi untukku dan Anisa, itu hanyalah sekedar istilah bagi kami. Selama cowok-cowok yang dipacari Vita dan Ningsih tidak pernah merasa dirugikan, serta aku dan Anisa sama sekali tidak merasa merugikan cowok-cowok yang kami tolak, ahhh ... istilah itu semakin mantap saja menjadi sebuah istilah. Kenapa harus kami telaah?


“Lalu, bagaimana dengan tunanganmu, Mbak?” tanya Anisa padaku.

__ADS_1


 


Aku mendesah. Hatiku seketika terasa nyeri. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, diriku saat ini tak ubahnya seperti ditusuk dengan dua pedang sekaligus. Satu tepat di hati, sedangkan satunya lagi tepat di jantung. Apalagi kalau bukan karena belum mau menikah dan terpaksa bertunangan dengan seseorang yang tidak kusukai.


Kalau tidak suka, kenapa pula harus diterima?


Malam itu aku sedang bermalas-malasan di kamarku. Aku enggan ke luar kamar karena sedang memikirkan sesuatu. Jauh dari dalam lubuk hati, aku sendiri belum menemukan jawaban apakah akan menerima tawaran Maulana atau menolaknya saja. Karena mau menyelam sampai sedalam apapun, bahkan sampai ke palung-palungnya, aku belum ada perasaan apa-apa padanya. Bahkan sekarang aku sudah lupa lagi bagaimana rupa dan bentuk wajahnya. Jadi, jangankan untuk memberikan jawaban untuknya malam depan, atau memikirkan bagaimana baiknya bermusyawarah dengan bapak-mamak, bahkan aku sendiripun belum tahu harus apa dan bagaimana menghadapinya nanti.


Pada saat aku masih sibuk dengan pemikiran dan kegalauanku itu, aku mendengar suara orang mengetuk pintu depan rumah dan mengucapkan salam. Bukan hanya seorang, bahkan beberapa. Bahkan aku juga mendengar suara beberapa wanita yang saling melempar komentar akan tanaman bungaku yang lumayan banyak di depan rumah.


Sontak aku langsung bangkit dari tidur-tiduranku. Jantungku seketika melonjak-lonjak, sedangkan hatiku tak kurang bergejolak. Entah sudah berapa kali saja aku meneguk ludah guna mengusir rasa terkejutku, guna menetralisir jantungku yang tak mau diatur, tapi hasilnya nihil. Yang ada tenggorokanku malah semakin kering. Aku berharap dugaanku salah, kekhawatiranku ini tak berarah, tapi aku memang mengenal semua suara milik tamu-tamu yang ada di depan rumah.


"Ini mau ditaruh di mana, Mbah?" tanya suara seorang wanita yang jelas-jelas akrab dalam pendengaranku. "Langsung saya taruh di dapur, ya?"


"Iya, iya. Taruh meja saja. Kok repot-repot," kata Mamak yang menemani wanita itu ke dapur. Sedangkan bapak menerima para tamu lelaki di ruang tamu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mbah. Wong kami datangnya juga dadakan, tidak sesuai jadwal," seloroh wanita itu disusul tertawa kecil. "Maaf ya, Mbah, mengagetkan. Besok kan malam Jumat, yang cowok pada yasinan, jadi takutnya tidak bisa datang. Nanti malah mengecewakan. Daripada datang telat, datangnya malam Sabtu, mending malam ini saja."


"Oh, iya, iya," sahut Mamak yang sepertinya sudah bingung mau menanggapi dengan kalimat apa. Sama halnya seperti diriku yang masih berada di kamar, yang tiba-tiba merasakan seluruh tubuh kaku lantaran suhu kamar yang mendadak jadi seperti lemari es.


Tak lama setelah para tamu semua lengkap berkumpul di ruang tamu dan dibuatkan minuman, Mamak menuju kamarku dan langsung membuka pintu kamarku tanpa mengetuk dulu. Melalui mata tuanya yang sipit dan dari raut wajahnya yang dihiasi keriput, aku menangkap banyak sekali rasa yang bercampur aduk di dalamnya. Selebihnya, kusut! Sekusut otakku yang sekonyong-konyong menciut seperti otak siput.


"Apa yang kamu katakan padanya kemarin?" serang Mamak dengan suara pelan, tertahan, tapi tegas padaku yang hanya bisa berdiri seperti patung.


"Apa yang kamu janjikan pada Maulana kemarin sehingga dia datang sekeluarga besar sekarang?" ulang Mamak.


"Aku nggak bilang apa-apa," kataku yang tak ubahnya seperti orang **** lagi bengong.


Mamak menghela napas lumayan panjang. Selain rasa tertekan, beliau juga tampak iba saat melihatku hanya berdiri seperti orang kebingungan. Karena jujur, aku memang kebingungan. Selebihnya, aku juga merasakan marah. Marah pada diri sendiri, terutama Maulana! Bukankah sudah jelas kesepakatan kami kemarin malam? Datang dua hari lagi dan harus sendiri! Jadi, apa tepatnya yang dia dengarkan dariku dan dia katakan pada keluarga besarnya?


"Siap-siaplah temui mereka. Apapun yang ingin kamu katakan, itu terserah pada keputusan dan kata hatimu sendiri. Mamak tidak bisa ikut berpendapat apa-apa," kata Mamak melunak bercampur sedih, lalu ke luar dari kamarku dan menutup pintu. Bahkan kali ini beliau tidak kuasa menatap lurus ke wajahku saat menyuruhku untuk membuat keputusan sendiri.

__ADS_1


Bagaimana denganku? Tentu saja aku malah semakin bingung! Tubuhku terasa terpontang-panting bersama kemantapan batin yang sedang terombang-ambing. Hatiku akhirnya hanya bisa menjerit;


AKU HARUS BILANG APA!


__ADS_2