Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB V


__ADS_3

Aku meletakkan tas kerjaku di atas kasur dan kubanting tubuhku tepat di sampingnya. Kunikmati setiap hempasan angin dari baling-baling kipas setelah beberapa waktu diterpa panas pada perjalanan pulang kerja. Pun kunikmati nyamannya punggungku yang menempel lurus pada kasur seperti sedang dipijat. Rasanya sangatlah nikmat saat melepas penat dengan cara seperti ini. Jika sudah seperti ini, rasanya tidak perlu memiliki tempat tidur mewah agar bisa melepas penat. Masih ada waktu dan tempat saja sudah lebih dari cukup. (Yang anak rantauan, Cung!🤓).


"Mbak!"


Tiba-tiba saja Isti, teman se-messku datang menghambur di sebelahku seraya menunjukkan layar ponselnya. Sebenarnya, yang benar-benar tinggal di mess itu Isti. Sedangkan aku hanya nebeng tidur di mess saat kerja shift siang (dari jam 14.00 s/d 22.00 WIB). Aku pulang ke rumah setelah seminggu masuk sore tinggal di mess untuk menjalani seminggu masuk pagi. Begitu seterusnya. Dan sebenarnya lagi, alasan kenapa aku memilih tinggal di mess saat masuk sore, selain karena aku kerap ketinggalan bis karyawan pada jam pulang malam, aku juga ingin menghindari bertemu dengan Maulana meskipun dia menyanggupi antar-jemput selama shift sore. Apalagi dia belum mendapatkan pekerjaan setelah pulang dari merantau dan bertunangan denganku.


"Apa?" sahutku dengan malas.


"Liat deh! Menurut Sampean, dekornya bagus yang mana?" tanyanya seraya menunjukkan layar ponselnya. "Yang ini atau ini, Mbak?"


Aku melihatnya dengan seksama sebelum memberi penilaian. "Yang ini bagus, tampak mewah," kataku seraya menunjuk ke layar ponselnya.


"Jelaslah! Jaraknya dengan dekor yang ini aja sampai lima juta sendiri lho!" katanya sangat antusias.


Btw, Isti ini sebentar lagi akan melangsungkan akad nikah. Jadi, aku maklum kalau dia sedang gencar-gencarnya mencari dekor yang pas dan disukainya. Aku pun ingin menjadi teman nebeng di kamar mess-nya yang baik karena sebentar lagi dia akan resign. Selain itu, secara diam-diam aku merasa iri pada pasangan muda yang berani memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan. Contohnya ya seperti si Isti dan pasangannya ini.


Selain dia, masih ada pasangan muda lain yang membuatku merasa iri sekaligus kagum. Ialah Marisa dan pasangannya. Aku masih ingat, mereka ini sering dijuluki sebagai anak kecil pembuat anak kecil, karena selain masih berumur muda, keduanya pun memiliki postur tubuh yang bisa dibilang mungil. Selain berani mengambil keputusan menikah muda, begitu keduanya sama-sama tidak bekerja lagi, mereka terima tinggal di sebuah warung sewaan yang luasnya sama dengan kamarku. Di mana tempat masak, tidur sekaligus berjualan kecil-kecilan dilakukan di ruangan yang sama. Belum lagi harus mengurus bayi mereka yang baru berumur beberapa bulan.


Sungguh! Kisah cinta dalam perjuangan mereka ataukah kisah perjuangan dalam cinta mereka sangatlah besar. Dibutuhkan cinta yang teramat kuat dan besar yang belum tentu dimiliki oleh orang-orang pemberi julukan anak kecil pembuat anak kecil. Sekali lagi, aku benar-benar kagum sekaligus iri pada pasangan ini.


Ah, seandainya saja aku memiliki perasaan cinta yang sedalam itu, aku pasti akan dengan senang hati dan siap menikah. Memang benar jika cinta saja tidak akan membuat perut kenyang. Namun, paling tidak kita ada alasan untuk tetap bertahan karena adanya tujuan dan sandaran.


"Mbak, menurutmu salah nggak sih kalau aku pengen rame-rame saat nikah nanti?" tanyanya yang tiba-tiba sedih.


"Ya, nggaklah. Wajar aja sih. Aku aja pengen kok!" kataku menanggapi. Kalau saja aku bertunangan dengan lelaki yang kusukai, aku pasti juga akan se-antusias dirinya. Bahkan aku juga pasti akan memiliki angan-angan seperti kebanyakan gadis, seperti halnya ingin memiliki berapa anak dengan pujaan hatinya dan banyak lainnya.

__ADS_1


"Banyak sih Mbak, temen yang komen, yang katanya jangan buang-buang uanglah, inilah, itulah. Sebenernya, kalau cuma komen temen sih aku nggak begitu peduli. Tapi saat yang bilang itu simbahku sendiri, aku jadinya agak down," ungkapnya


"Orangtuamu, bagaimana?"


"Mereka sih setuju, Mbak. Apalagi kan anak mereka cuma dua. Adikku juga masih SD. Jadi, masih lama lho punya hajat lagi. Sedangkan aku ini hajatan pertama mereka bisa dibilang."


"Tabungan ada? Atau kamu mau jual apa gitu? Atau malah mau minjem buat modal nikah? Resepsi nikahan itu bukan bisnis lho," kataku setengah berseloroh.


"Ih, nggaklah, Mbak! Aku sama mamas tuh udah ada tabungan khusus buat nikah. Apalagi sesudah nikah nanti, aku dan mamas sama-sama resign. Tempat kerja mamas sekarang kan nggak memperkerjakan orang yang udah nikah, jadi mamas juga udah nyiapin dana buat modal usaha."


"Kenapa mamasmu tidak diajak ke sini aja?" usulku. "Kan kamu masih bisa kerja di sini tanpa harus resign. Sedangkan mamasmu bisa nyari kerjaan di pabrik atau tambak gitu."


"Kami sih sempet mikir gitu, Mbak. Tapi mamak dan bapakku nggak ngasih restu. Katanya, kalau aku udah ada niatan nikah dan mamas berani nikahin aku, ya harus di rumah. Akunya nggak boleh kerja jauh lagi," katanya.


"Oh, ada ya tempat kerja yang punya aturan gitu? Yang hanya memperkerjakan orang berstatus singel?" tanyaku yang lebih mempermasalahkan itu daripada tentang pemikiran kedua orangtua Isti. Meskipun bagiku sebagai pendengar agak aneh, apalagi di era modern seperti sekarang ini, yang pasangan menikah bisa merantau bersama untuk membangun masa depan bersama juga, tapi aku tidak mengungkapkannya. Takut menyinggung.


"Ya, udahlah. Jangan malah jadi jengkel sama simbahmu. Beliau begitu pasti karena ada rasa peduli. Lagian, yang menetapkan keputusan kan tetap kalian berdua. Asli udah ada tabungan, kan?"


"Iya. Mbak."


"Ya, udah. Beres. Tinggal nyari dekor yang sesuai kebutuhan dan bajet. Kalau bisa, jangan sampai ngutang atau melebihi bajet dari tabungan yang kalian punya. Jangan juga ngandelin dari amplop para undangan. Namanya juga undangan, kondangan, apalagi nyumbang, sumbangan. Ya, suka-suka yang diundangkan mau datang apa nggak, mau nyumbangnya berapa."


"Iya, ya, Mbak."


"Ya, iyalah!"

__ADS_1


Seketika raut wajahnya berubah bahagia lagi.


"Terus, Sampean kapan, Mbak? Kok aku jarang denger Sampean cerita tentang tunanganmu sih, Mbak?" tanyanya seraya menoel lenganku. "Siapa Mbak, nama tunanganmu itu?"


"Maulana."


"Lengkapnya?"


"Aku nggak tahu."


"Kok?" Isti tampak terkejut. "Lha, gimana? Orang nama lengkap tunangan sendiri kok bisa nggak tahu!"


Aku diam. Enggan sekali rasanya mau menjawab. Rasanya saja, aku ini sudah cukup bersusah payah melupakan kenyataan pahit satu itu pada jam kerja dan jam makan tanpa perlu ada orang lain yang mengingatkan.


"Jangan bilang kalau Sampean belum ada rasa suka sama dia!"


Aku diam lagi. Semakin enggan untuk menjawab.


"Mbak, mau bagaimana pun perasaanmu, jangan sampai Mbak kayak Thea' lho!"


"Siapa Thea'?"


"Itu lho, anak bagian setting. Dia itu didenda 15 juta karena ketahuan selingkuh sama tunangannya. Di area proses, berita tentang Thea' itu lagi trending tahu! Mbak jangan kayak dia, ya? Udah didenda, nggak jadi nikah, terpaksa ke luar kerja meski tidak ada rencana karena malu, juga malu-maluin keluarga juga. Pokoknya, Mbak jangan sampai kayak gitu, ya! Aku seriusan ini. Aku aja yang cuma denger ikutan ngerasa ngeri. Kalau Mbak sampai begitu, aku nggak mau akui Sampean sebagai temen lagi!"


Selepas berkata panjang lebar begitu, Isti langsung bangkit dan pindah ke kasurnya sendiri. Meninggalkanku bersama kubangan kekhawatiran yang semakin dalam. Bahkan karenanya, badanku sampai terasa panas-dingin. Aku mendadak terserang demam akibat dari cerita Isti mengenai Thea' barusan.

__ADS_1


Siapapun dia, bagaimana rupanya, apakah dia bisa bertunangan karena terpaksa sepertiku saat ini juga? Jika iya, aku bisa paham bagaimana perasaannya. Namun, saat menyangkut tentang masalah perselingkuhan, otakku yang ada langsung kisut dan hatiku mengerut.


Aku benar-benar takut. Aku seperti tengah berdiri di tepian jurang yang sangat dalam, gelap, tapi berhawa panas. Aku benar-benar ketakutan. Sekalipun posisi antara aku dan Thea' sama, akankah aku memiliki keberanian yang sama sepertinya untuk berselingkuh? Jangankan kesempatan untuk selingkuh, aku pun lebih memilih menolak daripada harus coba-coba menjalin hubungan. Kecuali kisahku dengan Maulana. Jika, seandainya saja, imanku tak lagi kokoh dan godaan setan berhasil merobohkanku, apa yang akan terjadi padaku? Orangtuaku?


__ADS_2