
Kisah cintaku selalu berjalan sempurna. Aku pun selalu mendapatkan pasangan seperti yang kuinginkan. Bagiku, itu tidak sulit. Sedangkan untuk cinta-cinta lain yang berhamburan di sekitarku, aku hanya menganggapnya sebagai pemanis. Pemanis yang ala kadarnya saja. Mereka boleh datang dan pergi sesuka hati, baik yang tanpa diundang atau memang sengaja kutantang, baik yang kuabaikan maupun yang sedikit kumainkan. Ini bukan sekedar gurauan, apalagi kibulan. Aku memang sangat menarik hampir bagi siapa saja.
Sempat pula aku bertanya-tanya, bagaimanakah rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Aku belum pernah merasakannya. Apakah menyakitkan? Apakah rasanya sama saja dengan perasaan saat kita ditinggal seseorang yang kita cinta? Padahal, pada dasarnya kita saling mencinta? Kalau sama, berarti aku tahu bagaimana rasanya. Ya, aku pernah ditinggalkan. Sekali. Cukup sekali saja! Memang siapa pula hati manusia yang merasa ketagihan ditinggalkan? Bisa saja ada, tapi itu hanya untuk seseorang yang sudah melewati garis gila.
Mungkin sejak itulah aku tidak lagi mempermainkan cinta-cinta lain yang kuanggap sebagai pemanis ala kadarnya itu. Aku tidak lagi menantang, apalagi mempermainkan meski sedikit. Kalau pun cinta pemanis itu datang tanpa kuundang, aku akan dengan halus menolaknya sejak awal. Sungguh, aku berubah jadi orang yang sopan. Selain itu, aku juga memutuskan bahwa aku harus benar-benar memilih pasangan tetap kali ini.
Sialnya, saat aku memilih pasangan tetap yang kuinginkan, waktunya juga bersamaan dengan menolak sesosok cinta pemanis. Lebih sialnya lagi, cinta pemanis yang satu ini memang sengaja kutantang dan sudah kupermainkan. Walaupun pada akhirnya dia memilih mundur, tapi tak bisa kubayangkan bagaimana perasaannya kala itu. Pasti sama saja dengan perasaanku yang pernah ditinggalkan. Namun, apa boleh buat. Semuanya sudah terlambat.
Kali ini, kalau tidak salah sudah lima tahun lamanya, antara aku dan dia sudah tidak pernah lagi berjumpa. Saling bertukar kabar pun tidak. Namun, entah kenapa tiba-tiba bayang wajahnya selalu muncul dalam benakku dan juga mimpiku. Entah sejak kapan. Aku tidak tahu pasti. Mungkin saja sejak aku jatuh sakit dan beberapa kali tidak sadarkan diri.
Sialnya lagi, wajahnya yang muncul dalam benak dan mimpiku itu tidak menampakkan raut yang ceria. Wajahnya, senyum dan tatapannya tampak hambar dan hampa. Aku sama sekali tidak melihat kebahagiaan pada wajahnya. Meskipun hanya dalam khayalan, aku sama sekali merasa asing padanya.
Bagaimanakah kabarnya sekarang? Aku jadi bertanya-tanya. Tanya-tanya itu pun berimbas pada rasa penasaran dan akhirnya menghempas pada kerinduan yang mendalam.
Aduh!
Ada apa ini? Bukankah dia dulu hanya sosok yang hadir sebagai cinta pemanis? Lalu, kenapa aku sampai bisa memikirkannya lagi dan merindukannya? Apakah diam-diam sudut hatiku yang lain ada yang menikungku? Semacam rasa penyesalan mungkin. Aku rasa sih bukan. Satu yang jelas, aku kecolongan.
Berbagai tanya itu kujawab sendiri sebisa mungkin. Yang intinya, jawaban itu berupa pembelaan-pembelaan pada diriku sendiri. Aku mengaku bahwa aku pernah bersalah padanya. Memang sih aku tidak pernah secara gamblang meminta maaf dan secara halus menolaknya dengan cara memilih yang lain. Toh pada akhirnya dia yang mundur sendiri. Akan tetapi, ampun!
Aduh! Aduh!
Perasaan macam apa ini? Karena semakin kupikirkan, semakin kuenyahkan, hatiku malah semakin ruwet. Imbasnya, sakitku pun semakin bertambah parah. Aku kerap pingsan dan jadinya kerap pula melihat bayang-bayang wajahnya. Aku rasanya hampir gila.
“Ren, boleh aku meminta sesuatu darimu?”
“Tentu saja boleh dong.”
Jawabannya begitu enteng. Ah, dia memang selalu begitu. Selalu baik dan hangat. Begitulah kekasihku. Pasangan tetap yang sudah kupilih. Dan saat melihat wajahnya yang selalu dipenuhi senyum itu, aku jadi tak tega. Permohonan yang sudah kupersiapkan berhari-hari, ditambah dengan sangat hati-hati pun menguap dalam seketika. Hatiku malah jadi gundah, sedangkan pikiranku tak kurang runyamnya.
“Kok diam? Mau minta apa memangnya?”
Aku berusaha mengatur napas. Kenapa rasanya begitu berat? Aku sudah terbiasa blak-blakan dengannya. Hampir tidak ada yang kami tutupi. Namun, kali ini sangatlah berbeda.
“Kamu masih ingat Wulan?”
Raut wajahnya seketika berubah. Antara aku dan dia dalam kamar ini seolah ada jeda menuju dunia lain. Waktu pun seolah melambat. Dalam jeda yang dibalut keheningan ini, kami bahkan bisa mendengar degup jantung satu sama lain.
“Ada apa dengannya?”
Suaranya bagaikan hawa dingin yang menusuk tulang.
“Aku ... aku ingin bertemu dengannya. Maukah kau mencarinya?”
Terjadi jeda lagi, tapi kali ini jauh lebih lama. Entah kenapa, mungkin hanya perasaanku saja, suhu dalam ruangan ini terasa dingin sekali. Apakah dia marah? Bukankah kemarahan seharusnya menciptakan suasana yang panas? Entahlah. Aku sudah pasrah. Karena mau bagaimana pun juga, permohonan itu sudah kuucapkan. Bukan pada ibu peri, tapi padanya. Sedangkan dia bukanlah peri pelindung yang selalu bisa mengabulkan setiap mohonku.
“Sekali saja, Ren. Sekali saja!”
__ADS_1
Aku merasa seperti anak kecil. Anehnya, aku sama sekali tidak bisa menahannya. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku sebagai wujud permohonan. Permohonan yang barangkali sangat tidak masuk akal baginya. Seandainya saja aku ini sedang tidak sakit, akankah dia menampar atau bahkan menonjok mulutku yang lancang ini? Entahlah.
“Aku hanya butuh waktu sehari. Setelah itu tidak akan ada lagi. Aku, ... maksudku, kita akan kembali seperti sebelumnya dan tidak perlu ada yang berubah. Aku bisa menjanjikan itu padamu. Ya, sehari saja sudah cukup.”
Aku tidak berani lagi menatap wajahnya. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Aku anggap sudah mencapai titik akhir dari permohonanku. Karena kenyataannya aku memang sudah pada penghabisan. Aku terus didera rasa misterius terhadap gadis itu dan sulit untuk kuterjemahkan. Aku ingin tahu. Sangat ingin tahu. Dan itu bisa kuketahui kalau aku sudah bertemu dengannya. Akankah dia mengerti perasaanku?
“Ren?”
“Aku akan memikirkannya.”
“Sampai berapa lama?”
“Entahlah.”
Aku belum lagi sempat membuka mulut saat dia bergegas ke luar dari kamarku.
Kau ini benar-benar terkutuk, Setya!
Aku mengutuk keras-keras diriku sendiri dalam hati. Seharusnya aku tahu! Dan kenyataannya aku memang sudah tahu kalau permohonan itu pasti akan membuatnya remuk redam. Namun, apa yang sudah kulakukan? Bahkan dia pergi tanpa menanyakan alasannya. Kenapa tiba-tiba aku ingin bertemu dengan Wulan setelah lima tahun lamanya? Seharusnya dia bertanya. Ya, seharusnya dia menanyakannya! Namun, kenyataannya tidak. Bukankah itu sudah cukup dijadikan bukti bahwa hatinya benar-benar terluka?
Kurebahkan tubuhku dan kupejamkan mata. Ah, rasanya sangat sesak. Wajah itu lagi. Masih dengan raut dan senyumnya yang hampa dan hambar. Kenapa matamu begitu kosong, Wulan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apakah kau sangat dendam padaku hingga aku harus terdampar dalam karma ini? Apalagi aku sedang sakit seperti ini.
Ah, ya! Aku lupa. Karma memang seharusnya sangat menyakitkan hingga kita benar-benar tersadar. Orang sepertiku ini memang sewajarnya ditampar. Dan ah, sudah! Tamatlah sudah. Keinginanku untuk bertemu dengan Wulan tidak akan pernah terjadi. Sedangkan perasaan yang sangat menyiksa itu akan terus menggerogoti. Hatiku benar-benar patah.
“Aku akan mencarinya.”
“Cepat sekali kau memikirkannya? Aku pikir, kamu tidak akan pernah memenuhi permohonanku tadi,” kataku yang masih didera rasa tak percaya.
“Kamu benar. Aku sempat tak sudi melakukannya.”
“Aku tahu itu,” ucapku lirih. “Lalu, apa yang membuatmu berubah pikiran.”
“Kalau tidak aku, apakah kamu akan meminta keluargamu memenuhinya?”
Aku menggeleng. Aku tidak mungkin memintanya pada keluargaku. Aku benar-benar sangat menghargainya sebagai kekasihku. Walaupun kenyataan dari inti permohonan itu sendiri tidak bisa dibilang menghargai. Yah, mau bagaimana lagi? Permohonan itu sudah kuucapkan juga, itu yang pertama. Aku memang tidak bisa menahannya, itu yang kedua. Aku akan jujur mengungkapkan alasanku kalau dia bertanya, dan itu yang ketiga.
“Hanya kamu yang bisa.”
Dia mendengus. Entah dia akan mempercayai ucapanku atau tidak. Yang jelas, aku memang menginginkan dia yang melakukannya. Itu jauh lebih baik daripada harus menyembunyikannya darinya. Efek sampingnya tentu bisa jauh lebih buruk lagi.
“Sehari saja.”
Dia tidak bertanya. Karena tidak mungkin dia menawariku waktu yang jauh lebih lama dari sehari itu. Tidak apa bagiku. Karena sehari itu sudah cukup dan aku akan menepatinya. Setelahnya, kami akan kembali seperti sebelumnya. Anggap saja tidak ada sehari itu. Bisa jadi tidak akan mudah baginya. Tapi paling tidak, sudah tidak ada lagi perasaan menyiksa itu yang akan mengganggu hubungan kami ke depan jika tidak segera diselesaikan. Begitulah kira-kira pertimbanganku.
“Ya. Sehari saja.”
Aku menyanggupi. Aku pun tersenyum. Rasanya sangat lega saat aku mendengar kesanggupannya. Rasa lega dan bahagia itu sangat sulit untuk kulukiskan. Seolah-seolah aku ini belum pernah merasakan bahagia. Namun, begitulah adanya. Aku tidak bisa berbohong.
__ADS_1
“Kapan kau akan mencarinya?”
“Segera.”
Jawabannya begitu mantap. Nyaris tidak ada keraguan di dalamnya. Dan tanpa bertanya kenapa, aku pun sudah tahu alasannya. Dia cemburu. Tentu saja dia ingin segera menyelesaikannya. Kalau aku ini dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama.
Ah, bohong besar! Karena setelah aku pikir-pikir, dialah kekasih terbaik. Sedangkan aku ini hanyalah kekasih yang payah. Tak tahu diri! Kalau aku ini jadi dia, mana mungkin aku mau melakukan hal seberat ini. Karena aku ini memang bedebah yang egois.
“Aku akan memberikan alamatnya tinggal.”
“Nomor hp?”
“Aku sudah lama kehilangan kontak dengannya.”
Aku menangkap kilat lain dalam matanya. Dan aku paham apa artinya itu.
“Ren, apakah kau marah padaku?” tanyaku lembut. Bukan untuk merayu apalagi merajuk. Karena ini sudah telanjur, maka aku harus menjaganya baik-baik.
“Tentu saja. Kau bodoh sialan!”
Aku tertawa getir. “Maafkan aku, Ren. Aku janji. Sehari saja.”
Dia tidak menanggapi. Namun, sepertinya dia bisa menangkap kegetiran dalam tawaku.
“Sudah kau pastikan statusnya?”
“Status apa?”
“Bukan status facebook jika itu yang kau pikirkan. Melainkan status hubungannya dengan seseorang. Apakah dia sudah menikah? Karena kalau dia sudah menikah, urusannya akan panjang. Tidak mudah membawa istri orang.”
“Tenang saja. Dia belum bersuami. Hanya saja sudah bertunangan.”
“Bagus! Sekarang aku punya misi membawa kabur tunangan orang.”
Aku kembali tertawa. Namun, kali ini aku merasakan hatiku semakin membaik. Aku tak menyangka akan selancar ini. Keinginanku akan terkabul. Aku bisa bertemu dengan Wulan dan menemukan jawaban tanpa harus sembunyi-sembunyi dari kekasihku. Itu sangat melegakan.
“Hanya sehari. Aku janji, Ren.”
“Iya. Aku dengar. Mau sampai berapa kali kau mengatakannya?”
“Sementara itu berlangsung, seberapa marah pun kau padaku, tolong jangan lakukan sesuatu terhadapnya.” Wajahku berubah serius.
Ya, dalam hati pun aku tidak main-main dengan kalimat itu. Dia tidak boleh hilang kendali. Meskipun kecemburuan itu akulah pemicunya. Kalau aku ini seorang egois, baiklah, aku dengan senang hati menerimanya. Aku juga mengakuinya. Namun, mengesampingkan akan hal itu, secara pribadi aku merasa ini menjadi kepentingan kami bersama. Bukan aku saja.
Poin pertama, aku tidak berbohong. Poin kedua, aku memang hanya ingin menyelesaikan urusan perasaan yang tiba-tiba datang itu.
Bagaimana kalau aku abaikan? Tidak bisa. Aku sudah membuktikannya. Yang ada, sakitku malah bertambah parah. Selain itu, rasanya tidak enak saat kita bersama kekasih sendiri, tapi malah membayangkan wajah orang lain. Inilah yang aku maksudkan sebagai kepentingan bersama. Perasaan tak berdaya ini harus segera dikelarkan.
__ADS_1
Sudah. Itu saja. Titik. Karena semakin ditampik, akan menjadi semakin tak baik.