Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB VII


__ADS_3

Pagi itu, aku menyambut munculnya mentari dengan lesu. Aku menyambar tas kerjaku dengan malas dan kulangkahkan kaki dengan gontai. Begitu hendak membuka pintu, kuhembuskan napas panjang yang malah membuat dadaku semakin sesak, bukannya lega. Di halaman rumah, aku melihat sosok Maulana yang datang menjemputku.


Sebenarnya, aku sangat ingin tidur di rumah meskipun harus bersusah payah mencari tebengan saat masuk shift sore. Namun sekarang, jangankan shift sore, bahkan shift pagi pun aku tidak ingin lagi berada di rumah. Bahkan rasanya, aku ingin raib saja dari dunia ini. Aku benar-benar tak berselera lagi untuk melangkah dan menata pikiran. Aku kelam. Dan dia, lelaki yang sekarang menjadi tunanganku ialah salah satu alasan terbesarnya.


"Aku sekarang sudah dapat kerja, Dek," katanya memulai pembicaraan saat dalam perjalanan mengantarku berangkat kerja. "Ya, bukan pekerjaan tetap sih. Serabutan."


"Oh, syukurlah."


Komentarku memang datar, pun tidak ada keinginan untuk memberi semangat karena memang tak ingin. Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang memperhatikan hubungan dalam jenis apapun melalui status sosial maupun pekerjaannya. Namun, kali ini berbeda.


Dulu, seingatku, aku juga pernah berpacaran dalam perasaan seperti ini, tidak suka. Aku hanya menuruti saran temanku, coba-coba, yang barangkali akan mengubah anggapanku bahwa aku tidak bisa jatuh cinta lantaran terbiasa hanyalah hoax. Katanya, jika aku tidak mencoba, mana aku bisa tahu. Kenyataannya, seperti halnya saat ini, aku merasa tersiksa. Aku tidak terbiasa berpura-pura. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, garis antara suka-tidak suka dan mau-tidak mau sangatlah jelas bagiku. Untungnya, dia membuat ulah dengan memintaku berciuman dengannya sebagai tanda cinta. Tentu saja aku tidak mau dan berusaha memberi pengertian padanya. Terlebih aku tidak menyukainya. Aku pun menjelaskan prinsip hidup yang selama ini aku pegang dan jalani. Jika dia memang jodohku, jangankan bibirku, tubuhku, hatiku, bahkan kesetiaanku pun hanya untuknya. Namun, dia tetap memaksa sehingga bisa kujadikan alasan untuk meminta putus darinya. Seingatku, usia pacaran kami kala itu belum genap sebulan.


Poin terpenting dalam kisahku di atas ialah kami hanya pacaran. Masih bisa diputuskan menggunakan apapun alasannya, mungkin memang sudah keadaan atau memang begitulah nasibnya. Sedangkan aku dan Maulana sudah bertunangan. Tunangan! Satu kata itu seperti membuat syok tiap kali berdenging-denging di telingaku. Otakku pun langsung penuh. Memang benar sebuah ikatan, bahkan sampai ke pernikahan yang sudah bertahun-tahun pun, tak lantas menjamin kelanggengan. Bisa saja terjadi perceraian yang disebabkan oleh banyak hal. Namun, hal itu justru semakin membuatku takut. Mundur tak berani, dihadapi ngeri.


"Oh, ya. Mudah-mudahan Sampean cocok sama pekerjaannya," kataku sebagai tanda menyudahi pembicaraan.


"Iya."


Setelah percakapan itu, waktu selama lima belas menit menuju tempat kerja, hanya digunakan dengan berdiam diri saja. Bahkan aku tidak bersalaman dan mencium tangannya seperti kebanyakan pasangan.


"Hei, Wulan!"


Aku menoleh. Kudapati wajah Pak Edi yang sudah menyamai langkahku. Beliau ini ialah pengawas bagian produksi di areaku bekerja. Sekalipun kami bekerja di area yang sama, tapi aku berada di bawah naungan departemen yang berbeda.


"Itu tadi yang mengantarmu siapa?"

__ADS_1


"Tunanganku, Pak," kataku dengan berat.


"Ah, becanda kali kamu!"


"Nggak kok. Emang benar dia itu tunanganku," kataku kembali meyakinkannya meskipun pengakuan itu membuat perutku mual. Sekalipun aku tidak menyukainya, aku masih pada batas tahu diri agar jangan sampai meniadakannya.


"Sayang banget," ujarnya.


"Sayang kenapa, Pak?"


"Masa' sama aku masih jelekan dia sih. Aku aja sudah termasuk jelek dan item lho. Ternyata masih ada yang lebih ya. Sayang kamunya aja," katanya yang kemudian berlalu mendahuluiku.


Deg!


Astaghfirullahaladzim.


Aku jadi merasa bersalah, bebanku pun semakin bertambah. Merasa bersalah karena tak bisa mencintainya dengan ikhlas, sehingga aku pun terbebani karena tak bisa melindungi harga dirinya sebagai tunanganku dengan pantas. Hatiku sama sekali tak bebas.


"Ada apa, Mbak?" tegur Anisa yang melihatku bersandar di tiang sambil melamun.


"Apa aku gila?"


"Menurut Sampean? Memang Sampean pikir Sampean waras gitu?" selorohnya.


Aku tersenyum sedikit. "Aku ingin sekali bisa jatuh cinta. Bahkan aku selalu memegang prinsip agar melindungi kesucianku hanya untuk suamiku kelak. Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya ciuman itu. Selain untuk suamiku, aku pun melakukannya untuk melindungi orangtuaku. Katanya, anak gadis yang melindungi kesuciannya sampai dihalalkan, itu bisa membantu orangtuanya masuk surga."

__ADS_1


Anisa hanya mengangguk-angguk.


"Tapi sekarang, aku merasa kalau itu percuma saja," kataku.


"Kok bisa?" tanya Anisa agak terkejut. Meskipun aku belum mengatakan apapun yang berkaitan dengan kalimatku yang terakhir itu, tapi sepertinya dia mencium adanya ketidak-beresan di dalamnya. "Sampean jangan mulai gila, Mbak! Bahkan diam-diam aku memuji ketekunan Sampean dalam mempertahankan prinsip yang satu itu lho. Bahkan Sampean masih bisa bertahan saat dengan lelaki yang Sampean suka."


Itu memang benar. Selain kisah di atas tadi, aku pun sempat berpacaran dengan lelaki yang aku sukai. Meski begitu, aku tak lantas tergoda untuk melakukan hal-hal di luar prinsip sekalipun sangat ingin. Yah, semua orang pasti pernah mengalami kasmaran. Jangankan untuk dipegang, disentuh, dipuji, melihat sosoknya dari kejauhan saja sudah membuat hati deg-degan. Ya, aku pernah merasakannya sebelum hatiku berakhir kelu seperti saat ini. Dan rasanya, aku sudah sangat asing dengan rasa yang bernama jatuh cinta. Diam-diam, aku merindukannya.


"Ah, kamu terlalu memuji," kilahku.


"Aku serius ini! Hayo, apa sebenarnya yang ada dalam otakmu sekarang!" tuding Anisa.


Aku tersenyum miris. Untuk beberapa saat, aku hanya memejamkan mata sambil agak menengadah. Hatiku menjerit-jerit, tapi seperti biasanya, air mata sama sekali tidak menetes. Entah apa penyebabnya, serta kapan mulainya, aku jadi sosok yang sangat sulit mengeluarkan air mata. Saat dadaku sesak menahan beban berat, tapi ingin sekali bisa menangis, aku kerap menonton film-film sedih supaya merangsang air mataku ke luar. Namun, cara itu pun belum tentu berhasil. Lebih sering ya nihil. Jika cara itu tak berhasil, aku memilih bermimpi daripada banyak mikir.


"Mbak?" Anisa menggoyang-goyang lenganku. Seolah aku ini sedang memasuki tahap koma dan dia selaku perawat yang harus menyadarkan sebelum aku benar-benar tertidur.


"Aku hanya sempat berpikir kalau percuma saja mempertahankan kesucian, sampai bahkan belum pernah berciuman itu hanya demi suamiku kelak, tapi ujung-ujungnya harus diserahkan untuk lelaki yang tidak kita suka. Kalau menolak melayani, dosa, tapi kalau melayani, tidak ikhlas. Apa begitu bisa dibilang sebagai ladang pahala? Ah, aku pikir, orang-orang yang bilang begitu karena tak pernah merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Atau mungkin hanya orang-orang yang keikhlasannya sudah di luar nalar manusia biasa. Iya, kan? Bukannya percuma? Sia-sia? Apa nggak mending aku nyewa ****** yang wajah dan posturnya sesuai seleraku, lalu aku bercinta dengannya," ocehku kalap.


"Astaghfirullahaladzim. Sampean gila! Benar-benar gila!" pekiknya tak karuan seraya memukul lenganku dengan keras.


"Katamu, aku memang gila? Kenapa tidak aku tuntaskan sekalian kegilaanku ini!" tuntutku.


"Sampean memang gila, tapi aku harap tidak sampai segila ini, Mbak!" sungutnya. "Istighfar, Mbak! Istighfar!"


"Kok kamu malah kayak sinetron sih!" kataku berupaya berkelakar, tapi sepertinya tidak berhasil karena Anisa sudah keburu syok duluan dengan perkataanku tadi. "Itu hanya pemikiranku kok. Sekalipun aku tidak setaat kamu, tapi aku masih inget dosa."

__ADS_1


Anisa menghela napas lumayan panjang. "Lalu, apa yang akan Sampean lakukan? Sampean nggak mungkin begini terus, kan? Apa Sampean tetep mau lanjut? Kalau lanjut, harus bagaimana? Kita ini sama, Mbak. Sama-sama tidak bisa melakukan apapun karena terpaksa."


Aku diam. Aku sama sekali tidak ada jawaban. Otakku buntu, sedangkan hatiku lebih runyam dari itu. Semakin aku berpikir, semakin aku merasai sambil mengingat wajahnya, yang ada hasratku semakin kelabu. Aku hanya takut, saat hasrat itu secara perlahan jadi menghitam dan semakin menghitam, apakah aku akan sanggup bertahan? Apakah aku masih teringat akan namanya dosa? Bagaimana caranya aku mengakhiri semua ini?


__ADS_2