
Siang itu, setelah beberapa lama tidak bertemu dengan Anisa, sabahat karibku karena kami sudah berada di area dan naungan departemen yang berbeda, kami pun tanpa sengaja bertemu di kantin. Selain dia, masih ada Ningsih, Kang Mur dan beberapa rekan lain. Untuk beberapa saat, kami saling menyapa dan mengobrol ringan sampai akhirnya Mbak Nike dan Wanti memanggilku.
"Udahan dulu ya. Aku mau makan dulu," kataku berpamitan pada mereka.
"Eh, Mbak!" panggil Anisa sehingga membuatku urung melangkah.
"Apa?"
"Mau bareng nggak kondangan tempat Vita?" tanyanya.
"Boleh. Jam berapa?" aku balik tanya.
"Selepas Maghrib aja ya? Atau nanti sore aku WA lagi," katanya. "Mau rombongan nggak, Mbak, biar rame?" tanya Anisa beralih pada Ningsih.
"Aku nggak janji ya. Aku bisa sorenya, bisa juga malemnya. Tergantung my bojo. Kalau nggak ya kita ketemuan aja di sana," jawab Ningsih.
"Okelah," ujar Anisa yang kembali berpaling padaku. "Nanti aku WA lagi ya."
"Oke," aku mengangkat jempolku. "Makan dulu ya!"
Namun, baru saja aku akan melangkah lagi, ada seseorang yang memanggilku sehingga membuat langkahku lagi-lagi terhenti.
"Hahahaha, nggak jadi makan kamu!" ledek Kang Mur seraya bangkit dari tempat duduknya. "Aku duluan ya!"
Aku hanya melambaikan tanganku pada Kang Mur yang berjalan ke luar kantin.
"Laris kamu, Mbak, dipanggilin terus," sambut Anisa melanjutkan ledekan Kang Mur yang baru saja pergi.
"Dasar wanita panggilan!" timpah Ningsih.
Aku hanya menanggapi ledekan mereka dengan cibiran. Sebelum berbincang-bincang dengan seseorang yang memanggilku itu, aku memberi kode pada Mbak Nike dan Wanti agar makan lebih dulu.
"Apa, Mas?" tanyaku pada Mas Taufik, seseorang yang memangggilku tadi.
"Kamu kenal sama Nanang nggak, Lan?" tanyanya.
"Nanang?" aku menggumam sembari mengingat-ingat. Tapi seingatku, aku tidak pernah memiliki teman atau kenalan yang bernama Nanang. Lalu, aku pun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Dia dulu di bagian FPI, tapi plant satu," katanya memberitahu.
"Wah! Aku bukan jebolan plant satu dan masih terhitung baru juga. Ada yang kenal?" tanyaku pada Ningsih dan Anisa yang turut mendengarkan pembicaraan kami.
"Sepertinya sih pernah dengar nama itu," ujar Anisa tak yakin. Sedangkan Ningsih hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Sekarang masih kerja nggak? Maksudku, sekarang di plant dua jadi apa gitu?" tanya Ningsih.
"Dia udah lama resign. Bahkan jauh sebelum plant satu ditutup," kata Mas Taufik.
"Wah! Ya, entah! Orang-orang di sini banyak yang ke luar masuk sih," kata Ningsih yang langsung diiyakan oleh Anisa.
"Memangnya ada apa, Mas?"
"Dia nyariin kamu. Katanya, dia nyari cewek bagian Quality Control yang namanya Wulan. Dan setahuku, satu-satunya QC yang bernama Wulan ya kamu aja, kan?" katanya memastikan.
"Iya. Tapi sekarang kan aku bukan QC," kataku.
"Ya sekalipun kamu bukan QC lagi, namamu kan tetep Wulan tho? Wulan mantan QC gitu," sambar Ningsih.
"Iya ya." Aku tertawa.
"Lagian jangan terlihat sengsara gitulah karena udah didepak dari QC," ujar Ningsih melanjutkan ledekannya.
"Dasar!" umpat Anisa menambahi.
Aku hanya tertawa lagi.
"Kalau kamu penasaran, sekarang dia masih ada di Bratasena. Dia nginep di Roni, penginapan Roni. Tahu, kan?" lanjut Mas Taufik.
Aku mengangguk.
Aku ganti menggeleng. "Biarin ajalah, Mas. Orang aku nggak kenal juga. Kali cuma iseng-iseng nanya. Kalau pun dia memang ada kepentingan, biar nemuin sendiri."
"Oke. Aku juga cuma menyampaikan aja kok," kata Mas Taufik. "Ya, udah. Aku mau makan dulu kalau gitu."
"Makasih ya, Mas," seruku padanya yang hanya dibalas dengan lambaian tangan.
"Makasih buat apa? Orang kenal aja nggak!" ledek Ningsih.
Aku memonyongkan bibirku. "Reseh!"
"Dasar kepedean!" lanjut Ningsih yang disambut tawa Anisa.
"Bodo'!" sahutku seraya meninggalkan meja yang ditempati Anisa dan Ningsih makan. Lalu, aku celingak-celinguk untuk mencari di mana gerangan Mbak Nike dan Wanti berada. Tak lama, tak jauh dari depan kantin Harjuna, Wanti tampak berdiri dan melambaikan tangannya ke arahku. Jika Wanti tidak begitu, pasti akan sangat sulit menemukan keberadaan mereka karena meja kantin nyaris penuh semua.
"Lama amat sih! Sebenarnya, ngobrolin apaan lho!" protes Wanti saat aku tiba di meja mereka makan. Lalu, disorongkannya nasi kotak milikku begitu aku duduk.
"Iya, lho! Liat nih! Kita-kita sampai sudah hampir habis makannya," katanya seraya menunjukkan nasi kotak miliknya.
__ADS_1
"Lauknya ayam," kataku setengah bersorak. "Pantesan aja kalian makannya cepet."
"Ngobrolin apa, Mbak?" tanya Wanti.
"Kami janjian kondangan," kataku mulai menyuap.
"Tempat Mbak Vita, ya?"
Aku mengangguk. "Kalian kondangan juga, kan?"
Mbak Nike dan Wanti bersamaan mengangguk.
Seperti yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, si Vita ini juga lumayan dekat denganku seperti halnya Anisa dan Ningsih. Selain itu, dia juga pernah menjadi Quality Control sepertiku. Dan belum lama ini, saat aku kena pengurangan, aku pun menggantikan posisinya sebagai Quality sampling karena dia resign.
"Denger-denger, nikahan mereka hampir dibatalkan lho, Mbak," kata Wanti.
"Masa'? Kenapa?" tanyaku terkejut campur heran.
"Ya, karena keluarga Mbak Vita ragu sama Bagus," jawabnya. "Dia kan terkenal pergaulannya bebas. Gosip yang beredar, si Bagus ini sempat kena HIV, tapi udah sembuh. Nah, untuk membuktikan itu, sehari sebelum pesta nikahan dimulai, si Bagus disuruh cek dulu sama keluarganya Mbak Vita. Beneran udah sembuh apa belum."
"Terus?" tanya Mbak Nike penasaran.
"Negatif. Jadi, ya acara tetap dilanjutkan. Lha gimana? Orang undangan sama punjungan udah disebar juga. Berabe jugalah kalau menjelang hari H, tahu-tahu acaranya dibubarin," jawab Wanti.
"Negatif?" tanyaku.
Wanti hanya mengangguk-angguk sembari mengunyah makanannya.
"Memangnya HIV/AIDS udah ada obatnya tah?" tanyaku seolah pada diriku sendiri.
"Iya lho," dukung Mbak Nike.
Wanti mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. "Jadi?"
"Ya, kalau negatif, berarti emang negatif. Bukan karena dia udah sembuh. Iya nggak sih?" tanyaku pada Mbak Nike.
"Taulah itu!" sahut Mbak Nike seraya melambaikan tangannya. "Aku juga belum paham benar sama yang namanya HIV/AIDS. Jadi, nggak berani berspekulasi sendiri."
"Iya," sambutku dan Wanti nyaris bersamaan. "Ya, udahlah. Yang penting nanti sore datang kondangan. Gitu aja."
Berbicara tentang Vita, kalau aku nilai sekilas saat datang berkunjung ke rumahnya, baik ibu maupun bapaknya sangatlah membebaskan anaknya dalam memilih. Tidak jauh berbeda dengan kedua orangtuaku. Hanya saja waktu itu, ibunya Vita memang sempat meminta putrinya agar memikirkan lagi akan niatnya menikah dengan Bagus. Kalau memang sudah yakin, beliau ngikut saja.
Sebenarnya, Vita juga pernah meminta pendapatku tentang Bagus. Karena selain pergaulannya bebas, Bagus juga digosipkan memiliki kelainan dengan sesama jenis.
__ADS_1
Waduh!
Waktu itu, jujur aku bingung hendak berpendapat seperti apa. Karena kalau tidak melalui Vita yang berpacaran dan ingin menikah dengan Bagus, aku sama sekali nggak tahu siapa itu Bagus. Mau sejelek apapun orang berpendapat tentang dia, aku ya no komen, wong aku nggak pernah bergaul sama dia. Kenal saja tidak. Yang terpenting dari pendapatku saat itu ialah apapun keputusannya, jangan sampai menyalahkan siapa-siapa jika terjadi sesuatu hal di luar harapannya. Karena mau apapun keputusannya, tanggung jawabnya ada pada dirinya juga karena itu hidupnya.