
Ya, Allah Yang Maha Kuasa, jikalau dia memang jodohku, maka ubahlah perasaan hamba-Mu ini. Namun, jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah.
***
"Nduk?"
"Apa, Mak?" tanyaku pada suatu sore saat aku masih memijat beliau karena mengeluh sakit.
"Kalau nanti kamu sudah menikah, kamu bakalan lupa sama mamak nggak?"
Aku mengerutkan kening. "Lupa yang bagaimana, Mak? Ya, nggaklah. Aku kan nggak kemana-mana. Tetap tinggal di sini."
"Bukan lupa yang semacam itu. Ya lupa nggak sayang lagi sama mamak. Seperti kakang-kakangmu yang sudah melupakan mamak," katanya.
"Ya, nggaklah."
"Ya, mana tahu."
Aku urung menjawab lagi. Apalagi aku bukan tipikal orang yang mudah menjanjikan sesuatu atau mengiming-imingi sesuatu yang sifatnya aku belum tahu. Seperti kata mamak barusan. Ya, mana tahu. Seperti pula halnya masa depan dan sifat manusia yang serba tidak pasti. Sedangkan daripada janji-janji, aku lebih baik membuktikannya saja. Aku pasti akan selalu menyayangi mereka dengan caraku, dengan sifatku yang sudah kaku seperti ini. Tapi kenapa tiba-tiba mamak mengatakan hal itu? Adakah sesuatu hal yang dirahasiakannya?
Membahas soal kekhawatiran mamak barusan, bukanlah tanpa alasan yang mendasar. Bisa dibilang, mamak memiliki trauma yang berat untuk dilupakan lagi. Yang tak lain dan tak bukan itu dilakukan oleh kakak-kakakku sendiri. Selain tidak pernah memberi kabar meskipun melalui handphone, tidak juga pulang saat lebaran, bahkan mereka pun tak ada pada saat kedua orangtuaku benar-benar membutuhkan.
Kalah sama istri. Begitulah yang banyak orang katakan.
"Gugurkan kewajibanmu, Wulan!"
"Kewajiban yang bagaimana, Pak?"
"Kewajibanmu sebagai saudara. Saat ada saudaramu yang lupa sama orangtua, di situ ada kewajibanmu untuk mengingatkan. Gugurkan saja. Masalah mereka mau mengikuti perkataanmu atau tidak, itu urusan mereka. Yang terpenting kewajibanmu sudah gugur!" begitu kata Pak Margo, pengawasku yang sudah kuanggap seperti bapak sendiri.
Aku hanya diam saat beliau menasehati begitu. Tak membantah, pun tidak menindak-lanjuti nasehatnya. Meskipun aku mengakui kebenaran dari nasehat beliau, tapi di dalam hatiku belum ada kerelaan untuk melakukannya. Bahkan dari sisi gelapku sebagai manusia berbalut iblis bengis, aku malah ingin membiarkan mereka dalam penyesalan. Karena kalau mau, aku ingin mengabari mereka pada saat pemakaman mamak dan bapak. Akan kubiarkan mereka hanya memeluk gundukan tanah yang basah di mana kedua jasad mereka terbaring.
Naudzubillahimindzalik.
Astaghfirullahaladzim.
Ada apa denganku ya, Rabb? Karma apa sekiranya yang akan aku dapatkan dari pemikiran sesat ini?
Sejak mamak bertanya begitu, perasaanku semakin kacau jadinya. Keraguanku pada Maulana pun semakin bertambah, serta perasaan tak suka perlahan merambat ke perasaan benci. Aku tak lagi bisa melihat keindahan dalam dirinya sebagai seorang lelaki. Tapi, apa pula salahnya padaku mengecualikan kecerobohannya yang terlalu terburu-buru datang sekeluarga? Salahnya ialah menggugah sisi iblisku saat aku harus melakukan sesuatu yang tidak aku suka. Karena aku, aku memanglah iblis tanpa topeng saat tidak suka tanpa harus berpura-pura.
__ADS_1
Belum lagi, saat aku mendapat godaan yang langsung menyerang pada batin, aku juga mendapat cobaan lain berupa dipecat dari pekerjaan. Namun, masih beruntung aku langsung dicarikan posisi lain oleh managerku. Yakni dari posisi sebagai Quality Control ke bagian produksi biasa di area penerimaan atau receiver selaku petugas Quality Sampling. Sekalipun pekerjaannya lebih berat, tapi paling tidak aku sudah lama berbaur dengan orang-orangnya. Selebihnya, aku tinggal melancarkannya saja. Apalagi di sana ada Ningsih, sahabat yang pernah aku ceritakan sebelumnya.
Kelebihan lain menjadi bagian dari area produksi ialah banyaknya teman. Di sana aku mendapatkan banyak teman yang pengalaman hidupnya bisa aku jadikan pelajaran agar tidak menganggap bahwa cobaanku ialah yang terberat.
Contohnya pertama ialah Winda. Dia ialah seorang gadis berumur dua puluh tahunan. Umur tepatnya aku kurang paham. Yang jelas, dia masih sangat belia, yang begitu lulus SMA langsung bekerja. Dan diantara para tally receiver, dialah yang termuda. Sejak pindah area sekaligus departemen, aku kerap berangkat dan pulang kerja bersamanya.
Selain berusia paling muda, dia juga terkenal paling ndableg (bandel) diantara para tally. Selain kerap masuk telat, susah ngeh dengan pekerjaan, dia juga selalu menganggap ocehan dari rekan-rekannya sebagai angin lalu. Tapi bagiku, poin pertama dan terakhir dari kelemahannya malah justru menjadi poin terpenting dalam pekerjaan jika mau tetap bertahan. Toh sebandel-bandelnya dia, dia masih bertahan dan mencoba mengikuti arus. Karena selama pengalamanku sebagai Quality control sebelumnya, seseorang yang dengan tingkat ndableg rendah, lebih cenderung tidak betah dan akan mundur dengan sendirinya. Jadinya, para senior kerap bosan mengajari anak-anak baru yang tak bermental, tak tahan banting dan ngaburan seperti ini. Sudah capek-capek ngajarin dengan harapan cepat bisa dapat partner, eh ... malah kabur. Padahal, untuk mengajari mereka tentang pekerjaan cukup menguras waktu dan energi, ditambah harus mengerjakan tanggung jawab sendiri.
"Kenapa kamu, Win, kok diam aja dari tadi? Lagi halangan tah?" tegurku saat kami sedang sampling.
Dia hanya menaikkan alisnya sebagai jawaban.
"Oh, lagi kumat?"
Alisnya mengambil alih jawaban lagi.
"Terus aja begitu! Tak cabutin bulu alismu itu nanti!" geramku sebal.
Si Windi tertawa menanggapi geramanku.
"Seriusan ini! Kalau kamu nggak mau ngomong, ditanya jawabnya cuma pakai alis, pulang-pulang botak tuh alismu!" ancamku.
Giliran aku yang diam. Menunduk hikmat pada samplinganku, pura-pura tak tahu kalau dia hendak menangis.
"Mbak?"
"Hemm?" aku mendongak.
"Apa aku bodoh banget, ya?" tanyanya.
"Kenapa nanya gitu?" aku balik tanya.
"Aku sebenarnya sedih lho kalau dibilang nggak mudengan tuh," akunya. "Sebenarnya, aku tu udah usaha lho, Mbak. Tapi ya kemampuanku cuma segitu."
Kali ini aku benar-benar diam. Selain aku belum tahu hendak berkomentar apa, aku pun belum tahu karakter semua teman baruku. Bisa dibilang, baru dia dan Bu Nani-lah yang paling akrab karena ada dalam satu tugas. Namun, hal itu tak lantas membuatku sembarangan berkomentar.
"Jangan merendah begitu, Win!" kataku yang hanya bisa mengatakan begitu. Selain alasan di atas, aku juga sempat berprasangka bahwa ada masalah lain yang jauh lebih berat daripada curhatannya di atas. Hanya saja, ibaratnya gas, hal di atas tadi sebagai pemantiknya saja, yang pada akhirnya memicu kebakaran. Yah, meskipun aku lihat dia belum pada tahap akan meledak. Tapi itu sekedar prasangkaku saja sih. Dan lagi, mau orangnya seperti apa saja, yang bahkan tampaknya seperti sebongkah besi, kita memang jangan sampai menyepelekan perasaan orang.
"Aku juga sedih, Mbak. Aku tuh bingung," lanjutnya masih dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bingung kenapa?"
"Aku tu pengen nabung lho, Mbak. Pengen juga beli-beli yang aku suka, tapi susah," katanya.
"Lha kenapa? Gajian kita bisa dibilang lumayan, kan?"
"Iya sih," katanya. "Tapi mamakku nyekolahin motor nggak bilang-bilang. Padahal, motor yang satunya barusan aja lunas. Selain itu, mamak sering bon di warung kontraktor, tapi nggak bilang-bilang. Tau-tau gajianku udah kepotong aja. Mana belum buat bayar angsuran motornya juga. Kadang nombok."
"Eeeee ... mmm," aku malah menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Aku ingin berkomentar, tapi seperti menyangkut di tenggorokan sehingga tak ubahnya seperti suara motor ngadat. Dan benar apa yang menjadi tebakanku. Pasti ada masalah lain yang jauh lebih besar, yang ditumpuk dengan masalah-masalah kecil lain yang diabaikan. Ibarat kata, hal semacam ini seperti menumpuk kayu bakar dan menyiraminya dengan minyak tanah. Tanpa perlu api yang besar, percikan putung rokok pun bisa jadi pemicu kebakaran tatkala keteguhan hati sudah tak lagi bertahan. Sedangkan orang-orang yang secara kebetulan menjadi percikan putung rokok, jadinya akan salah paham karena tak menyangka omongannya yang sepele bisa membuat kobaran besar.
"Mamak juga nggak setuju kalau aku pacaran sama Mas Ian," akunya lagi seperti mata rantai yang satu persatu mulai tersambung. "Alasan mamak tu karena lain suku. Dan kebetulan mbakku nikah dengan lelaki yang sesuku sama Mas Ian, tapi nggak mau kerja. Mbak yang suruh kerja, dia di rumah aja. Padahal, kan nggak semua lelaki begitu. Lelaki yang sesuku dengan kita aja banyak kan yang bejat?"
"Iya, memang," anggukku yang mengakui kebenaran dari ceritanya. Namun, lagi-lagi aku tidak bisa menanggapi lebih dari itu. Hanya saja ada beberapa hal yang bisa aku tangkap pada waktu yang nyaris bersamaan. Pertama, dia mempercayaiku. Yang kedua, bagaimana bisa gadis sebelia dirinya bertahan sampai selama ini tanpa adanya teman cerita. Aku bisa menduga begitu karena kebandelan yang ditunjukkannya. Setidaknya, dengan kebandelannya yang super itu, akan membuat orang lain berpikiran seolah-olah dia tidak memiliki otak bahkan perasaan. Padahal, itu hanya sebagai kedok atau topeng belaka. Dia hanya ingin tampak baik-baik saja. Lalu, begitu menemukan orang yang dianggapnya membuat nyaman, dia pun langsung bercerita seumpama bom waktu.
"Aku tu udah capek lho, Mbak, kerja terus tapi kayak dijadiin alat pelunas utang," katanya yang nyaris saja tidak bisa mencegah air matanya mengalir. Namun, dia cepat-cepat menyembunyikannya saat Bu Nani datang.
"Kenapa, Win?" tanya Bu Nani yang keburu tahu kalau Winda hendak menangis. Karena tidak tahan dicecar, akhirnya Winda pun bercerita walaupun kesannya tampak keberatan.
"Yang sabar, Nduk," ujar Bu Nani keibuan. Selama aku bergabung dengan mereka, Bu Nani memang cukup menyenangkan sebagai rekan satu tim sampling. Aku juga merasa bisa bekerja sama dengannya dengan sangat baik. Kami pun bisa dibilang klik dalam urusan sampling meskipun tidak seratus persen. Intinya, dalam hal pekerjaan, aku cukup menyukainya. "Cobaan kamu lho nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama cobaan ibu. Bukannya ibu membanggakan diri, ya. Tapi memang cobaan ibu tu berat."
Aduh! Ini dia!
Aku ingin menepuk kening hatiku kalau ada. Ternyata ini dia yang menjadikan seorang gadis belia sepertinya rela mati-matian memendam masalah sendirian karena sudah malas masalahnya dikecilkan oleh orang lain. Kalau aku dibegitukan, mau orangnya sehalus atau selembut apapun, yang istilahnya sampai nginjak kotoran aja nggak gepeng karena saking halusnya perangainya itu, aku juga akan tetap kapok untuk bercerita lagi. Menahan beban yang sudah ada saja berat, apalagi disepelekan saat bercerita. Niat hati ingin mengurangi, eh malah bertambah berat. Mending nggak usah cerita kan kalau begitu?
"Aku tu udah capek lho, Bu. Aku juga pengen bisa beli-beli kayak temen-temen yang lain. Nggak kerja buat mbayar utang melulu. Apalagi uang utangan itu nggak tahu buat apaan," katanya malah jengkel.
Seketika aku jadi teringat akan kedua orangtuaku. Aku juga langsung teringat akan kata-kata Anisa, sahabat karibku.
Kau tahu, Mbak, orang tua sampean ialah orang tua terbaik yang pernah aku temui. Jadi, bersyukurlah!
Itulah kata-kata yang pernah diucapkan Anisa saat aku ingin merantau ke Taiwan. Sebagai manusia yang mengecualikan jenis kelamin dan usia, aku memang ingin sekali bisa merasakan kerja di negeri orang. Ibaratnya kalau aku ingin merasakan tinggal atau berada di luar negeri, itu sudah tidak mungkin melalui pertukaran pelajar karena aku sudah tua (ngaku juga kalau sudah tua😂). Dengan cara liburan, tambah nggak mungkin lagi karena selain nggak punya uang, sayang juga kalau dibuang-buang buat liburan. Yang ada, pas pulang tinggal makan bawang alias nangis karena kehabisan uang. Jadi, ya caranya hanya dengan jadi TKW.
"Ngapain lho, Mbak, ke Taiwan? Cari duitnya mau sampai berapa banyak?" tegur Isti waktu itu saat kami sedang istirahat.
"Iya. Lagian yang diinginkan orangtuamu tu bukan uangmu, tapi kamu," sambut Kang Mur sesuara dengan Isti. "Memang tadinya tujuanmu buat rumah di sini dan mboyong kedua orangtuamu di sini buat apa? Supaya orangtuamu hidupnya nggak nebeng sama orang lagi, kan? Dan supaya bisa nemenin masa tua mereka, kan? Lha, kalau kamu tinggal mereka ke Taiwan, tahu-tahu salah satunya meninggal dan nggak bisa lihat, cukup gajianmu di sana untuk menutup rasa menyesal? Tetaplah pada tujuan awalmu hingga sampai bisa membuat rumah di sini!"
Aku jadi terdiam. Meskipun keinginanku untuk pergi merantau lagi masih begitu besar, terlebih ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa belum mau menikah dan malas ditanya-tanya, ketakutanku dalam menjadi anak yang tidak jauh berbeda dengan kakak-kakakku jadi mengunci keinginanku itu. Aku takut hal itu benar-benar terjadi sehingga niat hati iblisku malah berbalik menyerangku sendiri. Aku juga takut akan diperlakukan serupa oleh keturunanku sendiri kelak.
Dan memang benar kalau kedua orangtuaku ialah yang terbaik di dunia. Mereka tidak pernah menuntut apapun dariku, baik itu dari segi pergaulan, pekerjaan, apalagi sampai keuangan. Mereka bahkan tidak pernah menanyakan gajianku berapa dan untuk apa saja. Mereka selalu menerima berapa saja yang aku berikan tanpa banyak mengeluh.
__ADS_1
Seketika ingatanku pun beralih pada Maulana yang langsung membuat dadaku sesak. Apalagi saat digabung dengan pertanyaan mamak yang menyangsikan apakah aku akan tetap menyayanginya begitu menikah nanti. Jika Maulana bukanlah lelaki baik yang bisa menuntunku tetap di jalan yang benar, lalu apakah aku akan menambah daftar anak-anak mamak yang melupakan dan meniadakannya? Belum lagi masalah perasaanku dengannya yang sama sekali belum bisa menyukainya, yang bahkan sekarang merambat ke perasaan muak dan benci, aduh! Semua serba dosa. Aku berdosa! Aku merasa bahwa akulah manusia yang paling kotor.