
Alamak!
Kenapa anak ini tidak raib saja sekalian sih. Sudah tidak ada nomor yang bisa dihubungi, alamat rumah pun jauhnya minta ampun. Aku tak ubahnya seperti terdampar di sebuah pulau terpencil, lalu tersesat pula di dalamnya. Aku terjebak dua kali hingga tak ada keinginan lagi untuk menemukan jalan pulang. Mendingan menetap saja sekalian karena saking putus asanya.
Untung saja aku memiliki seorang teman yang pernah bekerja di sana. Kalau tidak, aku pasti akan tersesat. Sedangkan untuk mencari bantuan dari orang-orang yang masih berkaitan dengan keluarga Setya, aku tidak mau. Aku lebih baik menyelesaikan masalah ini sendiri, dengan caraku sendiri dan menggunakan orang-orang yang berada dalam lingkupku sendiri. Walaupun jadinya aku harus memakan waktu jauh lebih lama, itu tak jadi soal.
“Ren, sebenarnya aku ini masih penasaran lho,” ujar temanku membuka pembicaraan.
“Tentang?”
“Tentang tujuanmu ke Bratasena-lah. Apa lagi coba?” katanya tak sabar.
Ini untuk kesekian kalinya Nanang, teman yang aku maksudkan pernah bekerja di sana, bertanya tentang hal itu.
“Ren? Aku serius ini.”
Aku juga serius. Serius sekali kalau aku ini tidak mau menceritakannya. Bukannya aku tidak mempercayainya, tapi sulit sekali rasanya untuk mengatakannya. Aku sendiri pun masih belum percaya bahwa kekasihku sendiri yang memintanya. Berulang kali aku ingin menepis kenyataan pahit itu meskipun aku malah melakukan hal yang sebaliknya.
Nanang menatapku dengan gusar.
“Menyetirlah dengan benar, Nang!"
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ren!”
Aku tersenyum jahil. Ternyata dia tidak banyak berubah. Terutama tentang sifatnya yang sangat mudah penasaran itu. Jika rasa penasarannya tak tertahan, dia pasti akan mengacak-acak rambutnya. Oleh karenanya, dia kerap dikerjai oleh teman-temannya, tak terkecuali aku. Namun, kali ini aku tidak bermaksud membuatnya penasaran. Aku memang benar-benar tak ingin dia atau siapapun tahu. Cukup aku, Setya dan gadis itu saja yang tahu. Sayangnya, aku malah lupa membuat alasan sebelum memutuskan meminta bantuannya.
“Mencari seseorang?”
Aku nyaris menjatuhkan minumanku dan menyemprotkannya. Sedangkan hatiku sudah terjun bebas menuju remang-remang yang tak berdasar. Jauh sekali. Bagaimana dia bisa tahu? Siapa yang cerita?
“Atau pekerjaan? Perusahaan di sana sekarang sedang pailit. Lowongan untuk lelaki, apalagi yang berpendidikan sepertimu sangatlah sulit. Kecuali kalau kamu mau jadi pekerja kasar, baru ada,” Nanang melanjutkan.
Aku menyedot minumanku dengan perlahan. Aku berusaha keras menata degup jantungku yang tak karuan dan hatiku secara perlahan mulai muncul lagi ke permukaan. Ah, ternyata begini to rasanya jadi paranoid?
“Ren! Kurang ajar kau!”
Aku tergelak. Kulihat wajahnya yang memerah. Sedangkan tangan kirinya sudah mulai mengaruk-garuk kepalanya.
“Cepat katakan! Atau aku tidak akan membawamu ke sana.”
“Jangan macam-macam! Aku sudah membayarmu, kan?”
“Akan kukembalikan uangmu! Kau kan tahu. Kepalaku jadi gatal tak tertahan ini.”
Aku kembali tergelak.
“Jangan hanya tertawa! Perjalanan kita masih jauh!” raungnya.
“Ya. Aku memang mencari seseorang.”
Rasanya, aku seperti dirundung kecemasan yang luar biasa. Aku takut dia bisa membaca seluruh pikiran dan perasaanku, serta mengetahui permasalahanku setelah berkata begitu.
“Siapa?”
Aku diam.
Nanang kembali menatapku.
“Bisakah aku menceritakannya setelah persoalan ini selesai?”
Giliran Nanang yang diam. Lumayan lama. Mungkin dia tengah memikirkan perkataanku sekaligus jawabannya sendiri sambil sesekali meneliti wajahku. Menilai.
“Baiklah. Sepertinya permasalahanmu dengan seseorang ini sangat runyam.”
Hatiku mencelos lagi. Selain sifatnya yang mudah penasaran, akan sifatnya yang hampir selalu jitu dalam menebak pun tak berubah. Ya, Nanang memang cepat memahami keadaan. Hanya saja rasa penasarannya akan tetap muncul karena dia tidak mau asal menebak, sekalipun yang ditebaknya itu tidak meleset.
__ADS_1
“Kenapa? Apa aku benar?”
Leherku terasa mengencang. Rasanya cukup tenaga lebih untuk sekedar mengangguk. Apakah wajahku tampak serunyam itu hingga dia bisa menebaknya dengan mudah?
“Tidak. Hanya saja aku belum pernah ke sana. Nomornya tiba-tiba saja tidak bisa dihubungi,” kataku berusaha menampakkan wajah senormal mungkin.
“Alamat rumahnya?”
“Hanya bilang di Bratasena.”
“Ampunlah!” Nanang mengeluh. “Aku tahu kalau tempat itu terpencil. Tapi, Bratasena juga lumayan luas. Kau mau mulai dari mana? Pasiran Jaya atau Muara Intan? Atau Mandiri? Tiga tempat itu berkaitan erat dengan Bratasena. Tak terkecuali Jalur. Hayo! Yang mana?”
“Makanya, aku ini sedang usaha mendapatkan nomornya,” kataku jengkel.
“Cewek atau cowok?” tanyanya mulai seperti detektif kurang pasokan kerjaan.
“Cewek,” aku dengan susah payah menjawabnya.
Nanang menganga.
“Liatin jalan! Tutup mulutmu juga!”
“Sepertinya urusanmu memang runyam, Ren!” Nanang menggeleng-geleng prihatin.
“Diam kau!” aku pura-pura marah. “Yang terpenting, carikan penginapan. Ada, kan?”
“Tentu ada.”
Aku manggut-manggut.
“Atau mau menginap di rumah temanku saja?” tanya Nanang menawarkan.
Aku menggeleng. “Sebaiknya jangan! Kalau kamu mau main ke rumah temanmu itu selama aku mencarinya, silahkan. Aku tidak mau merepotkan, itu yang pertama. Yang kedua, aku bakal sering ke luar dan aku nggak mau ada yang banyak tanya.”
“Sok lu!”
“Nomor HP nggak punya. Alamat nggak jelas,” gerutunya.
Aku hanya mendengus.
“Ah, baiklah!” Nanang balas mendengus. Seperti biasanya pula, dia cepat memahami kondisi emosi lawan bicaranya. “Tapi, jangan harapkan penginapan yang bagus. Yang penting akan kucarikan tempat yang bersih dan tempat makan yang masakannya enak.”
“Terimakasih.”
“Yang lebih penting lagi, jangan sungkan untuk meminta bantuanku!” tambahnya.
Sebelum aku sempat membuka mulut untuk mengucap terimakasih lagi, Nanang mengangkat jari telunjuknya dan berkata lagi.
“Dan yang terpenting dari semua yang kuanggap penting, berceritalah sesudah masalahmu dengan cewek itu selesai. Jangan sampai rambutku rontok karena penasaran! Paham kau?”
Aku hanya tersenyum, kemudian memalingkan wajahku ke arah jendela mobil di samping kiriku.
Ah, tempat ini begitu asing. Pemandangan yang begitu baru dan bernuansa muram. Aku jadi bertanya-tanya, apa kiranya yang akan aku temui di sana?
Wulan.
Mungkinkah aku bisa menemukan gadis itu di sana? Kalaupun sudah ketemu nanti, apa yang akan aku katakan padanya pertama kali selain bertanya kabar? Perasaanku benar-benar kacau. Bahkan setelah dia menghilang selama beberapa tahun dan terdampar di tempat antah berantah seperti ini, dia dan segala hal tentangnya masih saja berada di tengah-tengah kami. Bahkan sampai bisa menyeretku kemari. Hebat! Gadis beserta lingkaran nasibnya itu benar-benar lihai!
* * *
“Sepertinya seseorang yang kau cari itu sudah ditemukan. Tapi ya masih perlu dicek ulang lagi, benar Wulan yang kau maksudkan atau bukan," ujar Nanang saat kami sedang menikmati makan siang di sebuah warung. Warung yang sama selama tiga hari ini, baik sarapan maupun makan siang, yang berada dekat dengan pangkalan bis antar-jemput karyawan.
Itu idenya. Dia berharap aku bisa mengenali wajahnya diantara wajah-wajah karyawati yang menggunakan jasa bis tersebut. Sementara cara lainnya yang tidak bisa kulakukan di sini, dialah yang mengurusnya. Belakangan ini dia hampir tidak pernah lepas dari ponselnya untuk mencari informasi tentang Wulan melalui teman-teman lamanya yang masih tinggal di sini. Aku sendiri tidak mempermasalahkan idenya tersebut. Karena selain lokasinya memang strategis, masakannya juga lumayan enak dan sesuai dengan seleraku. Meskipun tempat ini terpencil, namun aku banyak menemukan makanan yang cita rasanya dibilang lumayan.
“Benarkah?” Aku begitu antusias. Sampai-sampai aku ingin melonjak dari kursi dan menari-nari untuk merayakannya. Dalam waktu tiga hari, namanya jadi tak menyakitkan lagi karena sekarang malah dinanti-nanti.
__ADS_1
Nanang tampak terpana. “Aku ikut senang kalau kau senang, Ren. Tapi, reaksimu sungguh membuatku terkejut.”
Aku mendehem. “Ya, kau tahu. Kita sudah tiga hari di sini dan belum mendapat kemajuan apapun. Tentu saja aku senang, Nang. Apalagi aku hampir putus asa.”
Nanang menaikkan alisnya. “Masa’ sih? Sepertinya menyerah bukan tipemu deh.”
Aku melongo. Sepertinya aku sudah salah memasang ekspresi dan kata-kata tadi.
“Ah, baiklah!” Nanang kembali menikmati makanannya.
“Terimakasih," ucapku yang langsung tahu kenapa dia sepertinya ingin menyudahi pembicaraan yang selama beberapa hari ini menjadi rasa penasaran terbesarnya. Bukan karena sudah tak penasaran lagi, melainkan karena tak mau membuatku semakin serba salah dalam menghadapinya. Dia memang sesosok teman yang penuh pengertian.
“Tidak perlu bilang terimakasih begitu,” kata Nanang tampak kesal. “Karena mencarinya lumayan sulit, kau harus membayarku dengan cara menceritakan masalahmu.”
Aku urung menyuap dan meletakkan kembali sendokku ke piring.
“Tidak sekarang juga tak apa, Ren,” katanya melanjutkan. “Bukannya aku memaksa. Jujur aku agak khawatir. Siapa sih sebenarnya cewek satu ini? Sejak kapan kau berhubungan dengan cewek ini dan akan kau apakan dia?”
“Aku bukan penjahat, Nang,” kataku lemah.
“Bukan begitu,” katanya cepat dan nyaris saja tergelak kalau tidak mempedulikan sekeliling. “Tapi ya itu, entahlah. Aku kok tiba-tiba merasa khawatir sekaligus merasa aneh. Gitu aja sih.”
Aku kembali terdiam. Kini aku pun jadi merasa khawatir. Rasanya baru semenit yang lalu aku merasakan senang yang luar biasa karena telah menemukannya. Namun, kemudian aku merasa khawatir jika sudah benar-benar bertemu dengannya.
Apa yang akan dikatakannya tentangku? Bagaimana sikapnya saat menyambutku? Kenapa perasaan khawatir ini begitu aneh mengingat yang paling bermasalah dengannya ialah Setya, bukan aku pada masa dulu. Akan tetapi, kesannya sekarang ini aku malah seperti akan menemui mantan kekasih yang pernah aku khianati. Aku benar-benar takut dengan sudut pandang atau pikirannya begitu kami bertemu nanti.
“Aku pasti akan menceritakannya padamu. Yang jelas, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk menyakitinya atau apa. Aku hanya ingin membereskan suatu hal dengannya.”
Nanang manggut-manggut. “Terus?”
“Aku akan mengajaknya ke Karang.”
“Hemh.”
Nanang mengakhiri makan siangnya dengan lenguh putus asa. Rupanya, rasa penasarannya sudah pada ambang batas, lalu melampaui titik jenuh. Seumpama piring terbang, rasa penasarannya sudah melintasi ruang dan waktu seluruh alam semesta.
“Baiklah, Ren. Urus segera masalah itu. Karena jujur, aku belum pernah melihat wajahmu serunyam ini. Apalagi kamu tidak pernah bermasalah dengan makhluk yang namanya cewek. Apakah hubunganmu dengan Setya baik-baik saja?”
Aku ganti melenguh. Tak kurang putus asanya. Rasanya jadi percuma saja menyimpan masalah sendiri dari seseorang yang sangat penasaran, tapi kita percaya padanya. Mau sekuat apapun kita berpegang teguh pada sebuah tekad, tapi pada akhirnya keputusasaan berkhianat pada niat.
“Hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja Setya sekarang sedang sakit.”
“Oh, ya? Bagaimana keadaannya sekarang? Memangnya sakit apa?” tanyanya tampak bersimpati.
“Aku belum mengetahui pasti sakitnya apa. Aku belum berbicara dengan kakaknya. Yang jelas dia kerap pingsan.”
“Pingsan?”
Aku mengangguk.
“Adakah hubungan Setya dengan cewek ini?” tembaknya.
Aku mendesah. Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya berlama-lama menyimpan permasalahan ini sendirian.
“Ah, rupanya ada,” Nanang menggumam.
“Setya memiliki permintaan saat sakitnya.”
“Apa?”
“Membawakan gadis itu kepadanya.”
Nanang menganga. “Kalian berdua benar-benar ... ah, siapa sih gadis ini? Hah!”
Aku meneguk ludahku. “Gadis ini pernah hampir jadi istrinya Setya.”
__ADS_1