
"Ngeluyur aja!" Fahru menarik tas punggung kecil yang dikenakan Fitri.
"Apaan sih, Om!" Fitri menggoyangkan badannya agar tas terkibas. Sebagai bentuk protes karena dia diperlakukan seperti anak kucing.
"Main aja terus! Bukannya anteng di rumah. Orang Oommu ini aja sengaja rehat, karena kamu cuti," kata Fahru. Masih memegangi ujung tas sang keponakan. Setengah mengangkatnya.
"Nggak salah!" Fitri melirik tajam.
Fahru menyerah, lalu melepaskan pegangannya. "Besok nggak usah mainlah. Di rumah aja. Ngapain gitu. Bakar-bakar ayam, kek."
"Gimana kalau ndaki?"
"Oom mau rehat. Baru Minggu depan di-gas lagi. Kamu juga cutinya kan, tinggal berapa hari. Abis ndaki, terus balik ke Tangerang. Budemu mana setuju," cerocos Fahru. "Udah. Nggak usah. Di rumah aja. Lagian Oom malem Minggu ada acara."
"Acara apa?" selidik Fitri.
"Acara khitanan."
"Khitanan siapa?"
"Itu ... kucing sebelah yang mulai merajalela," sahut Fahru asal.
Fitri malah terdiam. Seraya menatap wajah Fahru demikian dalam dan sendu.
"Ngapain?" Fahru menutup wajah Fitri menggunakan telapak tangan kanan. Lalu perlahan mendorongnya.
Fitri hanya menggeleng. Kemudian berlalu menuju kamarnya tanpa permisi.
"Eh, jadi ya, kita bakar-bakar! Oom sembelih ayamnya, ya!"
Fitri tidak menyahut. Meskipun setelah dia menutup pintu, suara Fahru masih terdengar jelas. Sembari menggantung tasnya di belakang pintu, Fitri menghela napas panjang.
Sebenarnya, bukan maksud Fitri berkeliaran semau hati saat mengambil cuti seperti saat ini. Bisa dibilang, malah baru pertama kali dia begini. Karena biasanya, dia hanya menghabiskan waktu di rumah Simbah. Kalaupun mau ke luar bersama teman-teman sekampungnya, yang memang sudah akrab sejak cindil, Fitri tidak pernah menghabiskan waktu seharian penuh. Palingan selepas waktu Ashar sampai menjelang Maghrib. Untuk sekedar membeli camilan di lapangan dekat kantor kecamatan. Bisa juga dari pagi sampai menjelang Ashar, kalau tujuannya jauh.
Bukan tanpa sebab. Apalagi ini menyangkut Oom kesayangannya juga.
"Eh! Eh! Fitri!"
__ADS_1
Saat itu, dia dan Rani sedang menikmati es degan di dekat pohon yang rindang. Tak jauh dari gerobak penjual es dan beberapa gerobak pedagang lain.
"Em?" Fitri yang masih sibuk menyedot es, hanya mengangkat dagu.
"Itu ... beneran Mbak Anin bukan, sih?" Rani memberi isyarat lewat lirikan mata. Fitri mengikuti.
Di sana, sekitar dua puluh meter dari tempat mereka santai, ada sepasang muda-mudi yang hendak menyeberang jalan. Ketika kendaraan di rasa sudah tidak begitu ramai, sang pemuda menggandeng tangan si gadis. Sedangkan tangan satunya lagi melambai-lambai pelan ke arah kendaraan yang lewat.
"Eh! Beneran, lho!" Fitri tampak terkejut.
"Sama siapa? Kamu kenal sama cowok yang bareng dia?" tanya Rani hati-hati.
"Nggak sih, kayaknya," sahut Fitri terbata. Lebih ke yakin. Sedang kedua matanya masih mengikuti ke mana mereka pergi. Yakni masuk ke sebuah restoran yang ada di seberang jalan.
"Saudaranya kali, ya." Rani menoel sahabatnya agar berpaling.
"Kita ke sana, yuk!" Fitri tiba-tiba bangkit.
"Ke sana mana?" Rani tak pelak merasa terkejut.
"Restoran itu!"
"Aku ada," sahut Fitri enteng. Yang langsung menyambar tas dan melangkah menuju jalan raya.
"Aduh! Tahu gini nggak usah ngomong tadi," gumam Rani seraya menyusul langkah tergesa sang sahabat. "Kamu nggak bermaksud ngelabrak pacar Oommu itu, kan?"
"Nggaklah. Aku cuma penasaran aja," sahut Fitri gelisah. "Nanti kalau tidak ada sesuatu yang mencurigakan, aku janji, deh. Nggak bakal ngelakuin hal konyol semacam ini."
Rani menghela napas berat. Dia masih mau berkomentar, tapi seperti tak sanggup mengutarakan. Karena dia memang memiliki andil. Selain itu, ada satu hal yang masih mengganjal perasaan dan pikirannya. "Serius kamu punya duit? Minimal tiga ratus ribu buat berdua."
"Ada. Udah tenang aja!"
Rani kali ini benar-benar pasrah. Apalagi setelah mereka menyeberang jalan dan mulai memasuki pintu restoran. Dengan hati resah, dia mengikuti ke mana langkah tanpa ragu sang sahabat tertuju.
Dan, di sanalah Fitri memilih meja. Tepat di sebelah meja yang ditempati oleh sepasang muda-mudi yang mereka ikuti. Yang terhalang oleh gebyak atau pagar pembatas. Selain keduanya, ada juga sepasang pria-wanita setengah baya.
Beruntung dua orang yang sedang diincar oleh Fitri tidak menghadap ke arah pintu masuk. Sehingga kedatangan mereka tidak disadari. Bahkan tidak digubris sama sekali.
__ADS_1
* * *
"Terima kasih lho, Nak Rega, sudah ngajakin ibuk sama bapak makan di luar," kata si wanita.
"Iya, Bu. Sesekali," sahut sang pemuda, yang rupanya bernama Rega.
"Kalian habis beli apa di lapangan?" Giliran si pria yang bertanya. "Apa kurang puas sama makanan di sini? Nak Rega ini sudah susah-susah lho, datang dari jauh. Nraktir kita sekeluarga makan di restoran. Eh, kamu malah minta beliin makanan lain!"
Anindia hanya menunduk sembari menikmati jus alpukatnya.
"Nggak apa-apa, Pak. Lagian bukan cuma Dek Anin saja yang mau, tapi saya juga." Rega membela.
"Iya lho, Pak. Sekalian mereka bisa jalan berdua, kan. Lagian waktu Nak Rega buat ngejenguk Anin itu nggak banyak, lho. Kayak nggak pernah muda aja," si wanita menyenggol pelan lengan suaminya. "Memangnya beli apa, sih?"
"Martabak telor, Bu." Kali ini Anindia yang berbicara.
"Emh ... ya, pantes!" si wanita memaklumi. "Anin kalau sudah makan martabak telor ... sepuluh kotak bisa habis sama dia semua! Bisa bangkrut nanti calon suamimu, Nin."
Rega dan si bapak tertawa ringan. Sedang Anindia tersipu malu.
"Silahkan dinikmati makannya, Pak, Bu. Saya pamit ke belakang sebentar," pamit Rega. Beranjak dari tempat duduknya, mengelus bahu Anindia sejenak, kemudian berlalu.
"Nin."
"Iya, Pak?" Anindia yang mengekori ke mana pemuda itu melangkah, segera berpaling.
"Kamu tidak berhubungan lagi kan, sama Fahru?" si Bapak bertanya. Tatapan beliau begitu tajam dan tak berkedip.
"Ngapain ditanya lagi sih, Pak?" si wanita menepuk lengan suaminya lagi. Seraya menoleh ke arah si pemuda tadi pergi. Untuk memastikan kalau pembicaraan mereka dalam keadaan aman. "Ya, tentu saja sudah. Orang Anin sama Nak Rega juga mau bertunangan sebentar lagi, kok. Iya kan, Nin?"
Anindia urung menjawab. Wajah dan duduknya tampak gelisah.
"Ingat! Jangan bikin malu bapak dan keluarga besar kita! Nak Rega itu jauh lebih baik dari mantan pacar kamu itu," tegas si Bapak.
"Benar kata bapakmu, Nin. Nikah itu sama orang yang pasti-pasti aja. Kalau dulu, waktu kamu pacaran sama Fahru yang seneng ndaki gunung, kami sama sekali tidak mempermasalahkan. Tapi sekarang ini beda, Nin. Kamu nggak bisa terus-terusan begini. Ingat masa depan! Kamu itu harus bisa memilih lelaki yang mampu mencukupi kebutuhanmu!"
"Betul!" sambung si bapak. "Pekerjaan kok, ndaki gunung! Mau dapat apa?"
__ADS_1
Anindia tertunduk. Sedang kedua orangtuanya segera menyudahi pembicaraan ketika Rega tampak sudah kembali.