
Hari masih begitu pagi ketika aku ke luar rumah menuju ke tempat pemberhentian bus karyawan dengan berjalan kaki. Aku tidak perlu tergesa. Selain waktu masih menunjukkan pukul 05.15 WIB, langkahku juga lumayan panjang dan cepat. Apalagi jika dibantu dengan berkhayal, memikirkan bagaimana adegan pada episode tulisanku selanjutnya, atau berdebat dengan diri sendiri soal deadline lomba. Rasanya, waktu perjalananku bak menggunakan mantra teleportasi.
Omong-omong, ini adalah hari pertamaku kembali bekerja setelah mengambil cuti empat belas hari lamanya. Kangen? Entahlah. Mungkin lebih ke tidak enak kelamaan menganggur di rumah. Meskipun kalimat barusan tidak begitu tepat. Yah, aku mengambil cuti karena untuk mengurus ayahku yang sakit. Bukan karena tidak melakukan apa-apa.
Omong-omong lagi soal hari pertama, ketika aku duduk dalam bus di kursi deretan kiri dekat jendala, aku kembali teringat akan hari pertamaku bekerja di tempat ini. Alhasil, lamunanku selama perjalanan ke tempat kerja terisi oleh kenangan itu. Sebelumnya, aku sangat berterima kasih atas jasa antar-jemput ini. Karena hanya di dalam bus saja, aku sudah bisa mendapatkan banyak hal untuk tulisanku. Bisa dibilang, inilah tempat untuk menetralkan segala sesuatu, utamanya yang buruk, baik dari tempat kerja menuju rumah. Pun sebaliknya.
Sebenarnya, kala itu, tepatnya tujuh tahun yang lalu, aku bukan benar-benar sosok ingusan yang baru kali pertama bekerja. Bahwa sebelumnya, aku sudah pernah bekerja di sebuah klinik pengobatan milik seorang saudara. Kurang lebih lima tahun lamanya. Tapi, entah mengapa pengalaman itu seperti tidak ada gunanya.
Kenapa?
Mari kuceritakan juga padamu, Kawan!
Hari pertama.
Kelebihan pernah bekerja dan jadi anak perantauan adalah sudah biasa kelaparan. Yah, walaupun itu bukan sebuah prestasi. Seperti halnya hari pertamaku bekerja kala itu. Yang mana aku sudah tidak memiliki uang barang sepeser pun. Dan lebih sialnya lagi, aku tidak memiliki kenalan. Uangku sudah habis untuk menyewa kosan dan beberapa kepentingan lain. Sedang mau meminta pada orangtua pun enggan.
Aku pikir, perjalanan menjadi dewasa itu benar-benar sulit dan penuh dengan kebohongan, bukan? Segala kesusahan seperti dengan serakah terpaksa ditelan sendirian. Jadi, sebelum kulanjutkan, Kawan, alangkah lebih baik ceritaku ini disebut sebagai kenangan, bukan pengalaman. Karena seperti yang sudah kubilang sebelumnya, pengalaman hidup tidak banyak mengajariku banyak hal. Anggap saja aku ini bebal. Selain itu, karena aku hanyalah manusia yang terlalu terikat dengan kenangan.
Kembali, Kawan!
__ADS_1
Hari pertama itu aku mulai dengan perut kelaparan karena seharian sebelumnya tidak makan. Tapi, aku bersikeras bahwa aku sudah berpengalaman kelaparan. Sampai kemudian, tibalah waktu istirahat. Karena masih pemula, aku diijinkan istirahat pertama oleh seniorku. Tapi, bukannya istirahat, aku malah masuk lagi setelah meminum banyak-banyak air putih. Alasanku waktu itu pada seniorku karena ingin belajar lebih cepat. Bukannya terkesan, dia malah memarahiku.
Ya, iyalah!
Waktu itu, aku tidak mempermasalahkan kata-katanya yang kasar. Karena aku yakin itu hanyalah ungkapan dari sikap peduli dan tanggung jawabnya. Belakangan, setelah kami cukup akrab, aku baru mengatakan padanya tentang alasanku tidak istirahat waktu itu. Alhasil, dia malah semakin memarahiku. Bahkan beberapa kata ajaib sampai ke luar dari mulutnya yang memang lihai memaki. Tapi, kami malah sama-sama tertawa. Sejak hari itu, kami malah jadi sering berbagi cerita konyol selama belajar menjadi manusia berpengalaman.
Detik pun terus berlanjut. Pada hari pertama dengan perut keroncongan itu, aku hanya memenuhinya dengan ocehan sang senior sampai akhirnya waktu pulang. Nah, di sinilah pengalaman itu menjadi tidak ada gunanya! Di mana hari aku bersumpah berhenti merasa menjadi manusia berpengalaman alih-alih berkenangan.
Yang mana, ketika aku hendak mengambil sepatuku di dalam lemari, tanpa sengaja aku mengenai kaki salah seorang senior.
“Maaf,” ucapku lirih. Perpaduan antara rasa tak enak dan lemas.
Aku terperanjat. Ketika aku mengangkat pandangan, kudapati sebentuk wajah seorang senior yang begitu marah.
“Kutanya, matamu ngeliat nggak!”
Aku hanya terpaku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ketidak-sengajaanku barusan akan mengundang kemarahannya sebesar itu.
“Sudah. Sudah. Lagian dia tidak sengaja,” ujar beberapa senior lain yang melihat kejadian itu. Menengahi.
__ADS_1
“Kalau punya mata itu dipakai!” maki senior itu lagi sebelum pergi.
Bagaimana denganku? Runtuh! Meskipun sedari belia aku dilarang menangis oleh ayahku, apalagi hanya untuk masalah sepele, dan aku sendiri mempraktikkannya, hari itu-bersama dengan kejadian itu, pengalamanku kelaparan dan tidak menangis selama bertahun-tahun langsung runtuh!
Aku menangis sesenggukan selama perjalanan pulang. Tidak pula aku hiraukan tanya dari orang-orang akan ada apa atau kenapa aku. Sampai di kosan pun, aku masih menangis dan pastinya, masih dengan perut kelaparan.
Yang jelas, pada hari itu aku mendapat sebuah pembelajaran agar lebih memanusiakan yang lain. Jika tidak bisa dengan perbuatan, setidaknya ucapan. Karena seharusnya rasa lapar itu tidak seberapa karena pengalamanku. Tapi, tidak dengan kenangan dicaci maki. Karena pula, sungguh! Kita tidak pernah tahu apa saja yang sedang atau sudah dialami oleh orang lain untuk hari itu saja.
Apa aku berhenti? Hei, come on! Itu hanyalah salah satu kenanganku saat hari pertama masuk kerja setelah tujuh tahun lamanya. Memang siapa kamu, dia, kalian atau mereka yang berani-berani membuat kita berhenti melangkah? Terlebih aku membutuhkan banyak pandangan akan karakter ribuan orang untuk memperkaya sudut pandangku. Dan, di sinilah istananya!
Namun, bukan berarti aku tidak pernah menginginkan berhenti bekerja dari sini. Karena siapapun, aku yakin menginginkan kehidupan yang jauh lebih baik. Aku rasa, tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi buruh untuk seumur hidupnya. Seperti halnya manusia pada umumnya, aku pun sesekali merasakan jenuh. Seketika merasa hari-hari yang monoton ini begitu berat untuk dijalani. Benar-benar terlepas dari ratusan, bahkan ribuan pengalaman dari menjalani hari di sini.
Saat hal itu terjadi, hal pertama yang aku lakukan ialah menikmati kejenuhan. Karena sesekali, aku merasa diriku butuh untuk dikasihani. Kemudian aku akan memandang ke sekitar kerumunan di kantin, line-line produksi atau ruang istirahat karyawan. Diam. Menelusur dengan mata hatiku. Menyelami dengan sanubari jiwaku.
Begitu banyak wajah, nama dan kepribadian. Kemudian aku akan bertanya dalam hati, apa yang tengah mereka pikirkan dan rasakan? Apa saja yang sudah mereka alami selama bekerja di sini? Lalu, beban apa saja yang sedang mereka tanggung? Apalagi ketika melihat banyak sekali wajah yang tampak jauh lebih muda atau jauh lebih tua dariku. Tapi, apakah mereka berhenti?
Tidak. Mereka tetap kembali. Kembali pada ladang mereka mengais rupiah yang berisi beribu-ribu kepala dengan beribu-ribu pemikiran. Bahkan dengan entah apa yang mereka dapatkan dan terima. Apa mereka semua kembali hanya karena keadaan?
Aku pikir, tidak! Karena setiap manusia pasti memiliki perjuangan terbaiknya sendiri-sendiri dalam hidup. Barulah ketika jenuh, alasan keadaan itu jauh lebih masuk akal untuk diucapkan ketimbang lainnya. Begitu juga denganku.
__ADS_1
Karena nyatanya, semangat tak hanya soal gegap gempita maupun sorak sorai saat perlombaan balap karung saja. Bukan juga soal teriakan membahana dan berlarian ke sana kemari sehingga tampak paling berguna dan enerjik. Tapi, ini tentang perjuangan terbaik dalam diri setiap orang ketika tengah melawan keinginan menyerah agar tetap terus melangkah. Bahkan walau itu hanya untuk sekedar bertahan menjadi buruh pada sebuah perusahaan. Karena mau itu pengalaman, kenangan atau keadaan, tidak akan lagi berarti ketika kita menyerah. Jadi, teruslah bersemangat!